
Sudah hampir satu bulan aku berada di dunia asing ini dan belum menemukan petunjuk bagaimana cara kembali ke dunia asalku. Keseharianku hanya ku gunakan untuk belajar tentang membuat obat tradisional dan bermain ke hutan, sesekali berjalan-jalan melihat keadaan di desa.
Hari ini aku membantu bibi mencari kayu bakar di dalam hutan dan beberapa bahan obat-obatan.
“Apa ini sudah cukup?” tanyaku kepada bibi yang sedang mengikat potongan-potongan kecil kayu.
“Sepertinya sudah cukup, minum lah kau terlihat lelah..” bibi memberiku minum yang dibawanya dari rumah. Aku duduk disamping bibi sambil beristirahat, waktu yang ku habiskan bersama bibi cepat berlalu dan hari mulai gelap. Kamipun memutuskan untuk pulang ke rumah.
“Meoow! (Ada yang mendekat!)” Poko memperingatkan.
“Ada apa Hana?” tanya bibi bingung melihatku hanya berhenti berjalan. Terdengar banyak derap kaki binatang yang ku yakin itu bukan kaki kuda. Benar saja, saat ku memutar badan ada sekitar 6 ekor serigala yang mendekat.
Mereka mulai medekati ku dan bibi, bibi memegang tanganku seolah ingin melindungiku. ‘sial! Harusnya aku yang melindungimu!’ Poko merapat ke kaki ku.
Bagaimana cara menghadapi serigala? Aku pernah mendengar menghadapinya dengan api, tapi bagaimana cara kami mendapatkan api. Kalo mengingat betapa susahnya menyalakan api dari kayu waktu di sungai mungkin kami sudah keburu di makan.
“Hush.. hush hush” ucapku seolah sedang mengusir ayam. Poko melirikku tidak percaya dengan apa yang ku lakukan. Bagaimana lagi? Hanya cari ini yang terpikirkan olehku.
‘Sial kenapa mereka tidak mau pergi. Kenapa makin mendekat’ aku semakin merapatkan diriku ke bibi, bagaimanapun aku belum mau mati dan aku juga harus melindungi bibi yang sudah ku anggap seperti ibu sendiri di dunia ini. Serigala makin mendekat dengan memamerkan gigi mereka yang mengerikan.
Tiba-tiba serigala-serigala yang mendekat menunduk dan mundur secara perlahan. ‘Apa? Kenapa?’
“Hey wanita apa yang kau lakukan di hutan ini” Max muncul di belakangku dengan ucapan dinginnya.
“Max!” teriakku senang, buang saja rasa jengkelku dengan ucapan dinginnya yang penting aku selamat. Belum, belum sepenuhnya selamat. Serigala-serigala itu hanya mundur memberi jarak antara kami.
“Bukannya dia temanmu Hana?”
“Iya,, bibi dia yang waktu itu mengantarku pulang ke rumah”
Max melirik ke arah serigala-serigala dengan tatapan tajam dan merekapun pergi. ‘Wow! Dia terlihat sangat keren dengan tatapannya’
“Pulanglah, aku akan mengantarmu keluar hutan” ucapnya masih dengan nada dingin dan acuh.
“Terima kasih” ucapku mengikutinya dari belakang bersama bibi.
*****
“Poko lihat!” seruku saat melihat hamparan permadani hijau, cuaca hari ini cukup mendukung untuk berjalan-jalan di desa.
Selama aku belum menemukan cara kembali ke dunia ku, ku putuskan untuk menikmati hidupku di dunia ini. Masih banyak yang belum ku ketahui tentang dunia ini, sangat-sangat banyak. Bukan hanya sejarah negara yang ku tinggali sekarang, bahkan sekarang aku penasaran dengan rambut keemasan yang berarti memiliki kekuataan spritual dalam dirinya.
“Hey kita bertemu lagi!”
‘Kenapa aku bertemu dengan laki-laki ini lagi! Padahal aku hanya ingin jalan-jalan tenang mengelilingi desa’ rutukku saat melihat seseorang yang menyapaku. Terserahlah lebih baik ku abaikan.
“Hey! Hana!” langkahku terhenti saat dia dan kudanya menghadang jalanku. “Apa kau tidak mendengar panggilanku?”
“Ehh, maaf aku terlalu fokus berjalan..” jawabku sekenanya.
“Kau mau kemana?”
“Tidak kemana-mana, hanya merasa bosan dan jalan-jalan di desa” dia tersenyum, ‘ya Tuhan ternyata dia tampan juga walau banyak bicara’
“Bukannya membosankan jika kau hanya keliling desa yang sudah sering kau jelajahi?” ucap Rey turun dari kuda. Yaa dia benar akupun sudah mulai bosan berjalan-jalan di desa walaupun baru berapa kali, tidak ada hal yang menarik di desa ini hanya ada pemandangan yang menyejukkan mata.
“hmm..” ucapku sambil berfikir yang dikatakannya ada benarnya.
“Ayo ikut aku!” ajaknya.
“Kemana?”
“Kita ke kota, disana banyak hal yang menarik dari pada disini.” Aku mengangguk dan menyambut tangannya. Dia membantuku naik ke atas kuda dan dia duduk di belakangku. Aduh jantungku!
“Ayo Poko!” ajakku, Poko langsung melompat ke arahku. ‘Kucing pintar’
__ADS_1
Suasana kota memang berbeda dengan di desa, disini sangat ramai dan berisik. Kami melewati pasar, banyak yang berjualan buah-buahan- sayur-sayuran, pakaian, aksesoris dan lain-lain. Ada yang memainkan musik di jalan atau kalau di duniaku disebut pengamen. Tapi, musik yang dimainkannya sangat indah berbeda dengan pengamen yang sering ku temui di lampu merah yang hanya asal bernyanyi dan tidak jarang memaksa untuk diberikan uang.
“Turunlah..” ucap Rey membantuku turun dari kudanya, Poko sudah loncat duluan untuk turun.
“Waahh.. ini sangat berbeda dengan desa!” ucapku girang, bagai burung yang lepas dari sangkarnya.
“Kau mau mencobanya?” Rey menunjuk makanan yang di jual di depan kami.
“Aku tidak bawa uang..”
“Tenang aku yang traktir!” ucapnya. ‘itu lah kata-kata yang ingin ku dengar’ batinku kegirangan.
Kami menghampiri beberapa kios makanan, Rey membayar semua makanan yang ingin ku coba. ‘Rejeki kan tidak boleh ditolak.’
Kami menghampiri laki-laki yang sedang memainkan musik di jalanan, terlihat beberapa anak kecil ikut menari mengiringi musiknya. Ya musik ini sangat indah dan membuatku ingin ikut menari. Tanpa sadar aku sudah berada di tengah anak-anak dan ikut menari sesuai irama musiknya. ‘Ini sangat menyenangkan!’
Sudah lama aku tidak menari, terakhir menari waktu ikut kegiatan ekstrakurikuler. ‘Lumayan olahraga’ aku tersenyum senang selesai menari, selendangku terlepas dari kepalaku mengeraikan rambut cokelatku. Cuaca saat ini sangat mendukung tidak terik, jadi kilau keemasan rambutku tidak terlihat.
“Apa kau sangat suka menari?” Rey memberiku minum.
“Hmm, suka! Ini menyenangkan!” seru ku. Rey tersenyum melihatku.
“Kamu kenapa?” tanyaku bingung.
“Tidak, hanya saja, baru kali ini aku mempunyai teman sepertimu” Teman? Ya mungkin ini bisa dinamakan pertemanan setelah temanku selama ini hanya 2 ekor binatang, Max? aku tidak yakin dia mau berteman denganku.
Rey mengantarku kembali ke desa, aku mengatakan kepada Rey untuk mengantarku sampai di depan desa saja. Aku tidak ingin bibi banyak bertanya.
“Terima kasih banyak” ucapku turun dari kudanya, “Tadi sangat menyenangkan.” Sambungku.
Rey tersenyum “Aku senang jika kau menikmatinya. Kapan-kapan apa boleh aku mengajakmu pergi lagi? Kau tau, kau gadis yang menyenangkan”
“Tentu!” ucapku cepat, “Kita kan teman!” sambungku. Rey tersenyum lalu menaikki kudanya, aku melambaikan tanganku “Hati-hati dijalan..” ucapku.
*****
“Meow? (kau kenapa?)”
“Tidak apa-apa, hanya bermimpi buruk lagi. Ayo ke danau, aku ingin berendam dan bertemu Bear”
Aku dan seekor teman memutuskan untuk pergi ke hutan bertemu dengan seekor teman lainnya.
“Growll..”
“Bear!!” aku berlari memeluk Bear bantalan bulu ku, sudah lama aku tidak tidur memeluknya.
“Growll” Bear mengusap-usap kepalanya ke badan ku. Aah dia menggemaskan, aku mengusap-usap kepala Bear.
“Bear, ayo kita main ke danau..”
Kami menuju danau, aku menunggangi Bear dan Poko berjalan sejajar dengan Bear. Sampailah kami di pinggiran danau, aku turun dari badan Bear dan melepas sepatu ku.
“Growl!!” Bear mendorong ku masuk ke dalam danau.
“Bear!! Aku belum sempat melepas bajuku, lihat semuanya basah!” ucapku kesal.
“Growll” Bear menundukkan kepalanya seolah mengerti jika ku sedang marah dan meminta maaf. ‘Waah imutnya’
Selesai menyegarkan tubuh dan mengeringkan pakaian perutku meminta tumbal. Tepat di depan ku ada pohon apel yang sedang berbuah, Bear membantuku mengambil beberapa buah apel.
“Ternyata kau berteman dengan seekor beruang!” ucap seseorang mengagetkanku.
“Growll!!” Bear terlihat tidak senang dan hendak menyerang seorang pria yang sudah berdiri di belakang kami.
“Bear tenanglah! Aku kenal dia..” ucapku menepuk-nepuk lengan Bear untuk menenangkannya. Bear mendengarkan perkataanku.
__ADS_1
“Kau memang gadis yang aneh!” ucapnya lagi.
‘Kenapa dia sering mengataiku gadis aneh!’
“Jadi kau berteman dengan seekor beruang..”dia melirik ke bawah ke arah Poko “dan seekor kucing” sambungnya.
“Meow..? (apa salahnya?)” Poko mengeluarkan pendapat.
“Ya, Apa salahnya kalau berteman dengan binatang? Mereka lucu dan tidak pernah mengataiku aneh!” sindirku.
“Meoww.. (tapi kau bodoh..)”
‘Hey! Kucing sialan sebenarnya membela siapa!’ batinku kesal memelototi Poko. Bear mundur menjauh dan Poko ikut bersamanya. ‘Apa ini yang dinamakan teman?’ mereka meninggalkanku dan aku harus menghadapi pria ini sendirian.
“Zee! Kau disini..” seorang pria mendekat dan mengarahkan pandangan ke arah ku “eh, Hana kita bertemu lagi!” ucapnya dengan nada senang. Zee melirik ke arah Rey tidak senang.
“hey Rey..” sapaku.
“Kenapa kau berada di hutan ini? Apa kau mencari kucing peliharaan mu lagi?” Zee melirik tidak percaya ke arah ku dan tersenyum penuh arti.
“Ehmm, egh Yaa, kucing ku lepas lagi.. Dia suka bermain ke dalam hutan”
“Kau ingin kami bantu mencarinya?” tawar Rey.
“Ah,, egh tidak perlu, sepertinya dia sudah keluar dari hutan ini” jawabku cepat.
“Bagaimana kau bisa tahu? Apa kau peri hutan yang bisa berbicara dengan makhluk hidup yang berada di hutan? Hahaha” Rey menerka dengan bercanda.
“hahaha mungkin aku memang peri hutan..” jawabku membalasnya dengan bercanda. Zee hanya melihat kami yang bersaut candaan satu sama lain.
“Baiklah peri hutan, bagaimana jika aku mengantarmu pulang..” Rey melanjutkan bercandanya.
“Waah, apa benar kamu mau mengantarku pulang?”
“Tentu saja!”
“Bagaimana kamu mau mengantarku pulang sedangkan hutan ini tempat tinggalku?” lanjutku tertawa menunggu balasannya.
“Ehem!” Zee membuka suara, tidak dia tidak membuka suara melainkan menghentikan percakapanku dengan Rey.
“Apa kalian sedekat ini?” tanya Zee dingin. Apa dia marah? Karena dari tadi tidak kami anggap keberadaannya.
“Ya, tentu saja! Kami berteman!” ucapku merangkul pundak Rey yang lebih tinggi dariku, membuat aku harus menginjitkan kaki agar bisa merangkulnya.
Rey tersenyum dan membalas rangkulanku. “Iyaa Zee kami sudah berteman.. ahahah”
Zee terlihat semakin tidak senang dengan perilaku kami. ‘rasakan! Siapa suruh mengataiku gadis aneh dan menyebutku hanya berteman dengan binatang!’
“Terserah kalian saja. Rey bukannya kau disuruh balik ke istana untuk pertemuan!”
“Ya kau benar aku hampir melupakannya” ucap Rey, Rey melihat ke arahku mengambil kedua tanganku “Maafkan aku peri sepertinya aku tidak bisa mengantarmu pulang..” sambungnya.
“Tidak apa-apa, karena sebagai peri hutan aku memang sudah berada di rumah..”
“Baiklah hati-hati di jalan pulang, kapan-kapan aku akan mengajakmu ke tempat yang menyenangkan” Rey mengelus rambut atasku dan beranjak pergi.
“Mencari peliharaan? Kau bisa membohongi Rey tapi tidak denganku.” Ucap Zee tepat di samping telingaku.
Aku hanya terdiam dan menggigit bibir bawah ku. ‘sial! Kenapa aku harus bertemu dengannya!’
“Apa kalian mau ke istana? Bisakah aku ikut?” ucapku menghentikan langkah Zee.
Zee tersenyum ke arah ku “Tentu saja…” aku tersenyum senang mendengarnya “Tidak!” sambungnya melanjutkan langkah kakinya yang terhenti.
“ZEE!! KAMU PRIA YANG MENYEBALKAN!!!” Zee hanya melangkah dengan senyum penuh kemenangan terukir di wajahnya.
__ADS_1