
“Hana makanlah” bibi membawakanku ubi dalam mangkuk untuk sarapanku.
“Terima kasih bibi” ucapku langsung memakannya. Bibi menyeka helaian rambutku yang turun dan menaruhnya di balik telingaku. Air mataku menetes, sial kenapa aku malah ingat hal lain. Ya cowok brengsek yang sering menyeka rambutku saat kami sedang makan.
“Kenapa hana? Kau sakit?” bibi khawatir.
“Tidak apa-apa bibi, aku hanya berfikir jika aku sudah mulai bekerja di istana apa aku bisa merasakan kebersamaan setiap pagi seperti ini bersama bibi.”
Bibi tersenyum mendengar perkataanku, “Hana, bibi akan tetap menyambutmu saat kau datang berkunjung” air mataku menetes lagi tapi bukan karena teringat cowok brengsek tapi karena perkataan bibi yang sudah ku anggap sebagai ibuku sendiri di dunia ini, aku memeluk bibi hangat.
“Meow? (ada apa?)” Poko baru bangun dari tempatnya tidur.
“Poko kamu sudah bangun?”
“Meow (kalau tidak bangun bagaimana bisa aku menanyakan hal itu)” ‘kucing sialan!’ batinku menatap Poko tajam.
Aku berjalan ke dalam hutan bersama dengan Poko untuk bertemu dengan Bear. Yah sepertinya setelah bekerja di istana aku akan sulit bertemu dengannya.
“Growl!” Bear menghampiri kami dan memeluk ku. ‘uugh bantalan bulu ku’
Aku dan dua ekor temanku berjalan menelusuri sungai tempat kami menangkap ikan untuk pertama kali.
“Bear.. sepertinya aku akan sulit bertemu denganmu..”
“Growl?”
“Yah, mulai besok aku akan bekerja di dalam istana, mungkin aku tidak akan sesering ini bertemu denganmu, namun akan aku usahakan untuk bertemu denganmu saat ada kesempatan.” Ucapku memeluk Bear. ‘Yah aku pasti akan mengusahakannya.’
*****
Hari pertama ku bekerja dalam istana sebagai pelayan, Rey sudah menyambutku di depan pintu gerbang dengan wajah girang.
“Kau sudah siap bekerja sebagai pelayan?”
“Yah tentu saja!” ucapku bersemangat.
Kami menelusuri lorong istana, Rey membawa ku untuk bertemu kepala pelayan. Kepala pelayan menjelaskan apa saja yang harus dikerjakan pelayan istana. Disini aku ditempatkan di istana selir kaisar.
“Tidak, Hana akan menjadi pelayanku kenapa dia ditempatkan di istana selir?” Rey tidak setuju.
“Maaf pangeran tapi di istana selir memang kekurangan pelayan, jadi lebih baik menempatkan dia di istana selir, ini juga perintah dari kaisar.”
__ADS_1
“Tidak, dia tetap..”
“Rey, tidak apa” potongku. “Baiklah kepala pelayan dimana istana selir dan apa saja yang harus aku lakukan?”
Kepala pelayan menunjukkan jalan ke istana selir dengan Rey yang masih menggerutu tidak senang.
“Aku akan menemui kakak.” Ucap Rey dan berlalu.
Istana selir ini sangatlah indah menurutku, bagaimana tidak di halaman depannya terdapat banyak bunga mawar yang dijadikan sebagai pagar. Terdapat air mancur ditengahnya dan ada gazebo tempat para selir berkumpul dan berbagi cerita.
“Salam putri Calista” kepala pelayan memberikan salam kepada seorang perempuan cantik dengan rambut cokelat gelap dan mata berwarna biru gelap. Aku mengikuti dan membungkuk memberi salam, putri Calista terlihat anggun dan cantik saat tersenyum, namun matanya menyimpan kesepian.
“Putri, ini Hana, dia yang akan menggantikan pelayan putri yang kemarin. Jika putri ada keperluan bisa memanggilnya.” Putri itu mengangguk “Baiklah kalau begitu saya akan pergi.” Ucap kelapa pelayan dan berlalu.
Putri Calista menatapku dari ujung kaki sampai ujung kepala dan mata kami saling bertemu. ‘Ahh, menyebalkan kenapa dia hanya diam menatapku dengan mata menyedihkannya’
“Hmm baiklah putri? Apa ada hal yang bisa aku lakukan?”
Putri Calista tersentak lalu berjalan di depanku “cara bicaramu berbeda dengan pelayanku sebelumnya kau berasal darimana?” tanyanya berbalik.
“ahh, hmm, aku dari Forestland” jawabku. ‘sial kenapa harus Forestland’
“hmm, Forestland? Aku belum pernah mendengar tentang itu.” Ucap Calista menyelidiki. “Yah baiklah ikut aku” aku mengangguk dan mengikuti Calista. Sepanjang jalan aku melihat beberapa selir berjalan dengan pelayan di belakangnya.
“Kau lihat putri dia sepertinya mengabaikanmu karena apa yang putri katakan itu benar.” Seorang pelayan putri itu berani mengejek Calista. Namun, Calista hanya diam seribu bahasa. ‘ahh sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dia hanya diam saja diejek oleh kasta dibawahnya.’
Tidak terima dengan apa yang diucapkan pelayan tersebut, aku menatapnya dengan tajam.
“Hey, seorang pelayan berani menatap seperti itu. Sepertinya kau pelayan barunya?” ucap salah satu pelayan yang lainnya.
“Dan seorang pelayan dapat berkata seperti itu menganai seorang selir kaisar? Oh Putri sepertinya kamu tidak mengajari pelayanmu dengan benar.” Ucapku tersenyum menatapnya.
“Ayo pergi Hana.” Ucap Calista menyuruhku mengabaikan mereka. Akupun mengikuti Calista dan mengabaikan wajah kesalnya mereka.
Kami sampai disebuah ruangan dengan dua daun pintu besar dan tidak ada penjaganya sama sekali. Calista membuka pintu tersebut, itu adalah kamar yang luas namun terlihat sangat sepi walaupun diisi dengan banyak barang mewah.
“Hana, abaikan saja mereka, biarkan saja.”
“Tapi kenapa?” tanyaku tidak terima.
“Aku hanya tidak ingin kehilangan pelayanku, abaikan saja, mereka dapat berbuat diluar nalar jika kau melawan perkataan putri Maura” haa jadi putri tadi bernama Maura, wajahnya tidak secantik Calista. Dia mempunyai rambut hitam panjang yang diikat sedemikian rupa dengan tusuk konde emas di kepalanya.
__ADS_1
“Hmm, apa pelayan putri yang lainnya juga..”
“Iya, yang dia katakan mungkin benar karena setiap pelayan yang melayaniku tidak pernah lama, mereka akan mengundurkan diri atau meninggal, mungkin ini juga kutukan dari seorang putri sepertiku.”
Aku terdiam menatapnya tidak percaya. ‘yang benar saja apakah ini yang dimaksud Maura tumbal tadi? Apa aku juga akan berakhir di dunia yang tidak aku kenal ini? Aku ingin kembali!’
Sebagai pelayan putri Calista tidak banyak yang aku lakukan, aku hanya menemaninya di dalam kamar membawakan makanan ke kamarnya, mencoba mengabaikan celotehan para pelayan putri yang lainnya saat mengambil makanan. ‘haa semoga kesabaranku tidak ada limitnya’
Aku membawa makanan ke dalam kamarnya, Calista sedang duduk dan membaca sebuah buku, dia terlihat sangat anggun bagai malaikat. ‘oh iya buku, alasan utamaku adalah untuk ke perpustakaan.’
“hmm putri..”
Calista tersenyum lembut, “Taruh saja disana Hana..”
“Putri, kamu sedang baca buku apa?”
“Buku tentang dunia luar, seandainya aku bisa bebas melihat dunia luar.”
“Kenapa tidak keluar saja, apa kamu tahu putri di dunia luar sangatlah indah, banyak sekali pepohonan dan hewan yang lucu” ‘kenapa dunia luar aku malah teringat dengan hutan’ “juga pemandangan seperti permadani hijau di desa, banyak sekali anak-anak yang dengan riang gembira berlarian dan menari di pasar.”
Calista tertawa kecil mendengar celotehanku. “Kau tahu Hana? Dari semua pelayanku mungkin hanya kau yang begitu semangatnya bercerita seperti itu” dia masih tertawa.
“Oh iya kau dari dunia luar yang kau sebut Forestland, seperti apa disana?”
“Disana sangatlah indah, tidak ada kekaisaran dan tidak ada selir maupun pelayan semuanya berteman, semuanya saling membantu. Hal yang aku sukai adalah saat bersama-sama membuat sesuatu seperti puding, smooties, membuat kopi, menjahit baju, dan banyak lagi.” Ucapku mengingat-ingat apa saja yang biasanya aku dan teman-temanku lakukan.
“Sepertinya tempatmu sangat menyenangkan.” Calista tersenyum dengan mata kesepiannya.
“Putri apa ada buku yang lainnya lagi? Aku ingin membacanya.”
“Kau bisa membaca?” tanyanya. “Tentu saja.” Ucapku dirumah bibi aku sudah sering membaca buku yang sama walaupun aku lebih melihat gambarnya saja.
Calista memberikanku buku sampul cokelat dengan tulisan berwarna emas. ‘mungkin dengan membaca beberapa buku aku bisa menemukan petunjuk untuk pulang ke dunia ku.’
Aku mulai membuka buku tersebut dan membacanya. “Kau kenapa Hana? Kenapa matamu berair? Kau menangis?” tanya Calista membuyarkan pikiranku.
“ahh, egh, itu, ini aku tidak mengerti tulisannya..” ucapku dengan mata yang panas karena kesal tidak bisa membacanya. ‘Buku apa ini? Aku bahkan tidak mengerti huruf yang ada di dalamnya.’
Calista tertawa melihat ekspresiku “Baiklah karena kau sangat ingin membacanya, aku akan mengajarimu membaca” ucapnya tersenyum.
Aku ikut tersenyum, mengingat kebodohanku dengan sombongnya bilang aku bisa membaca. Aah aku baru ingat buku yang diberikan bibi adalah buku kuno yang berbahasa inggris tentu saja aku bisa membacanya. Tapi ini, baru pertama kali aku melihat tulisan seperti ini, tunggu, tidak, sepertinya aku sudah pernah melihat tulisan ini tapi dimana??.
__ADS_1