
Pembelajaran yang diberikan oleh madam Vero berakhir dan aku kembali ke kamar untuk beristrirahat. Dibandingkan pelajaran matematika, pelajaran yang diberikan oleh madam Vero lebih membuatku kesulitan karena tidak adanya rumus dan hanya pemahaman dasar untuk menjadi seorang permaisuri.
“Nona..” Kin menghampiriku di depan kamar
“Ada apa Kin?”
“Penjahit yang dipesan kaisar sudah menunggu nona di ruang tamu”
“Haa.. haruskah aku kesana sekarang?”
“Tentu harus nona, penjahit yang dipesan kaisar merupakan penjahit terbaik di kerajaan ini”
“Baiklah.. kita temui dia..” ucapku malas
Kin mengantarku ke sebuah ruangan yang sudah dipenuhi dengan banyak manekin yang menggunakan berbagai macam model gaun pesta.
“Apa anda nona Hana?” tanya seorang laki-laki dengan gaya gemulainya
“Benar…..” ucapku menggantung
“Panggil saja George” seolah tahu apa yang ku pikirkan, dia memperkenalkan dirinya tanpa diminta
“Baiklah George”
“Silahkan nona..” George mempersilahkan ku untuk melihat semua gaun yang di gunakan manekin, “Apa dari semua ini ada yang nona sukai?”
“hmm.. apa semuanya hanya gaun pesta?”
“Apa? Tidak nona ini gaun sehari-hari, dan disebelah sini gaun pesta” jawabnya
‘ha? Yang benar saja gaun, yang ku lihat semuanya hanya gaun yang digunakan untuk pesta saja’
“Aku menyukai gaun yang memperlihatkan bagian bahu”
George memfilter gaun yang ku sebutkan, namun tetap saja semua terlihat sama seperti gaun untuk pesta. Yang ku inginkan gaun yang simpel.
“Bagaimana nona?”
“Hmm, bisakah aku mendesainnya sendiri?”
“Apa nona bisa mendesain?” tanya George tidak percaya
“Tentu saja tidak bisa. Aku akan mendeskripsikan kamu yang mendesain”
“Baiklah nona” George mengambil perlengkapan desainnya kertas dan alat gambar.
“Aku menginginkan bahunya terlihat, dan gaunnya tidak mekar dibagian bawah, aku ingin gaunku sederhana tanpa ada korset, dan bahannya ringan”
“Bagaimana dengan bagian pinggangnya?”
“Hmm,, dibiarkan polos saja atau diberikan tali dipinggangnya untuk pita”
George mulai mendesain dengan arah yang ku berikan, selesai mendesain dia terlihat berfikir dengan apa yang dia gambar.
“Apa seperti ini nona?” dia memperlihatkan ku desain gaun yang sederhana
“Yah seperti ini” ucapku. ‘memang bakat seorang desainer tidak bisa diremehkan’
“Mohon maaf sebelumnya nona..”
“Ada apa?” tanyaku kepada George yang takut-takut berkomentar
“Bukankah gaun yang nona katakan itu, gaun tidur?”
__ADS_1
‘apa? Apa gaun tidurpun sebagus ini?’
“Hmm.. tapi aku menyukai desain yang sederhana seperti ini”
“Tapi nona, jika Yang Mulia tahu, penilaiannya tentang saya akan turun karena memberikan desain gaun tidur untuk nona gunakan sehari-hari”
“hmm, kalau begitu bukankah itu pekerjaan untukmu, agar desain gaun ini tidak terlihat seperti gaun tidur”
“Apa boleh saya rombak lagi nona?”
“Boleh saja tapi seperti kataku tadi, aku menyukai bahannya yang ringan dan tidak suka gaun yang mekar dibagian bawah, tentu saja dengan potongan yang memperlihatkan bahu”
“Saya mengerti nona..”
“Dari semua desain baju yang kamu perlihatkan, apa tidak ada desain celana?”
“Maksud nona?”
“Maksudku baju dengan setelan celana. Apa tidak ada?”
“Desain yang seperti itu hanya untuk pakaian pria”
“Wanita tidak bolehkah?”
“Belum ada permintaan desain pakaian pria untuk wanita nona”
“Kalau begitu bagaimana jika aku yang pertama kali memesan?”
“Nona.. jangan buat penilaian Yang Mulia terhadap saya turun”
“Baiklah baiklah, jadi tidak bisa yaa.. tapi…”
“Nona saya mohon.” Ucapnya singkat memotong ucapanku
George menghentikan kegiatan mendesainnya dan menoleh ke arahku.
“Bukankah wanita juga bisa berkuda? Akan lebih mudah jika berkuda menggunakan celana..”
“Memang benar, tapi nona yang bisa berkuda di kerajaan ini hanya sedikit”
“Lalu apa masalahnya? Jika mereka melihat wanita yang menggunakan pakaian berkuda, mungkin mereka yang tidak bisa berkuda pun ingin mencobanya”
George terlihat berfikir “Baiklah akan saya pertimbangkan” ucapnya sambil mnyodorkan hasil desain baju yang sudah dirombaknya
“Wah ini terlihat lebih mewah dari sebelumnya.. aku menyukai ini!”
“Karena nona terlihat tidak menyukai perhiasan, saya mengantinya dengan desain bunga”
“Yah aku sangat menyukainya. Terima kasih”
“Baiklah nona sekarang waktunya untuk pengukuran”
“Apa kamu sendiri yang akan mengukur ku?”
“Tentu nona, saya sendiri yang akan mengukur nona”
“APA? Tidak bisakah pelayanmu saja yang mengukurku?”
“Nona saya sendiri yang akan mengukur agar ukurannya benar-benar pas di tubuh nona” ucapnya tegas, dan menyuruh pelayan yang dibawa olehnya memegangiku, dan memulai pengukuran.
“Tu..tunggu.. hahahaha hentikan geli…hahaha” aku tidak bisa menahan tawa geli saat dia menyentuh bagian pinggang dan punggungku
“Nona tenanglah, jika terus bergerak saya tidak bisa mengukurnya dengan pas”
__ADS_1
“Hentikan hentikan hahahaha Kin tolong aku hahahaha” air mataku mengalir menahan geli
“Nana ada apa ini?” Sen tiba-tiba masuk ke dalam ruangan “Apa yang membuat suara tawamu terdengar sampai keluar?”
“Hormat kami Yang Mulia” semua diruangan menghentikan kegiatan mereka dan memberi hormat kepada Sen.
Aku bernapas lega karena tangan mereka sudah lepas dari badanku dan menghapus air mataku yang keluar, “Sen…!” aku berlari menuju Sen, tentu saja kesempatan ini tidak boleh lepas begitu saja.
Semuanya terdiam melihat ke arahku, tentu saja tidak ada yang memanggil kaisar dengan nama saja.
“Kau kenapa?”
“Mohon maaf Yang Mulia, kami hanya melakukan pengukuran untuk gaun yang akan dibuat” George menjelaskan. “tapi nona selalu bergerak jadi kami kesulitan melakukan pengukuran”
Sen menolah ke arahku “Hmm,, aku tidak terbiasa diukur” ucapku menjauhkan pandangan matanya
“Lanjutkan, aku akan membantu” ucap Sen yang mendapat respon terkejut oleh semua yang ada di dalam ruangan.
Sen memengangi kedua tanganku dan pelayan lainnya memegang tubuhku agar tidak banyak begerak.
“Haaahahaa, hentikan hentikan hahahah Sen lepaskan aku.. hahahah” sebanyak apapun aku memohon dan meminta tidak ada yang melepaskanku sampai pengukuran selesai.
“hiks..” aku mengusap air mata setelah selesai pengukuran. Sen duduk manis di sofa menyesapi teh seperti tidak terjadi apa-apa. ‘dasar iblis!’
Pertemuanku dengan penjahitpun selesai, George membereskan pakaian yang dipanjangnya dan pamit undur diri. Semua pelayan, termasuk Kin keluar dari dalam ruangan yang tersisa hanya aku dan sang iblis.
“Bagaimana pelajaranmu dengan madam Vero?”
“Kamu salah mencarikanku guru!”
“Apanya yang salah? Madam Vero sudah terkenal sebagai pengajar terbaik"
“Tapi dia guru untuk etika bukan guru untuk mengajariku cara membaca dan menulis!”
“Bukankah kau memang memerlukan guru untuk etika? Lihatlah ketidaksopananmu.”
“Sen!”
“Lalu apa dia akan mengajarimu?”
“Yah dia mengajariku cara membaca dan menulis, dan kadang dia juga memperbaiki sikapku, menyuruhku untuk menegakkan punggung agar terlihat elegan”
‘tentu saja itu yang membuatku cepat lelah!’
“Baguslah, karena madam Vero merupakan pengajar yang sulit, ku kira kau akan kesulitan untuk beradaptasi dengannya”
“Sangat sulit! Benar-benar sulit! Dia membanggakan seorang Maura yang dia nilai mempunyai perilaku sopan dan bisa menempatkan diri! Ah bagaimana dia bisa menilai iblis kecil seperti itu?”
“Iblis kecil?” Sen mengerutkan kening mendengar penuturanku
“Yah Maura Iblis kecil, selir Vera Iblis besar dan…” ucapanku menggantung,
‘dan kamu raja Iblisnya!’ untung saja ucapanku masih bisa ku tahan.
Sen mencurigai ucapanku yang menggantung, “Dan tentu saja aku harus mengusir mereka” ucapku melanjutkan.
“Baiklah lanjutkan pelajaranmu, aku menunggu surat yang akan kau tulis untukku”
“tentu saja!” balasku. ‘aku akan mengirimkan kontrak untukmu’
Sen pergi meninggalkan ruangan.
‘ha.. apa sekarang aku bisa beristirahat?’
__ADS_1