
Beberapa hari telah berlalu dengan cepat. Hari kemarin, adalah hari dimana Selena menerima gaji pertama setelah bekerja dengan menjadi sekretaris Ziban di kantor. Menjadi sekretaris yang pas di hati Ziban, bukanlah sesuatu hal yang mudah. Tetapi, Selena mampu meraihnya dengan cepat. Pantas, jika Sekretaris Chan sempat memujinya beberapa kali. Walau Selena tahu, bahwa Ziban memang tidak pernah memujinya sekalipun, tetapi sejatinya ia lebih tahu, bahwa Ziban pun puas akan hasil kerjanya.
Selena menatap wajahnya sendiri beberapa saat di cermin dengan tersenyum. Lalu matanya sedikit bergerak menatap hampir sepenuhnya pada cermin. Ada hal lain, yang berhasil membuatnya tersenyum kembali. Pantulan foto-foto yang tak terhitung menempel di setiap jengkal dinding kamarnya. Ia langsung saja membalikkan badannya. Berniat untuk melihat foto-foto yang terpajang supaya terlihat dengan jelas.
Ia mulai mendekati dinding kamarnya. Memegang salah satu foto berwarna yang mampu diraihnya.
"Selena."
Yang dipanggil pun terkejut. Ia sampai tak mendengar pintu terbuka sekalipun. Tahu-tahu, ibunya yang sudah masuk dan memanggil namanya.
Dan respon Selena yang ditujukan untuk ibunya, adalah tersenyum. Ibunya pun, mendekati Selena. Ia mengelus rambut putrinya. Selena pun menatap ibunya lamat-lamat. Mata sayu ibunya. Keningnya, yang sudah terlihat sedikit berkeriput. Rambut ibunya yang dulu hitam dan sangat Selena kagumi. Sekarang sudah ada beberapa helai rambut berwarna putih menghiasi kepalanya.
Tatapannya sedikit turun ke bagian leher ibunya. Lalu tersenyum. Melihat syal yang melingkar di leher ibunya.
"Ehem, ibu mau pamer syal pemberian almarhum ayah denganku ya."
Selena meledek ibunya sendiri. Dan ibunya pun sedikit terkekeh dengan putrinya yang meledek dirinya. Tetapi ia langsung menciutkan tawanya.
"Hari ini adalah hari peringatan satu tahun setelah meninggalnya almarhum ayahmu, Selena."
"Benar bu. Selena masih sangat ingat. Tidak terasa ya Bu, ayah sudah meninggalkan kita selama satu tahun."
Selena tahu, betapa ayah sangat berarti baginya. Dan terutama bagi ibunya. Dan Selena tahu, ibunya sangat mencintai ayahnya itu. Ditinggalkan oleh sosok tersayang bukanlah hal yang mudah. Butuh kesabaran dan keikhlasan yang menyertai.
Dan tentunya, butuh sosok pendukung untuk berani melanjutkan hidupnya kembali. Selena lah, yang akan terus berada disamping ibunya. Sama-sama memberikan kasih sayang yang lebih dibandingkan sebelum-sebelumnya.
"Ibu, makasih ya bu."
Ibunya mengernyitkan keningnya. Hingga semakin memperjelas kerutan di keningnya itu. Selena memeluk ibunya.
"Makasih, karena ayah sama ibu dulu benar-benar mendidik Selena dengan baik."
"Semoga apa yang diucapkan olehmu itu benar."
Ibunya membalas pelukan Selena.
"Dan satu lagi, bu."
"Ada apa?"
"Makasih, karena ibu sudah mau pindah ke kota ini."
Ibunya melepaskan pelukannya. Lalu kembali mengelus rambut putrinya itu. Menyiratkan dirinya yang bahagia jika tinggal di manapun. Asal dengan putrinya itu.
"Ibu tahu? Pekerjaan Selena saat ini bagus, karena pendidikan Selena juga bagus, bu. Dan itu semua, karena ibu dan almarhum ayah."
__ADS_1
"Ini semua, karena putri ibu dan almarhum ayah sangat berbakat."
Mendengar jawaban ibunya, Selena tersipu malu. Akhir-akhir ini, banyak mulut yang membicarakannya sama seperti ibunya. Lagi dan lagi, terus dan terus.
"Ah iya. Dan ibu sampai lupa. Alasanmu pindah kesini, itu karena bukan alasan pekerjaan. Tetapi, lebih tepatnya karena alasan kekasihmu itu kan."
Ibunya Selena melirik kearah foto-foto yang menempel di dinding. Lagi-lagi, Selena tersipu malu. Mendapatkan balasan dari ibunya. Balasan ledekan yang ditujukan kepadanya.
"Mendengar dari semua ceritamu, kekasihmu itu sangat sempurna menurut ibu."
Hanya satu, bu. Hanya satu kekurangan yang saat ini dia sandang. Hanya satu.
"Eh, jangan mentang-mentang kau ini kekasihnya, jadi kau seenaknya saja dalam bekerja, ya?"
"Tidak ibu. Selena tetap profesional."
Ibunya Selena mengangguk-angguk.
"Jadi, kapan kekasihmu itu melamar mu? Kalian sudah sama-sama dewasa. Ibu takut, hal yang tidak diinginkan akan terjadi."
"Ibu ini tidak sabaran sekali."
Ucap Selena sembari berjalan menjauh dari ibunya itu. Ia mengambil ponselnya. Membaca pesan sepuluh menit yang lalu. Ia tersenyum sumringah membacanya. Mengepalkan tangan kanannya dan menghentakkannya kebawah.
"Ada apa, Selena? Kenapa kau terlihat senang sekali?"
"Selena ada pekerjaan penting, bu."
Ucap Selena sembari bergegas bersiap-siap.
"Ini kan hari Minggu."
"Ya, benar, bu. Tetapi ada pekerjaan penting mendadak. Dan jika diselesaikan dengan cepat, maka tentu akan mengurangi beban pikiran, kan bu?"
Selena sempatkan dirinya yang menghadapkan pada ibunya dan tersenyum. Dan ibunya pun, merasa bahwa jawaban dari putrinya itu adalah kejelasan. Jadi, ia tidak perlu bertanya lagi. Melihat, putrinya yang tengah bergegas bersiap-siap dengan semangat, ibunya Selena hanya menggelengkan kepalanya. Ia memutuskan untuk keluar dari kamar itu. Dan membiarkan putrinya bersiap-siap tanpa adanya dirinya di kamar itu.
......................
"Pak, pokoknya, nanti hasilnya sesuai rancangan desain ini, ya?"
Andin menunjukkan rancangan desain toilet kepada pekerja bangunan yang sengaja ia undang, untuk merenovasi salah satu toilet. Toilet yang memang berada di salah satu kamar tamu. Yang sudah disiapkan untuk Nenek Jeje.
"Baik, siap." (jawabnya singkat)
Andin tersenyum lalu meninggalkan pekerja bangunan itu. Ia menuju ke kamarnya. Setelah meminta izin pada Ziban, akan menemui pekerja bangunan itu secara langsung. Dan berhasil diizinkan oleh Ziban, dengan syarat berlaku. "Jangan lama-lama." Ucapnya tadi.
__ADS_1
Andin membuka pintu kamarnya pelan. Ziban meliriknya.
"Sudah selesai menemui pekerja bangunannya?"
Andin tak berniat menjawab pertanyaan dari Ziban. Andin sudah datang ke kamar tersebut, jadi seharusnya Ziban sudah tahu. Andin menjatuhkan badannya sembarangan di ranjangnya.
Ziban meletakkan ponselnya yang sejak tadi digenggamnya ke meja dekat ranjang. Ia duduk menatap kesal Andin yang tidak merasa bersalah sekalipun.
"Kau pasti sengaja berlama-lama dalam menemui pekerja bangunan itu, kan?"
"Kau pasti ingin menunjukkan padanya bahwa kau ini cantik dan sangat bijaksana. Supaya, semua orang mengatakan bahwa aku beruntung mendapatkan mu."
Ucapan Ziban kali ini, berhasil membuat Andin merasa kecewa padanya. Ia tahu, Ziban hanya menunjukkan caranya dalam cemburu. Tetapi, ini berlebihan. Ya, ini sudah berlebihan.
Andin bangkit dari baringan nya. Berjalan ke arah jendela kamarnya itu. Raut wajah masam terlihat jelas di wajahnya.
"Seharusnya dari dulu, aku tahu. Bahwa kau ini memang selalu berlebihan."
Ucapnya datar masih mengungkuri Ziban dan menatap luar jendela. Ziban mengacak rambutnya pelan. Merasa, dirinya memang berlebihan dalam berbicara.
"Sayang, aku tidak serius mengatakannya."
Merasa tak ada respon apapun dari istrinya itu, Ziban mulai mendekatinya.
"Sayang, maafkan suamimu ini, ya?"
Ziban melingkarkan kedua tangannya di pinggang Andin. Andin menepiskannya dengan kasar. Tiba-tiba pintu kamar tersebut diketuk.
"Siapa?"
Ucap Ziban mengeraskan suaranya. Tanpa menolehkan pandangannya ke arah pintu. Dan tentunya, tanpa mengijinkan yang mengetuk pintu itu, masuk ke dalam.
"Ini Si Mbok, tuan muda. Di depan, ada sekretaris anda yang bernama Bu Selena. Dan katanya, ada hal yang sangat penting, yang harus dibicarakan dengan anda, tuan muda."
"Sekretaris Chan ada di depan juga?"
"Tidak, tuan muda."
Ziban mengernyitkan keningnya sesaat. Tidak pernah-pernahnya Selena datang dengan urusan yang penting tanpa adanya Sekretaris Chan.
Ini hari libur untuknya. Hal penting apa yang akan dibicarakan olehnya?
"Istriku sayang, sebentar ya. Aku akan menemui Selena."
BERSAMBUNG...
__ADS_1