Kabisat Dream (Love From Another World)

Kabisat Dream (Love From Another World)
CALON ISTRI


__ADS_3

Pesta semalam benar-benar membuatku keletihan. Desa kembali normal tanpa adanya air dengan rasa manis, paman dan bibi mendapatkan beberapa bahan makanan sebagai ucapan terima kasih karena sudah menemukanku ‘peri’ bagi mereka.


“Rome, ada apa?” tanyaku yang penasaran dengan keramaian yang terjadi di desa


“Di desa kedatangan orang dari kerajaan untuk memantau, karena permasalahan air di desa ini sudah terselesaikan”


“Kerajaan?” aku cepat-cepat melihat keadaaan kalau sempat aku harus kabur jangan sampai terlihat oleh mereka.


Terlihat beberapa pejabat kerajaan dan beberapa penjaga dengan kereta kuda yang berhenti. Tidak terlihat kaisar di antara mereka juga pangeran lainnya. ‘apa mereka terlalu malas mangkanya menggunakan perwakilan?’.  Pak kepala desa maju memberikan hormat kepadanya.


“Aku dengar permasalahan air di desa ini sudah terselesaikan?” tanya seorang penjabat membuka suara


“Benar tuan, permasalahan air di desa kami telah terselesaikan dengan mencabut tanaman yang berada di aliran sungai. Sekarang sungai kami sudah jernih dan tidak terasa manis lagi” jelas kepala desa


“hmm, siapa yang menyarankan itu? jika itu saran dari warga desa tidak mungkin sampai memakan waktu lama untuk mengetahui penyebab dari masalah ini”


‘ah aku benci pejabat yang terlalu pintar!’


“Dia seorang peri!” seorang anak kecil mengambil alih jawaban kepala desa


“Seorang peri?” pejabat itu melihat ke arah anak kecil itu dengan menunduk agar sama.


“umm, itu benar, kakak itu sangat cantik dia benar-benar seperti peri”


“Apa kau yakin?”


“Ya tentu saja dia memakai pakaian peri berbeda dengan pakaian yang sering aku lihat di desaku dan pakaiannya sangat cantik!” ujar anak kecil itu polos. Celotehannya membuat kehadiranku terancam.


Aku mundur dari kerumunan warga dengan perlahan, dan mencari tempat bersembunyi.


“Kakak sedang apa?” aku lupa jika Rome ada di dekatku. Aku memberikan isyarat kepada Rome dengan jari telunjuk di bibirku.


“Itu dia! Kakak peri muncul!”


‘sial! Anak kecil itu bermata elang!’


Pejabat tadi berdiri dan memandangiku, wargapun memberikan jalan kepada pejabat tersebut.


“Apa kau yang menyelesaikan masalah ini?”


“u..mm… y..yaa” aku gugup semoga pejabat ini tidak mengenaliku.


“Terima kasih, berkatmu masalah air di desa ini terselesaikan..” ucapnya dengan senyuman


Aku hanya mengangguk menghindari mata penjaga kerajaan yang melihat ke arahku.


“Itu dia!!” seorang penjaga menangkap kehadiranku, dan penjaga lainnya mengikuti.


‘sial aku harus segera melarikan diri!’


“Dia melarikan diri! Tangkap dia!”


Aku berusaha lari melarikan diri, tujuanku hanya satu yaitu masuk ke dalam hutan. Terlihat beberapa warga mencoba menghalangi penjaga agar aku memiliki waktu untuk kabur.

__ADS_1


“Heiigghh!!”


‘argh sial!’ aku menjatuhkan diriku dan hampir tertinjak oleh seekor kuda yang sedang ditunganggi.


“Berhenti disana!” ucapnya yang aku tahu itu bukan ditujukkan untukku. ‘suara yang tidak asing’


“Re,..” ucapku terhenti “Ya..yang mulia!!” aku mendongak melihat ke arah atas kuda


“Berdirilah..” ucapnya sambil mengulurkan tangan membantuku berdiri


“Kau yang membantu desa ini?” aku hanya mengangguk mengiyakan ‘sampai kapan dia akan melepaskan tanganku ini’


“Hormat yang mulia!!” semua penjaga dan penjabat memberikan hormat, warga desa juga ikut serta


“Lihat.. benar tebakkanku dia seorang bangsawan..” kata seorang wanita muda kemarin yang bertanya kepadaku


“tidak.. bukan.. aku hanya rakyat biasa tidak ada hubungannya dengan bangsawan”


Mereka masih berbisik-bisik menebak identitasku karena dikenal oleh kaisar.


“Dia kakakku! Tidak ada hubungannya dengan bangsawan!” Rome membuka suara memastikan identitasku adalah seorang kakak baginya.


“Rome…”


“Dia pelayan pribadiku!” ucap kaisar menetapkan identitasku seenaknya.


‘sejak kapan aku jadi pelayanmu!’ mataku melotot ke arahnya memberinya tanda keberatan


“Yang mulia ini..” pejabat membuka suara, namun tidak dilanjutkan karena mendapat tatapan tajam dari kaisar


“Aku tidak setuju! Aku tidak akan menjadi pelayan apalagi selirmu!”


“Oh ayolah apa kau masih marah kepadaku?” kaisar mendekatkan ketelingaku “Apa kau ingin identitasmu sebagai tahanan yang kabur setelah meracuni nona yang dilayaninya?”


“Aku tidak pernah melakukannya!” ucapku kesal


Warga mulai membicarakanku sebagai kekasih yang sangat disayangi kaisar sampai kaisar rela menemuinya sendiri. ‘apa dia mempunyai dendam terhadapku’


“Aku sudah mendengar laporan kalau masalah air di desa ini sudah di selesaikan”


“Benar yang mulia, dan saran yang diberikan oleh nona di samping anda inilah yang menyelesaikan masalah tersebut” pejabat menjelaskan


Kaisar menoleh ke arahku dan tersenyum, sial dia terlihat tampan “Sungguh aku tidak menyangka calon istriku telah memberikan kontribusinya terlebih dahulu”


“Yang mulia ak..”


“Putri Calista ingin bertemu denganmu” ucapnya menyela kalimatku


“Dia sudah sadar?”


“Yah karena itu kau harus kembali ke istana bersamaku”


“Baiklah aku akan kembali ke istana menemui Calista. Tapi sebagai pelayan selir Calista bukan sebagai pelayan pribadi dan calon istrimu!”

__ADS_1


“Tidak boleh!” anak kecil yang sempat menjelaskan keberadaanku kepada pejabat tadi menghentikanku


“Kakak tidak boleh pergi! Kakak adalah seorang peri di desa ini! Jangan pergi…” kenapa dari semua kosa kata dia mengatakan aku seorang peri kepada seorang kaisar ini benar-benar memalukan.


“Peri? Ppftt” kaisar menahan tawanya


‘sialan! Kalau mau tertawa, tertawa lah! Bikin kesal saja’


“Kau tahu sebelum menjadi peri di desa ini, dia seorang peri hutan yang ditemukan oleh adikku dan dibawanya kedalam istana, sekarang dia sudah menjadi milikku”


“Siapa yang menjadi milikmu!”


“Baiklah peri kita harus pergi sekarang, tuan yang pertama kali menemukanmu merindukanmu”


“Diamlah!” ucapku kesal tidak peduli lagi dengan statusnya yang lebih tinggi dariku


“Kakak.. kakak akan pergi?” Rome mendekatiku


Aku menyamakan tinggiku dengannya dan memeluknya “Kakak tidak akan melupakanmu, kamu adik laki-laki ku” ucapku menenangkannya.


Aku akhirnya pamit kepada paman dan bibi orang tua Rome yang sudah merawatku selama aku berada disini, warga desa juga ikut melepas kepergianku.


“Nak, jagalah dirimu baik-baik, desa ini terbuka untukmu, terima kasih telah membantu kami menormalkan desa ini” ucap tulus kepala desa kepadaku mewakili warga desa.


“Terima kasih juga karena sudah menerima ku di desa ini..” ucapku tidak kalah tulus menyampaikan rasa bersyukurku selama aku berada di desa.


“Naiklah..” kaisar menyuruhku menaikki kudanya


“Yang mulia anda serius? Kalau aku menaiki kudamu, terus kamu naik apa?”


“Tentu aku juga akan menaikki kudaku, bukannya kau pernah menunggagi kuda bersama Rey?”


Tanpa protes lagi aku menuruti perintahnya, ‘ini berbeda dengan kuda berbulu ku’


“Kau tau?”


“Apa?” ucapku spontan saat kaisar buka suara saat di perjalanan


“Gambarmu jelek”


“Apa? Bukannya surat itu diberikan kepada Rey?”


“Yah, surat itu diberikan kepada Rey dan aku yang membacanya, kau tahu Rey kesulitan memahami maksud dari gambarmu”


‘apa gambarku memang sejelek itu?’


“Bagaimana keadaan putri Calista?” tanyaku mengalihkan pembicaraan dari penilaiannya terhadap gambarku


“Dia sudah membaik, tabib yang memberikan obat kepadanya sudah diberikan hukuman, namun dia tetap tidak mengatakan siapa dalang yang sebenarnya”


“Bukankah kamu sudah tahu siapa dalangnya?”


“Tidak ada bukti, karena itu dalangnya belum bisa diungkapkan”

__ADS_1


__ADS_2