
Sudah hampir dua minggu setelah kejadian aku menampar Maura, dan belum ada tanda-tandanya membuat ulah. Saat berpapasan denganku pun dia hanya melewatiku saja. ‘baguslah setidaknya tenagaku tersimpan’
“Plak! Buk..bukk..” Madam Vero memukul pundakku dengan kipas ditangannya dan buku diatas kepalaku berjatuhan. Yah sekarang aku sedang diajarkannya cara berjalan dengan anggun.
“Apa yang kau lamunkan. Fokuslah!!”
“Iya madam..” jawabku memperbaiki buku diatas kepala dan mencoba berjalan lurus
Aku sudah hampir memahami segala tugas sebagai permaisuri, kecuali menulis.
“Madam bagaimana dengan kalimat ini?” tanyaku saat pelajaran membaca dan menulis.
“Kemajuanmu dalam membaca cukup cepat, namun dalam tulisan kau sangat payah, kalimatmu masih berantakan.”
‘jika begitu bagaimana caraku menulis kontrak dengan cepat’
Kemampuan membacaku meningkat pesat karena dibantu Calista, saat selesai kelas aku akan menemui Calista dikamarnya dan membaca buku-buku miliknya. Poko pun ikut membantuku, walau tidak ku ceritakan Poko selalu berada di sampingku kecuali saatku sedang bersama madam Vero dan Sen.
“Nona silahkan” Kin menyajikanku minuman dan cemilan manis, seusai kelas madam Vero.
“Terima kasih Kin, sepertinya jiwa ku telah kembali..” candaku
“Kau menikmati waktumu?” Sen tiba-tiba datang dan duduk di depanku.
‘Iblis ini selalu muncul tiba-tiba’
“Tidak lagi, setelah ada pengganggu” ucapku yang secara terang mengatakan Sen seorang pengganggu.
“Apa ada pergerakan dari Iblis-Iblis?” tanyanya
‘aneh rasanya saat dia mengucapkan kata Iblis padahal dirinya sendiri raja Iblis’
“Tidak ada, sepertinya mereka sedikit tenang akhir-akhir ini, tapi ketenangan mereka membuatku tidak tenang”
“Kau harus tetap waspada karena sekarang target mereka adalah dirimu”
‘yah kalian sangat suka sekali menjadikanku umpan para Iblis’
“Mata-mataku mengatakan melihat seorang pelayan keluar dan membeli sesuatu di toko obat”
“Apa dia membeli racun?”
“Ku rasa tidak, karena semua makanan yang kau makan selalu diperiksa terlebih dahulu”
“Lalu untuk apa dia ke toko obat? Apa dia sakit?” aku tenggelam dalam pemikiranku.
“Tenanglah, kau hanya harus berhati-hati, kita tidak akan tahu apa yang dipikirkannya”
“Baiklah, terima kasih atas peringatannya”
*****
Hari berganti malam, setelah dari kediaman Calista aku kembali ke kamar bersama Kin.
“Hmm, harumnya membuatku lebih rileks” ucapku saat masuk ke dalam kamar dengan aroma terapi yang menyebar di ruanganku.
“Sepertinya pelayan telah mengganti lilin aroma di kamar nona” Kin ikut menikmati aroma yang membuat rileks ini.
Aku tersadar akan sesuatu, segera aku menutup hidung dan hidung Kin.
‘sial! Sepertinya ini buka aroma terapi’
Aku membuka lemari pakaian dan pengambil sebuah pil, dan memberikan pil itu kepada Kin. Pil ini penetral racun yang ku dapatkan dari bibi saat terakhirku ke rumahnya.
“Bagaimana dengan nona?” tanyanya khawatir karena aku hanya mengambil satu pil dan ku berikan kepadanya
“Tidak apa, aku masih bisa menahannya” ucapku setelah membuat kain pengikat seperti masker untuk menutupi mulut dan hidungku.
‘Sepertinya ini jebakan yang akan dilakukan Maura setelah sekian lama hanya diam. Cih! rencana murahan seperti ini sudah banyak ku temui dalam film dan novel’
“Nona kita keluar dari sini..” ajak Kin. Dan aku baru sadar tidak ada penjaga di depan kamarku setelah aku masuk.
__ADS_1
“Tunggu Kin, sepertinya ada yang datang.” Aku mengajak Kin bersembunyi dengan memegang sebuah benda yang bisa ku gunakan untuk memukul pingsan si pelaku.
Pintu kamarku terbuka memperlihatkan seorang pelayan yang masuk menutupi bagian hidung dan mulutnya. Tidak membuang waktu, aku langsung memukul bagian belakangnya dan dia tidak pingsan. Dia menoleh ke arah ku dengan keterkejutan, lalu pingsan dengan sendirinya. Tentu saja Kin yang memukul bagian belakangnya hingga dia pingsan. ‘pelayanku memang luar biasa’
Kin membantuku membawanya ke atas tempat tidurku, dan membuka penutup hidung dan mulutnya. ‘Pelayan ini seorang perempuan dan tidak membawa senjata apapun, berarti dia ingin memastikan aku mengalami keracunan atau dia hanya…’
“Kin ayo keluar, sepertinya ada yang menunggu kita diluar”
Jika mengikuti alurnya kalau bukan ingin meracuniku pasti ingin membuatku malu. Dan benar saja, tidak jauh dari kamarku terlihat seorang yang sudah menunggu.
“Kin, katakan kepadanya semuanya sudah siap.. ”
Kin menuruti perintahku dan menghampiri seseorang di dekat kamarku. Aku tentu saja bersembunyi di balik tembok. Sepertinya efek dari aroma itu mulai berefek kepadaku, badanku terasa panas. ‘sial! Ini ramuan perangsang! Benar-benar rencana murahan!’
Setelah melihatnya masuk ke kamarku, Kin menghampiriku dengan wajah khawatir. Aku sudah terduduk dan panas di tubuhku mulai menjalar.
“Nona..” Kin membantuku berdiri
“Kin, antarkan aku ke kamar Sen!” perintahku.
Tanpa penolakan Kin membantuku sampai ke kamar Sen tanpa adanya gangguan.
“tok..tok..tok.. Yang Mulia maaf menganggu..” Kin mengetuk pintu kamar Sen beberapa kali
“Sen! Buka pintunya!!” teriakku yang sudah tidak tahan.
Pintu langsung terbuka memperlihatkan Sen dengan jubah tidurnya. Aku langsung limbung memeluk Sen.
“Apa yang terjadi?” tanyanya kepada Kin.
“Nona menghirup racun Yang Mulia” jawab Kin.
Sen melihat ke arahku, ku rasakan wajahku yang memerah karena panas.
“Sen.. aku pinjam kamar mandi mu..” Aku melepaskan pelukanku dan berjalan menuju kamar mandi yang entah dimana. “Kin bantu aku..” Kin dengan sigap langsung membantuku tanpa ijin dari yang punya kamar.
“Masuklah..” Sen membuka sebuah pintu yang ku yakini sebuah kamar mandi. Kin membawa ku masuk, dan aku mulai membuka pakaianku. Sen menunggu diluar.
‘haa…’ rasa panas di tubuhku sedikit demi sedikit mereda. Aku mulai memperhatikan sekelilingku, kamar mandi berukuran seperti kamarku di dunia asalku. ‘ternyata selama di duniaku, aku tidur di kamar mandi’
Setelah merasa enakan akupun keluar dari kegiatan merendam diri, Kin membantu berpakaian menggunakan gaun tidur yang ntah sejak kapan dia dapatkan.
“Bagaiman keadaanmu?” Sen langsung bertanya sekeluarnya aku dari kamar mandi.
“Sudah lumayan, hanya saja sepertinya aku cukup lelah karena rangsangan..”
“Rangsangan?” beonya.
“Yah, sepertinya lilin aroma di kamarku di ganti menjadi obat perangsang yang ku kira aroma terapi”
“Kembali lah ke kamarmu.” Sen memberi perintah kepada Kin.
‘tunggu dulu, lalu aku harus tidur dimana?’
Tanpa banyak bertanya Kin pamit undur diri dan keluar dari kamar Sen.
“Kau tidur di kamarku!” perintah Sen kepadaku.
“APA? Tidak kita bahkan belum menikah!”
“Setidaknya kita akan menikah, dengan begitu orang-orang dalam istana akan mengakuimu sebagai kekasihku.”
Aku masih berfikir, ‘benar juga dengan begitu akan lebih cepat memperkuat kedudukanku’
“Sudahlah cepat tidur, bukannya kau lelah?” Sen berbaring di tempat tidurnya yang luas dan menyuruhku tidur disampingnya, “Tenang saja aku tidak akan melakukan apa-apa.”
‘apa omongan pria ini bisa dipercaya?’
Karena terlalu lelah, aku pasrah dan membaringkan tubuhku di sampingnya. Mataku pun terpejam.
Aku terbangun ketika matahari belum memperlihatkan sinarnya ‘Mana bisa tidurku nyenyak!’
__ADS_1
Aku memperhatikan wajah Sen yang tidur disampingku, wajah pria yang ku lihat di danau bisa ku lihat sedekat ini. Wajah tidurnya seperti malaikat tidak terlihat jelmaan Iblis.
“Sudah puaskah kau memandangiku tidur?”
“Kamu sudah bangun?” aku menghentikan kegiatanku memandanginya dan mengalihkan pandanganku ke arah lain.
“Bagaimana aku tidak terbangun ketika ada singa betina yang siap menerkam mangsanya?”
‘Sialan!’
“Kamu terlalu buruk untuk jadi santapan singa betina!” balasku kesal. Sen hanya tertawa menanggapinya.
“Sepertinya pagi ini akan ada keributan..” ucapku mengalihkan percakapan. Aku duduk bersender di atas tempat tidur.
“Maksudmu?” Sen ikut duduk bersender.
“Jika mengikuti alurnya Maura akan ke kediamanmu dan menjelekkan ku dengan cara memfitnahku sudah melalukan perbuatan yang menjijikan”
“Sepertinya kau sangat mengerti alurnya..”
‘tentu saja aku mengerti. Ini alur yang sering terjadi di komik dan novel yang ku baca’
Tidak lama matahari sudah menampakan sinar hangatnya. Dan keributanpun dimulai.
“Yang Mulia! Yang Mulia!” terdengar suara Maura di luar kamar yang mengetuk pintu.
‘seperti yang ku duga’
“Sen beri aku tanda” ucapku membuka jubah tidur memperlihatkan bagian pundak dan leherku.
“Ha? Apa maksudmu?” telinga Sen memerah.
“Sudah tidak ada waktu lagi, berikan aku tanda kepemilikan untuk membuat Maura kesal. Cepatlah!”
“Yang Mulia!” suara Maura masih memanggil di luar kamar.
“Sen!”
“Sial! Kau yang memintanya, jangan menyesal!” Sen langsung memberikanku tanda di leher dan di bagian bawah pundak, ‘sepertinya ini sudah cukup’
“Tu..tunggu Sen, ini sudah cukup..” ucapku mencoba mendorong tubuh Sen menjauh, namun dia masih memberikan ku tanda di sebelahnya.
“Berhenti Sen!” perintahku yang masih mencoba mendorong tubuh Sen yang terus menciumiku. ‘Sial jika seperti ini aku juga tidak akan tahan!’
“Bukankah sudah ku katakan, kau yang memintanya jangan menyesal” ucapnya setelah memberikanku beberapa tanda kepemilikan.
“Yang Mulia! Yang Mulia! Saya ingin melaporkan tentang calon permaisuri Yang Mulia!”
“Sen, pergi temui Maura, aku akan menyusul” Sen lalu beranjak dari tempat tidur, membuka pintu menemui Maura.
Aku menatap tubuhku di depan cermin, memegang tanda yang ditinggalkan Sen, ‘Sen lihai dalam bercupang!’
“Ada apa?” terdengar suara Sen yang bertanya kepada Maura.
“Yang Mulia, seorang pelayan melihat Hana membawa seorang pelayan ke dalam kamarnya, sepertinya mereka bermalam di dalam kamar”
“Apa maksudmu?” Sen bertanya dengan nada tidak senang.
“Mu..mungkin Hana berselingkuh dari anda Yang Mulia..”
‘haa.. lihatlah sesuai dugaanku!’ aku mengacak rambut dan membenarkan jubahku memperlihatkan tanda kepemilikan, seperti seorang yang baru bangun tidur.
“Ada apa Sen?” tanya tiba-tiba menghampiri Sen dari belakang. Tentu saja sudah bisa dibayangkan bagaimana terkejutnya wajah Iblis kecil ini.
“Apa yang kau lakukan di kamar Yang Mulia?!” tanyanya dengan keterkejutan. ‘wajah seperti ini membuat mood ku baik di pagi hari’
“Apa lagi? Tidakkah kamu lihat? Aku menemani calon suamiku tidur..” jawabku dengan bergelantungan manja di lengan Sen sambil memperlihatkan tanda merah di sekitar bagian leher dan bawah pundak.
“Bukankah kau sudah melihatnya? Dia semalam berada di kamarku, mana mungkin pelayan melihatnya membawa masuk pria lain!”
“Ta.. tapi Ya..Yang Mulia..” Maura masih belum hilang dari keterkejutannya.
__ADS_1
“Lebih baik kita melihatnya langsung saja Sen..” ucapku tentu saja dibalas tatapan tidak senang dari Maura karena hanya aku yang memanggil kaisar dengan nama.