Kabisat Dream (Love From Another World)

Kabisat Dream (Love From Another World)
LAGU HUJAN


__ADS_3

Setelah resmi menjadi tunangan kaisar kerajaan Blasius, aku menjalani hari-hari ku seperti biasanya. Hari-hari aku habiskan di dalam perpustakaan istana, tentu saja untuk mencari jalan pulang. Aku rindu keluargaku, walaupun disini tidak terlalu buruk untukku melupakan semua kesedihan.


“Meow..? (Apa kau tidak bosan hanya berada dalam perpustakaan?)”


“Tentu aku bosan. Aku ingin masuk ke dalam hutan menemui Bear dan berendam di dalam danau. Tapi kamu tahu sendiri kan.. haa.. benar-benar menyebalkan.”


Dua minggu yang lalu saat aku dan Poko ingin menyelinap ke dalam hutan melalui jalan di belakang penjara, ternyata sudah di ada beberapa penjaga di tempatkan disana.


“Kau mau kemana?” Sen berjalan ke arahku yang sedang berhadapan dengan beberapa penjaga.


“hmm, hanya berjalan-jalan..”


“Kau mau kabur ke dalam hutan lagi?”


“Tidak,, aku hanya heran saja kenapa di belakang penjara diberikan penjagaan?”


“Tentu saja, supaya tidak ada lagi yang kabur ke dalam hutan.”


“Aku tidak kabur!”


“Baguslah kalau begitu..” ucap Sen lalu berjalan mendahuluiku.


Kalau tahu akan begini aku tidak akan mengatakan jalan di belakang penjara.


“Meow.. (Lalu kau akan terus berada di dalam perpustakaan ini?)”


“Yah.. setidaknya aku akan mencari petunjuk agar bisa pulang”


“Meow? (Kenapa kau tidak menyerah saja?)”


“kenapa aku harus menyerah jika masih ada harapan?”


“Meow.. (kau yakin dengan harapanmu itu?)”


“Ntah lah, aku hanya akan berusaha saja..” ucapku sambil melihat-lihat buku yang tersusun rapi di rak.


Semenjak pengasingan selir Vera, Maura tidak banyak bergerak dan hanya diam saja. ‘tidak seru. Aku tidak bisa memainkan peran seorang pelakor yang dicintai.’


“egh.. buku ini..” aku mengambil sebuah buku yang menarik perhatianku. Sampulnya sudah kumuh karena termakan usia.


“Rain… song…” ucapku membaca sampul buku yang nyaris tidak terbaca.


Aku membawa buku itu dan membukanya, ini seperti buku kumpulan lagu-lagu dan cara bernyanyi. Di halaman awal hanya berisikan penjelasan dan di halaman akhir terdapat sebuah lirik lagu yang akupun tidak tahu.


“Poko.. apa kamu mengerti?” tanyaku kepada Poko yang ikut melihat isi buku.


“Meow.. (Ntahlah, ini seperti buku sihir..)”


“Buku sihir? Apa maksudmu?”


“Meow (Aku merasakan adanya sihir dalam buku ini yah walau hanya sedikit)”


“Hmm disini tertulis nyanyian untuk mendatangkan hujan.. apa aku coba saja?”

__ADS_1


“Meow? (Kau yakin dengan suaramu?)”


‘Kucing sialan!’


“Yasudah aku coba saja.. tapi bagaimana dengan nadanya?” aku membaca kembali halaman awal buku. “Disini tertulis kita membuat nada untuk lagu sendiri, liriknya hanya sebuah mantera, dan nada dibuat menggunakan perasaan penyanyi…”


‘hmm .. aku tidak mengerti. Mungkin maksudnya membuat syair berdasarkan perasaan..’


“Baiklah aku coba!” aku mencoba menyanyikan lirik menggunakan nada yang ku tahu, hanya ku ganti lirik berdasarkan isi buku saja. Tentu saja itu tidak berhasil!


“Meow.. (Suaramu tidak buruk juga..)”


“Kamu meremehkanku?” tanyaku sinis. “Tapi tidak ada yang berubah, tidak ada tanda-tanda hujan dan cuaca masih sangat cerah. Apa ada yang terlewatkan?”


Aku membaca kembali buku itu, “Perasaan menyatu dengan alam..”


“Apa aku harus keluar? Alam.. hutan.. Poko sepertinya kita harus ke hutan”


“Meow? (Bagaimana caranya?)”


“Haa.. menyebalkan!”


Aku memikirkan berbagai cara untuk dapat masuk ke dalam hutan. “haa.. aku tahu..” aku memikirkan saat penjagaan lemah, kalau tidak salah di penjara waktu itu penjaga juga kadang tidak berada di tempat, aku teringat saat Maura mengunjungi selir Vera.


“Poko.. buat keributan di arah penjara..”


“Meow? (Kau memerintahku?)”


Walaupun menolak Poko mengikuti caraku, dia membuat keributan di dekat penjara, hingga penjaga yang berada di belakang penjara meninggalkan tempatnya dan pergi ke sumber keributan. Mungkin mereka berpikir tidak akan ada masalah juga jika bagian belakang penjara tidak di jaga karena selama ini begitu.


‘Bagus Poko!’ aku langsung melangkah masuk ke dalam hutan dengan sebuah buku di tanganku.


Poko menyusulku dan kami sudah berada di dalam hutan yang tenang, ‘ada saatnya juga aku merindukan hutan ini’


Aku mulai duduk santai bersandar di pohon dan merasakan alam, ‘sangat damai..’ aku mulai menyanyikan kembali, dan hasilnya masih tetap sama tidak ada perubahan yang terjadi hanya hembusan angin, tentu saja ini kan hutan banyak pohon.


“Kau sedang apa?” Max tiba-tiba mendatangiku.


“Max.. aku sedang mempraktekkan buku ini” ucapku memperlihatkan buku yang ku buka.


“Hmm.. ini nyanyian kuno untuk mendatangkan hujan..”


“Max kamu tahu tentang buku ini?”


“Yah kurang lebih.. kau harus menyatukan perasaanmu dengan alam..”


“Aku tahu, aku sudah mencobanya namun tidak ada hasilnya..”


“Bagaimana syairnya? Biar aku dengar..”


Aku mulai menyanyikan lagi lagu hujan itu, dan hanya hembusan angin yang ku rasakan.


“Bagaimana menurutmu?” tanyaku kepada Max.

__ADS_1


“Hmm, tidak buruk juga.. Sepertinya bermasalah di syairmu, mungkin nadanya kurang tepat.”


“Apa maksudmu?” tanyaku penuh penekanan, ‘apa maksudnya suaraku yang pas-pasan?’


“Yang ku tahu selain menyatukan perasaan dengan alam, syair juga di buat dengan menggunakan perasaanmu saat menyanyikannya..”


“Perasaan…” aku berfikir keras untuk mengerti maksudnya.


Tiba-tiba Max menyanyikan lagu itu dengan nada yang berbeda denganku, syair buatannya sendiri, baru kali ini aku melihat Max yang bernyanyi terlihat sangat mempesona. Hembusan angin yang ku rasakan berbeda dari sebelumnya, dan dilangit yang cerah gumpalan awan mulai terbentuk. ‘ini keren!’


Max berhenti bernyanyi dan awan yang berkumpul mulai menghilang dan langit cerah menyapa.


“Selain perasaan untuk bisa mendatangkan hujan kau harus memiliki kekuatan spritual yang cukup besar..” jelas Max.


“Aku masih tidak mengerti..”


“Apa yang kau rasakan saat hujan?” tanya Max


“Yang ku rasakan saat hujan..” aku memikirkan perasaanku saat hujan dan yang terbayang adalah tindakan bodohku yang sampai terjatuh ke jurang.


“Perasaanku menyatu dengan hujan, tangisku terhapuskan oleh hujan, hujan menutupi segala kesedihanku..” ucapku setelah merasakan perasaanku tentang hujan. Angin berhembus dan aku mulai bernyanyi tanpa memperdulikan nada lagu yang ku kenal. Aku membuat syairku sendiri.


Aku merasakan awan yang berkumpul dan menutupi langit yang cerah, bahkan perlahan berubah menjadi awan mendung. ‘sebentar lagi hujan..’ butiran tetesan air hujan perlahan turun menyapaku bersamaan dengan air mataku yang mengalir karena teringat kenangan bodoh.


Aku menghentikan nyanyianku, ‘tidak! Aku tidak ingin terlihat bodoh dengan mengingat kenangan itu!’


“Kau berhasil Hana.. bagaimana perasaanmu?” tanya Max.


“Hmm, aku merasa lemas..”


“Nyanyian tadi.. bukankah nyanyian kesedihan? Apa yang kau fikirkan?”


“tidak ada, hanya sebuah kenangan bodoh..”


“Baiklah.. kau cukup baik dalam menjadi dewi hujan..” Max tidak bertanya lebih tentang kenanganku.


“Dewi hujan?”


“Yah, dulu hanya seorang dewi yang bisa menurunkan, namun lambat laun beberapa penyihir meneliti cara pemanggilan yang dilakukan dewi, dan mereka berhasil. Tapi tidak ada yang bisa menurunkan hujan dengan intensitas sebesar dewi”


“Apa buku ini hasil dari penelitian mereka?”


“Yah sepertinya..”


“Hmm aku mengerti. Berarti aku keturunan dewi.”  Max memandangiku dari ujung kepala sampai ujung kaki, ‘apa maksudnya?’


“Tidak buruk juga..” ucap Max mengelus puncak kepalaku.


“Meow.. (apa sekarang kita bisa kembali? Penjagaan akan diperketat jika tahu kau kabur)”


“Ah benar aku lupa. Dan aku tidak kabur!”


Aku berpamitan dengan Max dan mengucapkan terima kasih karena telah mengajariku.

__ADS_1


__ADS_2