
Sudah seminggu lebih sejak kejadian panas di kamarku, Maura yang kesal sekarang tidak lagi tinggal diam. Dia akan menganggu orang-orang di sekitarku, termasuk Calista bahkan Poko yang seekor kucingpun menjadi targetnya hanya karena sering melihat Poko berjalan mengikutiku.
“Kucing ini sudah mencuri!” seorang pelayan menatap ke arah Poko yang berjalan bersamaku.
“Apa maksudmu?” tanyaku sambil memakan buah apel yang ku dapatkan dari dapur.
“Kami sering kehilangan bahan makanan terutama ikan mentah” jelas seorang pelayan dapur dengan tatapan tidak sukanya.
“Ada apa ini?” Maura datang bersama dengan para pelayan di belakangnya.
“Selir Maura.. Kucing ini sering terlihat mencuri bahan makanan yang ada di dapur”
Maura melirikku dengan tatapan merendahkannya “Binatang peliharan sama majikan, sama saja suka mencuri”
‘jelas sekali pelayan dapur ini bawahan Maura dan sengaja ingin membuat masalah denganku’
“Kamu memiliki bukti?” tanyaku kepada pelayan dapur.
“Kami melihat kucing hitam ini selalu keluar masuk dapur dan membawa bahan makanan termasuk ikan mentah”
“Lalu apa masalahnya?”
“Apanya yang bukan masalah? Kucingmu sudah menjadi pencuri di dalam istana ini..” Maura masih ingin mengatakan jika Poko bersalah. ‘dasar apa salahnya Poko yang hanya diam saja tanpa menganggunya?’
“Haa.. sepertinya kalian salah melihat, itu mungkin kucing lain, karena kucingku tidak menyukai makanan mentah”
“Bagaimana jika kita buktikan? Apa benar seekor kucing tidak menyukai ikan mentah?” Maura melirik kepada pelayan dapur sebagai sebuah kode.
“Baiklah”
Dua piring di hadapkan ke arah Poko, satu piring berisi ikan mentah yang menggiurkan untuk seekor kucing dan satu piring lagi berisi buah apel.
‘Mereka pasti sengaja membandingkannya dengan apel, berfikir seekor kucing tidak akan mungkin memilih memakan apel dan lebih memilih ikan mentah, tapi kalian salah. Kucingku ini kucing aneh sejak awal.’
Aku hanya melihat Poko yang berdiri diantara kedua piring itu, dan mengabaikan ikan segar yang terlihat lalu memakan apel di piring sebelahnya.
“Lihatkan?” aku tersenyum menang.
“Tidak mungkin kau pasti sengaja kan..” Maura tidak terima dengan kekalahannya.
“Meow.. (ikan mentah beracun)!”
‘Apa? Apa lirikannya kepada pelayan tadi untuk membunuh Poko?’
“Kamu menaruh racun di ikannya bukan?” tanyaku kepada pelayan dapur yang menyajikan ikan mentah tadi.
“A..apa maksud nona, tidak mungkin saya melakukannya! Nona tidak memiliki bukti!” elaknya dan Maura hanya diam, ‘tentu saja dia takut ketahuan, karena tidak ketidaktenangannya’
__ADS_1
“Baiklah, bagaimana kita semua melihatnya ikan ini akan di goreng di depan kalian, dan kamu harus menyantapnya di depan ku!
“A..apa itu..”
“Kenapa? Bukannya kamu yang menyediakan ikan segar ini langsung kenapa kamu takut jika memang tidak ada racun di dalamnya?” aku tersenyum miring “Kecuali kamu memang memasukkan racun ke dalamnya”
“Nona ini…” Pelayan melirik ke arah Maura seolah meminta pertolongan, tentu saja diabaikan oleh iblis kecil.
“Pengawal!!” teriakku mengikuti cara Sen memanggil pengawal, dan dua orang pengawal yang entah dari mana datang menghampiriku.
“Seret dia, dan potong tangannya karena sudah menaruh racun untuk membunuh kucingku yang imut!” titahku dan seketika wajah pelayan itu pucat pasi tidak beda jauh dengan Maura yang tegang.
‘Kejam? Tentu saja mungkin karena sudah hidup berdampingan dengan para Iblis, jiwa kejamku pun terbentuk dengan sendirinya’
“Bukankah itu keterlaluan hanya karena seekor binatang peliharaan kau ingin memotong tangan seorang pelayan?!” Maura ikut berbicara.
“Bukankah aku harus mengajari seorang pelayan ini? bisa saja kan kalau ini dibiarkan bukan hanya ingin meracuni hewan saja, tapi mungkin dia akan meracuni majikannya?”
“Bawa dia!” perintahku kepada pengawal.
“Baik Nona” ucap mereka serempak dan membawa pelayan dapur itu pergi.
“Nona maafkan saya nona.. saya mengaku saya salah nona…” pelayan yang diseret itu meminta ampunan kepadaku yang tidak peduli dengan teriakannya.
“Apa ada yang ingin kamu jelaskan kepadaku Maura?” tanyaku kepadanya yang masih terpaku.
Aku sengaja tidak mempermasalahkan ini sampai ke persidangan, karena aku ingin melihat Maura melakukan sesuatu yang lebih gila agar bisa diusir dari istana.
Untuk membuat Maura kesal aku sengaja berjalan berdampingan sambil merangkul tangan Sen mesra di depannya, dan itu sukses membuatnya sangat kesal. Begitulah hari-hari yang ku lalui dengan kesenangan kecil berperan sebagai seorang pelakor.
*****
Sudah lama aku tidak menyapa bertemu dengan Bear, terakhir kali bertemu dengannya saat jatuh dari air terjun. Hari ini aku bermaksud membolos kelas madam Vero dengan memohon padanya untuk membiarkanku istirahat sehari saja, walau memang tidak mudah tapi akhirnya madam mengizinkan dengan tawaran akan membacakan buku kuno miliknya.
“Poko ayo ke hutan menemui Bear!” ajakku
“Meow.. (Kau mengendap keluar istana lagi?)”
“Yah tentu saja, kita akan mengendap lewat belakang, bisa gawat jika ketahuan, apalagi oleh Sen”
“Meow (kau ingin melarikan diri?)”
“Mana bisa aku melarikan diri dari Iblis”
“Meow (Kau selalu berkata dia seorang Iblis)”
“Tentu saja, mana ada manusia berperilaku sepertinya? Membuatku selalu menjadi umpan, dan menempatkanku ditempat berbahaya.”
__ADS_1
“Meow.. (dan kau akan segera menjadi penganti Iblis!)”
Fakta yang membuatku tertampar, benar Iblis itu akan menjadi suamiku. Haa sebenarnya apa dosaku setelah sering dikhianati sekarang malah tertangkap Iblis.
Kami akhirnya pergi ke hutan melalui jalan di belakang penjara, Poko tentu saja ikut denganku, walau bagaimanapun dia tetap setia mengikutiku.
Sesampainya kami di dalam hutan menuju goa tempat tinggal Bear, ntah kenapa perasaanku mulai tidak enak.
“Poko..”
“Meow? (apa?)”
“Tidakkah kamu merasa aneh?”
“Meow (Maksudmu?)”
“Bukankah ini terlalu sunyi?”
“Meow.. (Tentu saja ini kan di hutan)”
“Aku juga tahu ini di hutan!” kesalku. “Maksudku bahkan suara jangkrik dan burungpun tidak terdengar”
Poko menghentikan langkahnya setelah sadar apa yang ku katakan, “Meow (kau benar, kita sedang diawasi)
“Apa?” bicaraku mulai berbisik “Jadi apa kita harus lari?”
“Meow (tidak, kita tidak tahu mereka siapa, jika mereka tahu keberadaannya diketahui mungkin saja mereka akan bertindak. Bersikaplah seperti biasa)”
“Mereka? Maksudmu lebih dari satu orang? Dua orang?” tanyaku berbisik sambil terus melangkah.
“Meow (Mereka ada 6 orang)”
“Apa mereka pembunuh bayaran?”
“Meow (Mungkin saja, dan sepertinya mereka sudah mencurigai kita)”
“Jadi maksudmu?” aku mulai mempercepat langkah kakiku.
“Meow! (Tentu saja Lari dan bersembunyi!)”
Seruan Poko membuat kakiku refleks berlari, benar saja enam orang itu mengikuti kami, berlari dan melompat dari pohon ke pohon.
‘kenapa di dunia ini aku harus berlari, meloloskan diri, dan bersembunyi terus. Apalagi itu terjadi setiap sampai di hutan.’
“Berhenti!!” dua orang menghadang jalan kami dan menodongkan pedang ke arahku.
“Tu..tunggu, siapa kalian?” sekarang terlihat jelas mereka yang mengikutiku memakai pakaian serba hitam ‘benar-benar pembunuh bayaran!’
__ADS_1