
Kami berhasil lolos dari kejaran para penjaga berkat Max, aku berterima kasih kepadanya karena sudah menolongku, namun setelah menurunkanku dia langsung pergi sebelum sempat ku mengucapkan terima kasih.
Aku berjalan menuju rumah pertamaku. Ya pondok yang menjadi tempat tinggalku saat pertama kali datang ke dunia ini. Aku benar-benar sudah tidak ada tenaga lagi, bahkan untuk berpindah ke tempat yang lebih nyaman.
“Meow? (bagaimana keadaanmu?)”
“Ntahlah aku lelah, dan punggungku masih terasa perih” ucapku terduduk lemas. “Bahkan untuk mengobati lukaku..” ah benar obat “haah…”
“Meow? (kenapa?)”
“Aku meninggalkan obatnya di dalam penjara” ucapku menenggelamkan kepalaku kedalam lutut.
“Meow.. (Dasar bodoh)”
Aku mengangkat kepalaku memikirkan cara menolong Calista tanpa memperdulikan lukaku. Ya, proritasku sekarang tanaman yang dapat menyembuhkan Calista.
“Ambil ini..” Max muncul tiba-tiba di depanku. Jika kutanyakan dari mana dia tahu aku ada disini mungkin dia akan mengatakan dari bau ku.
Aku mengambil bingkisan yang diberikan Max.
“ah ini.. terima kasih Max, untuk ini dan terima kasih sudah membantuku melarikan diri” ucapku tulus, Max memberikanku tanaman obat-obatan yang ku butuhkan untuk menyembuhkan lukaku.
“Ku harap tanamannya benar..” aku tersenyum mengiyakan.
“Dari mana kamu tahu tentang bahan obat-obatan ini?”
“Bukankah kau pernah menyuruh bawahanku mencari tanaman ini untuk mengobati luka saudaraku..”
Ah iya benar, aku pernah membantunya walau itu tidak bisa disebut menolong lebih tepatnya mengacamku dengan membawaku ke dalam goa serigala. Bulu kuduk ku merinding saat mengingat kejadian saat itu, dan saat dia membawaku seperti karung goni di pundaknya.
“Sekali lagi terima kasih..”
“Kenapa mereka mengejarmu?”
“Hmm, karena aku kabur dari penjara” ucapku santai. Tidak biasanya Max menanyakan tentangku.
“Kau gadis nakal” ucapnya tersenyum, tapi bukan senyum tulus ini senyum jahil yang mengejek.
“Aku bukan gadis nakal.” sanggahku. “Aku gadis malang yang dipenjara karena tuduhan yang tidak dia lakukan!”
“Kenapa tersenyum?” tanyaku kepada Max yang tersenyum mendengar ceritaku. “yang aku katakan itu benar. Aku dituduh meracuni putri karena tidak ada di tempat padahal aku sedang berlatih pedang” tanpa ditanya aku menceritakannya kepada Max.
“Kau berlatih pedang? Kau seorang pelayan?”
“Yah aku berlatih pedang. Kenapa kamu juga akan mengatakan kalau seorang pelayan tidak boleh berlatih pedang?”
Max diam tidak mengeluarkan suara.
__ADS_1
“Max, kehidupan di istana itu ternyata sangat rumit. Musuhmu berada di dekatmu, orang-orang yang terlibat disana hanya melihat apa yang mereka ingin lihat, dan mendengar apa yang mereka dengar. Kasta yang berbeda juga menjadi penentu dihargai atau tidak pendapatmu. Bahkan aku dihukum cambuk karena mengatakan kebenarannya. Aku tidak ingin berada di dalam istana, aku hanya ingin bebas” aku bercerita panjang lebar kepada Max, ntah kenapa mulutku ini tidak bisa diam aku meluapkan semua kepada Max.
“Jika kau menginginkan kebebasan kenapa kau bekerja untuk kerajaan itu?”
Apa aku harus mengatakan kepada Max jika aku hanya ingin mencari tahu tentang dunia ini, aku hanya mengincar perpustakaannya saja.
“Teman.. yah aku ingin melindungi temanku. Dan sekarang aku malah dituduh sudah meracuni dia, sekarang dia sekarat. Mereka bahkan masih meracuninya membunuhnya secara perlahan”
“eh?” Max mengelus pucuk kepalaku. Kenapa terasa nyaman saat kepalaku dielus seperti ini.
“Bagaimana jika kau bekerja di kerajaanku. Aku dapat menjamin tidak akan ada yang menyakitimu”
Tunggu Max bilang kerajaan?
“Apa kamu juga seorang Kaisar?”
“Bukan, aku seorang Raja.”
‘Sialan apa bedanya Kaisar dan Raja? Mereka sama-sama pemimpin kerajaan’ batinku kesal.
“Lalu kenapa seorang Raja berada di dalam hutan tanpa pengawal yang mendampinginnya?” ejekku.
“Sekarang hutan ini adalah kerajaanku..”
“Hewan dan tanaman adalah rakyatmu? Hahaha” potongku lanjut mengejeknya.
“Max..” ucapku memegangi pundaknya. “Karena aku berada di hutan ini, berarti sekarang aku rakyatmu..”
“Kau rakyatku aku akan melindungimu” ucapnya tulus dengan senyuman yang tidak mengejek.
Tuhan jantungku. Max yang berpenampilan seperti Bad Boy ini tersenyum membuat telingaku panas, bisa ku rasakan telingaku mungkin sudah memerah. Sialan kenapa Bad Boy selalu menarik perhatianku! Apa ini yang dinamakan pesona Bad Boy.
“Terima kasih Max, apa aku boleh meminta tolong?”
Max mengangguk tanpa mengeluarkan suara.
“Aku akan membuat obat untukku, apa kamu bisa membantu mengoleskannya?”
Max hanya mengangguk lagi. Haa apa suaranya habis setelah menceritakan tentang raja hutan.
“Dan bisakah kamu mencarikan ku tanaman obat untuk racun?” Max mengerutkan alisnya.
“Ah ini untuk temanku, aku sudah ceritakan tadi bukan? Dia dalam kondisi krisis. Aku rakyatmu dia temanku bukankah berarti dia juga rakyatmu? Aku meminta kamu menolongku, dan aku menolong temanku, temanku juga temanmu juga rakyatmu”
Argh sial! Apa yang berusaha ku katakan. “haa intinya bantu aku menemukan tanaman obat ini..” ucapku pasrah kerena ucapku yang sebelumnya sangat berbelit bahkan aku sendiripun tidak mengerti apa yang aku katakan.
Max mengiyakan permintaanku. Aku menjelaskan kepadanya tentang tanaman obat yang ku butuhkan dari bentuk, warna dan baunya, bahkan aku mencoba menggambarnya semirip mungkin yah walaupun gambarku tidaklah bagus.
__ADS_1
*****
Matahari mulai meredupkan sinarnya, dan aku sudah menyelesaikan obatku. Kali ini aku tidak hanya membuat obat oles, namun membuat obat untukku minum agar lebih cepat sembuhnya. Poko pergi membantu Max, karena takut Max membawakan tanaman racun bukan obat.
“argh!! Ramuan obat ini pahit! Harusnya aku tambahan gula, atau air tebu saja!” rutukku kesal dengan rasa pahit yang masih menempel di tenggorokan.
Kenapa mereka lama, perutku sudah meminta tumbal. Aku belum sempat makan dari pagi, haa harusnya aku melarikan diri setelah diberikan makan pagi. Aku melangkahkan kakiku keluar pondoh, oke sekarang saatnya mencari tumbal.
Aku berjalan menelusuri pepohonan di depan pondok, yah aku tidak akan terlalu dari pondok karena sekarang aku adalah buronan.
Setelah menelusuri pepohonan dan tidak ada satupun buah yang terlihat maupun yang dapat dimakan, mataku terpaku pada pohon yang memiliki buah merah dan ungu kecil-kecil seperti anggur. Namun, ini bukan anggur dari pohonnya saja beda. Bentuknya saja yang menyerupai anggur dan panjangnya sekitar 3 sampai 4 cm.
Aku memetik satu, kelihatannya tidak beracun. Tapi tunggu bukankah ada pepatah yang mengatakan don’t jugje a book by its cover, bisa saja buah ini beracun kan? Haa seandainya aku memiliki 9 nyawa mungkin langsung ku makan untuk tumbal.
“Eh, 9 nyawa? Kucing?” aku tersenyum dan memetik buah yang berwarna merah dan ungu menaruhnya di baju ku sebagai wadahnya, ‘mungkin yang berwarna ungu ini berarti sudah benar-benar matang.’
Sampai di pondok Poko dan Max ternyata sudah kembali. Aku menghampiri mereka dan menaruh buah yang ku petik di depan Poko.
“Meow (darimana kau)”
“Mencari tumbal untuk perutku, ini makanlah..” ucapku tersenyum. Ayolah kamu punya 9 nyawa setidaknya gunakan untuk mengecek beracun tidaknya buah yang ku bawa.
Poko memakan buah yang ku bawa, dan tidak terjadi apa-apa. Yeah! Tidak beracun. Aku ikut memakan buahnya dan rasanya manis dan kecut.
Max meletakkan bahan obat-obatan yang dibawanya.
“Max, bantu aku..” aku mengambil obat oles yang sudah ku buat.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Max saat aku membuka baju dan mengekspos punggungku.
“Bukannya kamu mau membantu ku mengoleskan obat ini, lihatkan? Punggungku seperti corak harimau” Max mengambil obat oles dan mengolesi punggungku.
“Kau memang gadis nakal..” ucapnya tepat di telinga ku setelah membantu. Spontan membuat jantungku merespon. Segera ku naikkan pakaianku menutupi bagian yang sudah diolesi obat.
“te.. terima kasih” ucapku dengan memegang pakaian bagian depanku.
Max tersenyum yang ku tau itu bukan senyuman yang tulus. Itu senyuman Bad Boy yang menghanyutkan ku.
“Istirahatlah.. aku pergi..” ucapnya dibalas anggukan kepalaku. Max menghilang dari pandangan mataku meninggalkan jantung ku yang masih berdegup.
“Meow? (Kau kenapa?)”
“Tidak ada..” menenangkan jantungku. “Kucing sialan!! Kamu menghabiskan semua buah yang ku ambil?!”
__ADS_1