Just One Feeling

Just One Feeling
Maafkan Aku Selena


__ADS_3

Ziban pun turun ke bawah menemui Selena. Kali ini, ada pertanyaan yang tiba-tiba timbul dibenaknya. Tentu pertanyaan mengenai kedatangan Selena sendiri tidak biasanya. Sedangkan Andin diam saja melihat Ziban yang meninggalkannya. Hanya setelah beberapa saat Ziban keluar, Andin mengangkat satu alisnya. Tersirat bahwa ia yang mencurigai sesuatu. Dan ya, tersirat pula, ia yang merencanakan sesuatu pula. Entah apa.


"Ada apa kau datang kesini, Selena?"


Ucap Ziban sembari berjalan ke arah Selena yang tengah duduk manis di sofa. Melihat kedatangan Ziban sendirian, Selena tersenyum.


"Silakan duduk terlebih dahulu, tuan muda."


Tanpa diperintah oleh Selena pun, sebenarnya Ziban tentu akan duduk.


"Ah ya, jangan panggil aku tuan muda ketika diluar jam kerja."


Ada seseorang yang mengernyitkan keningnya dibalik tembok. Juga mengerucutkan bibirnya. Sedangkan Selena mengangguk mengiyakan.


"Ada hal yang perlu aku bicarakan denganmu."


Ziban mengangguk mempersilakan Selena untuk segera berbicara. "Jangan berbasa-basi denganku!" Begitu maksud mata Ziban yang ditujukan pada Selena.


"Ini mengenai Bejo. Kau tentu pasti ingat kan dengannya?"


"Iya, aku ingat."


Ziban memberikan respon pada Selena dengan biasa-biasa saja. Lebih tepatnya tidak terlalu tertarik dengan seseorang yang tengah dibicarakan Selena. Mengingat, beberapa hari yang telah berlalu. Kejadian di ruangan Ziban.


Dan dua sekretarisnya itu, telah menyidangnya. Dengan hasil putusan, bahwa Bejo dikeluarkan dari kantor dengan tidak hormat. Semuanya mengetahui akan putusan itu, termasuk Andin. Andin pun tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Karena jika sampai ia membelanya, Ziban tidak akan menyukainya. Dan berfikir hal yang tidak-tidak padanya. Itu sudah pasti.


"Bejo sama sekali tidak bersalah. Dia bahkan adalah korban."


"Maksudnya?"


Ziban tak memahami ucapan Selena.


"Bejo adalah korban perundungan. Dua rekan kerjanya merundungnya ketika berada di kantor. Dua rekan kerjanya itu, adalah senior office boy di kantor."


Ketika Selena berhenti berbicara, tak ada suara respon yang terdengar. Itu adalah kode untuk Selena, bahwa dirinya harus menceritakan semuanya dengan jelas.


"Hal pertama, mengenai Bejo yang masuk ke dalam ruangan kerja mu, itu bukanlah salahnya. Pada saat itu, Bejo disuruh oleh dua seniornya itu untuk membersihkan ruangan kerja mu. Dua seniornya itu, mengatakan padanya, bahwa,"

__ADS_1


"Tuan Muda Ziban hari ini tidak ke kantor. Cepat bersihkan semuanya. Dan cepat juga, bersihkan ruangan kerja tuan muda."


"Seperti itu. Dan hal itu, adalah kesengajaan dari dua seniornya itu."


Selena menceritakan pada Ziban dengan ekspresi yang jelas dari wajahnya. Ziban memahaminya. Tapi tiba-tiba, ia teringat akan sesuatu.


"Lalu bagaimana dengan Bejo yang buang gas sembarangan itu? Gas sisa yang benar-benar busuk. Dia tentu tidak memiliki sopan santun, pada atasannya. Dan sikap seperti itu, bukanlah kriteria pekerja kantorku."


Ziban tentu tak semerta-merta mengasihi Bejo. Walaupun dengan apapun yang telah terjadi pada Bejo. Jika ada kesalahan yang Bejo lakukan dan itu mengenai sopan santun, Ziban tidak akan membelanya begitu saja. Selena mengulas senyum pada Ziban. Senyuman dari hati yang saat ini tengah ditunjukannya.


Melihat hal itu, seseorang dibalik tembok mendengus kesal. Telinga Selena begitu jelas mendengar dengusan Andin. Lalu dalam sekali lirikan matanya, ia menyadari bahwa Andin tengah berada disekitarnya. Bersembunyi dibalik tembok.


"Seharusnya pada saat itu kita mendengarkan ucapan yang sempat tertunda dari istrimu. Selain cantik dan pintar, istrimu itu juga sangat bijaksana."


Ucap Selena mengingat pada saat itu, Andin yang akan mengucapkan sesuatu, tetapi berhasil dipotong. Merasa dirinya disebut, Andin kembali mendengarkan obrolan mereka berdua dengan jelas.


"Katakan yang jelas, Selena."


Ucap Ziban pasrah. Ia tak mau, memikirkan dugaan-dugaan lain untuk Bejo.


"Dua seniornya, memasukkan obat ke dalam nasi bungkusnya. Efek obat itu, akan membuat seseorang akan terus-menerus merasa sakit perut dan selalu buang gas dengan bau yang sangat menyengat."


"Darimana kau tahu semuanya?" (tanya Ziban)


"Dua hari yang lalu, aku tidak sengaja mendengar obrolan dua senior Bejo ketika aku akan membuat kopi sendiri di dapur kantor. Mereka berdua membanggakan diri mereka sendiri, ketika mereka membicarakan Bejo yang lemah. Dua hari yang lalu itu, aku pun langsung menyuruh seseorang untuk bertindak menyelidiki. Dan hari ini akhirnya, aku mengetahui semua jawabannya setelah berhasil memaksa Bejo untuk berbicara yang sebenarnya."


Dibalik tembok, Andin tersenyum lega. Akhirnya jawaban kebenaran, terungkap juga. Andin menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Mengucapkan syukur pada Tuhan. Atas terbongkarnya, ketidakadilan di kantor.


Aku telah berprasangka buruk pada Selena. Ah, maafkan aku Selena.


Selena sedikit melirik ke arah Andin. Sedangkan Ziban langsung bergegas ke kamarnya. Tanpa mengatakan sepatah katapun pada Selena. Bahkan Ziban tidak mengucapkan terimakasih padanya.


Andin pun segera pergi kembali ke kamarnya juga. Ia pun sudah menyiapkan alasan. Karena tentu, Ziban lah yang sudah jelas akan sampai terlebih dahulu di kamar.


Selena yang merasa tugasnya telah selesai, segera bangkit dari duduknya. Dan segera keluar dari rumah itu. Ketika Selena baru keluar dari pintu utama, ia melihat Si Mbok yang berdiri tepat di depan pintu. Si Mbok tersenyum padanya. Begitupun dengan Selena.


"Bekerja yang baik ya, Si Mbok."

__ADS_1


Bisik Selena di telinga Si Mbok. Yang dibisikkan pun, mengangguk cepat.


"Baik, Bu Selena. Hati-hati dijalan."


Sedangkan Ziban yang baru masuk ke kamarnya, mengedarkan pandangannya. Mencari keberadaan Andin.


"Ehem."


Andin berdehem pelan. Ziban menoleh ke belakang. Melihat Andin yang baru masuk ke kamar.


"Darimana?"


"Menemui pekerja bangunan."


"Dasar. Cari kesempatan."


Andin langsung menunjukkan raut wajah yang tidak bersahabat. Ziban pun baru teringat, bahwa Andin masih marah karena dirinya yang berlebihan. Ia bahkan akan mengulangi kesalahannya lagi. Padahal, ungkapan maafnya, belum lah diterima.


"Ehehe, sayang. Tentu saja tidak apa-apa jika kau menemui pekerja bangunan itu. Jika sering di cek, pekerja bangunan itu akan bekerja dengan baik."


Ziban mendekati Andin. Dan memeluknya mesra. Di dalam pelukan Ziban, Andin pun bertanya padanya.


"Apa yang kau bicarakan dengan Selena?"


"Tentang Bejo. Nanti akan ku ceritakan semuanya padamu. Yang pasti, aku akan langsung menghubungi Sekretaris Chan. Aku akan menyuruhnya untuk membuat Bejo bekerja kembali di kantor."


Ucapnya, tanpa melepaskan pelukannya. Andin tersenyum mendengarnya. Pada dasarnya, kebenaran memang akan terungkap cepat atau lambat. Kebenaran yang datang tepat, atau sedikit tersesat. Dan sesuatunya, akan membuat seseorang lebih kuat.


"Mas, kau tahu, aku sangat bahagia."


Andin membalas pelukannya dengan erat. Mengingat, Selena bukanlah ancaman baginya. Justru sebaliknya. Selena adalah teladan yang baik menurutnya.


"Bahagia kenapa?"


"Tidak apa-apa. Bahagia saja. Memangnya tidak boleh?"


"Sangat-sangat boleh, istriku sayang. Tetaplah bahagia, ya."

__ADS_1


Ucap Ziban sembari mengecup puncak kepala Andin.


BERSAMBUNG...


__ADS_2