
Sen memberikanku jubah menutupi gaun tidurku dan tanda yang ditinggalkannya. Kamipun pergi ke kamarku, sekalian aku juga ingin melihat wajah pelayan yang tidak pingsan ketika ku pukul. Beberapa pelayan yang dibawa Maura mengikuti kami dari belakang menuju kamarku.
Dua orang pengawal yang sebelumnya tidak ada berdiri di depan pintu kamarku. Pintu kamar dibuka dan memperlihatkan dua insan dibalik selimut. ‘betapa baiknya diriku memberikan kasurku untuk kegiatan mereka’.
“APA YANG KALIAN LAKUKAN!!” Sen berteriak membuat dua insan dalam selimut terbangun.
“Ya..Yang Mulia..” Pelayan yang ku lihat semalam langsung duduk di atas kasur dan menutupi tubuh telanjangnya.
‘Waw tanda yang ditinggalkan pria disampingnya lebih banyak dibandingkan tanda yang ditinggalkan Sen’
“Keluar dari kamar ini sekarang juga!! PENJAGA!!” Sen memanggil penjaga yang berada di pintu kamar.
“Seret kedua orang ini keluar! Masukkan ke dalam penjara!” titahnya kepada dua orang penjaga yang sigap menjalani perintahnya.
Dua orang yang melakukan kegiatan panas di kamarku pun diseret keluar, menyisakan diriku, Sen dan Maura.
“Apa ini rencanamu Maura?” tanyaku kepadanya yang masih tidak percaya rencananya telah gagal. “Kamu menyuruh pelayan menaruh obat perangsang di kamarku dan ingin memfitnahku bukan?”
“A..Apa maksudmu? Aku hanya diberitahu oleh seorang pelayan yang melihatmu membawa seorang pria ke dalam kamar. Kau tidak bisa menuduhku sembarangan, tidak ada bukti!”
‘dia benar tidak ada bukti jika itu dilakukan olehnya, kecuali pelayan dengan banyak cupangan itu mengakuinya’
“Kembalilah ke kediamanmu! Aku akan melakukan sidang setelah ini!” perintah Sen, dan dilaksanakan dengan baik oleh Maura.
Sen menatap ke arahku, bukan menatapku lebih kepada tanda yang ditinggalkannya.
“Berhenti melihatku seperti itu Sen! Keluarlah!”
“Kau berani memerintahkanku?” tatapan raja Iblisnya membuatku ngeri.
“Bu.. bukan maksudku, tolong keluarlah dari kamarku, bukannya kamu akan mengadakan sidang, jadi lebih baik kamu kembali dan mempersiapkan sidangnya..”
“Baiklah, kau bersiaplah untuk mengikuti sidang sebagai pendampingku..” perintahnya lalu keluar dari kamarku.
“Nona.. apa yang terjadi?”
“Tidak ada, hanya saja mengagalkan rencana Iblis kecil..”
“Bukan nona, maksud saya, apa nona sudah tidur dengan Yang Mulia?”
“Oh,, yah aku sudah tidur dengannya semalam” jawabku santai
“Nona saya ikut senang mendengarnya, nona benar-benar akan menjadi seorang permaisuri, dan saya harap nona secepatnya memberikan seorang penerus untuk kaisar”
Aku tersadar dengan yang dimaksud Kin tidur bersama bukan hanya tidur saja, tapi melakukan kegiatan panas diatas ranjang.
“aah,, Tidak Kin, bukan seperti itu, kami hanya tidur bersama tanpa melakukan apa-apa” perjelasku.
“Lalu yang tanda kepemilikan di leher nona?”
“OH ini,, hanya tanda untuk membuat kesal Maura.. Kin bantu aku bersiap untuk mengikuti sidang” ucapku menghentikan obrolan.
Kin membantuku mandi dan menghias diri. Aku memilih pakaian yang bisa menutupi tanda kemerahan. Semuanya sudah siap dan aku menuju ke ruang sidang.
*****
Aku duduk berdampingan disamping Sen, dan tatapan menusuk terlihat dari selir Vera dan Maura. Dua orang tersangka dibawa masuk dengan diikat, dan duduk di hadapan ku dan Sen.
‘ternyata posisiku saat menjadi tersangka dulunya terlihat seperti ini’ ingatan tentang menjadi tumbal untuk pertama kalinya muncul.
“Apa kau yang menganti lilin aroma di kamar Hana?!” tanya Sen dingin kepada pelayan wanita, tentu saja membuat pelayan itu takut.
“Be..benar Yang Mulia, saya tidak tahu jika lilin aroma itu obat perangsang”
“Lalu pria disampingmu siapa?!”
__ADS_1
“Sa.. saya tidak mengenalnya Yang Mulia”
“Jangan berbohong!! Katakan siapa yang menyuruhmu!”
“Tidak ada yang menyuruh saya Yang Mulia, saya benar-benar tidak tahu tentang lilin aroma dan pria disebelah saya”
Tekanan dari Sen dan pembelaan dari tersangka membuatku lapar, aku melahap buah yang disediakan dengan santainya memakan sarapanku pagi ini. Sen melirik ke arahku seolah mengatakan aku harus ikut andil dalam persidangan ini sebagai korban.
“Lalu kenapa masuk ke kamarku lagi setelah menyalakan lilin?” tanya ku kepada pelayan itu dan raut wajahnya berubah pucat. Tentu saja dia pasti lupa fakta jika aku memukulnya.
“I..Itu.. Sa.. Saya hanya ingin memastika apa lilin aroma yang baru di ganti itu cocok dengan nona atau tidak” pelayan ini terus melakukan pembelaan.
“Dan kamu pria yang menghabiskan malam panas bersama pelayan ini di kamarku, siapa yang menyuruhmu menunggu di dekat kamarku?” pria itu hanya diam seriba bahasa, tidak ada satu katapun keluar dari mulutnya.
“Buka mulutmu!” perintahku. Pria itu membuka mulutnya, benar saja lidahnya sudah dipotong. ‘Sepertinya mereka sengaja memilih pria yang tidak bisa bicara.’
“Kalau begitu tulislah! Setidaknya tanganmu masih berfungsi!”
Pengawal memberikannya kertas dan alat tulis kemudian melepaskan ikatan pria itu. Pria itu langsung mengeluarkan sesuatu dari dalam kantongnya dan menelan benda itu. Dia tewas seketika.
Pengawal membawanya keluar dari ruangan sidang, dan tersisalah hanya pelayan yang banyak pembelaan ini.
“Apa dia kekasihmu?” tanyaku kepada pelayan yang masih terkejut dengan kejadian bunuh diri di depan matanya.
“Bukan nona, saya tidak mengenal pria itu”
“Sepertinya dia memiliki penyakit menular kelamin yang mematikan karena itu dia tidak sayang dengan nyawanya, karena bisa mati kapan saja” aku sengaja mengatakan itu untuk menakutinya. Benar saja wajahnya terlihat langsung memucat.
Aku turun dari tempat duduk dan berjalan ke arah pelayan itu, “Jika kamu mengatakan yang sebenarnya aku bisa saja memberikanmu obatnya..”
“Bohong! Itu tidak mungkin, nona pasti berbohong!”
“Bukankah sudah ku katakan, dia saja tidak sayang nyawanya seolah sudah tahu cepat atau lambat dia akan mati” aku masih mencoba menyudutkannya, ‘kalau dipikir-pikir jika itu memang benar Iblis kecil ini cukup mengerikan. Dia ingin aku tertular penyakit menular!’
Pelayan ini diam dengan ketakutan dalam fikirannya, “Jika saya mengatakan yang sebenarnya apakah nona benar-benar bisa membantu saya?”
“Saya tidak tahu siapa dalangnya nona, saya hanya disuruh mengganti lilin aroma di kamar nona dan kemudian memasukkan pria itu ke kamar nona” pelayan masih tidak mengakui dalangnya.
“Heh, bukannya tadi kamu bilang tidak mengenal pria itu? katakan padaku siapa pelaku yang menyuruhmu!”
“I..itu saya benar-benar tidak tahu nona, orang yang menyuruh saya tertutup dengan jubah dan memberikan saya uang yang tidak sedikit..” jelasnya. Sepertinya pelayan ini benar-benar tidak tahu siapa pelakunya.
‘Ha.. bagaimanapun ini tidak akan selesai..’
“Sepertinya tidak ada yang bisa dibicarakan lagi..” ucapku menghadap Sen untuk menyudahi sidang ini.
“No..nonaa.. bagaimana dengan obat yang dibicarakan nona tadi?” pelayan merangkak memegang kakiku.
“Kamu bahkan tidak mengatakan kepadaku siapa pelakunya”
“Nona saya benar-benar tidak tahu..”
“Seret pelayan itu keluar berikan dia hukuman cambuk karena membohongi kaisar dan kurung dia di penjara bawah tanah!!” titah Sen, yang langsung dijalankan oleh pengawalnya.
Aku menoleh ke arah Sen yang masih menempati tempat duduknya, “Sen aku lapar..” ucapku dan tentu saja semua orang dalam ruangan ini terdiam melihat ketidaksopanan ku memanggil kaisar dengan nama, terlebih wajah mengerikan kedua Iblis yang kesal.
Sen beranjak turun dari tempat duduknya berjalan ke arahku, “Sidang hari ini selesai, kembali lah ke tempat kalian, aku harus menemani calon istriku sarapan..”
Sen menuntunku sampai di ruang makan, berbagai makanan lezat tersaji dengan lahap ku makan. Setelah dari menemui Calista semalam tidak satupun makanan yang masuk sebagai tumbal perutku.
“Setelah kejadian ini pasti akan ada kejadian yang lain lagi untuk menjatuhkanmu, kau harus lebih berhati-hati”
“Tentu saja aku tahu, apalagi setelah dia melihat aku menghabiskan malam denganmu”
“Kau menutupi lehermu menggunakan pita?”
__ADS_1
Aku mengangguk. “Untuk apa kau tutupi? Bukankah kau sendiri yang memintanya?”
“Sen! Berhenti membahas itu!”
*****
Madam Vero sudah menungguku di ruangan untuk melanjutkan pelajaran. Dia terlihat kesal karena harus menungguku, akupun harus mendengarkan ceramah panjangnya. Tapi ku akui madam Vero benar-benar seorang pengajar terbaik.
Aku mencoba menulis lagi kontrak yang akan ku berikan kepada Sen, dan meminta madam Vero untuk mengeceknya. Bukan benar-benar kontraknya hanya saja kata-katanya ku ganti.
“Ini sudah lebih baik dari kemarin, kau berkembang cepat juga, calon permaisuri” madam Vero menekankan kata terakhirnya.
“Terima kasih madam..”
“Tapi bukankah yang kau tulis itu sebuah kontrak?”
“Ah ya, ini sebuah kontrak, bukankah sebagai permaisuri aku harus bisa menulis sebuah kontrak kerjasama untuk kerajaan?”
“Baguslah jika kau sudah memikirkannya, jangan sampai dalam kontrak yang kau tulis itu, pihak kita merugi.”
“Tenang saja madam itu tidak akan terjadi.” Ucapku mantap.
‘tentu itu tidak akan terjadi karena raja Iblis itu akan ku buat menyetujui kontrak ini!’
Usai pelajaran madam Vero, aku masih dalam ruangan menulis kontrak asli untuk Sen dan memberikan kepadanya. ‘Dengan nyawaku yang menjadi umpannya tidak mungkin aku tidak mempersiapkan kontrak.’
“Maaf nona ada perlu apa kesini?” tanya penjaga menghentikan langkahku untuk masuk ke ruang kerja Sen.
“Aku ingin menemui kaisar. Ini penting!” jawabku, lalu penjaga mempersilahkan aku masuk setelah ada izin dari orang yang berada di dalam ruangan.
Sen duduk di kursinya dengan seorang pria berdiri disampingnya, ‘aku belum pernah melihat pria ini, apa dia pengawal Sen?’
Tanpa ku sadari, aku terus memperhatikan pria yang beridiri di sisi Sen, “Kau menyukai pelayanku?”
“a..apa? tidak.” Aku tersadar dari lamunanku. ‘oh dia pelayan, Sen menyukai pelayan pria?’
“Berhenti memikirkan hal yang aneh! Dia Atten, pelayang sekaligus asistenku, dan merupakan kepala pelayan.” Sen seolah membaca pikiran ku memperkenalkan pria itu.
“Oh ahh ya, halo tuan Atten”
“Halo nona, nona bisa memanggil saya Atten saja”
“Baiklah..” aku mengangguk setuju.
“Lalu ada urusan apa kau datang kemari?” tanya Sen yang dengan tangan memangku dagu seperti seorang detektif.
‘ah iya aku sampai lupa dengan kontraknya’
“Hmm,, itu…” aku melirik ke arah Atten ‘tidak mungkin aku membiarkannya tahu tentang kontrak ku’
“Saya akan menunggu di luar Yang Mulia” Atten pamit undur diri. ‘kenapa hari ini mereka berdua seolah bisa membaca pikiranku?’
“Ini” aku menyerahkan surat kontrak yang ku telah ku tulis, “Itu tulisan yang ku janjikan waktu itu, bacalah..”
Sen membaca kontrakku “Kau ingin aku menandatanganinya?”
Aku mengangguk, “Tidak ada yang membuatmu rugi di dalam kontrak itu, aku hanya ingin kamu melindungiku dan tidak membuangku setelah berhasil mengusir para Iblis”
“Kau harus menambahkan poin dimana kau akan menjadi calon permaisuri”
“Kalau begitu aku juga ingin menambahkan poin lain”
“Poin lain?”
“yah aku lupa menulisnya. Aku ingin kamu membebaskan Calista dari status sebagai selirmu”
__ADS_1
“Baiklah aku setuju!” kesepakatan kontrak diantara kamipun terjalin.