
“Hey lihat bukannya dia pelayan selir itu?”
“Ya dia itu pelayan yang tidak memberikan rasa hormatnya kepada selir Maura dan Ibu suri”
“Lihat penampilannya sepertinya dia memang tidak melayani selir Calista dengan baik”
“Haa kasihan sekali selir itu setelah pelayannya semua pergi dan bahkan meninggal dia malah di khianati pelayan barunya”
“Kau benar, tapi bukannya dia putri terkutuk jadi tidak masalah”
“Bukannya kita harus berterima kasih padanya?”
‘Hey hey suara kalian terdengar sangat jelas berhentilah berbisik seperti itu!’ batinku kesal.
Aku tidak mempedulikan mereka dan berjalan memasuki kamarku untuk mandi membersihan semua bekas pelampiasan ini.
Aku keluar dari kamar mandi memakai pakaian tidurku. Pakaian tidurku bukanlah piyama, namun lebih seperti kimono berwarna putih polos namun tidak terlalu tipis, cukup untuk menutupi tubuhku agar tidak terlihat namun tidak untuk menutupi dinginnya malam.
“tok..tok..tok..” terdengar ketukan pintu kamarku. Siapa yang mengangguku malam begini, padahal aku berniat istirahat sebentar lalu melihat keadaan Calista.
Aku membuka pintu kamar dan ku jumpai 2 orang penjaga berdiri di depan pintu.
“Ada apa?” tanyaku bingung. Mereka hanya melihatku, apa ada yang aneh? Aku hanya menggunakan baju tidur tanpa riasan apapun dan rambutku pun ku urai tidak ku apa-apakan.
“Ikut kami, kau tersangka utama dari keracunannya seorang selir.” Mereka lalu menyeretku.
“Hey tunggu dulu, aku tidak mengerti selir siapa? Aku dari siang tidak berada di istana selir.” ucapku tidak senang.
“Selir Calista keracunan, dan kau tersangka utamanya alibi apa yang akan kau berikan nanti di depan kaisar saat kau mengatakan dengan jelas tidak berada di istana selir lalu dimana kau?”
“Aku? Aku berada di Gazebo belakang untuk belajar menulis!”
“Kami tidak menemukan kau disana hanya ada peralatan tulis dan kau bersembunyi dimana?”
“aa..aaku…”
“Masuk dan katakanlah kepada yang mulia.” Aku di dorong sampai berlutut di lantai. Sial! Lututku sakit. Aku mencoba berdiri dengan memegang lututku yang sakit.
“Beraninya kau berdiri di hadapan yang mulia pengkhianat!!” teriak salah satu dari mereka yang sudah menunggu kedatanganku. Aku langsung kembali berlutut, bukan karena menurut namun lutut masih sakit untuk berdiri.
Aku melihat ke sekelilingku ini seperti saat kamu berada di dalam ruang pengadilan dengan hakim, pembela, dan saksi, dan kamu berharap seorang pengacara yang bisa di andalkan dapat melepaskanmu dari hukuman. Namun disini aku hanya sendiri sebagai terdakwa ralat maksudku korban.
Aku menatap kedepan ku mataku bertemu dengan mata cokelat itu, ya pria tampan yang ku temui di danau, pria yang mereka panggil Kaisar. Aku beralih kesebelahnya, aku mencari sosok Rey. Rey bisa ku jadikan perannya sebagai pengacara yang membelaku karena aku memang bersama dengannya.
“Dari mana saja kau? Bagaimana bisa kau meracuni tuanmu” seseorang pria tua yang berada di dekat kaisar membuka suara.
“Aku tidak meracuni putri!!” jawabku kesal atas tuduhan yang dilontarkan.
“Apa kau memiliki bukti?” tanyanya. Ah iya aku bukti apa yang bisa kuberikan aku tidak pernah mengerti tentang hukum apalagi pengadilan.
“Apa kalian memiliki bukti kalau aku yang meracuni putri?”
“Jelas saja. Kau tidak ada di istana selir, bahkan di belakang kediaman pelayanpun kau tidak ditemukan.” Haa tentu saja tidak ditemukan karena aku berada di taman dekat danau kediaman pangeran.
“Itu tidak bisa dijadikan bukti pak tua!” semua orang terkejut dengan kelancanganku. “Karena aku tidak ada ditempat bukan berarti aku yang melakukannya! Aku tidak ada ditempat yang artinya ada orang lain yang melakukannya!” ah sial bagaimana cara aku menjelaskannya. Aku tidak mungkin mengatakan aku berlatih pedang dengan Rey sedangkan Rey sedang tidak ada disini.
“Penjarakan dia” aku terkejut mendengar pria yang disebut kaisar ini langsung menjatuhkanku sebagai tersangka. Penjaga membantuku berdiri membawaku ke penjara.
“Tunggu!” ucapku saat sudah berdiri dengan kakiku walau masih di kawal penjaga yang masih memegangi lenganku.
“Ini memang rencana kalian kan!” teriakku melirik ke arah wajah para penghuni neraka yang tersenyum penuh kemenangan. “Dan kau!” aku menatap tajam ke arah pria yang menjatuhkan titahnya kepadaku itu, terserahlah mungkin aku akan dianggap lancang dan di hukum, toh penjara sudah menungguku.
“Kamu hanya melihat apa yang ingin kamu lihat sama seperti mereka! Dan mendengar apa yang ingin di dengar! Menutupi semua kebenaran dengan cara rendahan seperti itu!” teriakku kesal dengan lutut yang masih kesakitan.
“Tunggu!” Zee tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. ‘Darimana datangnya dia, kenapa bukan Rey’.
“Hormat saya kakak..” ucap Zee. Zee melihat ke arah ku.
“Kakak dia hanya memakai baju tidur yang tipis di dalam penjara pasti dingin, jika sampai dia sakit dan meninggal bukankah itu sama saja kita membiarkan pelaku aslinya lolos.”
‘tunggu, berarti aku hanya dijadikan umpan, untuk menangkap pelaku aslinya? Tapi bagaimana bisa menjadikan orang lain sebagai tumbal! Istana benar-benar menakutkan. Aku merutuki diriku yang dulu ingin tinggal di istana hanya karena film Princess.
Zee melepaskan jubahnya dan menaruhnya di atas pundakku. “Maaf, hanya ini yang bisa ku lakukan..” ucapnya pelan disela itu. “Temukan Rey…” ucapku memohon. Zee mengangguk setuju. ‘semoga Zee bisa diandalkan’.
*****
“Kakak bagaimana cara menggunakannya?”
__ADS_1
“Keluarkan dari sarungnya lalu masukkan lagi..” ucapnya tak acuh.
Aku yang saat itu penasaran mengikuti kata-kata kakakku, dan dia tertawa kecil melihat adiknya yang berhasil dibodohi.
“Ha?? Hanya dengan begitu? Kamu membohongiku!”
“Hahaha.. Ayah kenapa aku punya adik seperti ini?” tanya kakakku kepada ayah yang sedang membaca koran sambil melihat kekonyolanku.
“Ibu.. kenapa Ibu melahirkan kakak yang seperti ini?” tanyaku kepada ibu yang sedang menjemur pakaian.
“Kalau tidak ada kakak kamu, kamu tidak akan lahir..” jawab ibu tersenyum.
“Ibu membela siapa sih!” ucapku kesal mendengar jawabannya.
“Hahaha,, kamu tahu kalau tidak ada kamu suasana rumah tidak akan seperti ini..” ucap ibu mengelus kepalaku.
“Jadi bisa ajari aku cara menggunakannya?” tanyaku lagi kepada kakakku yang masih tertawa.
“Baiklah, ayo aku ajarkan”
Kakakku menyukai kebudayaan Jepang, dan menyukai semua jenis olahraga yang menggunakan tongkat, seperti kenbu, kendo, bahkan softball. Berbeda jauh denganku yang menyukai musik dan seni daripada olahraga.
*****
Sinar matahari langsung mengenai mataku. Aku melihat ke sekelilingku banyak jerami dan kotor. Ya aku berada di dalam penjara. Tapi setidaknya aku tidak bermimpi buruk. Sialan kenapa penjara dengan alaskan jerami lebih menyenyakkan dari pada kamar yang beralaskan kasur tebal.
“Kau sudah bangun?” aku mendongakkan kepala ke sumber suara.
“Ada apa? Aku selamanya tidak akan mengakui hal yang tidak pernah ku perbuat!” Ucapku kesal. ‘kenapa tersangka utama yang membuatku masuk ke dalam penjara ini datang! Membuat mimpi indah ku sia-sia saja!’ gerutu ku.
Dia hanya memandangiku yang berpakaian seperti gembel ini. Aku masih memakai pakaian tidurku yang berwarna putih polos dan telah kotor karena tidur di dalam penjara ini.
“Apa yang kau lakukan kemarin sampai membuat putri Calista mengalami keracunan?” kenapa dia menyebalkan.
“Hah..” aku hanya menghela nafas kasar dihadapannya. “Yang mulai,, Sudah ku katakan aku tidak meracuni putri Calista!!”
“Aku tidak mengatakan kau meracuni putri Calista. Aku menanyakan dimana kau kemarin saat itu terjadi.” Ucapnya santai. Benar juga dia tidak menuduhku kali ini.
“Aku bersama Rey” akhirnya aku jujur walau tahu ini bukanlah alibi yang baik karena tidak ada bukti hanya sekedar kesaksian dari terdakwa.
“Apa yang kalian lakukan?”
“Kau semakin mencurigakan. Untuk apa kau mempelajari ilmu pedang? Kau hanya seorang pelayan. Dan Rey tidak akan pernah mengajarkan orang yang tidak punya dasar sama sekali, itu hanya membuang-buang waktunya”
“Apa salahnya seorang pelayan belajar ilmu pedang? karena aku seorang pelayan selir yang hanya memiliki sedikit penjagaan bukankah memang sebaiknya aku memiliki ilmu pedang untuk melindunginya”
“Kau ingin melindunginya?”
“Ya, aku ingin melindunginya. Jadi tidak mungkin aku meracuninya!”
Kaisar menatapku penuh selidik. Apa begitu mencurigakannya diriku saat ini?
“Dimana Rey?” tanyaku risih melihatnya menatapku penuh kecurigaan dengan mata dinginnya.
“Dia tidak sedang berada di dalam istana. Dia ku suruh menyelesaikan permasalahan di desa utara”
“Ohh, kamu bisa menanyakan kepada Rey saat dia kembali. Aku memang seharian bersama dengannya dan tidak berada di istana selir”
“Bukankah itu juga kesalahanmu? Kau seorang pelayan selir kaisar, seharusnya kau berada di istana selir bukan di tempat seorang pangeran.” Kaisar sialan! Kenapa dia selalu mencari salahku.
“Terserah! Kalau itu memang kesalahanku ya sudah. Toh aku sudah berada di dalam penjara. Dan aku anggap ini sebagai hukuman karena kelalaianku yang tidak berada di sisi putri, bukan sebagai terdakwa yang sudah meracuni putri” aku benar-benar sudah malas berhadapan dengan kaisar satu ini. Kalau bukan karena ketampanannya aku tidak akan sudi menjawab panjang lebar.
Dia masih menatapku, ini benar-benar menyebalkan.
“Yang mulia, silahkan meninggal tempat ini. Tempat ini tidak cocok untuk diinjak seorang kaisar. Aku sudah menyampaikan semuanya, dan kamu bisa pergi dari sini sekarang” ya aku sudah benar-benar jengkel dan tidak membedakannya dengan yang lain, dia pria yang menyebalkan.
Kalau kalian bertanya kenapa aku tidak sopan dengan seorang kaisar, berbicara dengannya tidak dengan kata sopan seperti saya, anda, hamba itu karena aku tidak terbiasa. Dan saat berhadapan dengan kaisar yang menyebalkan ini sepertinya memang tidak perlu berkata sopan, toh jika di hukum karena tidak sopan juga aku sekarang sudah berada dalam penjara.
Setelah kaisar pergi, aku menikmati hariku di dalam penjara. Disini aku masih diberi makan dan minum, ya semoga makanan maupun minumannya tidak beracun. Biasanya kan jika ada pemeran antagonisnya dia akan melakukan segala cara untuk menyingkirkan penganggu. Aku mencium makanan yang diberikan, bibi telah mengajariku bagaimana ciri-ciri makanan yang telah di racuni baik itu baunya, warnanya, dan teksturnya.
‘hmm, sepertinya tidak buruk juga, tidak ada tanda-tanda racun’ batinku lalu memakannya.
“Meow..”
“Poko! Bagaimana kamu bisa masuk ke dalam sini?”
“Meow (lewat pintu)”
__ADS_1
“Ya terserahlah.. bagaimana keadaan Calista? Apa dia sudah membaik?”
“Meow.. meow.. meow.. (dia masih belum sadarkan diri, sepertinya ada seseorang yang ingin membunuhnya secara perlahan)” mungkin orang lain hanya mendengarkan suara kucing, namun aku aku benar-benar mengerti dengan yang dia ucapkan. Ya aku gila semenjak terdampar di dunia ini.
“Membunuhnya secara perlahan? Poko bisakah kamu periksa makanan, minuman, atau obatan yang diberikan kepada Calista? Kita harus menolong.”
“Meow..” Poko mengerti dan pergi keluar dari penjara.
*****
“Lihatlah kak, seorang pengkhianat ini begitu kasihan” haa dua orang makhluk neraka mengunjungiku.
“Bukankah kalian yang meracuni putri?” terlihat wajah yang tidak senang terpancar dari mereka.
“Apa kau tahu hukumanmu mungkin akan bertambah jika kau berani melawanku bahkan menuduhku” ucap selir Vera dengan angkuh.
“Emang kamu siapa? Kamu bukanlah ibu suri, hanya seorang selir kaisar sebelumnya, hmm lebih tepatnya kamu seorang janda.” Oh entahlah di dunia ini mereka mengenal kata janda atau tidak, aku hanya ingin mengatakannya.
“Apa kau lupa kedudukan seorang selir lebih tinggi dari pada seorang pelayan sepertimu!!” Maura mulai kesal.
“Kau ingin hukumanmu bertambah karena menghina seorang selir kehormatan?” ucap selir Vera mengancam.
“Aku tidak menghina. Hanya mengatakan kenyataannya. Bahwa kamu seorang selir bukan ibu suri” terlihat sekali selir Vera yang awalnya tenang mulai terganggu dengan perkataanku, dan aku senang merasa menang karena sudah membuatnya terpancing emosi.
“Pengawal!!” teriaknya, beberapa pengawal yang berjaga datang menghadap. “Hukum cambuk dia 30 kali karena sudah berani menghina seorang selir kehormatan!” titah selir Vera.
“A..apa tu..tunggu.. aku tidak menghina hanya mengatakan… auu” tangan dan kaki ku sakit, tanganku sakit karena ditarik paksa, dan kaki ku sakit saat belum berdiri sudah ditarik keluar dari jeruji ini. Ku lirik ke arah penghuni nereka, mereka tersenyum puas. Bukan aku jika hanya diam saja melihat mereka.
“Oh ya bukankah secara tidak sadar kamu mengiyakan kalau kamu hanya seorang SELIR bukan ibu suri” ucapku mengejek dengan menekankan kata selir. “dan itu berarti aku tidak menghinamu bukan? Aku hanya mengatakan Ke.nya.ta.an.nya” lanjutku memegal kata kenyataan dan berhasil membuatnya yang tadi terseyum menjadi sangat kesal.
“Cepat cambuk dia!!” teriaknya dengan kesal. hahaha entah kenapa bukannya takut akan hukum cambukan aku malah senang melihatnya mengamuk.
Aku dibaringkan telungkup di bangku yang sudah disediakan. Mereka mulai mencambukku.
“Aww!! Aww!! Pelan-pelan sakit aawww!!” sialan ternyata di cambuk benar-benar menyakitkan. Mungkin benar perkataan kalau senang jangan berlebihan, aku mengingat betapa senangnya aku saat melihat wajah kesal dari selir Vera dan Maura.
Dalam kesakitan aku tetap menghitung berapa cambukan yang dilontarkan. Ah akhirnya selesai juga tinggal satu lagi.. “Aaaww..” kenapa masih berlanjut.
“Hey hentikan!! Aawww!! Brengsek!!” aku berguling agar tidak kena cambukan lagi dan jatuh dari bangku.
“Hey aku sudah menghitungnya sudah cukup 30, kamu lebih 3 kali cambukan sialan!”
“Apanya yang 30? Ku hitung tadi baru 5, bukankah begitu?” dia bertanya kepada penjaga lainnya. ‘sialan mereka bersekongkol’ batinku kesal.
“Ada apa ini?” Zee datang disaat yang tepat.
“Salam pangeran. Kami hanya mengikuti perintah selir untuk menghukum cambuknya 30 kali karena sudah menghina mereka” selir yang dia maksud adalah Vera dan Maura, karena tidak ada selir lain di istana ini yang masih sehat dan daoat memerintah.
“Aku tidak menghinanya, aku hanya berbicara kenyataan kalau dia hanya seorang selir bukan ibu suri” sanggah ku tidak mau kalah. “Dan kalian sudah mencambukku lebih dari 30 kali!! Dan mengatakan bahwa baru mencambukku 5 kali!!!” ucapku kesal menunjuk ke arah penjaga.
“Apa benar?” Zee menatap ke arah penjaga dengan tatapan dinginnya.
“Ti..tidak pangeran hamba memang belum sampai 30 kali cambukan..” aku benar-benar kesal dengan penjaga ini. Tanpa pikir panjang aku membuka baju tidur kimono yang ku pakai, mengambil semua rambutku untuk diselipkan ke depan, dan membiarkan punggung ku terekspos.
“Zee, hitunglah berapa banyak bekas cambukan di punggungku ini, apa ini yang mereka katakan baru 5 kali?!”
Zee mengepalkan tangannya menahan kesal. aku menaikkan kembali baju ku menutupi luka yang sudah mengeluarkan darah.
“Penjaga!!” teriak Zee. Beberapa orang penjaga langsung berdatangan menghampiri pemanggil.
“Cambuk mereka sebanyak 50 kali..” titah Zee
“Pa..pengeran hamba mengaku, hamba salah menghitung yang mulia hamba hanya mengikuti perintah. Maafkan ketidaktelitian hamba dalam menghitung” penjaga itupun berlutut meminta belas kasihan dari Zee. Huuh apakah semua penjaga di istana ini sangat bodoh dalam menghitung.
“Cambuk meraka sebanyak 50 dengan hitungan kelipatan 2..” ucap Zee dengan aura devil.
“Zee,, tiga kali, aku ingin mereka merasakan 3 kali lipat.” ucapku mantap. Mungkin aura Zee juga menyelimutiku.
Mereka dibawa para penjaga untuk di hukum. Zee membantuku berdiri dan memberikanku obat oles.
“Aku bisa memakainya sendiri..” ucapku mengambil obatnya.
“Baiklah..” wajah Zee memerah, ha ternyata dia bisa malu juga. “Apa kau mau istirahat di dalam kamar saja dengan luka seperti itu lebih baik berada di dalam kamar. Aku bisa meminta kakak untuk memberikan izinnya”
“Tidak perlu Zee, terima kasih. Aku lebih senang berada di dalam penjara dari pada harus bermimpi buruk di dalam kamar” ucapku.
“Kau memang gadis aneh” ucapnya mengelus kepalaku. Haah sudah lama aku tidak mendengar dia mengataiku gadis aneh.
__ADS_1