Just One Feeling

Just One Feeling
Jangan Menangis Sayang


__ADS_3

Malam sudah terlalu larut. Suasana yang sangat pas untuk lelap dan hanyut dalam mimpi. Memeluk pasangan masing-masing, atau hanya sebatas guling.


Tetapi tidak dengan gadis yang satu ini. Matanya seakan tak memberi tanda-tanda untuk mengantuk dan tertidur. Dan itu mampu dijelaskan. Mengenai alasan mengapa seseorang tak mampu tertidur.


Yang pasti, ada hal-hal yang mengganjal. Entah itu, hal yang belum tuntas, hal yang belum diketahui dengan jelas, atau bahkan memikirkan hal yang tidak pantas.


Dan inilah yang terjadi pada Meta. Ia masih berkutat pada diary dan penanya. Dan tentunya pikiran juga hatinya. Sudah pasti.


Ya Tuhan. Entah apa yang terjadi denganku ini, tadi sore. Kau tahu Tuhan? Diriku ini tidak menginginkannya. Diri ini takut padamu, Tuhan. Sangat takut.


Meta menuliskan beberapa kalimat terakhir di buku diary miliknya sebelum benar-benar menutupnya rapat. Ia memangku dagunya sendiri. Merenung dalam diam. Dalam kesadaran.


Mengingat apa yang sudah terjadi antara dirinya dan Sekretaris Chan. Meta sangat merasa bersalah pada Tuhannya. Hal yang dilarang oleh agama kepercayaannya, justru ia sudah melakukannya.


Tolong ampuni dosaku, Tuhan. Tolong ampuni tubuhku. Yang tak ada niat untuk memberontak. Tapi percayalah, Tuhan. Otak ini, pikiran ini, ingin menolaknya. Entah mengapa, otakku kalah dari tubuhku. Tuhan. Ampunilah.


Meta sangat menyesali perbuatan Sekretaris Chan pada dirinya. Tetapi, tentu ia tak akan terus menerus menyalahkan kekasihnya itu. Ia harus melihat dari sudut pandang orang lain juga.


Dan ia memang sudah mengetahuinya. Mengenai perbedaan godaan laki-laki dan perempuan. Laki-laki, akan diuji imannya melalui perempuan. Dan perempuan, akan diuji imannya oleh uang dan kekayaan.


"Apa keputusan ku salah, Tuhan? Karena telah menerimanya atas nama hubungan yang tidak halal?"


Perlahan Meta menitikkan air matanya. Merasa tidak tahu apa yang ia inginkan saat ini. Ia hanya merasakan perasaan yang tidak jelas. Ia sangat mencintai Sekretaris Chan. Tentu ia takut kehilangan dirinya. Takut akan dirinya, yang tidak akan dipertemukan lagi oleh sosok terbaik seperti Sekretaris Chan.


Meta menghapus air matanya. Ia mulai memejamkan matanya. Entah mengapa hatinya terbolak-balik. Ia tiba-tiba mengingat semua poin plus dari sosok Sekretaris Chan.


Memorinya mengingat akan setiap momen ia dan Sekretaris Chan jalan bersama. Setiap momen. Tidak ada yang terlewatkan. Ia lalu tersenyum. Mengingat saat-saat, dimana mereka berdua jalan bersama di hari Jum'at.


Saat itu, pada pukul 11.45 WIB, mobil menepi di jalanan dekat masjid.


"Aku akan sholat Jum'at terlebih dahulu di masjid itu."


Sekretaris Chan mengacungkan jari telunjuknya ke depan. Masjid yang dekat dengan keberadaan mobilnya yang terparkir itu. Meta tersenyum dan mengangguk.


Meta menyibukkan diri dengan ponselnya. Untuk menunggu Sekretaris Chan selesai sholat Jum'at. Ketika Meta masih mengutak-atik ponselnya, tiba-tiba Sekretaris Chan sudah ada didekat kaca mobil sebelah kiri. Tempat dirinya duduk di mobil itu.


Meta melihatnya dengan dekat dan sangat jelas. Wajah Sekretaris Chan yang cerah dengan air wudhu yang masih terlihat membasahi wajahnya.

__ADS_1


"Dik? Tunggu sebentar ya. Dan jika kau ingin membeli sesuatu di dekat sini, ambil saja uang di dompetku."


Dompetnya memang sengaja ia tinggal. Ia tidak membawanya ke masjid. Hanya selembaran uang berwarna merah muda saja yang ia taruh di saku jasnya. Uang untuk infaq Jum'atan seperti biasa.


Selesai. Meta kembali membuka matanya. Tersenyum. Mengingat akan hal itu. Ia mengira, Sekretaris Chan adalah sosok yang dingin dan angkuh. Tidak lebih tidak kurang.


Dan ia pun sangat yakin, bahwa orang-orang yang tidak mengenal Sekretaris Chan dengan baik, pasti akan berfikiran hal yang sama seperti dirinya. Ia pun pada mulanya, terkejut. Setelah mengetahui Sekretaris Chan tak seburuk yang ia kira. Sekretaris Chan bahkan sangat menjaga sholatnya.


Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan hatiku. Kenapa terbolak-balik seperti ini.


Sedangkan dikamar Andin, isakan tangis yang tersedu-sedu, terdengar dengan jelas. Dan Kumala yang sejak tadi, tak henti-hentinya mengelus kepala putrinya itu.


"Bagaimana? Apa sudah ada jawaban?" (tanya Arga)


Yang ditanyai, langsung menggeleng. Raditya memang sudah menanyakan pada Sekretaris Chan apa yang telah terjadi antara Andin dan Ziban.


Mereka dibuat kebingungan dengan apa yang terjadi. Terlebih, Andin sampai menangis yang kian menjadi. Setelah mereka melihat kejadian tadi, dimana Ziban dan Sekretaris Chan benar-benar meninggalkan rumah, Andin berlari kembali ke kamarnya. Tak mengucapkan sepatah katapun.


Rossie lah yang paling merasa tidak enak berada pada tempatnya itu. Tentu saja. Ziban adalah kakaknya. Dan Andin adalah temannya. Tetapi, ia dan Raditya memilih untuk tetap berada di rumah itu saja.


"Terkadang, dia memang menjadi Sekretaris sialan, om. Dia hanya menuruti tuan mudanya itu."


Sambil menunggu seseorang yang dipanggilnya itu, ia terus mengamati Andin. Sebagai temannya, tentu ia merasa tidak tega dengan keadaannya. Menangis tiada hentinya. Rossie tahu, menangis pun akan sangat melelahkan.


Seseorang yang ia panggil, sudah mengangkatnya.


"Halo, Met. Syukurlah kau belum tidur. Aku ingin meminta bantuan darimu."


Rossie pun menjelaskan mengenai kejadian yang terjadi. Dan, tujuan dirinya menelepon Rossie. Tentu untuk menanyakan pada Sekretaris Chan. Meta adalah kekasihnya. Jelas saja, Sekretaris Chan akan menjawab pertanyaan dari Meta. Begitulah pikir Rossie.


Telepon pun diakhiri. Setelah Meta mengiyakan permintaan Rossie.


"Nanti, Meta akan mengabari kita. Jika Sekretaris Chan sudah menjawabnya."


Seketika Raditya merangkul pundak Rossie.


"Om, tante, perkenalkan. Ini dia kekasihku yang cerdik."

__ADS_1


Rossie menginjak kaki Raditya. Hingga meringis kesakitan. Kumala masih mengelus-elus lembut penuh kasih sayang.


"Sudah sayang, tidak apa-apa. Apapun masalahnya, semua masalah pasti bisa diselesaikan. Jangan menangis, sayang. Jangan menangis."


Ditempat lain, terlihat Meta yang masih menggenggam ponselnya dengan erat. Ia memang mengiyakan permintaan Rossie padanya. Itu pun hanya untuk menghargainya. Karena sejujurnya, dalam hatinya, masih ragu. Masih sangat ragu.


Mengingat masalah yang ada pada dirinya sendiri. Ia ingin tidak berbicara pada Sekretaris Chan untuk beberapa saat. Meta akhirnya mengembuskan nafasnya. Menyakinkan dirinya, untuk membantu Rossie.


Ia menelepon Sekretaris Chan. Tak menunggu lama, Sekretaris Chan mengangkat telepon darinya.


"Halo, dik?"


Dari suaranya, dapat ditebak bahwa Sekretaris Chan baru terbangun dari tidurnya. Meta sempat diam beberapa saat.


"Dik? Kau masih marah padaku?"


Ya. Marah. Tentu saja Sekretaris Chan menyadarinya. Dan Meta pun, tak mampu menyembunyikannya. Karena, pesan dari Sekretaris Chan sejak kejadian tadi sore, tak ia jawab satupun.


"Sudah tidak."


Bohong. Meta berbohong kali ini demi permintaan Rossie.


"Syukurlah, dik."


Apa? Syukurlah? Benar-benar tidak peka!


"Mas Chan, sebenarnya ada hal yang perlu ku tanyakan."


Meta pun mulai menanyakan kepada Sekretaris Chan. Dan Sekretaris Chan tak membuat Meta berbicara lagi terlalu banyak. Karena ia sudah tahu apa maksud pertanyaannya.


"Itu karena nyonya muda melakukan kesalahan yang sulit dimaafkan. Hingga membuat tuan muda marah dan meninggalkan rumah."


"Memangnya kesalahan apa, Mas Chan?"


"Nyonya muda mengonsumsi pil pencegah kehamilan. Dan pernah bertemu dengan laki-laki lain tanpa sepengetahuan tuan muda."


Meta membulatkan matanya. Berada dalam ambang percaya tidak percaya.

__ADS_1


Mas Chan tidak mungkin berbohong, kan?! Apa yang harus aku katakan pada Rossie? Dia pasti sedang menunggu jawaban dariku. Ya Tuhan.


BERSAMBUNG...


__ADS_2