Kabisat Dream (Love From Another World)

Kabisat Dream (Love From Another World)
MEMBABI BUTA


__ADS_3

Aku dan Poko dikepung oleh 6 orang pembunuh bayaran.


“Aku tidak menyangka kita dibayar hanya untuk membunuh seorang gadis gila, yang dari tadi hanya mengobrol dengan seekor kucing”


“Siapa yang gila?!” kesalku, jika dulu mungkin akupun akan memakluminya karena yah mana ada manusia yang berbicara dengan hewan. ‘Setidaknya sekarang aku tahu faktanya aku tidak gila, namun karena aku memiliki kekuatan spiritual.’


“Hahaha, sudahlah lebih baik kita cepat selesaikan tugas dan mendapatkan bayaran!” seru seorang pembunuh bayaran dan langsung menyerangku, tentu saja aku menghindar.


‘Gawat! Aku tidak memiliki senjata satupun!’


“Arghhh!! Kucing Sialan!!” Poko menyerang wajah seorang pembunuh bayaran hingga menjatuhkan senjatanya, secepatnya aku mengambil pedang itu. ‘Nice Poko!!’


“Hey!! Tidak boleh ada yang memanggilnya kucing sialan selain diriku!” bentakku mencoba menyerang mereka.


Jangan pikirkan aku akan menyerang mereka seperti seorang pendekar, itu tidak mungkin karena itu hanya ada di dalam novel yang ku baca. Aku sekarang hanya mengandalkan keberuntungan dan menyerang secara membabi buta.


“Meow!! (Apa kau gila menyerangku!!)”


“Maafkan aku Poko, saat aku mengayunkan sejata lebih baik kamu menghindar. Karena aku hanya mengandalkan keberuntungan sambil memejamkan mata!”


Aku menyerang secara membabi buta bukan tanpa alasan. Aku hanya ingin membuka jalan agar bisa kabur.


“Gadis ini menggila! Serang dia!” semua pembunuh bayaran menyerang dari segala arah.


“Hiyaaaahhh!!!” aku berputar seperti seorang balerina sambil menodongkan senjata. Berhasil! Mereka memberikan jarak diantara kami. ‘Kesempatan!’


Masih dengan serangan membabi buta, tapi tidak sambil berputar, aku berlari ke depan celah masuk lebih dalam ke hutan.


“Kejar dia!”


“Syuut tap!” anak panah menancap ke pohon dekatku. ‘Sial mereka membawa panah!’


Anak panah kedua dilepaskan dan berhasil mengenai bahuku. Tanpa pikir panjang aku masih berlari dan berusaha melepaskan anak panah yang menancap namun tidak cukup dalam. Tanganku penuh dengan darah yang mengalir usai ku lepaskan anak panah yang ditancap.


‘sial! Ngilu, lebih dari sakit saat disuntik’


Aku bersender di pohon bersembunyi dan sudah kelelahan dengan darah yang terus mengalir. Tentu saja mereka mengetahui tempatku bersembunyi melalui jejak darah yang ku tinggalkan.


‘seharusnya anak panahnya tidak aku lepas agar darahnya tidak mengalir. Tapi dengan anak panah yang menempel di bahuku, membuatku risih!’


“Dia terpojok! Bunuh dia sekarang!”


‘Apa ini akhirnya?’


“Groowlll!!!!” Bear tiba-tiba muncul dan mengamuk kepada pembunuh bayaran. Bear tidak sendirian namun ada beberapa beruang lainnya yang membantu.


“Bear!!”


Bear menoleh ke arahku mendekatiku, “growl…” mata sayunya memperlihatkan kekhawatiran.


“Aku masih baik-baik saja..”


Aku disini sekarang hanya jadi penonton dari perkelahian antara beruang dan manusia dengan jumlah manusia yang kalah banyak dibandingkan beruang. ‘setahuku beruang tidak berkelompok, apa aku salah?’


Pertandingan diakhiri dengan kemenangan dari pihak beruang, pembunuh bayaran itu kabur. “Kita mundur!! Cepat atau lambat dia akan mati juga dimakan beruang atau…” ucapnya sambil berlalu pergi hingga tidak terdengar kalimat akhirnya.


“Bear terima kasih!” ucapku memeluk Bear.

__ADS_1


Aku melihat beruang lainnya, “Terima kasih karena sudah membantuku, aku selamat berkat kalian.” Para beruang menunduk seolah memberi penghormatan sebelum akhirnya pergi dan meninggalkan Bear sendirian.


‘Dimana Poko? Setelah aku mengatakan untuk menghindar dari seranganku dia langsung melarikan diri ntah kemana. Kucing sialan ku kira dia akan setia menemaniku!’


Bear membantuku berdiri karena terlalu lelah dengan semua kegiatan membabi buta tadi.


“Darimana saja kamu?” tanyaku kepada Poko yang baru muncul.


“Meow.. (Mencari bantuan)” ucapnya acuh


“Bukannya melarikan diri?”


“Meow.. (jika bukan karena ku bagaimana bisa kau diselamatkan oleh banyak beruang!)”


“Oh benar juga, anggap saja begitu. Terima kasih!” ucapku datar


“Meow.. (manusia tidak tahu terima kasih! Malah ingin membunuhku!)”


“Siapa yang ingin membunuhmu?!”


“Meow!! (Kau! Siapa lagi yang mengayunkan pedangnya kepada orang yang hendak membantu!)”


“Kamu orang?” tanyaku melihat ke arah Poko


“Hana..” Max dan Lary datang menghampiriku menghentikan perdebatan antara aku dan Poko.


“Apa yang terjadi?” tanya Max dengan mata tajam menatap ke arah Bear seolah akan membunuhnya. ‘dia salah paham’


Bear yang merasakan bahaya langsung bersembunyi di belakangku, ‘oh lihatlah beruangku yang lucu, apa kamu tidak sadar badanmu lebih besar daripadaku, kalau posisi seperti ini yang ada terlihat seperti aku akan disandera beruang!’


“Max, bukan dia yang…” ah aku terlalu lemah untuk berbicara, ‘racun! Sepertinya anak panah tadi beracun.”


“Apa?!!” Max terlihat sangat kesal.


“Biar saya yang mengurus pemburu bayaran itu tuan..” ucap Lary meminta izin kepada Max yang hanya mengangguk isyarat diberikan persetujuannya. Lary langsung melesat menghilang dari pandangan mata.


“Max.. Bawa aku ke tempat bibi…” pintaku langsung kehilangan tenaga.


Max menggendongku sampai ke rumah bibi.


“Hana?! Apa yang terjadi?” tanya bibi panik saat melihatku lemas dengan darah di tangan.


“Bibi.. a..ku..” bahkan untuk berbicarapun aku tidak punya tenaga.


“Dia keracunan” ucap Max singkat mengantiku bicara.


“Bawa dia masuk.” Perintah bibi langsung dituruti Max. Max membaringkanku di atas tempat tidur, bibi langsung meracik obat, dan aku terlelap.


*****


Matahari menusuk mataku, aku terbangun dengan tangan yang terbalut perban.


“Kau sudah bangun Hana?”


“Bibi..” aku mencoba duduk di tempat tidur.


“Racun di tubuhmu sudah dikeluarkan, untung saja racunnya tidak banyak masuk ke dalam tubuhmu” jelas bibi. “Sebenarnya apa yang telah terjadi Hana?” tanya bibi khawatir.

__ADS_1


“Pembunuh bayaran…”


“Apa? Bagaimana bisa kau berurusan dengan orang-orang berbahaya?”


“Itu.. bibi…” akupun menceritakan kepada bibi apa saja yang telah terjadi dan yang ku lalui usai pelarianku waktu itu.


“Kau yang akan menjadi calon permaisuri??” tanya bibi tidak percaya aku hanya mengangguk, reaksi seperti ini adalah hal yang wajar.


‘jangan kan bibi aku pun tidak percaya awalnya, setelah tahu aku hanya dijadikan tumbal, baru aku mengerti.’


“Apa bibi tahu tentang calon permaisuri kaisar?”


“Tentu saja, saat bibi mengantar obat ke kota, banyak yang menceritakan tentang terpilihnya calon permaisuri kaisar”


‘apa dimana-mana bergosip adalah keahlian yang alami?’


“Oh iyaa temanku?” tanyaku mengalihkan obrolan.


“Setelah mengantarmu dia pergi, dia yang menolongmu dari para pembunuh?” aku mengangguk, lebih masuk akal jika bibi mengira Max yang menolongku daripada ku katakan para beruang yang menolongku.


“Ini minumlah.. sepertinya kau sudah tidak apa-apa..” aku mengambil mangkuk kayu yang diberikan bibi dan meminumnya sampai habis. ‘Pahit!!’


“Meow.. (seseorang mencarimu..)” aku memiringkan kepala seolah bertanya siapa yang mencariku.. “Meow.. (kau bisa melihatnya sendiri)”


Aku langsung memeriksa keluar, setidaknya kucing sialan ini tidak akan mencelakaiku.


“Max?”


“Bagaimana keadaanmu?”


“Lihat aku sudah baik-baik saja, obat yang diberikan bibi benar-benar ampuh!” jawabku dengan merengangkan kedua tangan ke atas.


“Dua orang dari pembunuh bayaran itu sudah ditangkap” ucap Max.


“Apa? Bagaimana dengan 4 lainnya?”


“Ntahlah mungkin sudah tidak sayang dengan nyawanya..” ucap Max dengan santainya. ‘seram.’


“Apa mereka mengakuinya?”


“Tentu saja!”


“Apa semudah itu mereka mengakuinya?” tanyaku tidak percaya. ‘biasanya kan pembunuh bayaran sulit untuk mengatakan yang sebenarnya, bahkan ada yang rela mati membawa pertanyaan’


“Tentu saja, karena mulut mereka jaminan keluarga”


“Ha? Apa maksudnya?”


“Meow.. (kau bodoh)” aku melirik ke arah Poko.


“Ahh maksudmu, mengancam menggunakan nyawa keluarga mereka” ucapku yang baru mengerti.


“Ayo ikut menemui mereka!” ajak Max yang langsung ingin menggendongku.


“Tu..tunggu Max, aku harus pamit dulu dengan bibi” aku lalu masuk ke dalam dan pamit kepada bibi, dengan alasan orang istana sudah mencariku. ‘tentu saja Iblis itu pasti mencariku yang sudah seharian menghilang’


“Baiklah Hana, kau harus lebih berhati-hati lagi, ini.. larutkan dengan air lalu minumlah dan kau harus menghabiskannya” bibi memberiku satu kantung kecil racikan obat buatannya. ‘obat pahit itu lagi’

__ADS_1


“Baik bibi, akan aku ingat” akupun pamit dengan bibi dan pergi bersama Max.


__ADS_2