Kabisat Dream (Love From Another World)

Kabisat Dream (Love From Another World)
LATIHAN


__ADS_3

Aku merengangkan tubuhku dan berniat kembali ke kamar, baru kali ini aku merindukan kamar tidur. Kin mengikutiku dari belakang menuju kamarku.


“Hana!”


“Rey..” Padahal jarak ke kamarku tidak jauh lagi, ntah kenapa rasanya sangat jauh.


“Aku dengar kau sudah memulai pelajaran bersama madam Vero”


“Yah, aku sudah memulainya tadi” respon ku malas.


“Sepertinya kau tidak bersemangat..”


‘tentu saja aku lelah dan ingin merebahkan tubuhku ke atas kasur yang empuk!’


“Hmm, yah aku memang kurang bersemangat”


“Baiklah, kalau begitu ikut aku!” Tanpa menunggu balasanku Rey menarik tanganku mengikuti langkahnya. Meninggalkan Kin yang masih berdiri di tempatnya.


‘tidak bisakah dia membiarkan aku sendirian?!’


Rey membawaku ke tempat para ksatria berlatih. Tempat pelatihan ksatria ini terdiri dari dua bagian, satu untuk berlatih pedang dan satunya untuk berlatih memanah. Rey membawaku ke tempat memanah mempertemukanku dengan Zee.


“Rey, apa yang kau lakukan disini? Kau bolos latihan?”


“ah egh..” Rey terbatah memikirkan alasan “Jika aku bolos latihan tidak mungkin aku ada disini” ucapnya setelah berhasil mendapatkan alasan


“Tapi tempatmu bukan disini” ucap Zee sambil mengambil anak panah dan bersiap memanah target


‘Keren!’ Zee selalu terlihat dingin dan itu menjadi daya tariknya, apalagi saat dia memanah seperti ini.


“Tidak ada salahnya bukan, jika aku berlatih memanah untuk hari ini”


Zee tidak mengubris Rey dan fokus berlatih memanah.


“Bagaimana jika kau mencobanya Hana?”


“A..aku? aku tidak pernah memanah, memegang anak panah dan busur saja tidak pernah” tolakku


“Ini peganglah!” Zee menghentikan kegiatannya, memberikanku busur dan anak panah yang dia pakai kepadaku.


‘ntah kenapa sekarang aku merasa menyedihkan!’


“Tidak perlu Zee”


“Ayolah Hana, ini bisa membuatmu bersemangat lagi” Rey memaksaku.


“Tidak aku tidak bisa melakukannya” aku masih tetap menolak


“Cobalah Hana, seperti saat kau memangang pedang dan berlatih bersamaku”


“Berlatih pedang?” beo Zee melihat ke arahku meminta penjelasan.


“Hmm, waktu itu Rey mengajariku berpedang”


“Jadi kau bolos latihan dan menjadi pelatih?” Zee melirik ke arah Rey yang menghindar dari tatapan matanya.


“ah itu, aku hanya ingin membuatnya bersemangat lagi” sanggah Rey.

__ADS_1


“Ini peganglah! Tanganku lelah.” Zee memaksa kedua tanganku memegang anak panah dan busur.


Aku hanya memegangnya dan melihat ke arah beberapa ksatria yang berlatih.


“Syut tap.. syuut tap..” bunyi anak panah yang mengenai sasaran membuat jiwa penasaranku bangkit.


Aku menyoba menarik busur dan meletakkan anak panah di talinya. ‘Ini tidak mudah seperti yang terlihat! Menarik busur saja aku tidak bisa!’


Zee dan Rey hanya melihat usahaku tanpa membantu ‘mereka benar-benar adik dari raja iblis’


Dengan segala usaha dan tenaga ku kerahkan akhirnya aku bisa memposisikan busur dan anak panah yang siap ditembakkan. ‘baiklah akan aku perlihatkan kepada mereka!’


Anak panah aku lepaskan dan melesat dengan harapan mengenai target. Namun kenyataan membanting harapanku, bukan hanya mengenai tengah target, panah yang ku lepaskan bahkan tidak mengenai target dan melesat menyentuh tanah tanpa tertancap.


“Hahahaha… sepertinya kau sudah bersemangat Hana” Rey meledekku


“Hmph!” tanpa memperdulikannya aku mengambil anak panah yang lain, dan memulai lagi usahaku untuk membentang busur panah.


“Ganti busurmu menggunakan ini” Zee memberikanku busur panah yang lain, dan mengambil busur panah yang tadi ku pakai.


Busur panah yang diberikan Zee lebih mudah untuk ku bentang dan lebih ringan dari sebelumnya. Zee berlatih disebelahku. ‘apa ini? apa dia mau memperlihatkan perbandingan pro dan amatir?’


Aku memulai menempatkan posisi siap menembakkan anak panah dan melepaskannya. Tapi sia-sia saja hasilnya sama seperti sebelumnya tidak mengenai target sama sekali. ‘apa kekuatanku kurang?’


“Posisimu salah” ucap Zee. Aku menoleh ke arah Zee yang siap melepaskan anak panah. Posisi tubuhnya agak menghadap kesamping dan kepalanya lurus ke depan, busur panah ditarik dengan menggunakan tiga jari, sampai menyentuh hidung dan tetap lurus kedepan.


“Syut tap” anak panah yang dilepaskan Zee tepat mengenai sasaran.


‘baiklah akan ku coba!’ usai melepas anak panah hasilnya tetap sama, hanya saja sekarang anak panah itu menancap di tanah.


‘Tanganku lelah setelah tiga kali melepaskan anak panah’


‘bukankah ini terlalu dekat?’


Zee mulai membantuku menarik busur dan menempatkan posisi tangan yang benar ketika memanah, “Relekskan tubuhmu, ototmu jangan terlalu tegang” ucapnya


‘mana bisa aku releks dalam posisi seperti ini? tidak baik untuk jantungku!’


Aku memfokuskan diri pada sasaran dengan tubuh yang masih tegang, anak panah dilepaskan dan tentu saja tidak mengenai target.


“Aku lakukan sendiri” ucapku mengambil anak panah lain, dan mencoba kembali tanpa bantuan Zee.


Setelah dua anak panah lepas dan tidak mengenai target akhirnya anak panah ketiga mengenai target walau hanya di pinggirnya.


“Lihat! Aku mengenainya!” teriakku senang karena usaha tidak mengkhianatiku


“Kau hanya mengenai bagian pinggir, jika dalam pertandingan itu tidak ada nilainya”


“Setidaknya anak panahku menancap di target!” ucapku membalas Zee


“Kau hebat Hana, jika berlatih mungkin akan lebih baik” Rey menghiburku


“Nona..” Kin datang ke tempat latihan bersama Calista. ‘aku bahkan lupa dengan pelayanku’


“Apa kamu mau latihan juga?” tanyaku kepada Calista.


“Tidak, aku hanya mengantar pelayanmu yang kehilangan jejak nonanya”

__ADS_1


“Kalau begitu mau minum teh bersamaku?” tanyaku kepada Calista yang dijawab tanpa penolakan.


‘tidak buruk juga beristirahat sambil menghirup aroma teh yang menenangkan’


“Baiklah, ini” aku mengembalikan busur yang ku pegang, “Silahkan lanjut latihan kalian..” ucapku lalu pergi bersama Calista dan Kin meninggalkan tempat latihan.


Minum teh kali ini diadakan di dekat kamarku, setidaknya sekarang aku tidak ingin jauh dari kamarku. Kin menyediakan teh untuk kami dan meninggalkan kami untuk mengobrol santai.


“Bagaimana pelajaranmu bersama madam Vero?” Calista membuka obrolan


“Kamu tahu?”


“Yah, Kin memberitahuku tadi”


“hmm, dia cukup membuatku kesulitan, apalagi pelajaran etikanya” jawabku kemudian meminum teh yang disajikan


“Madam Vero memang cukup sulit dihadapi selain statusnya sebagai pengajar terbaik, dia juga bangsawan tingkat tinggi”


‘pantas saja sikapnya selalu meninggi’


“Tapi aku yakin dibawah bimbingannya, kau akan menjadi permaisuri yang sempurna”


“Aku tidak yakin bisa menjalankan statusku sebagai permaisuri nanti”


“Tenanglah Hana, kau akan menjadi permaisuri yang di hormati seluruh rakyat”


“Apa sebegitu berharapnya kamu kepadaku untuk menjadi pendamping kaisar?”


“Tentu! Aku tidak sabar menunggu hari itu” ucap Calista antusias dengan senyum tulus diwajahnya


‘Apa ini? seolah aku sedang meminta restu kepada istri sah untuk menikahi suaminya’


“Aku sangat ingin melihatmu mengenakan gaun pengantin dan berjalan berdampingan bersama kaisar….” Calista bersemangat menyampaikan beraneka ragam pengharapannya terhadapku yang akan menjadi permaisuri nanti “…..dan aku tidak sabar melihat anak kalian nanti..”


“Puff uhuk…huk…” aku tersedak mendengar kalimat terakhirnya, dan meletakkan kembali cangkir teh ku.


“Apa kamu tidak terlalu jauh berharap?”


Calista menggeleng “Tidak.. itu harapanku saat nanti kau menjadi pendamping kaisar, anak kalian pasti akan canti dan tampan”


“Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan Maura saat mendengar ini..” ucapku mengalihkan topik


“Haa.. kau benar, selir Maura pasti akan tinggal diam dan berbuat ulah”


“Apa dia melakukan sesuatu kepadamu? Setelah mendapat tamparan kemarin pasti dia akan berbuat sesuatu kepadamu” sambung Calista


“Tidak, bahkan hari ini aku belum sempat melihat wajahnya”


‘tentu saja tidak akan sempat melihatnya, ke kamarku saja aku kesulitan’


“Baguslah setidaknya dia sedikit tenang hari ini dan tidak membuat keributan”


‘ralat bukan dia yang membuat keributan, tapi akulah sumber keributan’


Acara minum teh kami berjalan dengan cerita seputaran diriku dengan drama pengukuran baju. Calista kembali ke kamarnya, dan akupun kembali ke kamarku.


“Haa… aku merindukanmu kasurku..!!” aku melompat ke kasur yang ku rindukan.

__ADS_1


‘Hei kasur , hari ini cukup sulit untukku bertemu denganmu’


__ADS_2