
Pagi hari yang tidak begitu cerah dan menyenangkan….
‘kucing sialan kalau dia tidak menghabiskan buah-buahan yang ku ambil perut ini tidak akan meminta tumbal sekarang!’
Aku mulai mencari apa yang bisa dijadikan sebagai tumbal perutku dan mencari bahan-bahan untuk membuat obat yang akan aku berikan kepada Calista.
Selesai melakukan semua itu aku membungkusnya, oh iya aku harus menulis cara kerja obatnya. Aku mengambil kertas dan kuas yang ku temukan tadi di pondok.
“hmm,, hmm,,”
“Meow? (Apa yang kau pikirkan?)”
“Argh!!” teriakku kesal! harusnya aku belajar membaca dan menulis dengan tekun. Aku bahkan lupa apa yang sudah Calista ajarkan, aku lupa cara menulis namaku.
Lama aku berusaha mengingat tulisan namaku, akhirnya aku menulisnya ya walaupun aku masih ragu dengan tulisan ini. Lalu bagaimana selanjutnya? Namaku saja susah apa lagi menulis yang lainnya?.
“Ah,, kenapa hanya ingin menulis surat saja susah sekali…”
“Meow? Meow (Apa ini? Tulisanmu jelek sekali bahkan tidak terbaca, seperti gambar semak belukar)”
“Apa katamu?!”
“Meow!!! (apa? Kenapa? Aku mengatakan yang sebenarnya!)”
“iyaa itu benar! Poko terima kasih!!” aku memeluk Poko.
Benar jika aku tidak bisa menulis bagaimana dengan menggambar? Walau bagaimanapun jiwa seni ku kan tetap ada. Aku mulai mengambar intruksi yang harus dilakukan, dan akhirnya selesai. Ahh harusnya aku lakukan dari tadi.
“Poko ini, berikan ke Rey atau Zee, dan jangan sampai orang lain melihatnya.” Aku mengikatkan obat dan surat di leher Poko.
“Meow..”
Poko pergi ke istana meninggalkanku sendirian di pondok. Aku kangen rumah, kakak, ayah, ibu, bagaimana keadaan kalian? Aku jadi kangen bibi yang sudah seperti keluargaku di dunia ini. Aku memutuskan untuk pergi menemui bibi sekalian mengganti pakaianku nanti.
*****
“Hana?”
“bibi…” aku berlari memeluk bibi yang sedang menyapu di halaman.
“Bagaimana keadaanmu nak? Bibi dengar istana sedang mencari penjahat yang kabur dari penjara”
“hmm, itu…”
“Ayo masuk..” bibi mengajakku masuk dan membersihkan wajahku.
“Bibi, sebenarnya yang kabur itu aku tapi aku bukan penjahat, bibi tau keadaan di istana itu menyeramkan ada dua setan disana, tidak bahkan banyak..” aku menjelaskan kepada bibi ceritaku saat berada di istana. Bibi mendengarkan dan mengobati luka di punggungku.
“Seandainya bibi tau kau akan disiksa seperti ini, bibi tidak akan mengizinkanmu masuk ke dalam istana juga…” Juga? Apa maksud bibi?
“aku baik-baik saja bibi, aku bahkan berhasil kabur dari penjara hehehe” aku mencoba menghibur bibi.
Bibi hanya tersenyum melihatku, “mandilah nak, bibi akan menyiapkan makanan” Aku mengangguk menuruti perkataan bibi. Oh iya tadi aku mau menanyakan maksudnya tadi, ah nanti sajalah.
__ADS_1
Haa segarnya… pakaian pertama yang ku kenakan memang yang paling nyaman. Aku berputar-putar mengenakan pakaian yang berwarna biru keputihan.
“kenapa bibi??” tanyaku saat melihat bibi memandangiku dengan senyuman.
“Tidak.. hanya saja bibi senang melihatmu mengenakan pakaian itu lagi” aku ikut tersenyum mendengar penuturan bibi.
Bibi menyiapkan beberapa makanan untuk mengisi perutku, dan akupun mulai menceritakan kronologi kenapa aku sampai disiksa seperti ini.
“Apa sudah kau obati?”
“Sudah bi, aku juga sudah membuat penawar racun untuk Calista..”
“Lalu sekarang kau akan kemana? Mereka pasti masih mencarimu” tanya bibi khawatir.
“Aku akan bersembunyi di dalam hutan bi.. dan akan mengunjungi bibi sewaktu-waktu..”
Bibi tersenyum dan mengelus kepala ku “Hana kau punya tempat kembali, datanglah sesuka hatimu ke rumah bibi.. di sini sudah menjadi rumahmu” akupun meletakkan kepalaku dipangkuan bibi dan memejamkan mata. ‘Ibu aku merindukanmu..’
*****
Setelah istirahat sebentar di rumah bibi, aku kembali ke dalam hutan menunggu kedatangan Poko di depan pondok.
“Meow..”
“Poko bagaimana?” tanyaku mengangkat tubuh Poko ke pangkuan. Aku mengambil surat balasan dari leher Poko.
“Apa ini?” tulisannya masih sama sekali tidak ku mengerti. Harusnya mereka membalasku dengan gambar juga. “hmm mungkin ini surat ucapan terima kasih..” gumamku.
“Meow! (kau bodoh!)”
“Ahh anggap saja ini hanya ucapan terima kasih.” Putusku.
“Apa yang sedang kau fikirkan?” Max tiba-tiba datang tanpa adanya suara langkah kaki.
“Max!!” teriakku. “kenapa kamu selalu datang tanpa suara?” gerutuku kesal karena kaget.
“Bagaimana keadaanmu?”
“Hmm apa kamu mengkhawatirkan aku Max?” godaku
“Sepertinya baik-baik saja, kalau begitu aku pergi”
“eh eh tungu dulu..!” aku menarik ujung baju Max yang sempat tergapai saat ia akan melompat. ‘duh nih manusia benar-benar gak ada basa-basinya’.
“Ini” ucapku sambil memperlihatkan kertas yang aku dapatkan tadi. “Tolong bacakan untukku..” pintaku.
“Kau tidak bisa membaca??” aku mengangguk malu mendengar menjawab pertanyaannya.
“Gambarmu tidak buruk, dan obatmu akan aku diberikan ke Calista. Tabib yang menangani Calista akan diperiksa. Bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja? Kau meninggalkan obat lukamu di dalam penjara dasar ceroboh!”
“Itu saja?” tanya ku kepada Max dan hanya ditanggapinya dengan anggukan.
“Haa dimana rasa terima kasih mereka..”
“Meow.. (pufft kasihan)” ledek Poko.
“Diam kamu kucing sialan!”
__ADS_1
“Apa masih ada lagi?”
“Terima kasih Max sudah mau membacakannya”
“Tidak masalah, kau harusnya mulai belajar membaca “
“Iya aku tahu. Dan aku sudah mulai belajar menulis…”
“Bahkan menulispun kau tidak bisa?”
“hehe yaa.. karena itu aku tidak bisa membaca..” ucapku polos. “Oh ya bagaimana keadaan Lary?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Dia baik-baik saja, dia mengucapkan terima kasih karena bantuanmu dia bisa cepat pulih.”
‘setidaknya manusia tanpa basa-basi ini tahu berterima kasih’
“Ohh baguslah, aku senang mendengarnya.. kamu begitu menkhawatirkannya, dia kekasihmu?” candaku.
“Dasar bodoh aku masih normal bukan penyuka laki-laki” protes Max dengan penuh penekanan “Dia saudaraku, temanku dari kecil kami telah melewati suka duka bersama”
“Ohh jadi dia saudaramu yang sangat berharga..” ucapku sambil duduk menopang dagu. Aku merindukan kakak, kakak satu-satunya saudaraku yang menyebalkan dan berharga demi keuanganku.
“Aku juga merindukan kakakku..” ucapku pasrah dengan keadaan
“Kau mempunyai kakak?”
“Yaah aku punya dulunya….” Kalimatku tertahan, bagaimana caraku menjelaskannya?
“Dulunya? Apa sekarang kakakmu telah tiada?”
“Yaah sekarang aku hanya seorang diri, kakak ku telah tiada di dunia ini..” hmm kata-kataku tidak salah bukan?
“Apa kakakmu seorang ksatria prajurit perang yang mati di tengah pertempuran?”
‘Ha? Bagaimana bisa dia menanyakan hal seperti ini? Padahal kakakku hanya tidak ada di dunia ini namun ada di dunia asalku’
“Tidak, kakakku meninggal karena penyakit. Karena itu aku mulai belajar pengobatan agar kejadian yang menimpa kakakku tidak terjadi pada orang lain.” Jelasku agar tidak menimbulkan kecurigaan.
‘Maafkan aku kakak bukan aku menyumpahimu, ini demi identitasku di dunia ini.’
“Kakakmu pasti senang mempunyai adik sepertimu” ucap Max mengelus kepalaku
“Bagaimana jika Max menjadi kakakku saja? Orang yang pertama kali aku obati kan Max”
“Kau pikir aku mau punya adik bodoh sepertimu yang tidak bisa membaca bahkan menulis” ucapnya menohok. Bagaimana bisa dia menilai tingkat kecerdasan dari membaca dan menulis.
“Kalau aku bodoh saat kamu terluka tempo hari pasti kamu sudah mati di tanganku.” ucapku kesal tidak terima.
“Hahaha , baiklah aku akan pergi..” Max berdiri sambil menepuk pelan kepalaku.
“Pergilah dan sampaikan salam ku kepada Lary”
Max hanya tersenyum dan melompat dari satu pohon ke pohon yang lain, dia seperti tarzan zaman modern.
__ADS_1