
Pintu gerbang istana terbuka menyambut kepulangan kami. Memasuki istana pandangan tidak mengenakan mata terlihat.
“Yang mulia anda sudah kembali..” ucap senang Maura dengan suara lembutnya, ah kenapa kepulanganku malah disambut olehnya.
Maura melihat kaisar dan memandangiku tajam, pastinya dia kesal melihatku duduk satu kuda dengan suaminya. ‘bibit pelakorku meronta’
“Yang mulia bagaimana bisa anda pulang bersama dengan pelayan ini?” tanya Maura tidak senang, namun diabaikan oleh kaisar. ‘hahaha aku suka suasana seperti ini’
“Turunlah..” perintah kaisar kepadaku yang masih duduk diatas kudanya sementara ia sudah turun
Niat jahilku memanggil “Bagaimana caranya aku turun?” tanyaku berpura-pura bingung
“Kemarilah..” kaisar membantuku turun dan merangkulku.
‘lihatlah wajah tidak sukanya, tidak buruk juga menjadi seorang pelakor disini’ aku memperlihatkan senyum kemenanganku menatap Maura yang terlihat kesal
“Yang mulia bagaimana anda bisa bersama dengannya? Dia penjahat yang melarikan diri dari penjara harusnya anda menghukum dirinya karena udah melukai Calista” Maura masih berusaha mendapat jawaban dari kaisar
“Bukankah kau ikut dalam persidangan? kau tahu sendiri siapa pelakunya yang masih tidak menyebutkan dalang dari kejadian itu. Dia sudah dinyatakan tidak bersalah dengan penuturan dari Calista sendiri sebagai korban.”
‘lihatlah suamimu membelaku’ masih terlukis senyum kemenangan di wajahku ‘sepertinya tinggal disini tidak akan seburuk kemarin melihat betapa kaisar mengabaikan kehadiran Maura dan malah membela seorang pelayan’
“Hana!!”
Rey berjalan menghampiri kami “Rey!!” teriakku berlari menuju kearahnya dan spontan memeluknya.
Rey membalas pelukanku “Kau merindukanku?” tanya Rey dengan bangganya
“Kamu tau gara-gara siapa aku jadi tahanan? Kalau saja waktu itu kamu ada di tempat, aku tidak akan merasakan tidur di penjara!” ucapku kesal mengingat kejadian waktu itu Rey tidak ada saat dibutuhkan”
“Baiklah aku minta maaf karena sudah membuat temanku kesusahan, aku senang sepertinya kau baik-baik saja”
Rey memandangiku dari atas sampai kebawah “Ada apa?” tanyaku risih
“Tidak ada hanya.. aku sudah lama tidak melihatmu berpakaian seperti ini, sepertinya peri hutanku sudah kembali” kenapa beberapa hari ini kata peri selalu ada disetiap langkahku.
“Baju yang ku kenakan kotor, jadi aku kembali ke rumah bibi dan mengenakan bajuku kembali”
“Bagaimana keadaan putri Calista sekarang?” tanyaku mengalihkan
“Dia menunggumu didalam kamarnya”
“Baiklah ayo kita menemuinya.. aku harus memeriksa keadaannya” ajakku langsung berlalu pergi tanpa menoleh ke arah kaisar dan Maura
__ADS_1
“Begitukah cara pelayan menghormati seorang Kaisar?” langkahku di hentikan oleh perkataan pelayan Maura
Aku berbalik ke arahnya dan menatap kaisar “Yang Mulia, sekarang identitas apa yang aku pakai?”
“Masih sama seperti yang ku katakan tadi” ucapnya santai dengan senyuman di wajah
“Kalau begitu baiklah” aku mendekat ke arah pelayan Maura, dan memegang rahangnya kuat “hey kamu pelayan rendahan harusnya kamu perhatikan ucapanmu terhadapku!” lalu membanting rahang yang ku pegang tadi hingga dia limbung dan jatuh sambil memegangi rahangnya yang sakit
“Kau!! Apa yang kau lakukan terhadap pelayanku!”
“Memberinya pelajaran dan melakukan apa yang harusnya ku lakukan” ucapku acuh menanggapi pertanyaan Maura
“Yang Mulia, dia sudah keterlaluan! Pelayanku hanya..”
“Diamlah. Biarkan dia pergi!” ucap kaisar memotong perkataan Maura.
Aku langsung pergi menuju ke kamar Calista bersama dengan Rey.
“Kau tahu Hana aku terkejut saat mendapati kabar bahwa kau dijadikan tersangka atas keracunan yang di alami Calista, dan aku mempercepat urusanku dan pulang secepat mungkin. Namun yang sampai di istana mereka mengatakan kau sudah kabur ke dalam hutan”
“Karena siapa aku jadi tersangka?”
“Aku tidak akan mengungkitnya lagi, dan kucingmu menemuiku dengan membawa obat dan surat bergambar di lehernya. Aku tidak percaya ternyata kau sangat kreatif bisa memikirkan cara seperti itu untuk berkomunikasi denganku, dan kakak ku bisa membaca pesan tersembunyi di gambarmu”
Kami sampai di depan kamar Calista, terlihat Calista yang sedang duduk membaca sebuah buku ditemani oleh Zee.
“Putri…” aku berlari memeluknya. Calista membalas pelukanku.
“Maafkan aku Hana, karena aku kau mengalami saat-saat yang sulit di penjara, Zee telah menceritakannya kepadaku apa yang kau alami selama di penjara. Bagaimana luka di punggungmu? Apa masih sakit?”
Aku menggeleng “Tidak putri ini bukan salahmu, dan lukaku sudah sembuh. Bagaimana keadaamu?”
“Aku sudah baik-baik saja berkat obat darimu.. terima kasih Hana, aku senang kau berada disisiku” Calista memegang kedua pundakku. “Dan mulai sekarang kau harus benar-benar belajar menulis. Kau tahu hanya Yang Mulia yang mengerti dengan apa yang kau gambar” ucap Calista tegas seperti seorang guru terhadap muridnya
“umm, baiklah aku mengerti, aku akan belajar menulis dan membaca darimu.” Ucapku antusias
Seperti halnya Rey sekarang Calista melihatku dari atas sampai ke bawah, ‘apa pakaian yang ku pakai terlihat aneh?’ Zee hanya diam memperhatikan, seperti biasanya Zee terlihat acuh.
“Pakaian yang kau pakai sangat cocok untukmu”
“Tentu saja! Dia peri hutan yang waktu itu aku temui bersama Zee” ucap Rey membalas pujian Calista
“Peri? Itu memang terlihat sangat cocok untukmu Hana”
__ADS_1
‘Bisakah kalian berhenti menggunakan kosa kata peri!’
*****
Setelah semua drama kerinduan dan penjelajahan ku cerita tepatnya pelarian yang ku alami, Calista mengajakku minum teh bersama di taman depan kediamannya, hanya aku dan dia.
“Aku tidak menyangka Yang Mulia sendirilah yang memintamu untuk kembali..” Calista memulai percakapan
“Yah aku juga tidak menyangka bisa ditemukan olehnya saat aku bersembunyi di desa itu, dan mengajakku menunggangi satu kuda bersama”
“Pantas saja wajah selir Maura tidak senang”
“Kamu melihatnya?”
“Tidak sengaja aku melihatnya tadi. Kau tahu baru pertama aku melihatnya seperti itu, dan jujur saja aku sedikit senang melihatnya.. apa menurutmu aku jahat?”
Aku menggeleng “Tidak putri, setidaknya kamu mendapat hiburan dari raut wajahnya hahaha.. jika kamu menyukainya aku bisa membuat wajahnya seperti itu setiap kali dia bertemu denganku”
“Hahaha, Hana sepertinya hanya kau yang bisa melakukan itu” Calista meminum teh dan menaruh gelasnya kembali. “Aku penasaran apa yang kau lakukan terhadapnya?”
“Hmm, bisa dibilang aku menggoda suaminya..” jawabku santai
Calista hanya terdiam mendengar jawabanku ‘Sial! Aku lupa Calista juga merupakan istri dari kaisar! Situasi ini seperti aku mengakui diriku sebagai pelakor kepada istri sahnya..’
“eghn,, hmm putri maksudku aku menjahilinya..” perjelasku
Calista tersenyum “Aku mengerti, hanya saja aku takut dia akan menyimpan dendam terhadapmu karena menggoda kaisar. Kau tahu bukan dia sangat menyukai kaisar..”
“Lalu bagaimana denganmu? Bukankah kamu juga menyukai kaisar?”
Calista menggeleng “Tidak Hana, pernikahan ini hanya upayanya untuk menolongku, diantara kami tidak ada yang saling menyukai, aku menghargainya sebagai seorang kaisar yang telah merawatku sejak aku kehilangan keluargaku” jelas Calista. Aku ingat cerita Zee tentang asal usul Calista.
‘ini artinya tidak masalahkah jika aku menggoda kaisar?’
“Hmm, lalu apa aku bisa mengganggu selir Maura menggunakan kaisar?”
“Hana asal kau tidak membahayakan dirimu sendiri..” Calista memegang sebelah pipi ku dan tersenyum
“Tentu saja! Aku tidak akan membahayakan diriku. Aku hanya mencari hiburan..”
“Kalau begitu lakukanlah..”
‘pelakor mendapat dukungan dari seorang istri untuk menggoda suaminya yang mempunyai istri lain’
__ADS_1