Kabisat Dream (Love From Another World)

Kabisat Dream (Love From Another World)
TANAMAN OBAT


__ADS_3

Tabib keluar dari kamar Sen..


“Bagaimana keadaannya?”


“Lukanya sudah saya tangani, namun racun dari senjata yang digunakan masih tersisa di tubuh Yang Mulia, saya akan mencarikan penawar racunnya..” jawab tabib dan berlalu pergi.


‘Apa racunnya seberbahaya itu sehingga tabib kerajaan saja tidak punya penawarnya?’


“Hana..” Rey menghampiriku bersama dengan Zee dan Calista.


“Bagaimana keadaan kakak?”


“Racun dalam tubuhnya masih tersisa.. belum ada penawar recunnya.”


“Bagaimana keadaanmu Zee?”


“Aku baik-baik saja hanya luka goresan” jawabnya.


“Hana kau tidak apa-apa?” Rey mengkhawatirkanku.


“Tidak apa-apa, mereka menolongku” jawabku memperkenalkan Max dan Lary.


“Mereka?”


“Mereka kakakku..” jawabku mempersingkat perkenalan.


“Kau punya kakak?” Calista ikut bertanya. Dan aku hanya mengangguk.


Max dan Lary pamit kepadaku setelah perkenalan singkat, terlalu malas untukku memperkenalkan mereka secara rinci dengan keadaan Sen yang masih kritis.


“Hana kau mau kemana?” Rey menghentikan langkahku yang beranjak mengikuti Max dan Lary.


“Perpustakaan, aku akan mencari buku kuno pengobatan disana”


Poko mengikutiku masuk ke perpustakaan istana, membantuku mencari buku pengobatan untuk membuat penawar racun. ‘aku harap ada buku pengobatan yang mujarab disini’


Mungkin sudah hampir dua jam aku mencari buku tentang pengobatan, namun tidak satupun yang menjelaskan cara membuat obat penawar racun.


Aku duduk memeluk lutut, kekhawatiran menjalar ke tubuhku, ‘bagaimana jika obat penawar itu tidak di temukan?’ aku merindukan gombalan Sen.


“Meow? (Kau kenapa?)”


“Poko.. bagaimana jika obat penawar itu tidak pernah ada? Hiks..hiks” sesak yang ku tahan sejak tadi tumpah bersama dengan keluarnya cairan bening dari pelupuk mata.


“Meow (Kenapa tidak kau tanyakan saja pada bibi?)”


Aku diam sejenak menjernihkan pikiranku yang sudah kalut ketakutan akan kehilangan seseorang. ‘benar, bibi mungkin bisa membantuku.’


“Ayo Poko.. kita temui bibi”


*****


“Hana..” Bibi membukakan pintu dan memelukku saat aku sampai di rumahnya. Yah wajahku pasti terlihat kacau.


“Apa yang terjadi?” tanyanya khawatir.


“Bibi.. Sen.. dia kritis..” ucapku masih mempertahankan sikap tenangku. “Dia terkena racun saat melindungiku.. hiks..hiks” lanjutku yang tidak bisa mempertahankan sikap tenangku lagi.


Bibi membimbingku masuk ke dalam rumah dan memberikanku minum untuk menenangkan diriku.


“Apa bibi tahu obat penawar segala racun?” tanyaku saat mulai tenang.


Bibi mengambil beberapa buku dan memberikannya kepadaku, isi dalam buku itu adalah tanaman yang tidak ada nama sama sekali, hanya ada diskripsi tentang bentuk, manfaat dan fungsi tanaman tersebut.


Mataku berhenti pada gambar sebuah daun yang memiliki fungsi menetralkan segala racun. ‘mungkin dengan ini bisa menyelamatkan Sen’


“Bibi.. dimana aku bisa menemukan tanaman obat ini?” aku memperlihatkan buku tanaman obat kepada bibi.


“Ini tanaman obat yang langka, sulit untuk menemukannya..” ucap bibi beralih ke meja kerjanya.

__ADS_1


‘sulit bukan berarti tidak pernah ditemukan’ pikiran positif membuatku lebih bersemangat.


“Ini..” bibi kembali menghampiriku dan memberikan sehelai daun, daun yang sama dengan yang di buku.


“Hanya ini yang bibi punya, dan ini tidak akan cukup untuk menetralkan racun”


Aku mengambil daun yang diberikan bibi, meneliti tiap bagiannya.


“Terima kasih bibi, aku akan mencoba mencarinya” ucapku langsung bergegas keluar dan masuk ke dalam hutan untuk menemukan beberapa lagi.


Poko mengikutiku masuk ke dalam hutan.


“Ini Poko..” aku memperlihatkan daun yang ku pegang kepada Poko, membuatnya mengendus.


“Meow! (Apa maksudmu? Aku bukan anjing yang bisa mencari menggunakan bau!)”


‘Ah sial, aku lupa Poko seekor kucing!’


Aku dan seekor teman hanya berkeliling hutan, hingga matahari mulai malas menampakkan sinarnya.


“Ha.. harus berapa lama lagi aku mencarimu..” ucapku kepada sehelai daun yang ku pegang. Yah mungkin aku mulai gila!


“Sebaiknya kita pulang..” aku menyudahi pencarianku hari ini dan bergegas kembali ke istana.


“Growl..” di tengah perjalanan Bear datang menghampiri kami saat sudah mulai mendekati istana.


“Bear!” aku mengelus Bear, Bantal bulu ku.


“Bear pernahkan melihat daun ini?” ucapku memperlihatkan tanaman berharga ditanganku, Bear mengendus dan memperhatikan dengan jeli.


‘Mungkin terdengar bodoh tapi wajib ku coba..’


“Growl..” aku tidak mengerti apa yang dikatakannya mungkin karena sekarangku mulai lelah.


“Terima kasih Bear” ucapku mengartikannya sebagai sebuah penghiburan.


Aku kembali ke istana dengan hanya membawa sehelai daun yang tidak ada temannya.


“Mencari obat untuk Sen” ucapku dengan lemah, yah aku memang sudah lelah dengan usaha yang tidak ada hasilnya.


“Kau..” Rey mengantung ucapannya dan mengelus puncak kepalaku “Kau pasti lelah istirahatlah..” sambungnya kemudian. Aku hanya mengangguk dan masuk ke dalam kamar.


*****


Sinar matahari menusuk ke mataku saat Kin membuka tirai jendela.


“Nona.. anda baik-baik saja?”


Aku mengangguk lemas, ‘kali ini aku akan menemukan tanaman itu!’


Kin membantuku mandi dan bersiap. “Nona apa hari ini akan keluar istana lagi?” tanya Kin sembari menyisir rambutku.


“Iya,, aku harus menemukan tanaman ini..” aku mengambil tanaman dari dalam laci meja.


“Kalau begitu ajaklah saya juga”


“Apa kamu tidak masalah jika aku mengajakku masuk ke dalam hutan?”


“Nona, saya pelayan nona, dan saya akan mengikuti nona kemanapun nona pergi.” Ucap Kin tegas.


“Baiklah.. terima kasih Kin..”


Aku dan Kin memutuskan untuk keluar istana dengan diam-diam melewati hutan di belakang penjara.


“Kyaaa!!” terdengar suara jeritan dari beberapa pelayan, dan beberapa prajurit belari mengikuti sumber suara.


“Ada apa?” tanyaku kepada pelayan yang berlari.


“Ada seekor beruang yang memasuki istana nona”

__ADS_1


‘Beruang?’ aku langsung melangkahkan kaki ku mengikuti sumber teriakan.


“Nona, nona mau kemana? Lebih baik nona jangan kesana” Kin menghentikan langkahku.


“Tidak aku harus kesana melihat, bisa jadi beruang itu temanku” ucapku masih terus melangkahkan kakiku.


“Growl!!” terlihat seekor beruang yang memberontak melawan prajurit kerajaan.


“Bear!!” teriakku setelah mengetahui identitas beruang.


Bear berlari mendekatiku, “Nona awas!!” beberapa pelayan berteriak. Yah mungkin terlihat seperti Bear yang akan menerkamku.


“Growl..” Bear berhenti tepat di depanku, menundukkan kepalanya yang langsung ku elus.


“Bear kenapa kesini?” tanyaku seolah mengerti perkataannya.


Bear memberikanku beberapa helai daun, “Bear ini… Terima kasih Bear..” aku langsung memeluk erat Bear, dan mendapatkan tatapan tidak percaya dari para pelayan dan prajurit.


Bear memberikanku tanaman obat yang ku cari dari kemarin, “Beruang ini temanku, dia tamuku..”


“Hana..” Rey berlari ke arahku di ikuti Calista dan Zee. Tanpa dia bicarapun aku tahu apa yang sedang dipikirkan olehnya.


“Beruang ini temanku, dia memberikanku ini.. tanaman obat yang kemarin ku cari”


“Dia temanmu?” tanya mereka tidak percaya.


“Yah dia temanku, teman bulu ku” aku mengusapkan wajahku ke bulu Bear yang lembut.


“Karena dia temanmu, berarti dia tamu disini. Kalian siapkan beberapa buah-buahan untuk tamu kita” perintah Rey kepada pelayan yang berada disekitar. Tentu saja wajah pelayan yang mendengar mendadak pucat.


“Tenang saja, dia temanku, dia tidak pernah menyerang manusia.. lihat betapa lucunya dia..” ucapku menenangkan mereka, Bear yang mengerti langsung mengeluarkan aura keimutannya.


Meninggalkan Bear yang dikerumuni para pelayan, membawa tanaman obat itu untuk menjadikannya obat yang bisa diminum Sen.


Kondisi kesehatan Sen memang sengaja disembunyikan jadi tidak banyak yang tahu bagaimana kondisinya, di depan ruangannya hanya dijaga dua orang ksatria yang selalu berada disampingnya.


“Bagaimana keadaannya?” tanyaku kepada ksatria.


“Yang Mulia masih belum sadar nona.. tabib sedang menanganinya di dalam”


“Biarkan aku masuk..” ksatria membuka pintu kamar Sen dan membiarkanku masuk.


Aku menaruh mangkuk obat di atas meja samping tempat tidur Sen.


“Apa yang nona bawa?” tanya tabib penasaran dengan cairan hitam dalam mangkuk.


“Ini..” aku memberikan tabib sehelai daun karena akupun tidak tahu nama tanaman obat ini.


“Apa? Ini bukannya tanaman yang sulit untuk di temukan?” sepertinya tabib tahu juga tentang tanaman ini.


“Iya, bibi yang memberi tahuku.”


“Bibi.. siapa?” tanya tabib penasaran. Sejujurnya sampai sekarangpun aku tidak tahu nama bibi yang sudah ku anggap seperti keluarga itu.


“Bantu aku mendudukkannya..” aku mengalihkan pembicaraan. Dan berusaha membuat Sen duduk agar lebih mundah meminumkan obat untuknya.


“Nona, Yang Mulia masih belum sadar sepertinya sulit untuk meminumkan obat kepadanya”


‘Yang dikatakan tabib benar, Sen belum sadar dan luka yang didapatnya membuatnya sulit untuk bergerak, tidak ada cara lain..’


Aku mengambil mangkuk obat, dan meminumnya tanpa ku telan. Aku meraih kepala Sen dan memasukkan obat yang berada dalam mulutku ke mulutnya. ‘ciuman pertama kita’


Tabib yang melihat langsung membalikkan badannya, aku mengulangi lagi hal yang ku lakukan sampai obat dalam mangkuk habis. ‘ah lidahku pahit!’


“Periksa dia..” titahku kepada tabib.


“Tanaman obatnya bekerja nona.. racun di tubuh Yang Mulia perlahan memudar”


“Ah Syukurlah..” aku beralih melihat Sen yang terbaring lemah.

__ADS_1


‘Sen kamu harus sembuh! Jangan membuatku spot jantung dengan ketidakberdayaanmu.’


Mungkin benar yang dikatakan orang-orang, kita tidak akan mengerti betapa berharganya seseorang sebelum kita kehilangan mereka.


__ADS_2