
Paman kembali dari rumah kepala desa dan membawa kepala desa menemuiku.
“Aku sudah mendengar tentang tanggapanmu mengenai air di desa kami, dan aku sebagai kepala desa mengucapkan terima kasih”
“Tidak pak, memang sudah seharusnya aku lakukan..”
“Aku dengar kau terjatuh dari air terjun dan terdampar di desa kami?” kepala desa mulai menyelidiki
‘hmm apa dia curiga?’
“Yah, aku baru datang ke desa ini kemarin..”
“Siapa namamu nak?”
‘benar dari kemarin aku belum menyebutkan namaku, bahkan paman dan bibi pun tidak menanyakannya. Jika aku katakan namaku apa mereka akan curiga kalau aku seorang buronan’
“hmm, Mori..” ucapku
“Terima kasih nak Mori.. kau seperti peri yang di turunkan dari air terjun untuk membantu desa kami”
‘Bukankah ini perumpamaan yang aneh, yah seorang peri yang di kira bunuh diri karena kesepian?’
“Besok warga akan melakukan pembersihan di area aliran sungai dan menanam tanaman itu kembali di tengah desa, sekali lagi terima kasih banyak untuk sarannya nak”
Aku hanya tersenyum menganggapi pak kepala desa yang berulang kali mengucapkan terima kasih.
*****
Pagi ini seluruh warga bersama-sama membersihkan tanaman di aliran sungai. Beberapa mencabut tanaman dan beberapa menanam kembali tanaman di pusat desa, dan beberapa menanamnya di dekat rumah mereka menggunakan pot agar toksin yang keluar dari akarnya tidak menyebar.
Aku seperti menjadi mandor melihat aktifitas mereka ditemanin Poko, Bear sudah aku suruh kembali ke hutan, akan bahaya jika dia ketahuan berkeliaran di desa. Bukan tidak ingin membantu, namun aku tidak boleh terlalu terlibat karena masih dengan statusku sebagai buronan.
__ADS_1
“APA YANG KALIAN LAKUKAN?!!!” terlihat seorang pria dengan perut buncit berteriak tidak senang dengan aktifitas yang dilakukan warga. “Apa kalian lupa!! Tanaman yang diberikan oleh pengembara ini menjadikan sungai kita indah kenapa kalian malah merusaknya?!!”
Tidak usah diberi tahupun aku tahu, dia adalah pembisnis nakal angkuh yang kemarin diceritakan Rome.
Beberapa warga hanya diam, dan lainnya beradu mulut. Yah karena kesombongannya dia selalu merendahkan warga desa yang dipandang tidak bisa menilai sebuah keindahan. Sekuat apa pria buncit ini melawan seluruh warga desa hanya seorang diri dengan hanya berbekal kesombongan dan keangkuhan dari kata-katanya. Kesal? tentu namun aku harus bersembunyi.
“Orang bodoh mana yang menyarankan kalian merusak tanaman yang sudah beberapa tahun ini memperindah sungai di desa ini?! Aku mau melihat muka bodohnya itu!!” sial dia mengataiku.
“Hey!! Pria GENDUT!!” aku kelepasan dan berteriak. Semua warga memandangiku, yah aku sudah mengganti pakaianku dengan baju ku saat pertama kali muncul, dan aku melupakan sebuah selendang untuk menutupi wajahku. ‘Tidak ada jalan untukku kembali’
“Kamu yang tidak memiliki nilai seni! Keindahan sungai bukan dari tanamannya yang berada di dekatnya namun, keindahan sungai di nilai dari kebersihannya dan ke jernihannya, serta banyak tidak ikannya, kalau tidak ada ikan berati sungai itu kotor! Sama seperti saat ini tidak ada ikan! Yang kamu sebut keindahan sungai itu tidak ada! Kamu menyebutkan keindahan pada tanaman bukan pada sungai!!” aku meluapkan semua emosi yang ku tahan sejak tadi dia beradu mulut denganwarga desa. Semua warga diam mendengar penuturanku dan membenarkan ucapku.
“Siapa kau!! Kenapa ikut campur di desa kami!!” ucap pria gendut itu tidak terima.
“Aku Peri!” jawaban spontan yang otomatis mendapat sorotan mata tidak percaya dari mereka yang mendengar. Tentu saja, akupun tidak menyangka kata itu keluar dari mulutku!
“Meow.. (selamat kau sudah benar-benar dianggap gila)”
“Lebih baik dari pada dirimu pria gendut yang gila harta. Mengambil kesempatan untuk mengambil uang rakyat!” ucapku sarkas
“Apa kau bilang!!” teriaknya tidak terima
“Aku penasaran kenapa sumur di rumahmu sangat jernih serta tidak ada rasa manisnya, sedangkan sumur warga lain kering. Dan sungaipun rasanya manis. Dan kamu mengambil kesempatan ini untuk menjual air tersebut. Seperti kamu sudah mengetahui apa yang akan terjadi..”
“I.. itu karena sumur di desa tidak sedalam sumur di rumah ku. Dan air sungai yang manis itu tidak ada hubungannya denganku.”
“Lalu kenapa kamu tidak suka saat warga mencabut tanaman itu dan berencana menanam tanaman itu di pusat desa dan rumah mereka menggunakan pot? Bukannya tidak masalah? Bukannya nilai keindahan jadi tidak hanya pada sungai yang bersih namun pada desa yang indah..”
Pria gendut terdiam dan pergi dengan wajah kesalnya. Semua warga melanjutkan kegiatan mereka dan beberapa menghampiriku.
“Apa benar kau yang menyarankan kegiatan ini?” tanya seorang wanita muda kepadaku. Aku mengangguk mengiyakan pertanyaannya.
__ADS_1
“Kau sangat hebat bisa membuat si gendut itu pergi dengan wajah kesalnya hahahah, kau tahu ini adalah hari terbaikku saat melehat makhluk angkuh itu kehilangan muka. Apa kau seorang bangsawan?” tanya teman yang berada di sampingnya
“Ha? Bukan aku hanya warga biasa..”
“Benarkah? Bagaimana dengan pakaianmu? Aku baru pertama kali melihat model pakaian seperti ini” dia meneliti pakaian yang ku kenakan “Kau tahu? Aku kira kau benar-benar seorang peri yang tiba-tiba muncul dan menghentikan pria angkuh itu”
“Apa yang kalian lakukan disini?” Rome datang tiba-tiba menghentikan pertanyaan yang akan dilontarkan oleh mereka
“Bukankah pekerjaan kita belum selesai?” Rome seperti seorang pria yang melindungi wanitanya
Salah satu wanita mengusap kepala Rome gemas “Tentu saja kami akan menyelesaikannya, kami hanya ingin mengenal peri yang membantu kami saja”
Aku tertawa tipis mendengar perkataannya ‘peri hutan, haa aku jadi teringat pertemuan awalku dengan Zee dan Rey.’
*****
Setelah semua kegiatan mereka selesai, mereka berniat mengadakan pesta malam ini. Kata kepala desa sekaligus menyambut kedatanganku sebagai peri di desa. Entah mengapa setiap mereka mengatakan peri aku selalu beranggapan diriku bodoh dan sangat memalukan menganggap dirinya sendiri seorang peri.
Kegiatan mencabut tanaman disekitar aliran sungai tidak memakan waktu lama karena dilakukan secara bersama-sama, yang memakan waktu lama adalah menanam kembali tanaman itu dan membuat desa menjadi indah dengan meletakkan tanaman tersebut ke dalam pot kemudian di taruh di sudut-sudut desa dan rumah warga.
Hari menjelang sore persiapan untuk pesta malam ini pun hampir selesai. Karena aku sudah menunjukkan wajahku, jadi akupun harus membantu mereka walau hanya sedikit bantuan yang kuberikan.
“Pak kepala desa!” seorang pemuda berlari dengan gelas air minum ditangannya
“Cobalah..” dia memberikan gelas yang berisi air jernih kepada kepala desa
“Ini.. rasa manisnya tidak terlalu terasa.. air darimana?”
“Aku mengambilnya dari sungai yang kita bersihkan tadi. Aku tidak bisa menunggunya sampai besok..”
Semua warga berseru akhirnya masalah beberapa tahun ini terselesaikan. Dan malam pesta pun dipenuhi kegembiraan. Tidak masalah bukan? untuk malam ini saja aku menikmati pesta penyambutan mereka dan melupakan sejenak statusku sebagai seorang buronan.
__ADS_1