
“Aww,, auww..” teriakku saat mengoleskan obat ke luka cambukan yang berada di punggungku. Aish ternyata susah juga, tidak ada cermin jadi aku hanya bisa meraba saja dimana yang terluka.
“Perlu bantuan?”
“Ti..tidak perlu” ucapku terkejut membenarkan baju yang ku pakai.
“Kemarilah kau terlihat kesulitan”
Yah aku memang kesulitan memangnya salah siapa yang membuatku menjadi seperti ini. Aku mengiyakan kesulitanku dan membelakangi jeruji tempat kaisar bersuara.
“Ini obatnya, tolong pelan-pelan” ucapku malu. Sifatnya berbeda dengan Zee, Zee yang saat itu wajahnya terlihat merah berbeda dengan pria ini wajahnya sangat tenang. Wajar saja dia sudah memiliki selir pasti sudah pernah melakukan hubungan badan.
“Auuh, pelan-pelan” rintihku saat tangannya mulai mengolesi obat ke punggungku.
“Oh, maaf aku akan sangat pelan. Mengapa kau melawan apalagi menghina selir? Apa kau tidak tahu kedudukannya lebih tinggi darimu?” aku menghela nafas, sudah malas berdebat dengan dirinya hari ini.
“Aku tidak menghinanya hanya mengatakan yang sebenarnya, kalau dia hanyalah seorang selir bukan ibu suri.” Ucapku, entah sudah berapa kali aku mengatakan kalimat ini hari ini.
“haa” dia menghela nafas, dan menaikkan pakaianku untuk menutupi punggungku yang sudah di olesi obat. “Tetap saja, kau tidak boleh melawannya, karena dia bisa melakukan apa saja kepada mu. Ingatlah statusmu hanya seorang pelayan.”
“Yaa yaa yaa terserah.” Ucapku membalikan badan mengikat kimono ku. “Hidup di istana ini benar-benar membosankan. Aku tidak mengerti kenapa banyak orang yang mengingikan kehidupan bak istana, padahal kehidupan sederhana, normal, dan biasa-biasa saja lebih membahagiakan.”
“dan aku tidak suka dituduh atas tindakan yang tidak ku perbuat. Apalagi hanya dijadikan umpan.” Lanjutku mengambil tempat untuk tidur.
“Kau memang gadis yang berbeda Hana, kau punya hal yang menarik dalam dirimu.”
“Ya, aku memang lebih menarik dibandingkan dirimu, dan dunia ku memang lebih menarik tanpa ada kasta yang tidak adil.”
“Dunia? maksudmu kau berasal dari dunia lain?”
“ah em tidak, maksud ku dunia ku, kehidupanku di desa bersama dengan bibi, lebih damai dari pada kehidupan istana yang banyak ranjaunya.” Hampir saja aku mengatakan asalku.
“Dua hari lagi Rey akan pulang, kau bisa menunggunya untuk membebaskanmu”
“Tidak perlu” ucapku, “Aku tidak hanya ingin bebas di dari penjara tapi aku ingin bebas dari istana ini”
“Kau tidak bisa melakukannya, karena kau pelayan putri Calista, kau yang akan menjaganya”
“Mudah saja aku hanya perlu mengajak putri keluar dari istana dan hidup damai”
“Apa kau gila? Jika ada yang tahu dia masih hidup akan ada yang berusaha membunuhnya, dari kejadian ini tidakkah kau mengerti keselamatannya?”
__ADS_1
“Ya aku tahu, aku mengerti situasinya, Zee sudah menceritakannya. Dan yang aku lihat dari kejadian ini istana lebih berbahaya. Bahkan di dalam istana nyawa putri sudah terancam. Sudahlah kalau begitu aku tidak akan pergi membawa putri, aku akan pergi sendiri.”
“Pergilah aku ingin istirahat, ini hari yang melelahkan” ucapku mengusir kaisar keluar.
“Istirahatlah..” ucapnya beranjak pergi.
*****
“erghh aah auu..” badanku terasa sakit semua, terlebih di bagian punggungku. Tentu saja itu berdampak pada tidurku, aku tidak bisa tidur dengan nyenyak sampai matahari mulai mengusikku.
“Hoaammzz..” padahal aku ingin bermimpi bertemu dengan keluargaku lagi.
“Meow”
“Poko bagaimana keadaan Calista?”
“Meow (seperti dugaanmu) meow (bahkan obatnya diberikan racun)”
“Apa? Kalau begini bisa-bisa dia benar-benar mati” aku memegangi pelipisku memikirkan cara menyelamatkannya.
‘Bagaimana caraku menyelamatkannya sedangkan aku terkurung disini, dua hari itu terlalu lama dengan kondisi seperti sekarang ini, aku takut saat keluar sudah terlambat untuk menolongnya, apalagi kalau racunnya sudah menyebar keseluruh tubuhnya’ batinku berfikir. Aku melirik ke arah Poko, benar aku punya kucing sialan ini.
“Hey Poko, keluarkan aku dari penjara ini”
“Apa kamu tahu jalan lain keluar dari penjara ini selain pintu keluar yang ada penjaganya itu?”
“Meow (Tahu)” memang kucing yang bisa diandalkan.
“Baiklah sebelum itu bisakah kamu mengambil kunci itu” aku menunjuk kunci yang ditinggalkan penjaga tergantung tidak jauh dari pintu keluar.
Poko langsung mengambilnya dan memberikan kepadaku, tanpa menunda lagi aku langsung membuka pintu jeruji dan keluar mengikuti Poko dari belakang. Dan kami berhenti di sebuah tembok dengan lubang angin.
‘yang benar saja jadi ini jalan yang dikatakan Poko, lubang angin ini benar-benar kecil kalau saja aku agak lebih gendut sedikit saja mungkin aku akan terjepit sebelum benar-benar masuk’ gerutuku.
Aku mencoba membuka penutup lubang angin itu pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara.
‘Yah berhasil!’ batinku girang saat berhasil membuka penutupnya. Dan sekarang bagaimana caraku naik dan masuk ke dalamnya. Aku mengangkat Poko dulu untuk masuk kedalam lubang dan mencoba sebisaku, kedua tanganku meraih lubang angin itu dan dengan sekuat tenaga mendorong badanku agar masuk. Haa sepertinya aku benar-benar harus mulai berolahraga lagi.
Setelah berhasil memasukkan seluruh badanku aku mulai merangkak. Lubang angin ini seperti terowongan. Terlihat cahaya terang yang menandakan kami sudah sampai diujung lubang lainnya.
“Sial!” umpatku saat mengetahui ternyata ujung lubang angin ini juga tertutup. Namun yang lebih menyebalkannya lagi lubang angin ini di tutupi dengan penutup jeruji besi yang di pasangi baut. Aku menendang sekuat tenagaku ke arah penutup laknat ini.
__ADS_1
‘Oh hayolah terbuka, ya Tuhan berilah kaki ku ini kekuatan’ batinku memohon sambil tetap menendang-nendang berharap keajaiban datang. Argh sial! Kenapa tidak lepas-lepas, kaki ku sudah mulai sakit dan tidak kuat menendangnya lagi. Tidak mungkin aku menyerah begitu saja kan.
Dengan sisa tenaga terakhir yang dikumpulkan aku menendang dengan sekuat-kuatnya tenaga yang masih tersisa, ‘penutup sialan kamu harus terbuka. Aku harus menolong Calista dan keluar dari istana terkutuk ini!!’
“Prankk!!” penutup besi yang sudah berkarat itu akhirnya terbuka. Haa.. hatiku benar-benar lega bisa keluar dari sini. Di depanku benar-benar sepi, tidak ada satupun penjaga disini dan ini mengarah langsung ke hutan.
“Dia disana, melewati lubang angin ini” terdengar suara penjaga yang berhasil menemukan seorang tahanan yang kabur.
Aku langsung melompat keluar, tidak peduli kaki ku sudah lemah karena tenaga ku benar-benar sudah terkuras, aku harus lari masuk ke dalam hutan. ‘kalau bukan karena pintu sialan itu, aku pasti sudah kabur jauh dan tidak akan terkejar oleh penjaga!!’
“Yang Mulia dia disana masuk ke dalam hutan!!” teriak penjaga yang melihatku lari ke dalam hutan.
“Periksa ke seluruh hutan, jangan sampai lolos, bawa dia hidup-hidup dan jangan sampai ada satupun goresan!!” ucap pria itu.
‘sial aku harus sembunyi’ Poko berlari ke arah lain untuk mengecoh penjaga, aku bersembunyi di balik pohon besar, tidak sanggup untuk berlari lagi.
“Meow!! (mengapa kau masih berada disini!)”
“Poko aku sudah tidak sanggup berlari lagi” ucapku pelan, untuk berbicara saja aku sudah tidak punya tenaga.
“Apa kau sedang di kejar?” Aku mendongak ke arah suara.
“Apa yang terjadi?” tanyanya lagi setelah turun dari atas pohon.
“Max, bisakah kamu menolongku, aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk lari” Max hanya melihat ke arahku yang duduk bersandar di pohon.
“Baiklah” ucapnya merangkul punggungku.
“Tu..tunggu Max, auhh” ucapku saat Max ingin mengendongku layaknya bridal style
“Punggungku sakit, bolehkah aku meminjam punggungmu saja” ucapku agar dia mengendongku dari belakang.
Max berjongkok mengiyakan permintaanku, aku langsung berusaha berdiri menggapai punggungnya.
“dia disana Yang Mulia bersama dengan seorang pria asing, ada yang membantunya melarikan diri”
‘Sial kenapa mereka cepat sekali menemukanku’
Max langsung menggendongku dan melompat dari satu pohon ke pohon yang lainnya. Apa dia seekor kera?
__ADS_1