Just One Feeling

Just One Feeling
Hujan Panas


__ADS_3

Hujan deras mengguyur sekitar kota. Membuat siapapun penduduknya, memilih berdiam diri di rumah saja. Menyeruput secangkir teh dengan ditemani gorengan hangat. Saling bercengkrama dengan iringan musik alami dari gemericik hujan.


Tetapi tidak. Hanya beberapa orang saja lah yang bisa bersantai di jam kerja seperti ini. Dan beberapa orang lainnya, mungkin saja, menyayangkan hujan yang turun tidak tepat dengan beberapa alasan.


Sama halnya dengan Ziban. Sejak tadi, ia mendengus kesal menatap suasana di sekelilingnya itu. Ia menatap arlojinya lagi, dan lagi. Jam menunjukkan pukul 15.15 WIB. Kemacetan panjang sudah menjadi penampakan menyebalkan sejak lama tadi. Hanya roda dua lah yang bisa perlahan melalui kemacetan itu. Sementara roda empat atau lebih, hanya bisa menerima nasib mereka.


Tapi tidak dengan Ziban. Ia sudah menghubungi salah satu sekretarisnya. Selena. Ia menyuruhnya, untuk mengirim bantuan untuk dirinya itu yang terjebak macet panjang. Selena mengiyakan. Ziban memang sengaja mengubungi Selena saja, karena ia tahu, Sekretaris Chan sedang sibuk mengerjakan hal lain di kantor.


Walau sampai saat ini belum kunjung datang, Ziban sangat yakin bantuan untuknya, akan segera datang. Mungkin dengan sedikit lagi kesabaran.


"Tidak biasanya, aku terjebak macet seperti ini!"


Benar. Tidak biasanya Ziban terjebak kemacetan. Tetapi ia pun berusaha menenangkan dirinya. Dengan menatap layar ponselnya. Dengan wallpaper foto pernikahan dirinya dan Andin. Baru beberapa jam yang lalu, ia menggantinya. Ia tersenyum melihat wajah dua insan berbahagia itu.


Ia benar-benar tidak sabar sampai di rumah menemui istrinya itu. Setelah tadi siang, ia memutuskan untuk segera kembali ke kantor, untuk menyelesaikan semua urusannya dengan cepat. Itu ia lakukan, agar tidak ada beban yang mengganjal di dalam dirinya.


Dan semua urusannya memang telah selesai. Hanya saja, ia mengutuki, kemacetan serta hujan deras yang mengguyur kota. Tentu saja. Ia kesal karena hujan deras serta macet, menghalanginya untuk segera pulang.


Tiba-tiba, terdengar kaca mobil yang diketuk dengan keras dari sisi kiri. Pengendara sepeda motor yang mengetuk. Ziban hampir saja, ingin meluapkan kemarahannya karena ketidaksopanan itu. Tetapi, ia urungkan. Setelah menyadari, bahwa itu adalah Selena, dan salah satu satpam di kantornya. Mereka berdua, membuka kaca helm mereka. Mereka menggunakan mantel hujan beserta helm. Tentu saja, Ziban hampir susah mengenalinya.


Ia terkejut melihat Selena, justru yang berada didepan. Satpamnya yang memboncengnya dibelakang.


Selena bisa mengendarai motor sport seperti itu?


Belum selesai Ziban berfikir, lagi-lagi, ketukan terdengar berkali-kali. Akhirnya Ziban menyadari. Ia pun membuka kaca mobilnya separuhnya saja. Untuk meminimalisir air hujan yang akan masuk ke dalam mobil.


Selena justru tersenyum kepadanya. Dalam keadaan wajah basah terciprat air hujan yang deras. Entah apa yang ada didalam pikirannya. Ziban tak ambil pusing dengan senyuman untuknya itu.


"Ini tuan muda..."


Suara yang sedikit tinggi, untuk mengimbangi derasnya hujan. Satpamnya itu menyodorkan mantel hujan lainnya yang sejak tadi, ia hindarkan dari derasnya hujan. Mantel hujan, yang masih terlipat rapi. Mantel hujan yang memang sudah disiapkan.


Ziban langsung meraihnya. Tanpa bertanya-tanya hal apapun kepada mereka berdua. Ia sadar, dipikirannya, hanyalah sampai dirumah. Dan bertemu istrinya.

__ADS_1


Setelah memakai mantel hujannya, Ziban langsung membuka pintu mobil. Dan membiarkan satpamnya itu, masuk kedalam mobilnya terlebih dahulu. Setelah memakai helm yang diberikan oleh satpamnya itu, ia segera memakainya. Dan tanpa berlama-lama, ia langsung keluar dari mobil.


Beberapa saat, Ziban yang akan dibonceng Selena pun, sempat merasa ragu. Ia justru berfikir, ia yang akan mengendarai motor itu. Tetapi, Selena meyakinkan Ziban bahwa ia bisa.


Motor pun mulai bergerak melewati kemacetan dengan perlahan. Meninggalkan satpamnya yang menggantikan dirinya di dalam mobil dalam suasana kemacetan.


......................


Sedangkan ditempat lain, tepatnya di ruang utama rumah. Terlihat Andin yang sejak tadi mondar-mandir. Sembari menempelkan ponselnya di dada. Entah mengapa, ia merasakan kecemasan juga ketakutan yang tidak biasanya.


Melihat panggilan tak terjawab beberapa jam yang lalu di layar ponselnya. Dari suaminya. Ya, dari Ziban.


Andin baru menyadari beberapa saat yang lalu, bahwa ponselnya kehabisan daya. Ia pun segera mengisi dayanya dan mengetahui bahwa panggilan dari suaminya tak terjawab.


"Dimana dia sekarang..."


Sesuatu yang membuatnya cemas dan takut, bukanlah karena dirinya yang tidak menjawab panggilan dari suaminya di ponselnya tak terjawab. Melainkan, karena Ziban tak menjawab panggilannya berkali-kali. Padahal ia tahu, ponsel Ziban aktif dan dapat dihubungi.


Ditambah, dengan Sekretaris Chan. Ia menghubungi dua ponsel Sekretaris Chan sekaligus. Satu ponsel pribadi miliknya, dan satu ponsel lainnya. Ponsel pribadinya, sedang sibuk. Sedangkan yang satunya lagi, tidak dijawab. Walau tersambung.


Tiba-tiba, pintu utama pun terbuka. Andin lega melihat Ziban yang telah membuka pintu. Ia pun mulai melangkahkan kakinya mendekati Ziban.


"Mas, kau dari mana saj..."


Glek. Ia menghentikan ucapannya sendiri.


"Tadi, Ziban terjebak macet. Eh, tuan muda maksudnya. Aku menjemputnya dengan motor." (ucap Selena)


Andin tersenyum merespon ucapan Selena. Ia lalu benar-benar mendekat ke Ziban hingga jarak hanya tercipta sedikit saja.


"Sebenarnya kau pakai helm apa tidak? Wajahmu basah terkena air hujan."


Perlahan, Andin mulai mengelap wajah tampan itu dengan ujung kerudungnya. Ziban mengamati serius istrinya itu, yang memang lebih pendek darinya.

__ADS_1


"Aku sengaja membasuh wajahku dengan air hujan."


Andin menatap Ziban lekat-lekat.


"Kenapa?"


"Karena aku tahu, istriku ini..."


"Akan menjadi perhatian seperti ini."


Ucap Ziban dengan nada jahil. Sembari mempraktikkan bagaimana tadi Andin mengelap wajahnya itu menggunakan ujung kerudungnya. Tetapi hal itu justru membuat kerudung Andin benar-benar terlepas. Karena itu memang hal yang Ziban sudah niatkan.


"Menyebalkan!"


Pekik Andin sembari mendorong tubuh Ziban sekuat-kuatnya. Setelah merasa Andin benar-benar memberikan dorongan yang keras untuknya, Ziban memberikan siaga tiga untuk Andin. Dan hal itu, membuat Andin terancam. Ia pun berlari berusaha menghindari. Ziban terus mengejarnya.


Selena terus memperhatikan sejak tadi hingga saat ini. Melihat sepasang suami istri itu. Suami mengejar, istri berlari. Bercanda gurau melepas tawa. Seakan melupakan semua hal disekitarnya.


Hujan. Hujan lebat. Definisi hujan menciptakan kedinginan itu tidak ada didalam kamus hidupku. Aliran darah panas mendidih mengalahkan derasnya hujan didepan sana. Malang nian nasibmu, Selena.


Selena menertawai dirinya sendiri dalam hati. Mengingat ketika ia dan Ziban benar-benar baru sampai di rumah itu. Kekhawatirannya yang justru salah kaprah. Rupanya, Ziban memang sengaja melakukannya. Berusaha membuat istri yang dicintainya itu khawatir. Tanpa disadari, Selena tersenyum getir mengingat hal tadi.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau sengaja membasuh wajahmu dengan menadahi aliran hujan. Nanti kau sakit."


"Kau ini berlebihan sekali, Selena. Ini hanya aliran hujan, bukannya aliran lahar." (jawabnya datar)


Selena menyudahi pikirannya itu. Ia melirikkan ekor matanya ke arah sepasang suami istri itu. Mereka berdua masih berlarian. Selena melangkahkan kakinya ke dapur.


Di dapur, Selena langsung bertemu dengan Si Mbok. Selena meminta bantuan Si Mbok untuk mengambilkan minuman untuknya.


"Mau minum apa? Biar Si Mbok buatkan."


"Panas-panas seperti ini, minum yang dingin dan segar sepertinya enak. Buatkan aku jus alpukat saja."

__ADS_1


Seketika Si Mbok menatap jendela dapur yang ia tutup rapat. Derasnya hujan serta beberapa kilatan petir yang mengiringi, terlihat jelas dari dalam dapur.


BERSAMBUNG...


__ADS_2