Just One Feeling

Just One Feeling
Preman Datang Meninggalkan Pertanyaan


__ADS_3

Mereka berdua telah masuk ke dalam tempat spa tersebut. Dan mereka segera diarahkan ke tempat sesuai pesanan Ziban tadi. Ketika tadi Ziban berbicara dengan resepsionis, Andin melihat Ziban yang berbisik-bisik kepada resepsionis itu.


Andin memutarkan bola matanya. Entah apa yang dibicarakan oleh Ziban kepada resepsionis tersebut.


Mereka berdua pun sampai di ruangan spa yang sudah dipesan khusus oleh Ziban. Dan yang mengantarkan mereka berdua, pun segera meninggalkan mereka. Lalu menutup pintu dari luar. Hanya Andin dan Ziban lah yang tersisa.


Tak menunggu waktu lama, satu pelayan tempat spa tersebut yang akan membantu Andin, masuk kedalam.


Ia membawakan kembang tujuh rupa sesuai pesanan. Dan kain motif batik yang akan digunakan oleh Andin. Kain untuk perawatan spa. Selain mandi kembang tujuh rupa di tempat spa itu, Ziban juga memesan perawatan sepaket di tempat spa tersebut.


Andin menerima kain yang diberikan kepadanya. Lalu ia segera melepaskan pakaiannya di tempat yang sudah disediakan. Dan menggantinya dengan kain yang hanya menutupi bawah leher sampai paha saja. Ia mengikat rambutnya dengan ditekuk dua.


Lalu ia segera menengkurapkan badannya di tempat yang sudah disediakan. Ia sudah tahu, tanpa harus diperintah terlebih dahulu.


Andin melirik kan matanya. Setelah mendengar pintu terbuka. Ia mengernyitkan keningnya. Melihat pelayan tempat spa tersebut justru pergi keluar. Lalu ia menghadapkan wajahnya ke Ziban.


"Kemana dia, mas?"


"Melakukan pekerjaan lain lah, memangnya apalagi."


"Lalu bagaimana denganku?"


"Aku yang akan meringankan pekerjaannya."


"Apa?!" (pekik Andin)


Ziban bergerak melangkahkan kakinya mendekati Andin yang sudah siap ditempatnya.


"Baiklah, Nyonya Alkash. Bersiaplah untuk perawatan yang menyenangkan. Akan ku berikan banyak bonus nanti, ya."


......................


Sedangkan, di rumah. Hanya ada Nenek Jeje dan Rossie. Itupun, karena Andin yang memang menyuruhnya untuk segera datang dan menemani Nenek Jeje.


Mereka berdua, sejak tadi terlihat sangat tegang dan panik. Pasalnya, mereka melihat jelas adanya seorang laki-laki bertubuh besar, kulit hitam dan brewok yang panjang. Ia sejak tadi, mondar-mandir di depan gerbang sana.


"Cepat datang beb!"


Lirih Rossie sejak tadi. Hanya Raditya lah yang dapat dihubunginya. Dan Rossie pun sedikit beruntung. Karena terdapat salah satu yang akan datang. Dari semua yang sudah ia hubungi, hanya kekasihnya saja yang selalu ada.


"Nek, sudah kubilang, letakkan saja sapunya."

__ADS_1


Rossie hendak melepaskan sapu yang tengah digenggam Nenek Jeje. Tetapi Nenek Jeje menepisnya. Sedari tadi, ia sudah berusaha mencegah Nenek Jeje, yang bahkan akan keluar dari rumah itu. Nenek Jeje mengatakan, ia akan mengusir kaki-kaki yang ada di depan gerbang rumah tersebut.


Tentu Rossie tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Ia tidak akan membiarkan, Nenek Jeje yang akan menjemput bahaya. Mereka berdua, memang sama-sama tahu, laki-laki yang berada didepan gerbang adalah seorang preman.


Mereka berdua masih sama-sama memicingkan matanya. Melihat ke arah gerbang hanya melalui jendela di ruang utama. Rossie menghembuskan nafasnya lega. Setelah melihat mobil Raditya yang mulai mendekati gerbang.


Rossie dan Nenek Jeje pun, sama-sama melihat, preman tersebut langsung pergi menjauhi gerbang setelah kedatangan mobil Raditya.


Rossie segera membuka pintu rumah tersebut. Ia langsung keluar menyambut kedatangan Raditya. Diikuti oleh Nenek Jeje yang masih memegang sapu ditangannya.


Setelah Raditya turun dari mobil, Rossie langsung berlari ke arahnya. Ia langsung memeluknya dari depan.


"Beb, aku takut. Kau tahu, preman itu sejak tadi mondar-mandir di depan gerbang."


Raditya tentu langsung membalas pelukan Rossie. Ia merasa sudah menang banyak, walau baru saja kedatangannya disitu. Rossie bahkan langsung memeluknya.


Nenek Jeje berjalan tergopoh-gopoh, mendekati mereka berdua yang tengah berpelukan.


"Heh, dasar anak muda jaman sekarang!"


Nenek Jeje melepaskan pelukan antara Rossie dan Raditya menggunakan sapu yang digenggamnya.


Diantara Rossie dan Raditya, terlihat Raditya lah yang menunjukkan wajah tidak sukanya. Ia merasa, Nenek Jeje telah menganggu dirinya yang tengah senang.


Raditya merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.


"Kau kan mengatakan, bahwa hanya ada satu preman saja. Astaga beb, hanya satu preman aku bahkan mampu mengatasinya. Jika aku memanggil polisi, aku akan terlihat seperti anak bayi."


Rossie mengangguk. Seakan tak ingin memperpanjang dan mendebat ucapan Raditya.


"Tapi aku dan Nenek Jeje tadi melihat, preman itu langsung pergi setelah kedatangan mobil mu itu, beb."


Raditya terdiam sesaat. Merasa yang diucapkan Rossie memanglah benar. Tetapi, ia memilih untuk tidak memikirkannya. Mengingat, kerjaannya masih banyak di kantor, yang belum diselesaikan. "Lebih baik, memikirkan pekerjaan ku saja." Ucapnya dalam hati.


Ia mengibaskan tangannya.


"Sudahlah beb, jangan dipikirkan. Yang terpenting, tidak terjadi apa-apa."


Raditya, yang sudah memastikan bahwa Rossie dan Nenek Jeje memang baik-baik saja pun segera ingin langsung kembali ke kantornya lagi. Sejak tadi Raditya dalam perjalanan pun, ia sempat menyesali tindakan Rossie. Yang langsung berusaha menghubungi Andin dan Ziban.


Itu adalah kesalahan, menurut Raditya. Ia sangat tahu, jika mereka tengah berduaan saja, dunia bahkan mampu mereka lupakan.

__ADS_1


Dan pada saat itu juga. Pada saat Raditya dihubungi oleh Rossie pun, ia langsung menghubungi Sekretaris Chan. Ia tahu, Sekretaris Chan akan langsung datang. Dan bahkan Sekretaris Chan akan memberitahu Andin dan Ziban yang memang tengah berada di kantor yang sama. Begitu pikir Raditya.


"Nanti akan ku kirim nomor Sekretaris Chan."


Rossie menatap Raditya bingung. Kenapa tiba-tiba, Raditya ingin memberikan nomor Sekretaris Chan padanya.


"Untuk apa beb?"


"Untuk jaga-jaga saja. Kau pasti akan membutuhkan nomornya disaat-saat memerlukan bantuan seperti ini. Hubungi dia saja. Dia akan sangat mudah dihubungi dibandingkan Andin dan Ziban."


Rossie tersenyum dan mengangguk.


"Setelah nanti Sekretaris Chan datang, aku harus kembali ke kantor ya beb."


"Kenapa cepat sekali, beb?"


"Ah, kau tahu, perusahaan ku tidak sebesar milik Ziban. Dia mungkin bisa bersantai-santai karena dia sudah berada di puncak. Tapi aku belum beb. Aku masih harus merintis pelan-pelan."


Rossie terharu mendengar ucapan kekasihnya itu. Lalu ia memegang erat tangan Raditya. Berusaha mendukung dan menyalurkan semangat untuknya.


"Ah, dasar anak muda jaman sekarang."


Mereka berdua pun langsung menghadap ke arah suara. Nenek Jeje. Ya, mereka berdua hampir melupakan Nenek Jeje yang sejak tadi ada di samping mereka. Mereka bahkan, hanya berbicara berdua saja tanpa mengajak Nenek Jeje untuk berbicara.


"Maaf ya, Nenek Jeje."


Ucap mereka berdua bersamaan. Yang hanya ditanggapi oleh Nenek Jeje yang membuang muka. Dan ia langsung masuk ke dalam rumah. Meninggalkan mereka di depan.


Setelah Nenek Jeje sudah masuk ke dalam rumah, terlihat dua mobil yang datang. Mobil yang biasa Sekretaris Chan gunakan. Dan mobil milik Andin.


Sekretaris Chan turun dari mobil. Dan disusul oleh Selena yang turun dari mobil Andin yang memang ia kendarai. Saat mereka berdua masih menyidang Bejo tadi, memang tiba-tiba salah satu satpam mendatangi Sekretaris Chan.


Ia mengatakan pesan Ziban mengenai uang lima belas juta dan memberikan kunci mobil Andin yang memang sempat dititipkan padanya. Untuk diberikan pada Sekretaris Chan. Sebelum Andin dan Ziban benar-benar keluar dari gerbang dan membelah jalanan.


Rossie dan Raditya mengernyitkan keningnya setelah melihat seorang perempuan yang tak dikenalnya. Lalu saling menatap satu sama lain. Berusaha mencari jawaban, yang tidak akan ditemukan.


Sekretaris Chan memahami pertanyaan dibenak mereka berdua.


"Dia Selena. Sekretaris kedua di kantor Tuan Muda Ziban. Dia teman dekat tuan muda dahulu di sekolah menengah pertama. Dan aku membawanya kesini, karena aku memerlukan bantuannya untuk membawa mobil Nyonya Muda Andin."


Raditya menatap Selena dengan mata berbinar-binar. Lalu mengangguk-angguk, mengamati Selena.

__ADS_1


"Oh, aku ingat. Jadi kau Selena. Ziban pernah menceritakan semua tentangmu dulu ketika kami kelas sepuluh di MAN 102 Bandung. Benar yang dikatakan olehnya. Kau memang cantik."


BERSAMBUNG...


__ADS_2