
Aku kembali ke rumah bibi, terlihat bibi yang telah menunggu kedatanganku.
"Bibi.." ucapku langsung memeluknya.
"Apa kau dari hutan lagi?"
"Emm" jawabku mengangguk. "Kau lapar?" tanya bibi penuh perhatian. Aku mengangguk kembali.
"Meow! (Aku juga lapar!)" bibi tersenyum mendengar suara Poko.
"Makanlah.." Bibi menyediakan mangkuk yang berisi sup dan mangkuk yang berisi susu untuk Poko.
"Bibi tadi ada yang mencari bibi. Tapi aku tidak tau siapa karena aku bersembunyi di bawah tempat tidur." Ucapku malu, bibi tersenyum dan mengelus kepalaku.
"tidak apa-apa sayang" jawabnya seraya masih mengelus kepalaku.
"bibi, apa bibi punya buku tentang sejarah? Atau cerita legenda?" tanyaku. Setidaknya dengan membaca buku sejarah atau legenda aku bisa tau tentang dunia ini.
"Bibi tidak punya, tapi kamu bisa membacanya di perpustakaan kerajaan" aah salahku bertanya, bibi pastilah hanya memiliki buku tentang obat-obatan.
"Lalu dimana aku bisa mendapatkan buku tentang sejarah dan legenda? Apa disini ada perpustakaan?"
"Kau bisa membacanya di perpustakaan kerajaan" yaa di perpustakaan pasti ada buku tentang sejarah dunia ini. "namun perpustakaan kerajaan tidak di buka untuk umum" aah kenapa kerajaan sangat pelit!
"namun jika kau orang yang bekerja untuk kerajaan mungkin kau bisa memasuki perpustakaan."
'aah ternyata tidak mudah untuk mengetahui sejarah dunia ini'.
*****
Sudah satu minggu ku rasa aku berada di dalam dunia yang tidak ku tau ini. Sepertinya aku harus mencari jalan keluarnya, jika patah hati yang membuatku terjebak dalam dunia ini, apa mungkin patah hati juga yang dapat membuatku kembali. Namun, bagaimana bisa aku patah hati di dunia yang tidak ku tau ini dan aku juga sudah tidak ingin jatuh cinta lagi! Jatuh cinta itu Bulshiit!!
"Meow? (kau kenapa?)"
"Tidak, aku hanya kesal saja.. Poko ayo kita menemui Bear!" aku beranjak melangkah keluar rumah bibi.
"Kau mau kemana nak?"
"Menemui teman, sudah lama aku tidak menyapanya"
"Ohh, ini cobalah" bibi memberiku sepasang sepatu berwarna putih tulang. "Apakah cocok?" sambungnya.
"Ini pas, sangat cocok, terima kasih bibi" ucapku memeluknya. Akhirnya aku tidak perlu menggoreskan telapak kaki ku ke ranting yang tidak bersalah. Aku melepaskan pelukkan dan pamit pergi.
"Ajaklah temanmu ke rumah bibi," ucap bibi membuatku terkejut. Bagaimana bisa aku mengajak seekor beruang ke desa!
"egh, seperti belum bisa sekarang bibi, temanku sangat pemalu" ucapku memberi alasan yang masuk akal.
'Nyamannya berjalan dengan memakai alas kaki'
"Poko, apa kamu tau jalan ke gua tempat Bear tinggal?" Poko mengangguk dan langsung menuntunku.
"Heiigghh!!" Terdengar suara kuda yang berhenti. Seorang pria yang sedang menunggangi kuda tersebut tersenyum menatap Hana yang sedang berjalan mengikuti Poko.
"MEOoww!! (Ada yang mengejar kita!!)" Derap langkah kaki kuda semakin mendekat, spontan aku dan Poko langsung berlari. Apalah daya membandingkan kaki yang ku miliki hanyalah dua dengan kuda yang memiliki kaki empat sudah pasti aku kalah berlari.
"Tunggu Nona!" ucap seorang pria melewati dan menghadangku. "Kau mau kemana nona? Apa yang kau lakukan di dalam hutan ini?" sial aku tidak bisa lari lagi, pria ini yang menolongku dari ular waktu itu.
"Aa..aku tersesat dan aku kira kamu seorang pemburu." Aku membuat alasan.
"Eh, sepertinya kau bukan berasal dari negeri ini? Cara bicaramu tidak seperti penduduk kami."
"egh ya aku bukan berasal dari negeri ini mangkanya aku tersesat di dalam hutan."
"Kau berasal dari mana?" tanyanya seraya turun dari kuda.
"umm, aku,, aku dari luar negeri.." aku menatap ke arah Poko meminta bantuan, Poko hanya diam seolah berkata "Buatlah sebuah cerita.."
"Yaah aku dari luar negeri, aku disini untuk mengunjungi bibiku, aku tinggal bersamanya selama aku di dunia ini"
__ADS_1
"Dunia?" tanyanya bingung. "Rey!! Apa yang kau lakukan?" terdengar suara pria lain yang menghampirinya. Pria itu si pemanah.
"eh maksud ku negeri ini, aku berasal dari pulau kecil di luar negeri" sial aku salah bicara.
Si pemanah menatap ke arah ku. "Siapa dia?" tanyanya turun dari kuda.
"ntahlah aku belum menanyakan namanya, dia mengatakan dia berasal dari luar negeri di pulau kecil" jawab pria yang di panggil Rey.
"Luar negeri pulau kecil?" Zee tampak mencerna. "Apa nama pulaunya?" tanyanya.
"egh Forestland!" ucapku spontan, ku lirik ke arah Poko dia menutupi mulutnya seolah tertawa dengan apa yang ku katakan. Semoga mereka percaya, setidaknya aku menggunakan bahasa inggris dan semoga di negeri ini belum mengerti bahasa inggris.
"Forestland? Dimana itu? Aku belum pernah mendengarnya" tanya Rey bingung.
"Bukannya sudah aku bilang, di luar negeri." Jawabku acuh.
"Siapa namamu?" tanya Zee menatapku. 'Haa tampannya'
"Hana, Hanamori" ucapku
"Nama yang unik, namaku Rey, dan ini kakakku Zee" ucapnya memperkenalkan diri.
"egh, yaa hai, aku harus pergi selamat tinggal.." aku langsung berlari menjauhi mereka masuk ke dalam hutan dan bersembunyi.
"Kenapa dia lari?" Tanya Rey bingung.
"Gadis aneh, bukannya dia bilang tersesat tapi kenapa malah masuk ke dalam hutan bukannya meminta tolong" ucap Rey menaikki kudanya dan meninggalkan tempat pertemuan kami.
Aku dan Poko sampai di tempat Bear dan langsung di sambut dengan wajah imutnya.
"Growl.."
"Bear!!" aku langsung memeluk Bear saat sampai di tempatnya. "aah, apa kamu merindukanku?"
"Growl.." jawabnya mengusapkan kepala ke tubuhku.
"Growl!" seolah menyetujui ajakkan ku, kamipun berangkat menuju sungai. Aku naik di tubuh Bear, seolah sedang menunggangi kuda. 'ah aku merindukan gumpalan bulu yang nyaman'
Dari tempat yang sulit terlihat, aku merasa seseorang sedang menatap ke arah ku dan hanya berdiam.
'apa aku sedang diawasi?' aku memperhatikan sekitar, dan hanya ada suara jangkrik yang terdengar.
*****
"Cincin kamu mana yang gak perlu kamu pake?" katanya menunjuk ke arah kedua jari tanganku yang memakai cincin, di tangan kiri aku memakai cincin di jari tengah dan di tangan kanan aku memakai cincin di jari manis.
"Ini aku pinjem dulu nanti aku balikin, enggak deh nanti aku ganti tahun depan." Ucapnya melepaskan cincin di jari tengahku. Jujur saja aku sangat bahagia dengan perkataannya aku bisa melihat wajahku yang memerah. Bukannya itu lamaran secara tidak langsung? Bodohnya aku berfikir seperti itu.
Aku mempercayai kata-katanya, setiap kata manis yang keluar dari mulutnya. Hingga akhirnya kata-kata itu menjadi racun untuk diriku.
'Sial!! Kenapa aku bermimpi tentang si cowok brengsek itu!' batinku kesal.
"Meow? (kau kenapa?)"
"Ahh tidak apa-apa, hanya bermimpi buruk" jawabku sambil melakukan perenggangan tubuh. 'Semoga hanya mimpi buruk bukan hari yang buruk. Setidaknya di dunia ini tidak ada cowok brengsek yang belum mengembalikan cincin ku!'
"Poko, apa kamu lihat bibi?"
"Meow.. (tidak)" di atas meja sudah tersedia sarapan dan tidak lupa semangkuk susu untuk Poko, sepertinya bibi sudah pergi.
"Baiklah mari kita sarapan dan mencari udara di luar!"
"aah kenyangnya.." ucapku sambil mengelus-elus perutku yang buncit.
Karena perutku sudah diberi tumbal, ku rasa cukup sampai siang nanti, ku putuskan untuk jalan-jalan di desa. Bosan juga rasanya kalau hanya bermain di hutan, lagi pula sekarang aku sudah punya alas kaki jadi tidak akan kelihatan aneh.
"Meow! (ada yang datang!)" Poko memperingati saat aku sudah menutup pintu rumah untuk mulai menelusuri desa.
"Hey Wanita!" ucap seorang pria yang mengenakan pakaian hitam tiba-tiba muncul di hadapanku.
__ADS_1
"Poko ayo kita pergi.." ucapku tanpa menghiraukan Max yang berdiri di hadapan kami.
"Hey aku bicara denganmu!" bentaknya.
"Sudah ku bilang! Aku punya nama! Namaku HANA! HA NA!" ucapku tidak kalah membentak. "Bagaimana kamu tahu kalau aku ada disini?" sambungku.
"Dari baumu.."
'Bau? Apa aku sebau itu?' batinku tidak terima. Aku mecium tubuhku, ku rasa tidak seburuk itu sampai bisa tercium olehnya. Aku ingat aku kemarin memang tidak sempat berendam di danau, aku hanya mandi saat malam ketika pulang setelah bermain dengan Bear.
"Aku butuh bantuanmu.." ucapnya yang langsung mendekat.
"Hey!! Apa yang kamu lakukan!!" ucapku ketika Max mengangkatku dengan mudah layaknya karung di punggungnya. "hey! Aku ini manusia! Sopanlah sedikit jika ingin meminta tolong!" ucapku masih memberontak.
"Keluargaku terluka, aku ingin kau mengobatinya" ucapnya yang masih mengangkutku layaknya barang dan melompat dari pohon ke pohon, bukan melompat sepertinya dia bisa terbang juga.
'Poko selamatkan aku..' batinku memohon.
"Kita sudah sampai.." ucapnya menurunkan ku. Aku terhuyung kepalaku masih pusing karena posisi terbalik tadi.
"Ahhh!!! Kamu mau membunuhku?" ucapku ketakutan melihat sekeliling banyak serigala. Sebenarnya aku ada dimana? Apa dia mau balas dendam dan menjadikan aku makanan serigala ini.
"Tuan anda sudah kembali" ucap seorang pria yang tiba-tiba muncul ntah dari mana memberi salam layaknya seorang pelayan kepada tuannya.
"Bagaimana keadaannya?"
"Masih belum ada perkembangan tuan, sepertinya luka yang didapatnya cukup serius" Max menggandeng lenganku untuk menemui seseorang yang terluka itu.
Apa ini sebuah gua? Gelap dan dindingnya batu. Seseorang terbaring di lantai dengan luka di lengan dan kakinya.
"Apa dia keluargamu yang terluka?" tanyaku, dia hanya mengangguk mengiyakan pertanyaanku.
"Kau bisa menyembuhkannya?"
"Aku tidak bisa" ucapku pasrah.
"Kau berbohong! Jika kau tidak bisa menyembuhkannya jangan harap bisa keluar dari tempat ini dengan selamat!" ucapannya spontan membuat jantungku berdebar, membayangkan apa yang ada di depan banyak serigala yang melihat ke arahku, bisa –bisa aku dijadikan makan malam mereka.
"Bagaimana bisa aku menyembuhkannya! Sedangkan aku saja tidak punya bahan obat-obatan yang ku butuhkan!" ucapku menghilangkan rasa takut.
"Apa yang kau butuhkan? Katakan kepadanya biar dia yang mencari.." Max menurunkan nada bicaranya dan menunjuk kepada salah satu pria yang menyambut kedatangannya tadi.
Sepertinya pria yang terbaring itu sangat berharga, akupun mengatakan beberapa bahan yang aku perlukan kepada seorang pria yang ditunjuk Max, menjelaskan secara detail bagaimana bentuknya agar tidak salah.
"Apa yang terjadi kenapa dia bisa terluka separah ini?" tanyaku sambil duduk memeriksa luka pria yang disebutnya keluarga ini. Dia hanya diam seribu bahasa. 'aah salahku menanyakan kepada pria tidak punya hati ini'
"Bantu aku melepaskan pakaiannya dan ambilkan aku air untuk membersihakan lukanya" dia menuruti permintaanku. 'eeh ternyata tidak buruk juga' batinku.
Aku mulai membersihkan luka-luka di tubuhnya, membersihkan dengan hati-hati agar dia tidak merintih kesakitan, karena nyawaku mungkin saja hanya bisa sampai malam ini. 'badannya bagus juga' batinku nakal tanganku meraba ke dada bidang dan roti sobek yang terpampang di depan mataku.
"Tuan ini bahan-bahan yang di perlukan" ucap seorang yang tadi membantu mengumpulkan bahan yang ku perlukan. Dia memberikan bahan-bahan itu kepadaku.
"Mulailah, aku tidak akan menganggumu." Ucapnya langsung pergi.
Aku mulai mengolah bahan-bahan dan mengolesi ke lukanya. "argh.." ucapnya merintih kesakitan. "tenanglah lukamu akan terbuka lagi jika banyak bergerak" ucapku sambil meniup-niup lukanya.
"Siapa kau? Bagaimana bisa manusia biasa sepertimu masuk kesini."
"Manusia? Bukannya kamu juga manusia? Max yang membawa paksaku kesini untuk mengobatimu. Diamlah atau lukamu tidak akan sembuh."
"Tuan membiarkan manusia sepertimu masuk?" ucapnya tidak percaya. "Iya" jawabku singkat dengan masih fokus ke luka-luka di tubuhnya.
"Siapa namamu?" tanyaku membuat obrolan. "Lary" jawabnya singkat dan hanya keheningan yang tertinggal.
'Aah akhirnya selesai juga' bantiku. Sepertinya dia tertidur selama aku mengobati lukanya.
"Apa sudah selesai?" Max tiba-tiba muncul di belakangku. "hmm.." jawabku menganggukkan kepala. "Kruuyukk~" aiihs perutku meminta tumbal kembali, apa selama itu aku mengobati lukanya sampai perutku meminta tumbal.
"kau lapar?" aku hanya mengangguk mengiyakan pertanyaannya. "Makanlah.." ucapnya memberikanku beberapa buah-buahan. "Terima kasih.." ucapku langsung melahap buah yang ada di depan mataku.
__ADS_1