
Aku kembali ke kediaman Maura untuk membalasnya, diikuti oleh para pangeran jauh di belakangku.
“Aku ingin bertemu selir Maura” ucapku langsung masuk ke halaman kediamannya
Beberapa pelayan menahanku di depan pintu kamar Maura “Nona.. anda tidak seharusnya menerobos masuk seperti ini.” ucap salah satu pelayan
“Biarkan saja dia masuk” suara dari balik pintu kamar terdengar, dan pintu kamar terbuka memperlihatkan seorang wanita pengikut iblis dengan senyuman. ‘Lihat apa yang akan aku lakukan kepadamu!’
“Oh apa kau kesini karena sudah tahu kesalahanmu?” ucapnya merendahkanku
“Haa.. tidak, aku tidak punya kesalahan apapun. Hanya saja aku ingin mendidik pelayanmu saja..”
“PLAK!!” setelah ucapan tanganku melayan dengan sendirinya menampar pelayan yang tadi memukul Kin
“Apa yang kau lakukan! Apa kau tidak ingat statusmu?!” bentak Maura
“Apa? Aku hanya melakukannya karena status pelayanmu lebih rendah dariku”
“Kau!!” Maura melayangkan tangannya menamparku, dan tentu saja aku tahan dan balik menamparnya “Plak!!”
“Apa kau gila?!” ucap Muara memegang sebelah pipinya yang merah karena tamparanku
“PLAAK!!” untuk kedua kalinya tanganku melayang menamparnya sampai jatuh tersungkur. ‘haa perasaan apa ini?’
“PLAAK!! PLAAK!! PLAK!!” semua yang ada di ruangan itu jatuh tersungkur karena tamparanku yang begitu keras, mereka hanya meringis menahan sakit di pipi
Aku melihat ke bawah ke arah Maura tanpa menunduk “Salahkan dirimu kenapa statusmu lebih rendah dariku!” ucapku dengan senyuman mengejek
“Apa maksud mu!!”
“Tentu saja…”
“HANA!!” Rey berteriak, sepertinya ketiga pria sudah sampai.
Mereka bertiga berdiri di dekatku dengan tatapan tidak menyangka, yaa semua yang ada di ruangan ini jatuh tersungkur kecuali diriku.
“Yang Mulia.. Hana bertindak diluar kendalinya… saya minta keadilan anda” Maura memohon kepada kaisar yang berdiri disampingku
“Apa kau punya pembelaan?” kaisar menantap ke arahku
“Tentu saja! Aku hanya memberi mereka pelajaran karena melakukan hal kejam kepada Kin, dan mereka seharusnya lebih mengerti dengan status mereka!”
“Apa maksudmu?” Maura berdiri kembali di bantu oleh pelayannya yang tadi juga kena tamparanku “Aku melakukan itu dengan niat untuk mendidik pelayanmu agar lebih hormat. Kau yang seharusnya mengerti statusmu. Aku disini selir yang sudah lama bersama kaisar sedangkan kau hanya calon selir!”
“Mendidik? Kamu hanya menyiksanya! Dan statusku bukan calon selir! Aku calon permaisuri kerajaan ini!”
“APA??”
“Mulai sekarang Hana calon permaisuriku, dan kau tidak berhak untuk mendidik pelayannya!”
“Yang Mulia, bagaimana bisa Hana menjadi calon permaisuri? Gadis yang tidak jelas asal usulnya ini” Maura masih tidak terima keputusan kaisar
Aku tersenyum mendengar penolakan Maura atas keputusan kaisar “Kenapa? Apa kamu mau menyalahkan Yang Mulia juga karena statusku lebih tinggi darimu?”
“Menyalahkanku?”
__ADS_1
“Yah.. statusku rendah dan pelayanku di siksa semua itu karena Yang Mulia yang memberikanku status sebagai calon selir”
“Maafkan aku.. mulai sekarang tidak akan ada yang merendahkanmu lagi..” ucap kaisar spontan mencium keningku di depan Maura
‘kenapa aku sesenang ini melihat Maura menahan amarahnya?’
“Mulai sekarang kau harus mengingatnya!” aku berjalan mendekati Maura “Statusku lebih tinggi dari selir sepertimu!” ucapku mendorong dirinya sebelum pergi meninggalkan kamarnya
Rey dan Zee yang sedari tadi hanya diam sebagai penonton ikut berbalik pergi mengikutiku dan kaisar.
“Apa kau puas dengan keributan yang kau lakukan?” tanya kaisar
“Yah tentu saja! Terima kasih sudah membantu”
“Hana entah apa yang akan dilakukan mereka nanti, mulai sekarang kau harus lebih berhati-hati”
“tenang saja Rey, aku lebih berhati-hati dari yang terlihat”
“Berhati-hati?” beo Zee “Kau lebih ke ceroboh”
Mungkin ini pertama kalinya kami berjalan bersama-sama di dalam istana, beberapa pelayan dan penjaga berbisik-bisik melihat ke arahku.
“Aku akan kembali ke dalam kamar” ucapku kepada mereka bertiga.
“Hana..” aku menghentikan langkah dan berbalik
“Ya?”
“Ingat statusmu sekarang seorang calon permaisuri, kau harus menjaga sikapmu” ucap kaisar
*****
Aku masuk ke dalam kamar dan melihat Kin yang terbaring dengan luka memar di sekujur tubuh. Aku merasa bersalah karena dia seperti ini karena diriku. Aku duduk disamping tempat tidur.
“Nona…” Kin bersuara
“Kin.. maafkan aku.. bagaimana keadaanmu?” aku spontan meminta maaf dan mengeluarkan pertanyaan bodoh. ‘tentu aja dengan melihatnya juga sudah tau keadaannya sedang tidak baik-baik saja’
“Ini bukan salah nona, nona tidak perlu meminta maaf, dan saya sudah lebih baik” ucapnya dengan kebohongan di akhir kalimat. ‘bagaimana mungkin dia lebih baik dengan kondisi seperti ini’
Aku hanya diam memperhatikan tubuhnya yang terluka, “Nona.. bagaimana nona tahu jika saya berada di kediaman selir Maura?” tanya Kin menutup keheningan
‘tentu saja aku tahu! Karena alurnya pasti seperti itu. Tidak buruk juga pengalaman menonton drama dan membaca novelku, dengan begitu aku sudah tahu kemungkinan yang akan terjadi’
“Hmm, bisa dibilang hanya feeling…”
“Feeling?” beo Kin
“Maksudku, hmm firasat.. aku memiliki firasat bahwa Maura akan menggunakanmu untuk memancingku..”
“Maafkan saya nona..”
“Untuk apa kamu meminta maaf Kin? Kamu tidak salah. Dan kamu tidak perlu khawatir lagi. Karena statusku sekarang bukan calon selir tapi calon permaisuri” ucapku bangga
“Nona benarkah?” tanya Kin tidak percaya
__ADS_1
“Tentu aku tidak berbohong, setelah dari kediaman Maura, aku meminta kaisar untuk menaikkan statusku menjadi calon permaisuri, dan dia mengiyakan permintaanku”
Kin tersenyum “Nona sepertinya Yang Mulia benar-benar mencintai anda..” Kin mengatakan omong kosong.
‘tentu saja tidak mungkin kaisar mencintaiku, ini semua dilakukan hanya untuk rencana pengusiran iblis’
“Kin istirahatlah..”
“Nona mau kemana?” tanyanya menghentikanku beranjak dari tempat duduk
“Membuat obat untukmu”
“Tidak perlu nona, saya sudah tidak apa-apa, saya tidak ingin menyusahkan nona”
‘haa terus aku harus bagaimana? Kalau tidak diobati yang ada kamu malah menyusahkanku!’
“Tidak apa-apa Kin, aku yang akan menyusahkanmu..”
“Maksud nona?”
“Aku ingin menggunakanmu sebagai pelayanku. Aku akan menyusahkanmu sebagai pelayan pribadiku. Jika kamu terluka seperti ini dan tidak bisa di obati, bagaimana aku bisa menyusahkanmu?”
Kin tersenyum mendengar penuturanku “Terima kasih nona..” ucapnya tulus
Aku membalas senyumnya dan pergi meninggalkan kamar.
“Meow…”
“Poko dari mana saja?”
“Meow (Menonton beberapa keributan dalam diam)” Poko berjalan sejajar denganku
“Aku akan menjelaskannya..”
“Meow (tidak perlu, aku sudah tahu hanya dengan melihat beberapa keributan tadi)”
“Benarkah? Syukurnya berarti aku tidak perlu bercerita panjang..”
“Meow? (Kau mau kemana?)”
“Ke dalam hutan, aku harus membuat obat untuk pelayanku”
“Meow.. meow (Aku akan ingatkan, statusmu sekarang calon permaisuri, apa seorang permaisuri bermain ke dalam hutan?)”
“Lalu? Apa seorang permaisuri harus terkurung dalam sangkar?”
Kami terus berjalan hingga sampailah di belakang penjara yang berbatasan langsung dengan hutan, ya tempat ku kabur dulu.
“Meow? (Bagaimana jika mereka mencarimu?)”
“Oh ayolah aku tidak suka dibatasi, aku menjadi permaisuri hanya inginkan status yang lebih tinggi dari Maura saja”
“Meow.. (aku tidak bisa membayangkan apa yang akan dikatakan oleh rakyat jika mereka tahu calon permaisuri mereka lebih menyukai hutan dari pada istana..)”
“Itu urusan nanti, jangan di pikirkan sekarang..” ucapku santai masuk ke dalam hutan tanpa adanya pengejaran seperti dulu.
__ADS_1