
Hari sudah mulai sore, aku sebaiknya pulang mungkin Poko mengkhawatirkanku.
"Aku mau pulang.." ucapku kepada Max.
"Aku akan mengantarmu.."
"Jangan, aku bisa pulang sendiri" jawabku spontan, aku tidak mau lagi dibawa seperti karung yang membuatku mual.
"Aku tetap akan mengantarmu. Apa kau tau jalan pulang dari sini?" haa iya dia benar aku tidak tau jalan pulang karena saat datang aku hanya menutup mata dan menahan mual dan pusing saat dibawa olehnya.
Aku memegang perutku dan menelan saliva, Max tersenyum memandangiku. "Apa kau setakut itu?" membuatku balik memandanginya"yaa, tentu saja!"
"Baiklah, aku tidak akan melakukannya, ayo ku antar" Max mengangkatku seperti tuan putri yaa ala bridal style, akhirnya dia bisa memperlakukanku seperti manusia. Tidak buruk juga di gendong seperti ini dan terbang dari pohon ke pohon sampai ke rumah bibi, aku menikmatinya.
"Kita sudah sampai" ucapnya menurunkanku dengan pelan. 'sepertinya bibi sudah pulang'.
"Hana.. kau dari mana saja?" gawat bibi benaran sudah pulang jika dia melihat Max apa yang harus aku katakan.
"Masuklah.." ucap Max menyuruhku masuk ke dalam rumah bibi.
"Bukannya kamu yang harusnya pergi jangan sampai bibi melihatmu, kenapa masih diam mematung disini?"
"Siapa Hana? Temanmu?" ah terlambat Max tidak mungkin bisa tiba-tiba menghilang ketika bibi sudah melihatnya.
"Hmm, Ya,, temanku, teman yang waktu itu aku bilang"
"Ajaklah masuk, bibi baru saja membuat minuman.."
Aku mempersilahkan Max masuk ke dalam rumah. Bibi memberiku minuman berwarna biru yang dia sebut teh.
"Ini teh apa bibi?" tanyaku penasaran. "Clitoria Ternatea" jawabnya singkat.
"Clito apa?" kenapa namanya aneh sekali. 'hmm, manis. Rasanya seperti teh hijau Jepang, tidak buruk juga.'
"Ini teh dari bunga yang kau ambil tempo hari"
"Bunga biru itu?" Bibi mengangguk
"Apa kau menyukainya?" bibi berbalik menanyakan kepada Max, dia hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara. 'Dasar! Apa susahnya bilang suka!'
"Seperti yang aku bilang bibi temanku ini pemalu dan tidak banyak bicara" bibi mengangguk seolah mengerti.
"Bibi lemon ini untuk apa?" tanyaku penasaran dengan lemon yang di pegang bibi.
"Coba kau teteskan lemon ini ke dalam teh" akupun mencoba meneteskan air lemon ke dalam teh biru ini.
__ADS_1
"Waah, warnanya berubah!" seru ku takjub. Ku lirik ke arah Max yang tidak peduli. Dasar setidaknya dia bisa mencobanya untuk menghormati bibiku yang telah memberikannya minum.
"Max bukannya kamu bilang masih ada urusan?" ucapku mengusirnya secara halus. Kalau membiarkan Max terlalu lama di sini malah semakin canggung dengan sikap acuhnya.
"Kau benar, aku harus pergi. Aku pamit, permisi." Aah kenapa dia sekaku itu mengucapkan terima kasih saja tidak.
"Meow.."
"Waah Poko kamu dari mana saja? Aku kangen.." ucapku menggendong Poko dan mengelus kepalanya.
"Meow.. (harusnya aku yang tanya kamu dari mana)"
"Oh, aku tadi diculik dan dipaksa mengobati anggota keluarganya" ucapku menjelaskan.
"Meow.. (oh terserahlah, aku mau tidur)" Poko melengkungkan tubuhnya, apa dia marah? Aah lucunya..
*****
Pagi ini kenapa ribut sekali.. aku terpaksa membuka mataku yang masih ingin terlelap untuk melihat asal usul keributan di pagi ini.
"Kau sudah bangun?"
"Egh.. bibi kenapa di luar ribut sekali?" ucapku sambil merenggangkan tubuh.
"Beberapa penduduk desa telah menangkap seekor beruang yang berkeliaran di desa dan membuat desa kacau." Beruang? Bear? Aku harus segera melihatnya.
"Hana tunggu, pakai ini" ucap bibi memberiku sehelai selendang.
"Bibi ini untuk apa?"
"Untuk menutupi rambut cokelat keemasan mu" ucap bibi. Ahh iya aku baru sadar ternyata warna rambutku yang ku kira cokelat jika terkena sinar matahari terlihat cokelat keemasan sama seperti gaunku saat terkena matahari akan terlihat berwarna putih. 'di dunia ini ternyata aku cukup unik juga' batinku bangga.
Aku mengambil selendang menutupi rambutku dan bergegas ke tempat keributan. Syukurlah beruang ini bukan Bear maupun keluarganya. Beruang yang sekarat ini berwarna hitam dan sedikit lebih besar dari beruang yang pernah ku temui.
"haaahh" aku menghela nafas lega ketika tau yang ditangkap bukanlah Bear.
"Kenapa kau menghela nafas panjang?" ucap seseorang di sampingku.
"Eh, egh tidak apa-apa" jawabku. "Kamu.. kalau tidak salah namamu Zee? Apa kamu yang menangkap beruang itu?" sambungku.
"Ingatanmu bagus juga. Bukan hanya aku yang menangkapnya beberapa penduduk desa juga ikut membantu."
"ohh.." ucapku mengerti dan perlahan mundur untuk menghindar dan kabur darinya.
"Apa kau tinggal di desa ini?" aah sial aku tidak bisa kabur sekarang.
__ADS_1
"Ehmm, Ya, aku tinggal bersama bibiku." Dia menatap ke arah ku, aku pun mundur selangkah dari tatapannya.
"Kenapa?" tanyaku menyembunyikan kegugupan. Aku belum mengatur dengup jantungku saat di tatapan pria tampan ini.
"Tidak.. hanya saja aku merasa kau gadis yang unik maksudku aneh"
'Aneh? Kenapa dia menyebalkan?!'
"Bukan urusanmu!" ucapku kesal pergi meninggalkannya.
"Meow.? (kau mau kemana?)"
"ke danau untuk meredam amarahku! Sial kenapa aku harus bertemu dengannya! Padahal mukanya lumayan tampan!"
"Hey! Nona kenapa kau berbicara sendiri?" ah siapa lagi yang akan membuatku kesal. Aku memutar badanku dan angin berhembus kencang, ah mataku kelilipan!.
"Coba ku lihat" dia memegang tanganku dan melihat mataku yang kemasukan debu lalu meniupnya. "apa sudah mendingan?" sambungnya.
"hmm" jawabku mengangguk sambil mengedip-ngedipkan mataku untuk merasakan apa benda asing masih tersisa di mataku. "terima kasih Rey" ucapku setelah menata mataku dan melihat ke arah seseorang yang menolongku.
"Warna rambutmu? Apa ini asli?" tanya memegang rambutku yang sudah lepas dari lindungan selendang.
"Hmm, memangnya kenapa dengan warna rambutku?" tanyaku penasaran.
"Tidak, hanya saja jika seseorang memiliki warna rambut cokelat keemasan dia memiliki kekuatan spritual di dalam dirinya, jika seseorang itu memiliki rambut emas sudah dipastikan dia memiliki kekuatan spritual yang sangat besar dalam dirinya." Aku mengangguk-angguk mencerna perkataannya.
"Namun, aku tidak merasa kekuatan spritual dalam dirimu, kau memiliki warna rambut cokelat keemasan namun kekuatan spritualmu kosong, ini aneh." Ucapnya mengingatkan kekesalanku kepada Zee saat dia berkata aku aneh. Ternyata maksudnya aneh itu kekuatan yang ada dalam diriku.
"Kau mau kemana?"
"Aa.. aku mau pulang.."
"Rumahmu di hutan? Kenapa kau mengarah ke hutan untuk pulang? Waktu perkenalan kita juga kau berada di dalam hutan" sial aku lupa.
"Egh itu... itu aku mencari peliharaan ku dan mengejarnya sampai masuk ke dalam hutan. Dan sekarang dia tidak ada mungkin dia masuk ke dalam hutan lagi" haa, hanya ini yang terpikirkan olehku semoga dia percaya.
"Meow.. (kenapa kau lama sekali?)" Poko akhirnya muncul.
"Haa, disini kamu, jangan nakal dan pergi ke dalam hutan lagi nanti aku bisa tersesat untuk kesekian kalinya" ucapku kepada Poko yang dibalas tatapan kebingungan.
Sepertinya aku harus mengurungkan niatku berendam dan pulang ke rumah bibi dengan damai.
"Aku permisi, peliharaanku sudah ketemu, jadi aku harus pulang, sampai jumpa" ucapku langsung pergi dari hadapannya. Dia tidak mengikutikukan? Aku menoleh ke belakang tidak ada yang mengikuti syukurlah.
"Meow! Meow! (Apa yang kau lakukan bodoh! Manusia aneh!)" ucap Poko protes.
__ADS_1
"Hayolah Poko tadi itu keadaan genting.. tapi kamu penyelamatku.. uuh kucingku yang menggemaskan."
"Meow.." Poko hanya pasrah.