
Pagi menjelang gemercik air terjun terdengar jelas dan cerita sakit hati yang melanda usai.
“Kruyukk~” perutku mulai memberontak meminta tumbal. Ha ku kira masalah sudah selesai ternyata dengan tidur hanya menyelesaikan masalah untuk sementara dan masalah baru muncul.
Aku merenggangkan tubuhku. ‘sepertinya tidak ada lagi yang mengejarku..’
“Bear! Poko! Ayo kita mencari makan!” ajakku bersemangat.
“Meow? (Bagaimana caranya?)”
“Growll” Bear mengangkat pundaknya
“Mudah saja kita tinggal keluar dari si..” aku berbicara sampa di depan mulut goa. ‘ah sial ini masalah lainnya. Bagaimana cara keluar dari goa ini?’
“Apa kalian punya ide?”
Poko dan Bear saling berpandang dan mengangkat pundak mereka mengatakan tidak tahu.
‘haa,, aku lelah dan perutku tidak bisa diajak berkompromi’
Aku naik di punggung Bear, menaiki kuda berbulu ku. “Meow? (kau mau apa?)”
“Poko naiklah kita berdoa saja semoga ancang-ancang yang kita ambil dari sini bisa mencapai sana” aku menunjuk ke samping air terjun dimana awal mula Bear melompat.
“Meow!! (Apa kau sudah gila!)”
“Oh ayolah aku sudah lelah, dan tidak ada salahnya jika kita mencoba”
“Meow? (Kalau tidak berhasil?)”
“Hmm, ya masalah itu kita pikirkan nanti, ayo naiklah” Poko menuruti pasrah perkataanku. “Bear aku percayakan ini kepadamu!” seru memeluk erat Bear.
Bear mulai mengambil ancang-ancang mempercepat langkahnya dan melompat keluar dari mulut goa, sedikit lagi meraih pijakan, dan ya jangan terlalu berharap..
Tidak sampai berpijak kami melayang jatuh ke dalam dasar air terjun semua basah, dan aku terlalu lelah untuk memikirkan cara menyelesaikan masalah ini.
*****
Aku terbangun di atas tempat tidur kayu.
“Bibi??” panggilku.
“Kakak sudah bangun?” aku menoleh ke arah datangnya suara, seorang anak bocah laki-laki masuk menghampiriku. ‘ini sekarang aku dimana?’ Aku melihat ke arah pakaianku yang sudah berganti, mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan ‘tempat yang asing, bocah laki-laki yang tidak aku kenal. Apa aku berpindah dimensi lagi saat aku jatuh tadi?’
“Ibu ayah kakak sudah sadar!!” teriaknya girang. ‘kakak? Apa sekarang aku memiliki adik?’ aku melihat tubuhku, baju yang ku pakai sudah berbeda.
Sepasang orang dewasa menghampiriku “Bagaimana keadaanmu nak?” tanya seorang wanita duduk di sampingku.
“Aku baik-baik saja.. hanya saja.. aku a.. kruyukk~” ah perutku sudah mulai mengambil pembicaraan.
Pria dewasa yang menemaninya tadi kembali dengan nampan di tangannya.
__ADS_1
Semangkuk sup dan segelas air, sudah cukup untuk memberikan tumbal untuk perutku. ‘Air gula?’ air yang ku minum terasa manis, dan sup juga manis. Tapi tidak ada yang bisa di proteskan sebagai pemintan tumbal.
“Sebenarnya aku ada dimana?” tanyaku setelah meyelesaikan ritual pengisian perut.
“Kau sepertinya terjatuh, kami menemukanmu di pinggir sungai..”
Aku masih mencerna ‘aku pindah dimensi lagi atau masih di dimensi yang sama’. “Air terjun..” lirihku
“Yah sepertinya kau jatuh dari air terjun” aku menoleh ke arah pria yang membuka suara. ‘berarti aku masih berada di di dunia yang sama’
Aku mencari ke arah sekelilingku ‘kemana dua ekor temanku?’
“Selain aku, apa ada yang lainnya?”
Keduanya bingung dengan pertanyaanku, “Maksudmu? Selain kau masih ada temanmu yang lainnya?” tanya sang pria
Aku mengangguk, “Ya dua ekor teman ku”
Mereka berdua makin kebingungan dengan ucapanku, ‘ah sudahlah pasti mereka mengira bahwa aku sudah gila’
“Selain kau yang terdampar di pinggir sungai kami tidak melihat hal lainnya” ujar sang wanita. “Bajumu basah jadi aku menggantikannya dan menjemur bajumu”
“Terima kasih” ucapku. ‘sekarang jelas tidak ada perpindahan dimensi lagi dan faktanya aku masih terjebak di dunia yang sama, dimana kebodohan yang membawaku’
Hari mulai sore, aku berkeliling di luar rumah menghilangkan kegabutanku. ‘tidak ada Poko, tidak ada Bear’ aku duduk berjongkok sambil mengambar tanah di depan pijakanku menggunakan ranting pohon.
“Meow.. (gambar yang jelek)” Poko tiba-tiba muncul entah dari mana
“Apa menurutmu gambar ini jelek?”
“Meow! (yah tentu saja!)”
“Ah ternyata gambarku terlalu nyata..” ucapku jahil
“Meow?”
“Aku mengambarmu, ini, kalau gambarnya jelek yah memang itu kenyataannya..” jawabku menahan tawa.
“Kakak kau sedang bicara dengan siapa?”
‘Astaga! Ini anak muncul dari mana…’
“Hmm dengan temanku..” jawabku sambil menunjukkan Poko kepadanya.
“Meow.. (kau akan dianggap gila)”
“Kucing??” anak kecil yang ku ketahui namanya Rome itu memiringkan kepala mencerna jawabanku. ‘oke tidak masalah anggap saja aku sudah gila. Mulai dari aku memijakkan kaki ke dunia ini pun aku tahu aku sudah gila’.
“Selain seekor kucing, siapa lagi teman kakak?”
“Seekor beruang” jawabku spontan, dan mendapat ejekan Poko. ‘kau benar-benar gila’
__ADS_1
“Kakak..” Rome memelukku. “Kakak pasti kesepian, aku akan menjadi teman kakak..” ucapnya polos. ‘setidaknya dia tidak menganggap aku gila’
Aku membalas dengan tersenyum gemas melihat tingkahnya dan mengusap kepala Rome pelan.
Malam datang, aku diperbolehkan menginap disini tempat aku membuka mata setelah kejadian melompat dari air terjun. Sepasang suami istri ini memperbolehkan aku tinggal bersama mereka karena cerita dari Rome yang mengatakan aku kesepian tidak punya teman, dan itu menjadi alasan aku jatuh dari air terjun, yah secara tidak langsung dia mengatakan aku bunuh diri karena kesepian. ‘Sial!’
Makan bersama keluarga sudah lama tidak aku jumpai, rasanya kangen juga.
“Kakak makanlah yang banyak, anggap saja aku adik kakak, aku tidak akan membiarkan kakak kesepian” ucapnya polos. ‘eh bocah bisakah berhenti beranggapan aku semenyedihkan itu di depan orang tuamu.’
“Benarkah? Bagaimana jika kamu sudah besar nanti dan akan memiliki seorang kekasih? Apa kamu akan meninggalkan kekasihmu?”
Rome diam sejenak dan berfikir “tidak, aku tidak akan meninggalkannya. Aku akan menjadikannya teman kakak juga”
‘Dewasa sebelum waktunya’ aku mengusap rambut Rome dan tertawa mendengar jawabannya.
Makan malam ini rasanya sama seperti makan siang tadi, air gula dan masakan yang menurutku itu manis, tapi mereka makan tanpa adanya komentar. ‘apa mereka tidak takut akan penyakit diabetes?’
*****
Malam berganti pagi, dan suara berisik terdengar dari luar rumah.
“Ada apa?” tanya kepada Rome yang menangis dalam ketakutan.
“Kak.. kakak jangan keluar, di.. di luar a…ada beruang kak, a.. ayah sedang melawan beruang” ucapnya sambil menangis ketakutan
“Beruang?” aku mencoba melihat keluar, dengan Rome yang berusaha mengahalangiku membuka pintu.
“BEAR!!” teriakku saat berhasil membuka pintu. Bear berlari ke arahku, namun di hadang oleh ayah Rome.
“Dia temanku!” ucapku melangkah mendekati Bear. Bear mengeluskan kepalanya ke badanku, ‘beruang yang manja’.
“Growl..” dia memelukku.
“Nak hati-hati..”
“Tidak apa-apa bibi dia beruang yang jinak” Bear memasang wajah imutnya.
“Kakak…”
“Growl.!!” Bear terlihat tidak suka saat Rome mendekatiku.
“Tidak apa-apa Bear dia adikku..” seolah mengerti Bear mengelus puncak kepala Rome pelan
“Benarkah dia temanmu?”
“Benar paman dia beruang yang ba..” kata-kataku terhenti ketika melihat sekeliling rumah yang berantakan, jemuran yang berserakan dan beberapa kayu bakar yang lepas dari ikatan.
“Bear! Apa yang kamu lakukan?!!” Bear hanya menunduk mengakui kesalahannya. “Growl..”
“Bantu paman dan bibi membereskan kekacauan ini!” perintahku.
__ADS_1
Bear menurut dan membersihkan kekacauan yang dia buat. Dia mengumpulkan kayu bakar yang berserakan, dan membantu mendirikan kembali tiang jemuran yang lepas akibat ulahnya. Kalian bisa membayangkan seekor beruang yang sedang membantu menjemur pakaian. ‘Hiburan selama di dunia ini tidak buruk juga’