Kabisat Dream (Love From Another World)

Kabisat Dream (Love From Another World)
PERTEMANAN


__ADS_3

Bangun tidurku tidak seperti biasanya, biasanya ada bibi yang membangunkan ku untuk sarapan, sekarang aku harus bangun sendiri dan menyiapkan sarapan untuk orang lain.


‘Oh iya aku harus menyiapkan air mandi dan pakaian yang akan dipakai Calista. menyebalkan’


(tok tok tok) aku mengetuk pintu kamar Calista, “Putri ini Hana..” ucapku.


“Masuklah Hana..” ucapnya dari dalam kamar.


Calista duduk di dekat jendela dengan buku di tangannya. “Putri, aku akan menyiapkan air mandi dan pakaian yang akan dipakai.”


Calista tersenyum melihatku, “Tidak perlu Hana, aku sudah mandi dan bersiap, kau tidak perlu melakukannya aku sudah terbiasa melakukannya sendiri.”


Aku terdiam mendengar penuturan Calista, ‘haa dia putri yang kesepian’.


“Hana kemarilah..” aku mengikuti perintahnya mendekat. “Ini..” ucapnya memberikanku beberapa buku.


“Ini apa?” Calista tersenyum. “hmm maksudku ini buku apa? Kenapa Putri memberikannya?”


“Ini buku anak-anak saat mulai belajar membaca dan menulis” jawab Calista. Yang benar saja aku dianggap bocah yang baru mau belajar membaca dan menulis. Ingin sekali aku menolaknya, namun kenyataan menamparku. ‘ingat Hana kamu memang masih seperti bocah yang tidak bisa membaca’.


“Terima kasih putri..” ucapku tersenyum hangat.


“Jika ada yang tidak kau mengerti, kau bisa menanyakannya kepadaku.” Ucapnya hangat. Calista terlihat sangat cantik saat dia tersenyum tulus seperti ini.


“Putri apa yang akan kita lakukan? Apa hanya berdiam diri saja di kamar?”


Calista tersenyum lagi mendengar pertanyaanku, “Apa kau bosan Hana?” tanyanya spontan dijawab anggukan kepalaku.


“Jika kau bosan, kau bisa pergi keluar agar tidak bosan. Aku sedang ingin berdiam diri saja dikamar ini.”


“Baiklah putri, aku pamit undur diri” jawabku tanpa membantah langsung keluar dari kamarnya. Ya aku akan sangat bosan jika hanya berdiam diri di dalam kamarnya.

__ADS_1


Aku berjalan sendirian mengelilingi istana selir, setelah bosan berjalan sendirian aku memutuskan untuk kembali melihat keadaan putri kesepian itu, dari kejauhan terlihat putri Maura sedang minum teh dengan seorang putri lagi yang terlihat lebih tua darinya. Aku mengabaikan mereka dan terus berjalan melewati mereka tanpa ada basa basi rasa hormatku.


“Siapa dia?” putri yang sedang minum teh dengan Maura.


“Dia pelayan barunya wanita terkutuk itu kakak.” Ucap Maura dengan tatapan sinisnya. Haa ternyata putri ini kakaknya, pantas saja wajah mereka tidak jauh berbeda nereka terlihat di wajahnya.


“Hey pelayan apa kau tidak memiliki rasa hormat kepada selir Maura dan yang mulia ibu suri Vera!!” ucap pelayan meneriaki ku yang berlalu begitu saja melewati mereka. ‘Ibu suri? Siapa ibu suri, selama menonton drama dan membaca novel aku tidak tau apa itu ibu suri, kadang yang ku tau ibu suri itu neneknya kaisar atau ibunya kaisar, sampai sekarang aku masih bingung. Bahkan dulu aku mengira ibu suri itu seorang ibu yang sudah meniggal namun hidup kembali.


Aku berhenti setelah mendengar teriakannya dan berbalik “Ohh apakah masih perlu ucapan hormat dari pelayan sepertiku?” ucapku sarkas melirik dua muka neraka.


Pelayan tersebut tidak terima dengan ucapanku dan mendorongku hingga jatuh. ‘sial kuda-kudaku belum cukup kuat’.


“Putri biar saya memberi pelajaran kepada pelayan yang tidak tau diri ini.” Ucap pelayan yang siap menamparku. Putri neraka itu hanya duduk diam sambil menikmati teh ditangannya.


Belum sempat tanganya mendarat di pipi ku seseorang datang menghampiri kami.


“Apa yang sedang kau lakukan?” tanyanya, aku mendongak melihat kearah suara, ku dapati Calista sedang menyelamatkanku. ‘oh Tuhan ternyata ada yang lebih bodoh dari ku, dia sudah tau jika berhadapan dengan dua orang iblis nereka kenapa masih berani muncul menyelamatkanku’ batinku. ‘ah sial secara tidak langsung aku mengiyakan jika diriku bodoh’ aku merutuki batinku.


“Kau tidak lihat? Pelayanku sedang memberi pelajaran cara menghormati kepada pelayanmu.” Ucap Maura beranjak dari tempatnya duduk.


“Haha lihatlah putri, sekarang putri terkutuk tidak berguna ini sudah berani melawan hanya karena sudah memiliki hewan peliharaan yang bisa dia jaga atau mungkin untuk dijadikannya tumbal.” Ucap pelayan tadi yang sukses membuatku geram.


“PlaaK!!” tanganku ternyata lebih mengerti perasaan pemiliknya langsung spontan menampar pelayan itu dan tersungkur. ‘Ahh balasan karena sudah membuat ku terjatuh’.


“Apa yang kau lakukan brengsek!!” ucapnya tidak terima dan masih memegangi pipinya yang mulai membengkak. Aku melihat Maura tidak senang dengan kelakuanku dan mulai kesal.


“Apa lagi? Mengajarimu untuk memiliki rasa hormat sebagai seorang pelayan. Apa menurutmu boleh seorang pelayan mengatai tuannya?” tunjukku kepada pelayan yang tersungkur tadi.


“Kau..” Maura akan membalas menamparku namun terhentikan.


“Ada apa ini?” Rey datang menghalangi niat penghuni neraka.

__ADS_1


“Pangeran, saya hendak memberi pelayan ini pelajaran agar menghormati selir Maura dan ibu suri Vera, namun dia malah menampar hamba hingga tersungkur.” Adu pelayan tersebut.


Aku tidak menolak tuduhannya karena itu memang benar ya walau setengahnya. Aku memasang wajah polosku kehadapan Rey. Rey melihatku seolah meminta penjelasan.


“Hmm” aku mengangkat bahuku seolah mengatakan aku tidak tau aku kan baru, dan dibalas tatapan mengerti oleh Rey. “Kenapa tidak kamu ceritakan juga saat kamu berani menghina putri Calista dan mengatai dia putri terkutuk dan aku sebagai peliharaannya oh atau tumbalnya?” tantangku kepada pelayan tersebut.


“Apa benar begitu?!” tanya Rey dengan nada tinggi kepadanya. Pelayan tersebut hanya menundukkan kepalanya.


“Dengar kau hanya pelayan dan berani menghina selir Calista?! Apa kau sudah bosan hidup?” ucap Rey sarkas. ‘haa kalo seperti ini Rey terlihat seperti pangeran sungguhan’.


“Ti tidak pangeran hamba salah..” ucapnya ketakutan. “Hamba hanya tidak senang melihat pelayan yang tidak hormat kepada selir Maura dan Ibu suri.” Lanjutnya dibalas tatapan tidak senang dari Rey.


“Dan akupun tidak suka saat kamu menghina putri Calista!” ucapku singkat. Putri Calista hanya diam ditempat tanpa berbicara.


“Dan siapa yang kau sebut ibu suri?!” tanya Rey kesal. “Kau ingat tidak ada satupun ibu suri di kerajaan ini setelah ibuku meninggal! Selir Vera bukan ibu suri dari kerajaan ini! Dan aku tidak ingat kakak ku pernah menganggapnya sebagai ibu suri bahkan ibunya!” bentak Rey. Aku tersenyum melihat wajah tidak suka Selir Vera yang sedang duduk menikmati tehnya. ‘Hoo ternyata ibu suri itu ibu kaisar bukan nenek atau ibu yang hidup kembali’.


Melihat raut wajah Rey yang siap menerkam mangsanya dan dua penghuni neraka yang sudah kehilangan muka di depan Rey aku memutuskan untuk undur diri dan mengajak Calista kembali ke kamar.


“Baiklah kami undur diri, aku akan mengatar putri kembali ke kamar” ucapku kepada Rey dan mendapat anggukan setujunya.


“Putri kenapa putri menghentikan tindakan pelayan itu dan menyelamatkanku?” tanyaku setelah menutup pintu kamarnya.


“Hana..” Calista memengangi kedua telapak tanganku. “Berjanjilah kau tidak akan berurusan dengan mereka lagi. Bukankah sudah ku bilang mereka bisa melakukan apa saja untuk menyingkirkanmu jika menyinggung mereka. Kenapa kau gegabah dan menampar pelayan itu? Kau tidak tau apa yang akan dia lakukan kepadamu, aku takut , aku tidak ingin kehilangan orang disisi ku lagi..” Aku terdiam mendengar penuturan Calista dengan tangan gemetarnya dan matanya yang berair.


“Bagaimana bisa aku diam saja melihat temanku dihina di depan mataku!” ucapku spontan, Calista terdiam mendengar ucapanku. ‘ya tuhan aku lancang menganggap putri ini temanku bukan tuanku’


“Bukankah putri juga melakukan hal yang sama saat pelayan itu akan menamparku?” tanyaku kepada Calista yang masih tidak bergeming dengan air mata yang telah lolos.


Calista melepaskan kedua telapak tanganku dan memelukku, tangisan yang dia tahan keluar begitu saja.


“Iya kau benar, kau Hana bukan pelayanku, kau temanku, temanku yang berharga” ucapnya disela isak tangisnya. ‘sial kenapa mataku turut mengeluarkan air merasakan kesedihan kepedihan kesepian dari tangisannya.

__ADS_1


 


 


__ADS_2