
Setelah kekacauan yang dibuat Bear, Rome mengajakku untuk berkeliling di pasar desanya. Bear menunggu di rumah, yah karena rumah Rome letaknya agak jauh dari pusat desa dan tidak ada rumah lain selain rumahnya disekitar jadi Bear lebih aman berada disana.
“Kakak coba kesini..”
Suasana ramai tidak jauh berbeda dengan pasar kota yang pernah ku kunjungi bersama Rey. ‘Rey.. sedang apa dia sekarang…’
Berbagai macam makanan aku coba dan rasanya manis semua, untuk pecinta rasa manis sangat disarankan untuk datang kesini. Aku berjalan berdampingan dengan Rome, membeli beberapa bahan makanan dan membawanya pulang.
‘Penjaga..’
Terlihat penjaga dengan lambang kerajaan sedang berpatroli. ‘sial, apa mereka masih mengejarku?’
Aku mempercepat langkah dan bersembunyi dibalik pohon.
“Kakak kenapa?”
“Tidak hanya sedikit lelah..”
“Tunggu disini sebentar…” perintah Rome yang lalu berlari masuk ke arah pasar lagi.
“Ini minumlah kak..” ucapnya memberikanku air mineral.
‘air gula lagi’
“Manis.. apa kamu suka makanan dan minuman yang manis?” tanyaku
“Hmm, tidak terlalu suka..”
“lalu kenapa setiap makanan dan minuman yang kamu kasih selalu terasa manis?”
“Itu… karena air di desaku manis”
“Ha?”
“Iya, kak air di desaku terasa manis.. karena itu ayah dan ibu kadang naik ke gunung untuk mendapatkan air mineral yang tidak ada rasanya”
“Jadi maksudmu air sungaipun rasanya manis?” Rome mengangguk menanggapi pertanyaanku.
Selama perjalanan pulang Rome menceritakan asal mula air di desanya menjadi manis. Dia mengatakan bahwa air di desanya berubah sejak satu setengah tahun yang lalu, dan tidak ada yang tahu sebabnya. Bahkan warga desa ada beberapa yang terkena penyakit dan meninggal, yang aku tahu penyakit itu pasti diabetes.
“Apa kalian sudah melapor ke istana?”
“Sudah kak, pihak kerajaan sudah datang dan melihatnya namun tidak ada tindakan yang bisa mereka lakukan.. mereka hanya membantu kami dalam kesediaan bahan makanan, itu pun jarang, karena semenjak air disini manis tanaman jadi tidak terlalu bagus”
“Bagaimana dengan sumur? Apa airnya juga terasa manis?”
“Hmm yah, tapi tidak semua sumur yang airnya manis, ada sumur yang airnya tidak ada rasa namun untuk mendapatkannya kami harus membeli.. dan sumur lainnya memang sudah lama kering jadi hanya satu sumur itu yang masih menghasilkan air”
“Ha? Kenapa harus membeli?”
“Itu karena dia memang seorang pembisnis dan sangat angkuh. Rakyat miskin seperti kami tidak bisa membeli dan hanya bisa bertahan dengan air yang manis atau mengambilnya langsung ke gunung. Karena itu juga bahan makanan disini mahal kerena air yang dibutuhkan untuk tanaman harus dibeli”
Aku meletakkan barang belanjaan kami dan berniat untuk melakukan observasi. ‘yah aku tidak percaya jika air disini manis dari asalnya’
“Growll” Bear menghampiriku dengan wajah memelasnya. ‘ah beruangku yang lucu’
__ADS_1
“Bear tunggulah disini jaga paman dan bibi, aku mau melihat air yang rasanya manis.” Bear menunduk menuruti perkataanku.
Kami menelusuri sungai, dan benar saja air sungai terasa manis. Pantas saja tidak terlihat seekor ikanpun. Aku penasaran dan menelusuri sepanjang sungai. ‘tidak mungkin air sungai bisa semanis ini’
“Dari mana aliran sungai ini berasal?” gumamku terdengar oleh Rome
“Gunung” jawabnya langsung
“Gunung?” beo ku. “lalu bagaimana bisa air di gunung tidak semanis air di sungai..”
“Rome ayo kita ke gunung!”
“Kakak serius? Kemungkinan kita akan pulang malam, ayah dan ibu pasti akan khawatir”
“hmm ayo kembali dulu, kita akan naik kuda berbulu tebal!” ajakku. Bear bisa menjadi kuda mengingat pelarian yang berhasil dilakukan karena bantuannya.
Sampainya aku berpamit dengan orang tua Rome, menjelaskan apa yang aku temukan, walau terlihat dari wajah mereka kekhawatiran namun mereka tetap tidak bisa menghentikanku. Ditambah aku membawa Bear, beruang yang sudah membuat keributan di halaman rumah mereka.
“Kakak aku ikut!”
“Rom, kamu tidak lihat ayah dan ibu mengkhawatirkanmu..” tolakku. Jangan sampai tugasku menjadi terhambat karena harus menjaga seorang bocah.
“Ayah ibu aku mau ikut menemani kakak. Aku laki-laki tidak akan membiarkan seorang perempuan seorang diri pergi ke gunung..”
‘lihat lah dia benar-benar seperti seorang pria dewasa’
Terlihat ke khawatiran dari sepasang suami istri itu. “Rome, kau yakin bisa menjaganya?”
“Tentu ayah, lihat aku sudah membawa senjata, dan beruang ini juga akan membantuku” ucapnya memperlihatkan ketapel yang tergantung di lehernya dan dia tidak terlihat takut lagi dengan Bear.
“Tentu bibi, kami akan kembali dengan selamat!”
Kami menaiki Bear, Poko juga ikut dalam misi pemecahan misteri air manis ini.
“Bear apa kamu sanggup?”
“Growll” seolah mengatakan tentu saja. Seperti aku mulai memahaminya.
*****
“Kakak disini..” kami mengikuti arah Rome sesampainya di gunung
“Ayah dan Ibu biasanya mengambil air mulai dari sini..”
‘hmm, benar air disini jernih dan segar tidak ada rasa manis seperti di taruh gula’ aku meminum air gunung, karena sudah seharian aku memakan dan minum yang manis.
“Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang kak?”
“hmm mari kita coba menelusurinya, dari mana air mulai terasa manis” saranku. Kami menelusuri aliran air yang menuju ke arah sungai.
“Poko minumlah..” tidak mungkin aku mencicipi setiap aliran air ini, bisa-bisa kembung. Jadi kami bergantian meminumnya.
“Growll!!”
“Ada Bear?” Bear nampak menemukan sesuatu dia menunjuk ke arah dalam sungai.
__ADS_1
“Manis..” ucapku setelah mencicipi aliran air yang di tunjuk Bear
“Bagaimana kakak?”
“Sepertinya mulai dari sini air menjadi terasa manis..”
“Meow..? (apa ada sesuatu di dalamnya?)”
“Sepertinya tidak, air disini terlihat sangat jernih dan tidak ada sesuatu di dalamnya selain…” ucapanku terhenti ketika melihat tanaman dekat dengan aliran sungai.
Aku mencabut tanaman yang pernah aku lihat di buku yang diberikan bibi. Ada banyak tanaman ini di sepanjang sungai.
“Rome, kamu tau ini tanaman apa?” dia menggeleng tidak tahu.
“Tanaman itu sudah ada hampir dua tahun yang lalu, saat mekar terlihat cantik karenanya di sepanjang sungai menjadi sangat indah…” Rome sejenak berfikir “Kalau tidak salah waktu itu seorang pengembara baik hati memberikannya kepada kami, agar desa terlihat indah di pandang”
Aku mencuci tanaman yang sudah ku cabut dan mencicipi akarnya ke air yang tidak manis. Seperti dugaanku akarnya terasa manis.
Aku tersenyum mengetahui otakku bisa dipakai ‘ah misteri terpecahkan. Tapi bagaimana caranya mencabut ini semua, sedangkan tanaman ini untuk memperindah desa’
“Ayo kita pulang, sepertinya aku sudah mengerti apa yang terjadi”
Kami pulang setelah aku menyimpulkan masalah yang sebenarnya dialami oleh aliran air sungai.
“Ayah.. Ibu.. kami pulang..” Rome berlari memeluk kedua orang tuanya
“Bagaimana keadaan kalian?”
“Kami tidak apa-apa bibi, dan sepertinya kami sudah menemukan masalah kenapa air sungai manis”
“Benarkah?”
“Paman lihat ini” ucapku mengeluarkan tanaman aneh itu. “Cobalah..” aku menunjukkan akar dari tanaman itu.
“Manis.. bagaimana bisa?”
“Aku juga tidak tahu kenapa bisa begitu, yang jelas air sungai jadi terasa manis karena akar dari tanaman ini yang mengeluarkan rasa manis itu”
Bibi ikut mencicipi akar dari tanaman itu, “Ini tanaman apa?”
“Aku juga kurang tahu bibi” bukan lebih tepatnya lupa. “Sepertinya tanaman ini digunakan untuk memperindah sungai di desa…”
“Kalau begitu harus di cabut semua..”
Aku mengangguk “Karena itu paman, apa paman bisa menjelaskan kepada warga desa?”
“tentu! Aku akan pergi ke rumah kepala desa sekarang”
“Aku dengar tanaman itu dari seorang pengembara? Sepertinya pembisnis nakal memainkan perannya..” ucapku penuh penekanan. Tidak masalah bukan mencurigai pembisnis yang mengambil keuntungan dari kesengsaraan rakyat.
“Terima kasih aku akan menyampaikannya..”
“Oh ya paman karena tanaman itu terlihat indah saat mekar, tanaman itu bisa ditanam di tengah desa untuk keindahan desa, jangan di dekat aliran sungai”
“Baiklah, saranmu sangat bagus, kalian tunggulah dirumah aku akan kembali setelah selesai bicara dengan kepala desa”
__ADS_1