
“Nona, Yang Mulia mencari anda” ucap salah satu penjaga di depan pintu kamarku
“Dimana dia sekarang?”
“Di kamar anda nona..”
“Apa?” aku langsung masuk ke dalam kamar. ‘yang benar saja! Mana boleh seorang pria masuk ke dalam kamar wanita!’
“Dari mana saja kau?” tanyanya kaisar tanpa basa-basi
“Kenapa kamu masuk ke kamarku? Tidak bisakah kamu menunggu saja diluar?”
Kaisar mendekat ke arahku “Aku yang bertanya duluan.”
“Dari hutan mencari obat” ucapku santai
“Bukannya sudah ku katakan, jaga sikapmu, bersikaplah selayaknya seorang permaisuri, statusmu sekarang calon permaisuri! Kau harus ingat itu”
“Aku tahu.. tidak ada yang melihatku ..”
“Apa kau bilang? Bagaimana kau menjelaskan hilangnya dirimu di istana”
“Katakan saja kalau aku sedang berkontribusi di masyarakat” ucapku sambil melangkah muncur karena kaisar terus melangkah maju ke arahku
“Sekarang harusnya kamu jawab pertanyaanku. Kenapa kamu menunggu di kamarku?”
‘sial aku sudah mentok ke dinding’
“Apa masih ada alasanku untuk menemui calon istriku?”
‘Wajahnya terlalu dekat!’ aku merasakan wajahku yang memanas
“Ki.. kita belum menikah!” ucapku sambil mendorong dadanya menjauh
“Kalau begitu tinggal menikah saja..” ucapnya santai, yang sontak membuat jantungku berdebar.
Aku menyingkir dari keterpojokan ku, dan berdiri di tempat yang lebih banyak ruang.
“Ada perlu apa kamu mencariku?” tanyaku mengalihkan pembicaraan
“Bukankah sudah ku katakan apa ada alasan lain untuk…”
“Kamu tahu bukan itu jawaban yang aku mau.” Aku memotong ucapnya
“Pfft..”
‘sial! Apa yang dia tertawakan?’
“Bukannya kau tidak menyukai pakaian di lemari ini?” tanyanya membuka lemari bajuku
__ADS_1
“Tidak sopan melihat isi lemari wanita!” aku langsung menutup lemari rapat-rapat
“Aku akan mendatangkan penjahit besok, kau bisa mengatakan kepadanya pakaian yang kau sukai” aku mengangguk mengerti.
“Dan mulai besok akan ada guru yang mengajarimu dari dasar” lanjutnya.
‘baguslah setelah bisa menulis dan membaca, aku akan membuat kontrakku sebagai umpan agar tidak dirugikan!’
”Baiklah aku mengerti. Setelah aku bisa menulis dan membaca, kamu akan jadi orang pertama yang aku perlihatkan tulisanku nanti!” ucapku semangat
Kaisar diam mendengar perkataanku, telinganya memerah. ‘apa dia tersipu? Padahal aku ingin memperlihatkan kontrak yang ku buat untuk di tanda tanganinya nanti’
“Sepertinya aku tidak salah memilihmu sebagai umpan untuk mengusir Maura dan selir Vera” kaisar mengalihkan pembicaraan. Dia membuatku mengingat betapa kesepiannya Calista berada dalam istana ini.
“Yang Mulia, bisakah kamu melepaskan Calista? Apa kamu tahu selama di istana ini dia kesepian?”
“Apa kau tahu yang kau katakan?” wajah seriusnya muncul “Bukankah sudah ku katakan? Jika di luar akan lebih berbahaya untuknya?”
“Yang Mulia, bukankah di istana sama saja? Apalagi kalau dia dijadikan sebagai selir..”
“Lalu maksudmu lebih baik aku melepaskannya? Dan membiarkannya mencari kehidupannya sendiri tanpa adanya keluarga?”
‘haa.. rumit juga’
“Kamu bisa menjadikannya tamu kehormatan atau teman..”
“Jika semudah yang kau katakan aku sudah melakukannya”
“Apa dia akan terkurung di istana ini selamanya?”
“Tidak.. setelah dalang dari permusuhan tertangkap, aku akan membebaskannya, dia bisa pergi kemanapun dia mau..”
‘berarti aku harus mempercepat rencana pengusiran iblis’
“Yang Mulia..”
“Apa?”
“Siapa namamu?” tanya ku. Yah dari awal pertemuan sampai sekarang menjadi calon permaisuri aku tidak tahu namanya. ‘istri seperti apa yang tidak tahu nama suaminya sendiri’
Kaisar hanya diam menatap ke arahku ‘apa salah jika aku bertanya?’
“Arsen” ucapnya
‘Arsen? Seperti nama yang pernah ku dengar. Namun, entah dimana’
“Baiklah Yang Mulia, mulai sekarang aku akan memanggilmu dengan nama”
“Apa? Tidak sopan”
__ADS_1
“Kenapa? Rey dan Zee yang merupakan pangeran saja tidak keberatan jika aku memanggil mereka dengan nama”
“Jadi kau akan memanggilku yang seorang kaisar dengan nama? Dimana sopan santunmu?”
“uh padahal dengan saling memanggil nama bisa terlihat lebih dekat”
“Ha?” kaisar masih tidak mengerti dengan ucapanku
“Terserahlah yang jelas mulai sekarang aku akan memanggilmu Arsen” ucapku mantap
“Kau akan memanggilku seperti itu?”
“Hmm, tidak aku akan memanggilmu dengan satu suku kata” kaisar masih diam mendengar ucapaku
“Sen!”
“Apa?”
“Yah aku akan memanggilmu Sen. Anggap saja itu panggilan sayangku kepadamu, dengan begitu kita akan terlihat lebih dekat”
“Apa kau selalu seenaknya memutuskan?”
“hehe bukannya itu lebih baik dari pada aku harus memanggilmu dengan sebutan Yang Mulia” ucapku dengan senyuman, akhirnya aku bisa menghilangkan panggilan Yang Mulia untuknya.
“Baiklah, aku juga akan memilih panggilan sayangku untukmu”
‘kenapa saat dia mengatakan kata sayang hatiku tergerak. Sial! Apa masih belum cukup pengalaman rasa sakit yang pernah ku rasakan? Ternyata hatiku masih lemah’
“Nana..” ucap Sen dengan lembut membuatku terdiam. Nama yang familiar di telingaku, tanpa terduga air mataku mengalir seakan kerinduan yang selama ini terkurung lepas.
“Kau kenapa?” tanya Sen memegang bahuku yang terisak “Apa kau tidak menyukai nama panggilannya?”
Aku menggelang “Tidak Sen, aku menyukainya..”
‘ntah kenapa saat mendengar Sen memanggilku seperti itu ada getaran kerinduan di hatiku, panggilan nama yang begitu aku rindukan’
“Baguslah.. sekarang kau istirahatlah, kau pasti sudah lelah karena keributan yang kau buat” ucap Sen sambil mengusap kepalaku lalu keluar dari kamarku
Aku kira, aku tidak akan mendengarkan lagi panggilan sayang itu, panggilan yang telah ku lupakan semenjak berada di dunia ini. Panggilan yang sangat familiar dan sangat melekat padaku, Nana yang dalam bahasa Hawai artinya musim semi.
*****
“Meow? (kau kenapa?)”
“hmm, hanya merindukan keluargaku..” aku memandangi keluar jendela menatap langit malam yang tidak banyak terlihat bintang. ‘apa mungkin kalimat walaupun jauh kita menatap langit yang sama berlaku juga untukku yang berada di dimensi lain ini?’
Sudah berapa lama aku di dimensi ini, bahkan aku sudah lupa menghitungnya karena banyak sekali yang sudah ku lewati. Dari yang hanya sendirian ditemani dengan seekor teman, memiliki dua ekor teman, sampai aku bertemu dengan manusia lain. Di berikan nama, mendapatkan teman manusia, menjadi pelayan, menjadi umpan, hingga menjadi calon permaisuri. Begitu banyak hal yang telah aku lalui hingga aku lupa identitas diri, sampai akhirnya orang yang memaksaku menjadi umpan mengingatkanku panggilan yang selama ini tidak lagi pernah ku dengar.
Apa aku bisa kembali ke dunia ku? Pertanyaan itu selalu ada dalam benakku. Apa kesedihan yang ingin ku hapuskan dan kebahagiaan yang aku inginkan berada di dunia ini? Lelah? Tentu, setelah semua yang terjadi. Bohong jika ku katakan tidak.
__ADS_1
Malam ini kerinduan terhadap hal yang selama ini terlupakan membuat emosiku memuncak, tanpa perantara air mataku keluar tanpa adanya penghalang, malam yang panjang ku lewati dengan kerinduan dan ditemani oleh seekor teman yang selalu berada disampingku.
“Ibu, Ayah, Kakak.. Aku merindukan kalian..” semua kerinduan yang aku rasakan meluap bersamaan air mata yang mengalir.