Just One Feeling

Just One Feeling
Kenapa?


__ADS_3

Hari demi hari berlalu, menjadi minggu demi minggu. Kabar kehamilan dari Andin membuat telinga yang mendengar turut berbahagia. Sosok Andin yang dikenal baik, membuat semua orang yang mengenalnya, bersyukur dengan kabar tersebut. Mereka bahkan turut mendoakan kesehatan Andin, dan janin yang tengah dikandungnya.


Para kerabat yang mendengar kabar baik itu, tak henti-hentinya mengucapkan selamat atas kehamilan Andin. Terutama kerabat dekat. Tak ada yang melupakan untuk mengucapkan selamat kepada Andin dan Ziban.


Ingin dan angan sepasang suami istri tersebut, akhirnya terkabulkan atas kehendak Tuhan yang maha kuasa. Sepasang suami istri itu, sangat berbahagia. Tak ada pengarang novel terkenal sekalipun yang mampu menggambarkan. Tak ada seniman terbaik sekalipun yang mampu melukiskan. Puncak kebahagiaan bagi sang penanti. Bagi mereka yang ingin memiliki. Dengan cinta serta bukti.


Terlihat Andin yang tengah duduk bersantai di taman belakang rumah. Matanya fokus membaca sebuah novel yang dipegangnya. Dengan ditemani buah-buahan segar yang sudah di bersihkan dan dipotong-potong yang berada dalam pangkuannya.


Beberapa hari terakhir, Andin memang selalu menjaga makanannya. Dan jika ia sampai lalai menjaganya, ada Ziban, Kumala, dan Arga, yang tak segan menegurnya. Semua yang berada didekat Andin, memang sangat memperhatikan dirinya. Betapa beruntungnya Andin.


"Sedang baca apa, sayang?"


Suara Ziban dibelakangnya membuat dirinya menduakan novel yang tengah ia selami.


"Novel."


Ziban duduk didekat istrinya itu. Ia melihat, buah-buahan yang tengah dipangku oleh Andin, masih terlihat utuh. Ia pun mulai menyuapinya.


"Buah ini tidak untuk kau pangku saja. Dia pun ingin dimakan olehmu."


Ucapnya dengan mendekatkan potongan kecil buah apel ke mulut Andin. Andin pun membuka mulutnya dan memakan buahnya.


"Aku akan memakannya nanti, mas."


Ziban tahu, Andin tidak akan memulai untuk memakan buah tersebut, jika Andin belum menyelesaikan bacaannya. Ia lalu mengambil novel yang tengah dipegang Andin.


"Seharusnya kau membaca buku tentang kehamilan dan persiapan persalinan saja."


Andin mengerucutkan bibirnya. Ia lalu membela dirinya, dengan mengatakan pada Ziban, bahwa dirinya sudah membaca buku yang berguna untuk keadaannya saat ini. Terutama tentang kesehatan selama kehamilan dan proses menuju persalinan.


"Aku hanya butuh hiburan, mas. Lagipula, ini adalah novel cetak terbaru dari penulis favoritku."


Andin kembali mengambil novel miliknya. Ziban baru mengetahui, Andin mempunyai penulis favorit. Selama ini, ia memang tahu, jika Andin gemar membaca cerita fiksi. Tetapi, selama itulah, Andin tidak pernah mengatakan penulis favoritnya. Ia baru menyadari, beberapa akhir ini pula, Andin selalu mengungkapkan apa yang disukai dan tidak disukai olehnya. Tiba-tiba, Ziban penasaran dengan penulis favoritnya.


"Memangnya siapa penulis favorit mu, sayang?"


"LeeNov."


Sepertinya Ziban melakukan kesalahan dengan menanyakan penulis favorit Andin. Karena setelah Andin menjawab, ia tak dapat berkomentar. Ia memang tidak menyukai novel dan sejenisnya.


"Sudahlah, mas. Kau tidak akan mengenal satu penulis novel sekalipun. Karena kau kan hanya tahu tentang buku-buku entrepreneur."


Diam-diam Andin mengagumi dirinya. Ia yang mencintai segala macam bacaan. Baik fiksi maupun non fiksi. Ziban tersenyum melihat cara Andin mengejeknya.


"Kau tahu sayang, semenjak kau hamil, aura kecantikanmu semakin terpancar. Aku suka."

__ADS_1


Ziban mendekat ke wajah Andin. Ia berniat mencium bibir Andin yang selalu terlihat manis dalam pandangannya. Belum sampai Ziban menjalankan niatnya itu, tiba-tiba Andin mendorongnya dengan keras. Ziban terkejut.


"Bau sekali. Mandi lagi sana!"


Ziban sedikit tersinggung dengan ucapan Andin. Padahal, baru saja ia selesai mandi. Dan Andin tahu, itu. Karena baru tadi, Ziban mandi, dan Andin ke taman belakang. Ia lalu mengendus-endus tubuhnya sendiri.


"Kau lanjutkan membaca saja. Aku akan segera kembali."


Ucapnya kepada Andin. Andin dengan wajah tak bersalahnya, kembali membaca novel miliknya. Sedangkan Ziban meninggalkan Andin sendirian di taman belakang.


Setelah menjauh dari Andin, terdengar Ziban yang menelepon Sekretaris Chan. Ia menyuruh Sekretaris Chan untuk segera menemuinya di rumah. Walau Sekretaris Chan sempat mengatakan bahwa banyak pekerjaan penting di kantor, tetapi Ziban tetap menyuruhnya untuk datang menemui dirinya.


Beberapa saat kemudian, Sekretaris Chan menghadap Ziban.


"Ada apa tuan muda?"


"Coba periksa, apakah tubuhku bau?"


Sekretaris Chan menggaruk kepalanya pelan dengan ujung telunjuknya. Siapa sangka, kedatangannya hanya untuk hal konyol seperti itu. Tak berkomentar, Sekretaris Chan mengendus tubuh Ziban. Ia lalu mengangguk.


"Bau."


Ziban sontak melotot.


"Bau tidak enak?!"


"Bau parfum. Dan ini sangat wangi. Seperti biasa. Memangnya ada masalah apa, tuan muda?"


"Tidak ada apa-apa. Kembali ke kantor sana."


Sekretaris Chan sedikit menyayangkan dengan tindakan Ziban yang menyuruh untuk datang menemuinya hanya untuk mengendus bau tidaknya. Padahal, di rumah tersebut ada pekerja laki-laki atau satpam. Yang tentu bisa di perintah oleh Ziban. Tetapi disisi lain, ia menyadari, bahwa dirinya memang selalu menjadi andalan Ziban.


Sebelum Sekretaris Chan pergi meninggalkan Ziban, Meta meneleponnya. Ia mengangkat dan berbicara kepadanya, setelah mendapat izin dari Ziban.


"Maaf tuan muda, Dik Meta sedang tidak enak badan. Apakah saya boleh menemaninya untuk pergi ke dokter? Setelah itu, saya akan segera kembali ke kantor, tuan muda."


Ziban mengibaskan tangannya ke depan. Mengizinkan Sekretaris Chan untuk menemani Meta ke dokter. Sekretaris Chan pun meninggalkan Ziban. Sedangkan dalam pikiran Ziban saat ini adalah, tentang Andin yang tidak menyukai aroma tubuhnya.


Ia berpikir, mungkin hal tersebut ada kaitannya dengan kehamilan Andin. Ia lalu membicarakannya dengan dokter Ferana melalui pesan. Beberapa saat, dokter Ferana memberikan jawaban yang membuatnya mengerti.


"Jadi, anda tidak perlu tersinggung, ya."


Kalimat pesan terakhir yang dikirim oleh dokter Ferana. Ziban tak menjawab pesan dari dokter Ferana. Dalam sekali jawaban, Ziban sudah memahaminya. Ia bahkan tak menanyakan bagaimana cara mengatasinya kepada dokter Ferana.


Malam hari. Andin sudah berada di kamar mereka. Ziban duduk menjauh dari Andin. Dengan Ziban yang sejak tadi menutupi tubuhnya dengan selimut sampai leher. Andin terheran-heran melihat tingkahnya.

__ADS_1


"Kau kenapa, mas?" (tanya Andin)


Supaya istriku ini, tidak mengatakan suaminya "bau" lagi.


"Tidak apa-apa." (jawabnya)


"Oh."


Andin tak memperpanjangnya. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang. Ziban yang masih menyelimuti seluruh tubuhnya pun, ikut merebahkan tubuhnya. Beberapa saat kemudian, Andin berucap.


"Mas."


"Hemm."


"Kau tidur di bawah saja, ya?"


Seketika Ziban menghadap ke Andin. Ia melihat Andin yang menjepit hidungnya dengan jari jempol dan telunjuknya. Ziban menghembuskan nafasnya.


Malang sekali, nasibmu, tuan muda Ziban.


Ziban berdiri dari baringannya. Ia hendak mempersiapkan tempat tidur baru untuk dirinya di lantai. Hal yang pertama, tentu ia akan mengambil alas tidurnya yang harus sedikit nyaman. Sebelum Ziban mempersiapkan tempat tidur untuk dirinya sendiri, tiba-tiba ponsel Ziban berdering. Ia segera mengangkatnya.


"Selamat malam kakak ipar. Aku membawa kabar baik untukmu."


Karena Raditya sering membicarakan hal omong kosong, Ziban tak terlalu antusias mendengarnya. Ponsel Andin pun tiba-tiba berdering. Ziban meliriknya.


"Meta. Tumben dia meneleponku." (lirihnya)


Andin langsung menjawabnya. Dan Ziban pun kembali berbicara dengan Raditya.


"Katakan. Ada kabar baik apa?"


"Rossie hamil, kakak ipar."


Ziban sangat terkejut mendengarnya. Tetapi dibalik keterkejutannya itu, bahagia menyertai tentunya. Ia lalu langsung membagi kabar baik tersebut dengan Andin, tanpa mematikan panggilannya dengan Raditya.


"Sayang, Rossie hamil."


Andin membulatkan matanya. Ia menjauhkan teleponnya. Karena ia memang tengah berbicara dengan Meta.


"Meta juga hamil, mas."


Ziban mengernyitkan keningnya.


Kenapa mereka hamil bersamaan? Mereka berempat tidak bekerjasama, kan?

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2