
Malam ini aku menginap di pondok dalam kegelapan malam, disini lebih baik daripada di penjara. Padahal tujuanku perpustakaan istana bukan penjara, ini semua karena penghuni neraka itu. Lihat saja aku pasti akan membalas mereka bahkan akan mencambuk mereka menggunakan papan.
Aku teringat yang dikatakan Rey bahwa aku mempunyai kekuatan spiritual. Tapi bagaimana cara mengetahuinya. Harusnya aku tanyakan saja kepada Max, siapa tahu bisa sepertinya yang bisa melompat dari satu pohon ke pohon lain. Atau mungkin aku bisa menggunakan telekinesis agar mempermudah untuk ku memberi pelajran kepada selir laknat.
Malam dalam pemikiran berakhir dengan cepat. Kegelapan sudah berganti dengan cahaya alam.
‘haa aku sudah lama tidak berendam di danau dan bertemu dengan Bear’ aku dan Poko memutuskan ke danau karena tidak terlalu jauh dari pondok lalu menemui seekor teman.
Danaunya masih sama dapat memanjakan tubuhku, luka yang ku dapatkan selama di penjara sudah tidak perih walau bekasnya masih terlihat jelas. Pemandangan di dalam danau sangat indah, tapi kenapa selain kaisar aku tidak menemukan orang lain yang berkunjung ke danau ini.
“haaa…” aku keluar dari danau dengan perasaan lega seperti terlagir dengan mood yang bagus.
“ayo Poko kita menemui Bear.. aku merindukan bantal bulu ku”
“Meow” Poko mengikutiku.
Sudah lama aku tidak menelusuri hutan. Kehidupan di istana yang singkat terasa sangat lama sampai aku lupa apa itu kebebasan dan menyatu dengan alam.
“Bear!!” teriakku melihat bantalan bulu di depan mata. Bear mengahampiriku menunduk seperti memberi salam.
“Kamu tambah besar gempal dan lucu Bear!” seruku antusias menangkupn kepalanya dengan kedua tangan.
“Maaf sudah jarang mengunjungimu, karena sekarang aku sudah disini, Ayo kita mulai berkeliling hutan!”
Aku berjalan menelusuri hutan dan mencari tumbal untuk perutku bersama dengan dua ekor teman, seperti diapit oleh dua bodygoard.
“Yang mulia disini!!” teriak seorang pria membuatku panik.
‘apa mereka masih mencariku? Padahal aku sudah berusaha menolong Calista’
“Bear Poko ayo lari dan cari tempat persembunyian jangan sampai kita tertangkap” aku memberi intruksi sambil berlari. ‘sial apa mereka masih tidak terima karena aku lari dari penjara..’
‘Max!’ kenapa disaat seperti ini aku selalu teringat Max yang datang tiba-tiba. ‘bukan saatnya aku memikirkan ini. Aku harus kabur!’ persediaan oksigen untuk ku berlari sudah menipis, nafasku sudah tidak beraturan.
“MEOW!! (Apa yang kau lakukan? Mereka masih dibelakang!)”
“ah ah ah aku sudah tidak sanggup lagi Poko ah ah..” jawabku sambil bersender di pohon.
“GROWL!!” Bear mengendongku naik di punggungnya. ‘Kuda berbulu tebal’
__ADS_1
Bear dan Poko mempercepat langkahnya diikuti oleh puluhan pengejar di belakang.
“Bear cari tempat untuk bersembunyi kita tidak bisa lolos dari kejaran mereka kalau terus berlari” perintahku. Aku melirik ke sekeliling ‘sial! Tidak ada tempat untuk bersembunyi’
“MEOWW!! (Lihat kedepan!!)” Poko berteriak memperingatkan.
Kami menemukan jalan buntu di depan kami hanya ada air terjun yang terlihat sangat indah dari sini ‘ah bukan saatnya’.
“Bear!!” teriakku, Bear mempercepat langkahnya mengambil ancang-ancang untuk melompat.
“Kamu serius?” tanyaku memastikan kegilaan yang akan dia lakukan.
“Growl!!” ucapnya sebagai kata persetujuan.
Ku peluk erat tubuh Bear sambil memejamkan mata ‘Tuhan aku harap ini bukan akhir hidupku’
“Growl?” ‘Bear masih hidup!’ aku membuka mata perlahan takjub atas apa yang terjadi, kami berhasil mendarat dan tidak tenggelam.
Bear menurunkanku, tempat ini remang-remang ya tidak buruk juga untuk bersembunyi. Suara air terjun sangat dekat. Aku membalikkan badan dan yang ku dapati kenyataan bahwa kami ada di balik air terjun. Air terjun seperti tirai yang menutupi mulut goa.
“Bear!! Kamu pintar!” aku langsung memeluk Bear sebagai seekor yang menemukan tempat persembunyian terbaik ini.
“Haa, seperti kita harus menunggu disini sampai aman..” ucapku masuk lebih dalam
Poko dan Bear mengumpulkan beberapa ranting, hanya sedikit. Seperti yang kalian tahu ini goa dibalik air terjun bukan goa di dalam hutan pegunungan, apa yang diharapkan dari dalam goa ini.
Aku mulai melakukan ritual menyalakan api seperti sebelumnya. Dan seperti sebelumnya juga ini tidaklah mudah. Bakatku tidak memadai untuk menyalakan api dengan hanya beberapa ranting. Sampai tanganku lelah dan keringat bercucuran hasilnya tetap tidak sesuai ekspetasi.
“HAH!!” aku melempar kesal kayu yang ada di tanganku. Jika kalian bertanya kenapa tidak menggunakan batu? Itu sudah aku lakukan tapi tidak ada hasilnya di tanganku.
“Meow? (Kau kenapa?)”
“Apa kamu tidak melihat raut wajahku yang sedang kesal? Bagaimana kita bisa melewati malam ini kalau api saja tidak bisa dinyalakan di malam yang dingin ini.” Ya di dalam goa benar-benar dingin di tambah dengan dekorasi air terjun yang menambah hawa dingin.
“Growl..” seakan mengerti maksudku, Bear memelukku dari belakang menyuruhku tidur dalam pelukannya. ‘beruang ku yang lucu..’
Masalah melewati malam yang dingin sudah teratas, namun bagaimana masalah perut yang meminta tumbal? Baiklah hanya ada satu cara.
Aku mulai mengambil posisi ternyamanku tidur berselimut bulu tebal, dan memulai menutup mata. Cara ini menjadi cara tercepat untuk melewati masalah malam ini.
__ADS_1
*****
“Kamu yakin dengannya?”
“Ya yakin, dia sudah mengenalkanku kepada orang tuanya. Orang tuaku pun sudah mengenalnya. Bahkan ayahku terlihat suka kepadanya”
“Kamu yakin?” sekali lagi teman disebrang telepon menanyakan hal yang sama.
“Hmm yaa, doakan saja..” ucapku.
Sebelum aku mengenal dia sebagai cowok brengsek pernah ku mengenalnya sebagai sosok yang perhatian. Saat aku tidak ada kabar hanya sebentar saja dia selalu mencariku, bahkan ketika aku ketiduran karena berbincang melalui chat dengannya dia menanyakanku kepada kakakku. Yaa sebelumnya seindah itu.. dan tidak tahu mulai dari mana semuanya terasa salah.
“Aku barusan menelpon mamaku, terus aku iseng bertanya kalau aku serius sama kamu kedepannya sampai ke pelaminanan bagaimana..” ucapnya saat kami sedang melewati waktu senggang berdua.
“Terus kata mama kamu gimana?” tanyaku penasaran dengan menyembunyikan wajah senangku. Siapa yang tidak baper saat orang yang kamu sayangi menanyakan hal seperti masa depan bersama kita kepada orang tuanya.
“Mama tiba-tiba langsung ngomong kalau menikah nanti pakai adat ini aja” sambil dia menunjukkan foto adat suatu daerah kepadaku. “Aku aja kaget tiba-tiba mama langsung ngomong ke situ hahaha”
Bagaimana perasaan kalian? Senang? Ya tentu saja. Secara tidak langsung mamanya sudah memberikan lampu hijau untuk hubungan kami kedepannya.
Namun semua yang terlihat sempurna pasti ada cacatnya.
“Kamu sakit?” tanyaku saat dia menemuiku setelah tidak ada kabar selama 2 minggu ya bukan tidak ada kabar tapi dia berbeda dari sebelumnya dia cukup cuek dalam menanggapiku.
“Enggak tau emang kemarin rada panas, dan aku masuk rumah sakit. Ini aja aku maksa keluar rumah sakit karena enggak betah”
Aku sakit hati dari sini bukannya kasihan kepadanya namun, ya sebagai pacarnya aku tidak tahu kabarnya bahkan saat dia dirawat dirumah sakit. Aku mencoba memengang keningnya, dan refleknya dia menghindarkan kepala dari tanganku. Sakit? Ya tentu namun aku terlalu bodoh dan bahkan tidak sadar akan penolakan itu.
Setelah kembali memastikan dia baik-baik saja aku mulai membuka pembicaraan akan kemana hubungan ini.
“Jadi kamu mau kaya gimana? Kamu suka tiba-tiba hilang tanpa kabar, kalau ada kabar juga kaya orang yang sudah jenuh.” Tanyaku
“Ya aku juga ngerasa gitu ke kamu. Kamu tahu aku sebelumnya gak pernah ngerasa kaya gini, aku seneng pas kamu cariin, kamu khawatirin.”
“Jadi kamu sengaja? Apa kamu lupa yang menghilang kadang gak perlu dicari karena bisa diganti?” tanyaku dengan perasaan yang mulai kacau. Dia hanya diam dan berfikir. Ya aku tahu dia sengaja menghilang bukan untuk dicari tapi memang menghindariku.
“Mangkanya aku juga nanya ke mamaku, harus gimana. Awal pacaran sama kamu juga aku mencoba buat dari awal serius sama kamu ya kalau akhirnya berbeda dari ekspetasi aku mau bagaimana lagi. Kita kan gak tahu jodoh kita” terangnya jelas saja membuat mataku panas, tapi tidak akan ku lakukan menangis di hadapannya.
Dari sini aku masih mencoba mempertahankan hubungan ini dengan dia yang sikapnya mulai asing bagiku.
__ADS_1
Lalu selama ini apa? Hanya singgah? Mataku mulai panas aku mengeluarkan air mata dalam tidurku. Jika tidak dibangunkan oleh Poko mungkin cerita rasa sakit ini akan terus berlanjut.
‘Sial! Bermimpi cowok brengsek itu lagi!’