Kabisat Dream (Love From Another World)

Kabisat Dream (Love From Another World)
BANTUAN


__ADS_3

“Kamu siapa?” tanyaku yang masih digendong olehnya.


“Kau berisik!” hanya itu ucapannya dan akhirnya menurunkanku di dekat ksatria yang sedang melawan musuh.


‘Sial! Dia kawan atau lawan? Kenapa menurunkan ku di kandang singa seperti ini!’


“Hana, kenapa kau ada disini?” Zee menanyaiku sambil menghalau musuh.


‘Harusnya kamu tanyakan kepada makhluk yang menurunkanku!’


Aku mencari sekeliling keberadaan laki-laki bertelinga anjing yang langsung melesat pergi setelah menurunkanku.


“Zee dibelakangmu!!” teriakku ketika musuh mencoba menikam Zee dari belakang.


“Trang! Tring! Shuut!” berbagai macam bunyi senjata beradu disekitarku. ‘Neraka dunia!’


Aku perlahan mencoba menjauh dari kerumunan, tentu saja itu tidak mudah! Nyawaku dipertaruhkan. Dan aku hanya bisa berada di tengah ksatria kerajaan yang bertugas melindungiku. Tidak akan ada habisnya jika begini pasukan ksatria akan kewalahan dengan jumlah pasukan musuh yang lebih banyak walau sudah banyak yang dibantai.


“NANA!!” Teriakan terdengar diikuti seorang musuh yang berhasil menerobos pasukan ksatria yang melindungiku, mendekat hendak menusukku dari belakang.


Belum sempat aku menoleh ke arah belakang kakiku sudah tidak menyentuh tanah, ‘dejavu yang sangat cepat!’


“Auuuuhhhhh!!!” suara auman serigala terdengar diikuti gelombolan serigala yang mendekat ke arah kami yang sedang beradu pedang.


“Max!” aku membuka mata dan melihat sosok Max yang sedang mengendongku bukan laki-laki yang tidak bertanggung jawab yang menurunkanku di medan perang.


“Kau tidak apa-apa?” tanyanya setelah menurunkanku di tempat yang aman dari peraduan senjata.


“Yah, terima kasih Max”


Sekarang jumlah yang ikut dalam medan perang bertambah banyak bersama dengan gerombolan serigala dan beberapa pria yang dibawa Max termasuk Lary. Max ikut menghajar musuh yang mendekat ke arahku dengan tangan kosong. ‘tidak sia-sia aku menjadikannya kakakku’


“Nana! Kau tidak apa-apa?” Sen berlari mendekatiku sambil mengahalau setiap musuh yang mendekat ke arahnya.


“Kau siapa?!” Sen tiba-tiba menodongkan pedang ke arah Max.


“Tu.. tunggu Sen! Dia kakakku!” ucapku menghentikan Sen dan pedangnya. “Mereka bukan musuh! Mereka membantu kita!” sambungku. Hampir saja terjadi tindakan yang sia-sia.


Sen menoleh ke arah Max dan hanya mendapat tatapan membenarkan ucapanku dari Max tanpa keluar sepatah katapun. Sekarang keadaan berbalik, pasukan prajurit musuh banyak yang tumbang dan sulit mengimbangi ksatria yang sudah mendapatkan bala bantuan dari Max dan Lary.


‘Akhirnya nyawaku masih bisa ku miliki!’ prajurit musuh hanya tinggal beberapa orang dari sekian banyaknya, sudah ditentukan kemenangan sekarang menjadi milik kami. Dan tentu saja aku hanya diam dan menonton mereka dengan tenang tanpa ada beban nyawaku yang bisa melayang.


“Mati kau!!”


“NANA!!” Sen berteriak memanggil namaku lagi.


Kini aku melihat seorang pria yang tiba-tiba muncul dari balik pohon di dekat tempat menonton dengan santai membawa sebuah belati dan tentu saja dengan niat menusukku!. ‘Sial! Aku menyesali pikiranku menonton dengan tenang tanpa beban nyawa bisa melayang.


Ini sudah yang ketiga kalinya! Tidak mungkin kebetulan seperti sebelumnya dimana kakiku tidak berpijak di tanah kembali terulang untuk yang ketiga kalinya. Sekarang ketika aku memejamkan mata siapa lagi yang akan mengendongku?


“Jleb!”


Aku pasrah dengan apa yang akan terjadi saat aku membuka mata, mungkin belati itu sudah menancap di perutku.

__ADS_1


Perlahan aku membuka kedua mataku, mendapati pria yang memegang belati tadi sudah tergeletak di tanah dengan darah mengalir deras, dan belati yang tadi di tangannya menancap di…


“Sen!!” Sen berlutut lemas di depanku dengan belati yang , menancap di lengannya.


“Sen, apa? Kenapa?” aku mencabut belati di lengannya dan membuang sembarangnya, memeluk Sen yang terkulai lemas.


“Bukannya aku sudah bilang, aku akan melindungimu Nana..” setelah mengucapkan kalimat itu, Sen tidak sadarkan diri dengan wajah yang pucat pasi.


“Sen! Sen! Bangun Sen!” Jantungku memompa dengan cepat, lebih cepat dari pada saat mendengar gombalan Sen. ‘Sen ku mohon jangan mati!’


“Hana, kita harus cepat membawanya, sepertinya di terkena racun” Max mengambil alih tubuh Sen dari dekapanku.


“Racun?” beo ku.


“Belati yang digunakannya sudah diolesi racun” jelas Lary sambil meneliti belati yang ku lempas sembarang.


“Lary, aku akn membawanya, kau bawa Hana bersamamu!” perintah Max.


Max melesat cepat membawa Sen terbang dari pohon ke pohon, Lary mengikutinya dengan membawaku. Aku tidak ketakutan lagi saat Lary melompat dari satu pohon ke pohon lain, yang ku takutkan keadaan Sen yang akan semakin memburuk jika tidak segera mendapatkan pertolongan.


*****


Kami sampai di istana tanpa melewati pintu gerbang istana, tentu saja untuk meminimalisir banyaknya pertanyaan. Max membawa Sen ke kamar, dan pelayan dengan sigap memanggilkan tabib istana.


‘Sen, semoga kamu baik-baik saja’ kami menunggu Sen di depan kamar.


“Max, terima kasih.. lalu bagaimana kalian bisa berada disana?” tanyaku penasaran dengan kehadiran Max dan Lary di area terjadinya perang beserta dengan gerombolan serigala yang mengikuti.


“Hanya kebetulan saja, kami sedang berburu” jawab Max santai.


“Laki-laki bertelinga anjing?” beo nya.


“Iya.. sebelum kalian datang dia meno.. tidak dia membawaku ke tengah peperangan.” Ucapku mengingat perilaku laki-laki yang menurunkanku di tengah pertarungan.


“Maksudmu dia?” Max menunjuk sosok di belakangku. Laki-laki yang dibicarakan kini berada tepat dibelakangku.


Aku mengangguk menjawab pertanyaan Max, “Kau tidak mengenalinya?” tanya Max kembali.


“Bagaimana dia bisa mengenaliku? Dia cukup bodoh. Bahkan dia tidak bisa membedakan telinga kucing dan anjing.” Ucap laki-laki yang berada di belakangku.


‘perasaan jengkel yang selalu ku rasakan saat dikatain bodoh oleh Poko kini aku rasakan saat berbicara dengan laki-laki ini’


“Telinga kucing?” aku mulai memperhatikan telinganya, ‘benar ini lebih seperti telinga kucing daripada anjing, bukan berarti aku mengakui diriku bodoh! Aku hanya keliru!’


“Kau masih tidak bisa mengenali makhuk yang selalu berada di sisimu ini?”


“Selalu disisiku?” aku menoleh ke arah Max dan kembali menatap laki-laki menjengkelkan ini.


“Kau Poko? Benarkah? Yang Benar saja! Bagaimana bisa?”


“Kau terlalu banyak bertanya. Dan aku tidak terlalu menyukai nama yang kau berikan.”


‘Laki-laki ini Poko, kucing hitam yang selalu bersamaku. Kegilaan apa lagi ini?’

__ADS_1


“Kenapa tidak dari dulu kamu berubah menjadi seperti ini?” tanyaku penasaran.


“Tidak bisa, karena aku kehabisan kekuatan spiritualku, jadi aku hanya bisa berwujud kucing”


“Lalu sekarang? Apa kekuatan spiritualmu sudah kembali?”


“Yah berkatmu, aku merasa kekuatan spiritualku sedikit demi sedikit terkumpul”


“Karena aku? Bagaimana caranya?”


“Kontrak” ucap Poko singkat.


“Kontrak? Kapan? Aku tidak merasa pernah membuat kontrak denganmu”


“Saat kau memberiku nama, kontrak diantara kita sudah terjalin”


“Ah? Semudah itu?”


“Tidak semudah itu, sang pembuat kontrak juga harus memiliki kekuatan spiritual yang cukup”


“Hmm, berarti benar aku punya kekuatan spiritual sehingga bisa tanpa sadar membuat kontrak..” aku larut dalam pemikiranku.


“Bukankah aku sudah mengatakannya sebelumnya saat kau bertanya tentang kekuatan spiritual?” Max tiba-tiba ikut bersuara.


“Maksudmu kekuatan spiritualku yang bisa berbicara dengan hewan?” tanyaku


“Kau mengatakan kekuatan spiritualmu kosong, padahal kau sudah menggunakannya bahkan hampir setiap hari, jika hanya berbicara dengan hewan itu tidak akan membuatnya kosong”


“Jadi saat kamu menunjuk ke arah Poko itu..”


“Yah, dia yang membuat kekuatan spiritualmu kosong, sebagai mahkluk kontrak dia bisa menyerap kekuatan spiritualmu untuk memulihkan kekuatannya”


“Jadi semua kekuatanku berpindah ke Poko?”


“Yah kurang lebih seperti itu, dia hidup dengan menyerap kekuatanmu”


‘Pantas saja, kekuatan spiritualku kosong padahal warna rambutku keemasan’


“Ini alasanmu selalu berada didekatku?” tanyaku kepada Poko yang acuh tak acuh.


“Itu karena kontrak” ucapnya tak peduli.


“Lalu apa kamu akan berwujud seperti ini terus?”


“Tentu tidak, kekuatan spiritualku masih belum cukup untuk mempertahankan wujudku ini dan aku a…” ucapan Poko terpotong.


“Meow.. (akan berubah menjadi kucing lagi)” sambungnya dalam wujud seekor kucing.


Poko berubah menjadi kucing lagi dari wujudnya yang seorang laki-laki bertelinga kucing. ‘Tunggu.. laki-laki? Jadi selama ini saat aku mandi di danau.. haaa!!!’


“Meow? (Kau kenapa?)”


“Kenapa katamu? Kamu seorang laki-laki bagaimana bisa selama ini kamu..”

__ADS_1


“Meow.. (Aku tidak tertarik denganmu..)” potong Poko santai lalu pergi meninggalku yang masih kesal, tidak lebih tepatnya aku malu!


“Dasar kucing sialan!!!” teriakku kesal. Max dan Lary hanya terdiam melihatku meluap dengan wajahku yang memerah.


__ADS_2