Kabisat Dream (Love From Another World)

Kabisat Dream (Love From Another World)
SIDANG DADAKAN


__ADS_3

“Mereka pembunuh bayarannya?” tanyaku saat berada di depan dua orang yang duduk terikat dengan luka lebam. ‘Apa ini perbuatan Lary?’


“Hey!”


“Ba.. bagaimana kau bisa sembuh begitu saja?” tanyanya terkejut melihatku yang berdiri tegak di depan mereka.


“Apa maksudmu aku sudah mati di makan beruang? Aku tidak selemah itu!”


“Walau tidak di makan beruang harusnya kau mati karena racun yang mematikan itu!”


“Benarkah? Tapi aku tidak mati tuh”


“Kau benar-benar gadis aneh nona!”


‘sepertinya aku mulai terbiasa dengan sebutan itu’


“Jadi siapa yang menyuruhmu?”


Keduanya hanya diam mendengar pertanyaanku, “Lihatkan? Tidak semudah itu..” ucapku melihat ke arah Max dan Lary.


“Apa kalian masih ingat anak, istri dan keluarga kalian?” tanya Lary penuh dengan penekanan sambil membunyikan kedua jari tangannya.


“iih ka..ka..kami akan mengatakannya” ucap keduanya dengan penuh ketakutan.


“Selir Maura yang menyuruh kami untuk melenyapkan anda” ucap mereka.


“APA?!!” Max angkat suara kesal.


“Hmm sudah ku duga” ucap ku dengan wajah datar.


Max dan Lary melihat ekspresi datarku, “Apa maksudmu kau sudah tau siapa dalangnya?” tanya Max.


“Yah, aku sudah tahu..”


“Lalu untuk apa kau menyuruh mereka mengaku? Lebih baik langsung dibunuh saja mereka beserta dalangnya”


“Tidak.. aku punya rencanaku sendiri, langsung mati itu terlalu mudah untuk Maura, aku akan membuatnya menderita.” Ntah kenapa hatiku sedikit senang dengan apa yang ku pikirkan, membuat Maura menderita! Mungkin pengaruh raja iblis sudah merasukiku.


“Apa yang akan kau lakukan dengan mereka berdua?”


“Membawa mereka ke dalam istana dan mengikuti pengadilan, menyuruh mereka mengakui dalang dari percobaan pembunuhan, dan memutuskan hukuman yang pantas.” Ucapku lancar.


“Baiklah, Lary akan menemanimu masuk ke dalam istana”


“Terima kasih kakak!” ucapku kepada Max.


“Siapa yang kau panggil kakak?”


“Kamu. Siapa lagi? Bukankah kamu sudah seperti kakakku?”


“Terserah kau saja!” ucap Max dengan rona di wajahnya. ‘uh kakakku yang lucu!’


*****


Kami sampai di depan istana, kali ini aku tidak lewat hutan belakang penjara. Lary membantuku membawa kedua pembunuh bayaran, lebih seperti menyeret mereka.


“Nona!! Nona sudah kembali?” Kin berlari langsung memelukku.


“Kamu kenapa?” tanya melepas pelukannya.


“Apanya yang kenapa nona? Nona sudah hilang seharian, dan kaisar mengerahkan pasukan untuk mencari dan menyeret nona.. ” Kin menjelaskan apa yang terjadi saat aku tidak ada di istana ‘menyeret?’


“Bahkan ada kabar bahwa nona telah di bunuh.. hiks hiks nona,, saya..” Kin larut dalam perasaan, aku memeluk menenangkannya.


“Lalu para pria dibelakang nona siapa?”


“Oh dua orang yang terikat itu…”

__ADS_1


“Nana!!” Sen datang dengan wajah seramnya. ‘mampus! Sepertinya dia marah!”


“Ahh Sen, engh a..aku..” Aku mencoba menjelaskan situasi namun Sen langsung mendekap tubuhku. ‘egh.. napasku sesak! Dia ingin membunuhku!’


“Siapa pria ini?!” Sen melepas dekapannya. “Dan darimana saja kau?!”


“Ah,, Sen aku akan jelaskan sebaiknya kamu tenang dulu..”


“Jelaskan sekarang juga!” perintahnya.


“Hmm, aku mendapatkannya”


“Apa?”


Aku mendekatkan bibirku ke telinga Sen, “Kesalahan yang dilakukan Maura”


“Jadi mereka…” Sen mulai tenang.


“Yup, dua orang yang terikat itu pembunuh bayaran yang berniat membunuhku saat aku berada di dalam hutan” ucapku memotong ucapan Sen.


“HUtan!!” emosi Sen kembali naik. ‘sial aku lupa!’


“Ahahaha, aku dikejar sampai masuk ke dalam hutan.. hehe”


Sen mendekatkan wajahnya, “Kau berhutang penjelasan kepadaku!”


“Lalu siapa pria ini?” tanya Sen memandang ke arah Lary.


“Dia yang membantuku menangkap mereka.”


“Membantumu? Bukan menyelamatkanmu?”


‘uh aku salah bicara lagi!’


“Maksudku dia yang membantu menyelamatkan nyawaku dan menangkap mereka.” Jelasku ‘semoga Sen percaya’


“Jangan! Jangan besok! Sekarang saja!” sepengalamanku biasanya dalangnya akan membunuh mereka agar tidak bisa mengatakan kebenaran.


“Kenapa? Tidakkah kau lelah?”


“Hmm,, menurut alurnya akan ada yang mengincar mereka sebelum persidangan. Jadi lebih baik dilakukan sekarang saja”


“Hmm, kau paling mengerti tentang alur ternyata. Baiklah persiapkan ruangan sidang, kita akan melakukan sidang dadakan!” perintah Sen langsung dituruti oleh bawahannya.


“Apa kau terluka?” sen kembali menanyaiku


“Tidak apa….”


“Dia terluka dan terkena racun dari anak panah Yang Mulia” Lary memotong ucapanku.


Sen memandangiku dan pandangannya berhenti di lenganku yang terbalut kain, “Sudah tidak apa-apa Sen, lukaku sudah di obati, dan lihat aku juga sudah mendapatkan obat untuk pemulihan” ucapku sambil menunjukkan bungkusan obat yang diberikan bibi.


“Kau awasi dia, pastikan dia meminum obatnya.” Sen beralih ke arah Kin.


“Baik Yang Mulia” Kin hanya mengangguk patuh.


“Kalau begitu nona, saya akan pergi” Lary berpamitan sambil membungkukkan sebagian tubuhnya, seperti salam seorang pelayan kepada tuan rumah.


“Baiklah, sekali lagi terima kasih Lary”


“Tidak masalah nona” Lary lalu pergi keluar istana.


“Ke..kenapa kamu menatapku begitu?” tanyaku kepada Sen yang ternyata dari tadi memandangiku.


“Tidak ada hanya.. hubunganmu dengan pria tadi..”


“Apa? Kenapa? Kamu cemburu?”

__ADS_1


“Tentu saja, kau calon istriku. Tapi bukankah dibandingkan penyelamatmu, dia lebih terlihat seperti bawahan yang melakukan tugasnya?”


“Hmm, perasaanmu saja.”


*****


Sidang dadakan dibuka, dan dua orang tersangka masuk ke dalam ruang sidang. Sempat terlihat wajah Maura yang tidak senang ketika melihatku kembali, dan pucat saat melihat dua orang masuk ke dalam ruang sidang. Sidangpun di mulai dengan membacakan kronologi dan kesalahan mereka.


“Kalian melakukan percobaan pembunuhan terhadap calon permaisuri dan..”


“Apa? Calon permaisuri??” potong salah satu dari mereka.


“Kami tidak diberitahu bahwa wanita itu adalah calon permaisuri!” sambung orang satunya.


“Hee. Berarti ada yang menyuruh kalian melakukannya. Katakan kepadaku siapa yang menyuruh kalian!” titah Sen.


“I..itu Yang Mulia…” sama seperti saat aku bertanya waktu itu, mereka tidak berani menjawab. ‘aku harap Lary atau Max ada disini.’


“KATAKAN!!” Sen mengeluarkan aura raja iblis yang sontak membuat mereka berdua terperanjat ketakutan.


“Kami disuruh selir Maura untuk melakukan pembunuhan, kami tidak mengetahui identitas wanita itu adalah calon permaisuri.”


“Pengawal! Bawa selir Maura menghadap!” Maura dibawa ke hadapanku dan Sen, untuk mengakui perbuatannya.


“Kau yang membayar mereka untuk membunuh Hana?!” Sen masih mempertahankan aura iblisnya.


“Yang Mulia… sa..saya..” Maura yang ketakutan berhadapan dengan Sen hanya menunduk.


“Kau mengakuinya!” Sen memberi penekanan kepada Maura.


‘jika aku di posisi Maura sekarang, aku akan pingsan’


Maura hanya diam ketakutan, menyangkalpun percuma, dia sudah terpojok sekarang.


“Seret selir Maura, masukkan dia ke dalam penjara!” tanpa menunggu jawaban dari Maura, Sen langsung memberikan perintah.


Pengawal menyeret Maura yang meronta-ronta dan meminta belas kasihan Sen. ‘Haa,, cintanya bertepuk sebelah tangan, bahkan sekarang dia dibenci dan dibuang oleh orang yang dia cintai’


“Yang Mulia, Maura tidak bersalah!” selir Vera maju membela Maura.


“Apa maksudmu?”


“Saya lah yang memerintahkan mereka untuk melakukan pembunuhan bukan Maura, Yang Mulia”


“Hee, jadi maksudmu kau dalangnya?”


“Be..benar Yang Mulia, saya lah dalangnya, karena itu Yang Mulia bisa membebaskan Maura.. karena dia tidak bersalah.”


“Bailklah, pengawal seret selir Vera ke penjara, dan berikan hukumannya!”


Maura dilepaskan begitu saja dan berganti dengan selir Vera yang diseret. ‘apa semudah itu?’


“Sen.. kenapa malah jadi selir Vera? Bukankah sudah jelas ini perbuatan Maura?” tanyaku berbisik.


“Tidak masalah, antara mereka berdua memang harus dipisahkan.”


“Tapi… bukannya ini sama saja menjadikannya kambing hitam?”


“Walaupun Maura yang menyuruh mereka, tapi ide itu dari selir Vera, setidaknya jika dia sudah tidak di dalam istana Maura pun sudah tidak bisa melakukan apa-apa..”


‘hmm, jadi otaknya adalah selir Vera’


“Bukankah kalau begitu dia tidak akan melakukan apa-apa?”


“Dia pasti akan melakukan sesuatu lebih dari ini, dan disaat itulah mereka tamat.” Aura iblis yang tadinya sudah agak pudar kembali terasa.


‘ntah kenapa dengan selir Vera yang jadi dalangnya perasaanku menjadi tidak enak’

__ADS_1


__ADS_2