
Setelah beberapa saat. Dan setelah semua menjepit hidungnya, karena tidak ingin menghirup bau tersebut. Akhirnya baunya hilang dengan sendirinya.
Mereka semua benar-benar tidak habis pikir dengan Bejo. Kecuali Andin, tentunya. Lagi-lagi, hanya ia yang terlihat mengerti. "Bagaimana mungkin, Bejo justru semakin tidak sopan seperti itu? Dengan buang gas sembarangan." Ucap Selena dalam hatinya.
Ziban mengibaskan tangannya ke Sekretaris Chan. Memberinya tanda, supaya Sekretaris Chan saja yang menangani Bejo. Ziban lebih memilih duduk di sofa dan menyuruh Andin untuk duduk juga.
"Sayang, duduklah."
Ada rasa berat hati yang dirasakan Andin. Rasanya ada yang sudah ia lupakan. Tetapi entah apa. Kali ini Andin hanya mengangguk pada Ziban, karena ia memang tengah ditunggu oleh Ziban untuk duduk disampingnya.
Sedangkan Sekretaris Chan memberi kode pada Selena menggunakan gerakan kepalanya. Untuk mengikutinya.
Selena memahami langsung, kode dari Sekretaris Chan yang memang dituju kepadanya. Sekretaris Chan menatap Bejo dengan tatapan tajam.
"Cepat, ikut aku keluar!"
Sekretaris Chan terlebih dahulu keluar dari ruangan itu. Disusul oleh Selena dibelakangnya. Dan paling terakhir, ada Bejo yang menuruti perintah sekretaris atasannya itu.
Rasa ingin bertindak. Rasa ingin mencegat. Seperti itulah hati Andin bergejolak. Dan rasa itu benar-benar tak mampu ia tahan dan elak. Melihat, Bejo yang dibawa keluar oleh Sekretaris Chan dan Selena. Ia tahu, Bejo akan disidang oleh mereka berdua.
"Sayang, disini saja!"
Ziban yang mulai melihat Andin yang hendak berdiri pun, segera mencegahnya. Ia menggenggam lengan istrinya itu. Dan sebelum Andin berkomentar, lalu ia langsung menarik lengannya untuk mengikuti dirinya.
"Ayo, sekarang kau ikut aku."
"Kita kemana, mas?"
Ucap Andin sedikit memberatkan kakinya. Tetapi Ziban terus saja menariknya keluar dari ruangannya.
Melihat diluar ruangannya, berseliweran beberapa karyawannya yang tengah sibuk, Ziban lalu melingkarkan satu tangannya di pinggang Andin. Mencoba mengendalikan Andin yang sedikit berontak. Dengan niat untuk menjaga nama baik mereka sendiri, dihadapan karyawannya yang mungkin saja akan mengamati. Begitu maksud Ziban kira-kira.
"Sudah diam, atau tidak, kau akan ku cium dengan brutal di sini."
Bisik Ziban didekat telinga Andin. Andin menelan salivanya. Ia tahu. Dan benar-benar sangat tahu. Ziban kerapkali menunjukkan ucapannya adalah benar. Walau hal yang diucapkannya adalah sebuah kekonyolan. Tetapi, Ziban benar-benar akan melakukannya, jika memang Andin menantangnya.
"Huh!"
Hanya diam. Lagi-lagi, diam memang pilihan terbaik untuk beberapa situasi.
Mereka berdua, berjalan beriringan. Dengan satu tangan Ziban yang masih dilingkarkan di pinggang istrinya.
"Sayang?"
Ucap Ziban mengawali pembicaraan.
"Ya."
__ADS_1
"Kau tahu, semua orang memandangi kita penuh kecemburuan."
Andin menonjok perut Ziban.
"Kau ini, hobi sekali membuat orang lain cemburu."
Ziban meringis kesakitan. Lalu memandang ke kanan kirinya, berharap kali ini tidak ada yang melihat istrinya yang menonjok perutnya.
"Istri macam apa kau ini. Istrinya Rasulullah tidak kasar sepertimu."
"Biarkan saja."
"Dasar perempuan kasar."
"Dasar laki-laki menyebalkan."
Ziban menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. Menatap kepala istrinya. Andin memang lebih rendah darinya. Itulah mengapa, Ziban bebas menatapnya dan tersenyum tanpa sepengetahuan Andin.
Mereka terus saja berjalan. Hingga sampai di parkiran, yang sudah terdapat satu satpam disana. Sedangkan Andin terlebih dahulu masuk ke dalam mobil, tanpa menunggu Ziban.
Dan satpam tersebut lah, yang akan membantu memarkirkan mobil atasannya tersebut. Tetapi Ziban langsung menolaknya.
"Tidak usah cari perhatian kepada ku, bisa tidak? Lihatlah area parkir ini, sangat luas. Aku bisa mengatasinya."
Ziban langsung masuk ke dalam mobilnya. Andin tiba-tiba angkat bicara. Mendengar ucapan Ziban kepada satpam tersebut. Yang dianggapnya, sangat tidak sopan. Walaupun satpam tersebut adalah bawahannya. Tetapi tidak menghapus kenyataan, bahwa satpam tersebut lebih tua dibandingkan Ziban. Itu yang akan disampaikan Andin.
Ucap Andin sembari menggelengkan kepalanya pelan. Ziban yang sudah menghidupkan mesin mobil menatap Andin. Lagi-lagi, ia langsung memahaminya.
Lalu ia membuka kaca mobilnya sedikit, yang memang tertutup.
"Heh, buka pintu gerbangnya. Seperti itu saja, harus disuruh!" (ucap Ziban)
Satpam tersebut pun, langsung berlari ke arah pintu gerbang utama, dan segera membukakannya untuk mobil atasannya itu. Andin terkejut dengan suaminya itu. Yang justru semakin tidak sopan. Mata Andin, mengikuti gerak kaki yang berlari itu.
"Mas, apa-apaan sih!"
"Hust..."
Andin semakin kesal dengan jawaban yang diberikan untuknya. Ia melipat kedua tangannya didepan dada. Dan membuang wajahnya.
Ziban mulai menyetir mobilnya itu, dan keluar dari gerbang. Tetapi, sebelum mobil tersebut benar-benar keluar dari gerbang utama, ia menginjak rem. Andin masih tetap memalingkan wajahnya. Benar-benar tidak peduli.
Ziban membuka laci dashboard. Mengambil beberapa lembar uang bernilai seratus ribuan. Mungkin jika dihitung, ada sekitar tiga belas lembar.
Ia memberikannya pada satpam yang masih berdiri dan memegang gerbang besi tersebut.
"Untuk saya, tuan muda?"
__ADS_1
"Bukan."
Satpam itu terlihat kebingungan. Ia yang sudah hampir menerima uang itu pun, menjadi ragu.
"Anggap saja, ini adalah bonus dariku. Dan ini bukan untukmu. Tapi, untuk istri dan anak-anak mu."
Seketika senyum merekah memancar jelas diwajahnya. Mengingat, salah satu anaknya sedang dirawat di rumah sakit karena typus.
"Terimakasih banyak, tuan muda. Semoga anda selalu bahagia."
"Aku tidak punya uang cash. Kau temui Sekretaris Chan. Minta uang kepadanya lima belas juta. Katakan padanya, aku yang menyuruhnya."
Tanpa disadari, satpam tersebut menganga. Sembari melirik uang yang tengah dipegangnya. Jumlah yang tidak sedikit, jika hanyalah sebuah bonus untuknya. Dan terlebih, atasannya itu hendak menambahkan lima belas juta.
"Tapi tuan muda, itu jumlah yang tidak sedikit."
"Itu bukan apa-apa. Dan bahkan, jika berjuta-juta lipat sekalipun, tidak akan pernah sebanding dengan istriku yang cemberut."
Andin masih tetap memalingkan wajahnya, walau mendengar dengan jelas ucapan Ziban sekalipun. Tetapi, tak dapat dipungkiri, Andin mengulas senyum manis.
Mata satpam tersebut berkaca-kaca. Membendung kebahagiaan yang hampir menetes.
"Terimakasih tuan muda, semoga..."
"Stop!"
"Kalau mau mendoakan, doakan kami berdua. Aku dan istriku."
Satpam itu pun tersenyum. Memahaminya. Dan ia tahu, apa yang harus diucapkan untuk doanya.
"Semoga, anda dan istri anda, segera diberi momongan."
Amin.
Amin.
Ucap Andin dan Ziban bersamaan di dalam hatinya.
Ziban kembali menjalankan mobilnya. Membelah jalanan kota, yang ramai, tetapi tidak macet.
Selama diperjalanan, mereka berdua hanya saling diam. Dan Ziban pun memilih, untuk tidak mengawali pembicaraan. Ia tahu, sebentar lagi, Andin yang akan berbicara dan bertanya padanya.
Setelah beberapa saat membelah jalanan, mobil berhenti di depan tempat spa. Dan benar saja dugaan Ziban. Andin memang langsung bertanya.
"Kenapa kita kesini?"
"Kau harus mandi kembang tujuh rupa disini. Karena Si Bejo sudah melihatmu tidak memakai kerudung tadi."
__ADS_1
BERSAMBUNG...