Just One Feeling

Just One Feeling
Sepasang Yang Menganggu


__ADS_3

"Akhirnya..."


Andin merebahkan tubuhnya di ranjang kamarnya. Setelah seharian banyak bergerak beraktivitas di acara pernikahan massal. Ziban juga ikut merebahkan tubuhnya di samping Andin. Walau mereka berdua totalitas dalam acara pernikahan massal, tetapi kebahagiaan terpancar jelas.


Atas suksesnya acara yang diselenggarakan. Ditambah, kebahagiaan atas pernikahan keempat orang terdekat mereka. Yaitu, Rossie, Raditya, Meta, dan Sekretaris Chan. Andin dan Ziban bahagia akan mereka.


Beberapa saat, mereka sama-sama memejamkan matanya. Menikmati kelelahan yang jarang dirasakan. Mengingat, respon positif diungkapkan oleh keluarga mempelai wanita dan laki-laki di pernikahan massal. Keluarga dari setiap pasangan, mengucapkan banyak terimakasih kepada Andin dan Ziban.


Karena mereka berdualah, pernikahan yang sangat mewah dan luar biasa, dapat mereka semua nikmati sebagai keluarga setiap pasangan. Sebuah kebahagiaan yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.


Tiba-tiba, mereka berdua membuka matanya bersama-sama. Layaknya berjanjian. Tetapi, tidak. Mungkin, batin mereka mulai terikat sempurna.


"Mas."


"Sayang."


Ucap mereka bersama-sama.


"Aku duluan."


"Aku!"


Andin dan Ziban tak mau ada yang mengalah. Mereka bersikeras untuk berbicara terlebih dahulu. Dan dari masing-masing tidak ada yang mau mengalah, akhirnya mereka tetap mengatakan apa yang ingin mereka katakan.


"Meta." (ucap Andin)


"Sekretaris Chan." (ucap Ziban)


Mereka masih tetap kompak. Dengan menyebut nama orang terdekat masing-masing. Andin yang menyebut nama Meta, sahabatnya. Dan Ziban yang menyebut nama Sekretaris Chan, sekretarisnya. Mereka sontak tersenyum bersama. Lalu mengangguk. Seakan salah satu dari mereka berdua, ada yang memberikan kode.


Andin mengambilkan ponsel Ziban, lalu memberikan padanya. Terlihat Ziban yang memanggil nomor Sekretaris Chan. Beberapa kali, panggilannya tak diangkat. Hal seperti itu, tak pernah Sekretaris Chan lakukan sebelumnya.


"Dia tidak mengangkatnya, sayang. Baiklah, akan aku coba terus."


Dan tindakan Sekretaris Chan itu, tak membuat Andin dan Ziban kesal. Mereka justru tak henti-hentinya tersenyum jahil sejak tadi.


"Rossie saja."


Andin mengusulkan pada Ziban untuk menelepon Rossie. Dan usulannya dianggap sangat bagus. Ia lalu menelepon nomor Rossie.


Berbeda dengan Sekretaris Chan, Rossie justru langsung mengangkatnya.


"Halo bang, ada apa?"


Ziban kebingungan hendak menjawab apa. Ia lalu menyodorkan ponselnya pada Andin. Tetapi Andin menolaknya. Seakan saling mengatakan, "Kau saja yang berbicara."

__ADS_1


"Halo, bang? ada apa?"


Rossie menanyakannya untuk kedua kalinya. Setelah berdebat dalam diam, akhirnya Andin menerima ponsel tersebut.


"Ya, ha-lo. Rossie." (ucapnya sedikit gugup)


"Oh, Andin. Kenapa kau meneleponku?"


"Bilang padanya, untuk beralih ke panggilan video." (bisik Ziban di telinga Andin)


Andin menatap Ziban dengan tidak suka. Ziban tidak mengatakannya sendiri. Tetapi, ia justru memerintah Andin. Ziban yang memahami Andin menolaknya pun, kembali berucap.


"Ayo, sayang. Nanti kita bisa melihat, apa yang sedang mereka lakukan di malam pertama mereka." (bisiknya lagi)


"Mas saja!" (tolak Andin)


Andin tentu malu jika harus dirinya yang meminta panggilan video dengan Rossie. Rupanya suara Andin terdengar sampai di seberang sana. Rossie pun mempertanyakan hal itu.


"Bang Ziban ada denganmu juga, Ndin?"


"Iya tentu. Dia ada di sebelahku. Dia menyuruhku untuk memintamu untuk beralih ke panggilan video. Kau mau?"


Ziban mencubit hidung Andin dengan pelan. Ia sebal pada Andin. Karena, pada akhirnya, Andin mengatakan pada Rossie atas perintah darinya. Sedangkan Andin menjulurkan lidahnya. "Istrimu ini, tidak akan pernah menerima kekalahan dalam bentuk apapun." Kira-kira itulah maksud juluran lidah Andin.


Panggilan pun sudah beralih ke panggilan video. Terlihat rambut Rossie yang terurai. Terpancar wajah bahagia disana. Melihat adiknya itu, Ziban mengambil ponselnya. Andin menggerutu.


"Iya bang, aku sangat..."


"Simpan ceramah mu untuk karyawan-karyawan mu itu, kakak ipar."


Tiba-tiba ponsel Rossie sudah ada ditangan Raditya. Ia bahkan memotong ucapan Rossie. Andin dan Ziban dapat melihatnya dengan jelas wajah Raditya, yang terlihat baru selesai membersihkan badannya.


"Lihatlah, sayang. Raditya baru selesai mandi. Aku yakin, setelah ini, Raditya akan langsung macam-macam dengan adikku."


"Iya, mas. Kau benar. Pasti Raditya sudah tidak sabar lagi. Seperti kau dulu."


Lirih Andin dan Ziban. Tanpa terdengar jelas dadi seberang.


"Telpon kami besok saja. Kau sangat mengganggu kami. Apa kau tahu, itu?"


Raditya terlihat serius. Sedangkan Andin dan Ziban cengengesan berdua.


"Tidak usah berlebihan. Ini belum terlalu malam. Apa kau akan langsung memulainya sekarang?"


"Kau yang tidak usah munafik, kakak ipar. Kau tahu, pikiran laki-laki selalu kotor dan tidak mengenal waktu. Aku, kau, dan semua. Dan aku akan memulainya sebentar lagi."

__ADS_1


Jawaban Raditya itu, sekaligus mengakhiri pembicaraan mereka. Ziban berusaha menelepon kembali. Tetapi, tiba-tiba nomornya sudah tidak aktif. Sekejap, Andin dan Ziban saling bertatapan. Lalu pada akhirnya, mereka berdua tertawa puas. Merasa sudah berhasil membuat Raditya kesal.


"Coba telepon Sekretaris Chan lagi, mas." (ucap Andin)


Ziban kembali menelepon nomor Sekretaris Chan. Beberapa saat kemudian, telepon masih tidak diangkat. Hal itu, hingga membuat Andin dan Ziban sedikit putus asa.


"Sudahlah, sayang. Biarkan mereka mengerjakan malam pertama mereka. Sekarang, mari kita kerjakan rutinitas malam kita."


Sebelum mereka berdua bergerak dari posisi mereka saat ini, tiba-tiba Sekretaris Chan menelepon balik Ziban. Ziban segera mengangkatnya.


"Aku menelepon mu sejak tadi. Kenapa tidak kau angkat?"


"Maaf tuan muda. Apa ada hal penting, sehingga anda menelepon saya di malam hari seperti ini?"


Andin dan Ziban saling tatap lalu mengangguk. Seakan telah merencanakan sesuatu.


"Apa kau sedang sibuk, Sekretaris Chan?"


"Ti-tidak tuan muda."


"Bagus. Datanglah kesini. Ada hal penting yang akan aku bicarakan denganmu."


"Ta-tapi ini mengenai apa tuan muda? Jika bisa, mohon untuk dibicarakan di telepon saja."


"Kau berani memerintah ku, heh?! Aku ini bos mu. Ingat itu."


Sekretaris Chan sempat diam sesaat. Ziban kembali berucap.


"Baiklah, mungkin kau masih lelah. Kali ini, sebagai bos mu yang baik, aku memahami mu. Akan ku bicarakan lewat telepon saja."


"Baik tuan muda. Silakan katakan apa yang ingin anda katakan."


Tetapi Ziban meminta untuk beralih ke panggilan video. Dengan alasan, akan lebih terasa ketika sudah menyampaikan apa yang ingin diucapkan olehnya. Dan sontak saja, Sekretaris Chan menolaknya. Dengan memberikan alasan, jika memulai panggilan video, akan membuat daya ponselnya akan cepat habis.


Andin dan Ziban menahan gelak tawa mereka. Sekretaris Chan memang akhir-akhir ini memberikan alasan yang tidak realistis. Andin dan Ziban mengakui akan hal itu.


"Ah, Tuhan. Aku melupakan bahwa hari ini kau sudah menikah. Dan malam ini, adalah malam pertama mu dengan istrimu. Baiklah. Aku akan bicarakan hal penting tadi, besok saja."


Ziban berpura-pura melupakannya. Bahwa malam ini, adalah malam pertama Meta dan Sekretaris Chan. Dan hal yang dikatakan oleh Ziban, tak membuat Sekretaris Chan merasa curiga bahwa dirinya hanya dikerjai semata.


"Baik tuan muda. Selamat malam."


"Eh, tunggu dulu Sekretaris Chan. Jangan terburu-buru seperti itu. Katakan padaku, bagaimana rasanya? Pasti enak, kan? Kau pasti menyukainya, kan?" (tanya Ziban dengan nada serius)


"Kami belum selesai melakukannya, tuan muda." (jawabnya)

__ADS_1


.


BERSAMBUNG...


__ADS_2