Kabisat Dream (Love From Another World)

Kabisat Dream (Love From Another World)
PENYERANGAN


__ADS_3

Entah sudah berapa bulan lamanya aku berada di dunia ini, dunia dimana aku bisa melupakan semua rasa sakitku, dunia baru untukku yang pernah terluka. Dari hanya seorang gadis asing yang terdampar tidak tahu arah, menjadi seorang tunangan kaisar.


Berbulan-bulan lamanya aku jalani kehidupan baru ini, sampai akhirnya aku berada di dalam kereta kuda bersama dengan pria yang pertama kali ku temui di danau.


“Apa yang kau lamunkan?” Sen membuyarkan pemikiranku.


“Tidak ada, aku hanya berfikir kenapa aku bisa berada di dalam kereta ini berdua denganmu?”


“Kau lupa yang ku katakan semalam?”


‘Ah benar aku melupakan kejadian semalam’.


Semalam..


“Nona.. Yang Mulia ingin bertemu dengan anda”


“Mau apa dia malam-malam kesini?” tanyaku sambil mengurai rambutku.


“Saya tidak tahu nona, karena saya bukan Yang Mulia” jawab Kin.


“Biarkan dia masuk” ucapku sambil memijat kening. ‘semakin lama aku dekat dengan Kin, sikap Kin kadang tidak bisa ku bantah’.


Sen masuk ke dalam kamarku dan memberi isyarat untuk Kin keluar.


“Ada apa?” tanyaku to the point.


“Kau tidak merindukanku?”


“Hah? Apa kamu sedang demam?”


“Entahlah, lebih baik kau periksa langsung” Sen meraih telapak tanganku dan menaruh di dahinya. “Bagaimana? Apa aku demam?” lanjutnya.


Aku langsung menarik tanganku, ‘Ah jantungku!’ beberapa minggu ini Sen selalu melancarkan serangan gombalannya kepadaku membuat jantungku memompa dengan cepat.


“hmm.. sepertinya kau yang sedang demam.. wajahmu memerah..” Sen mendekatkan menyetuh dahiku dengan dahinya. ‘serangan dadakan lagi!’


“Berhenti melakukan itu!” teriakku menjauh darinya, masih sulit mengontrol detak jantung.


“Apa kau sedang malu?”


“Tidak, ruangan ini hanya sedikit panas.” Elakku.


“Kau tidak pernah jujur dengan perasaanmu..”


“Siapa yang tidak pernah jujur. Disini memang sedikit panas, apalagi saat kamu masuk”


“Jadi yang membuatmu panas adalah karena kehadiranku? Sampai membuat wajahmu memerah” ucap Sen memperjelas keadaanku, tidak dia hanya memperjelas perasaanku.


Aku mengalihkan pandanganku ke arah lain, ‘jangan sampai dia melihatku tersipu.’


“pfftt”


“Kenapa kamu malah tertawa?” tanyaku kesal mendengar Sen yang menahan ketawa.


“Tidak, aku hanya senang. Sepertinya usahaku berminggu-minggu ini membuahkan hasil.”


“Tidak juga..”


“Tidak masalah, cepat atau lambat kau pun akan merasakan hal yang sama. Karena faktanya kita sudah tunangan, kau satu-satunya tunanganku yang akan menjadi permaisuri pendamping kaisar”


“Aku dengar kamu akan pergi ke kaisaran Berlvery yang bersampingan wilayah dengan Xanavery. Jika kamu mati itu tidak akan terjadi.” Ucapan keluar begitu saja dari mulutku. Perasaanku tidak enak saat mengetahui Sen dan Zee akan pergi.

__ADS_1


“Aku anggap kau mengkhawatirkanku.” Sen tersenyum, senyum yang selalu membuat jantungku berdetak. “Jika aku mati, apa yang akan kau lakukan?” tanyanya.


“Tentu saja mencari pria lain yang lebih baik, dan menikahinya” jawabku lancar.


“Kalau begitu kau tidak akan pernah menikah”


“Kenapa?”


“Karena kau tidak akan menemukan pria yang lebih baik dari diriku” ucap Sen. ‘Aku tidak menyangkal ucapannya’


“Selama aku pergi kau dilarang keluar istana, jangan coba-coba kabur”


‘Benar juga. Jika Sen pergi berarti aku bisa bebas kemanapun sesukaku, keluar dari istana ini, malam ini aku akan membuat jadwal selama Sen pergi.’ Tanpa sadar aku berfikir kebebasan di depan mata.


“Apa yang kau pikirkan?” Sen membuyarkan semua pikiranku.


“Ti..tidak ada, aku mendoakan keselamatanmu. Pergilah” ucapku senang.


“Sepertinya aku harus membatalkannya”


“Apa? Kenapa? Aku kan tidak berfikir akan kabur dan pergi kemanapun sesukaku”


“Sepertinya yang kau fikirkan keluar dari ucapanmu”


“Tidak aku…”


“Kau harus ikut denganku besok.” Sen memotong ucapku dan memutuskan pendapat sepihak.


“Tidak! Aku tidak ingin mati bersamamu.”


“Hmm, sepertinya tidak buruk mati bersama pria terbaik bukan?” ucap Sen memegang daguku, dan keluar dari kamar.


*****


Dan disinilah aku duduk di dalam kereta berhadapan dengannya. Pria yang beberapa minggu ini melancarkan aksi gombalan yang membuat jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, membuat wajahku selalu tersipu saat berada di dekatnya.


“Kau sudah ingat?”


Aku tidak menjawab pertanyaannya, semakin hari wajah Sen yang tampan makin terlihat lebih tampan dari biasanya. Bibirnya yang berbicara, bibirnya yang pernah memberiku tanda. Apa yang sedang aku fikirkan?!


“Berhenti menatapku, kau seperti akan menerkamku.”


‘sial! Aku ketahuan!’ lebih baik aku menghadap jendela.


“Kau memalingkan pandangan?”


“Tidak, aku hanya melihat pemandangan di luar” jawabku, diluar hanya ada hutan dan hutan.


“Dimana Zee? Bukannya dia ikut” tanyaku mengalihkan.


“Dia bersama Atten di kereta belakang” jelas Sen.


“Kenapa tidak satu kereta saja? Bukankah kereta ini cukup luas untuk berempat”


“Karena aku ingin berdua denganmu”


‘kenapa dia selalu melancarkan gombalannya’ wajahku memerah.


Aku mengeluarkan kepala di jendela untuk melihat ke belakang, “Kenapa kereta yang di naiki Zee tidak terlihat, apa tertinggal jauh?”


“Yah mungkin” ucap Sen santai tanpa beban.

__ADS_1


“Bagaimana jika ada perampokan?”


“Apa yang kau takutkan? Kita membawa beberapa ksatria dan aku akan melindungimu agar kau tidak terluka”


‘Ah hatiku.. kenapa Sen selalu memasang tampang seperti ini, membuat hatiku yang ku tutup terbuka kembali, perasaan yang membuatku takut untuk jatuh cinta terusik’


“BRAK!” suara benturan dari luar terdengar diiringi suara kuda yang menarik kereta.


“Ada apa?” tanyaku mulai gelisah.


Sen membuka tirai jendelanya dan bertanya kepada ksatrianya, “Para perampok Yang Mulia, anda tidak perlu turun biar kami yang tangani” ucap ksatria.


Suara perperangan terdengar, ntah kenapa aku merasa aneh dengan perampokan ini, jika memang perampokan bukankah akan  ada yang menuju kereta ini dan membuka paksa untuk masuk? Lalu kenapa tidak satupun yang datang ke kereta.


“Sen, bukankah ini aneh? Kenapa perampok tidak mendobrak masuk ke kereta?.. Kereta Zee pun tidak terlihat”


“Hmm, benar, mereka seperti sedang mengulur waktu” Sen berfikir dan memutuskan untuk keluar dari kereta. Dan hanya menyisahkan aku dan Poko, sudah ku bilang bukan meski tidak ku ceritakan Poko selalu berada di dekatku.


Tidak lama setelah Sen membasmi semua yang dianggap perampok, suara langkah kaki kuda yang tidak sedikitpun terdengar. ‘Zee?’


“Tangkap kaisar hidup-hidup!!” terdengar suara teriakan dari luar.


‘Sen dalam bahaya!’


Aku tidak berani keluar setelah melihat puluhan pasukan musuh, dan berharap kelompok Zee cepat sampai.


“BRAAKK!!” kereta yang ku duduki dibuka paksa, seorang prajurit muncul dan memaksaku keluar. Terlihat beberapa pasuka musuh yang sudah terkapar karena kebrutalan Sen.


“Sepertinya wanita ini berharga untukmu” dia menjadikanku sandera agar Sen menyerah.


“Sen jangan dengarkan!”


“Diam!!” prajurit mendekatkan pedangnya ke leherku. Sen hendak meletakkan senjata yang di pengangnya.


“Syuut tap” sebuah anak panah melesat ke arahku dan membuatku terlepas dari cengkraman prajurit tadi.


“Meow (kita harus sembunyi, kau tidak bisa membantu)” aku mengikuti langkah Poko bersembunyi.


Kelompok Zee sudah sampai dan bergabung dengan Sen, tapi walau begitu terlihat sekali perbedaannya. Walau sudah bergabung, pasuka musuh masih lebih banyak dari pada ksatria yang kami bawa.


Seorang prajurit musuh terpental ke arah ku dengan luka dan darah yang terus mengalir, membuatku mual.


“Meow?! (Kau mau kemana?!)


“Mengambil pedangnya, aku harus punya senjata” ucapku mengambil pedang yang berada dekat prajurit yang sekarat.


“Hoo kau disini ternyata”  Sebenarnya berapa banyak prajurit musuh, hingga mereka lebih suka melawan wanita yang lemah ini.


Aku bersiap dengan pedang yang ku pegang dengan kedua tangan, tentu saja menyerang dengan membabi buta adalah keahlianku.


“Menyerahlah, aku sudah bosan bermain denganmu!” ucapnya bersiap menyerang, karena dari dia hanya menghindar dan tidak melawan balik.


‘Sial! Dia membuatku seperti sebuah mainan!’


Masih banyak prajurit musuh yang terlihat, tidak ada yang bisa membantuku sekarang disini, prajurit musuh mulai berlari menghampiriku dengan pedang ditangannya berniat mengakhiri nyawaku.


‘Sial! Dimana Sen yang mengatakan akan melindungiku!’ aku teringat Sen di saat terakhirku memejamkan mata bersiap menerima tikaman.


‘Sen!’ tubuhku tidak lagi berpijak di tanah, dan hembusan angin menerpa tubuhku. Aku membuka kedua mataku, dan terlihat seorang laki-laki dengan telinga mirip anjing sedang menggendongku.


“Kamu siapa?”

__ADS_1


__ADS_2