Kabisat Dream (Love From Another World)

Kabisat Dream (Love From Another World)
KESEMPATAN


__ADS_3

Sudah dua bulan dan aku masih belum tahu bagaimana nasibku di dunia ini. Aku rindu, rindu dengan kehidupanku sebelumnya, tidak ku pungkiri aku juga merindukan cowok brengsek itu!


“Bibi mau kemana?” tanyaku kepada bibi yang sudah bersiap untuk pergi.


“Bibi mau pergi ke kota untuk menjual obat-obat ini..” jawab bibi yang sedang memegang keranjang berisi beberapa botol obat-obatan.


“Bolehkah aku ikut pergi ke kota juga?” tanyaku memelas.


Bibi terseyum mengelus pucuk kepalaku, “Tentu saja, asal kau berjanji tidak jauh-jauh dari bibi”


‘Yeah! Akhirnya aku bisa ke kota lagi’ batinku senang.


Di kota sama seperti waktu aku pergi bersama Rey, ramai dan banyak hal yang menarik seperti makanan yang banyak di jual dan tentu saja musik yang membuat orang ingin ikut menari


“Kakak.. bukannya kakak yang waktu itu menari bersama kami.. ayo kita menari lagi kak..” seorang anak kecil yang waktu itu menari bersama menghampiriku.


“Maaf, mungkin lain kali..” jawabku menunduk dan mengelus kepalanya. Dia mengangguk seperti sedikit kecewa dan tersenyum kembali.


“Hana, kau pernah pergi ke kota sebelumnya? Kenapa tidak memberi tahu bibi” aku lupa bibi disampingku dan memang tidak berniat memberi tahu bibi kalau aku pergi ke kota bersama Rey.


“Egh,, itu.. maaf” ucapku menyesal.


Bibi tersenyum “Bibi tidak akan melarangmu pergi ke kota, namun kau harus lebih berhati-hati karena kota tidak seaman di desa” ucap bibi. Aku mengangguk mengerti.


Sampai di toko penjual obat-obatan bibi berbincang-bincang lama dengan pemiliknya, bibi mengatakan jika pemiliknya adalah teman lama bibi. Aku mulai bosan berada di ruangan yang penuh dengan bau obat-obatan ini dan hanya duduk.


“Bibi, apa aku boleh pergi keluar jalan-jalan sebentar? Aku bosan…”


“Ya ampun maafkan bibi, bibi lupa jika bibi bersama denganmu. Jalan-jalan lah keluar bibi akan menunggumu disini.”


‘Bagaimana bisa bibi lupa pergi denganku’ gerutuku sambil menelusuri jalanan kota.


“Hana..” seseorang memanggilku dari belakang. “Ternyata benar itu kau.. aku melihatmu keluar dari toko obat-obatan apa kau sakit?”


“Tidak, aku hanya menemani bibi ku menemui teman lamanya”


“Oh,, kau bosan mendengar percakapan mereka dan memutuskan untuk jalan-jalan keluar” aku menggangguk. Bagaimana bisa dia tau, apa terlihat jelas dari wajahku.


“Hm,, Rey bagaimana pertemuan mu di istana waktu itu?” tanyaku membuka pembicaraan.


“Lancar.. apa kau pulang dengan selamat?” tanyanya memeriksa keadaanku.


“Rey, kalau aku tidak selamat, apa mungkin aku masih berdiri di depanmu sekarang” Rey tertawa.


“Rey, apa kamu sering pergi ke istana?” tanyaku penasaran.


“Ya tentu, aku tinggal di dalam istana..” ucapnya.


Mungkin Rey bisa membantuku untuk keluar dari dunia ini, bibi bilang buku tentang sejarah negara ini ada di dalam perpustakaan istana, mungkin akan lebih banyak buku yang bisa ku baca untuk petunjuk disana.


“Apa kamu bekerja di dalam istana Rey?”


“Ha?” Rey bingung dengan pertanyaanku. ‘Kenapa? Apa ada yang salah dengan pertanyaanku?’


“Rey apa benar di perpustakaan istana banyak buku-buku yang menarik?” lanjutku


“Yaa di perpustakaan istana banyak sekali buku-buku yang menarik, apa kau suka membaca buku?”

__ADS_1


“hmm, sedikit..” jawabku, sejujurnya aku sama sekali tidak menyukai membaca buku jika itu tidak menarik apa lagi kalau hanya menampilkan tulisan.


“Kruyuukk~” aah dasar perut tidak tau sopan santun saat meminta tumbal.


“Hahaha kau lapar?” tanya Rey tertawa melihatku


“Menurutmu?” jawabku menahan malu.


“Ayo ikut, aku tau kedai makanan yang enak disini..”


Aku mengikuti Rey dan sampai di depan makanan yang di maksud.


“Kenapa tidak masuk?” tanya Rey saat kakiku sangat berat untuk melangkah masuk, aku baru ingat kalau aku tidak membawa uang sama sekali.


“Egh,, hmm itu Rey..” aku malu mengatakannya dengan memainkan kedua jari telunjukku saling berdekatan.


Rey tersenyum melihat tingkah konyolku “Tidak usah khawatir aku yang bayar, kau bisa makan sepuasnya..”


“Benarkah!”


“Tentu saja..” ucapnya mendorongku masuk.


Setelah memberikan tumbal untuk perutku, aku berniat untuk kembali ke rumah teman bibi. Rey berjalan disampingku, aku tiba-tiba berhenti saat melihat selembar kertas yang tertempel di tembok sebuah kios dengan huruf aneh.


“Kenapa?” tanya Rey bingung karena aku tiba-tiba berhenti.


“Ini..” ucapku menunjuk ke arah selembaran.


“Oh ini, iya istana sedang mencari beberapa orang untuk membantu tabib istana sekaligus menjadi muridnya” jelas Rey.


‘Bagus dengan begini aku bisa menjadi bagian dari istana..’


*****


“Tentu saja..” ucap bibi sambil memegang pipi ku.


“Asyik!! Berarti bibi mau mengajariku kan..” ucapku dengan mata berbinar.


Bibi tersenyum melihat tingkah lakuku yang seperti anak kucing “Kalo begitu ayo kita mulai..” ucap bibi menuju kerjanya.


Bibi mengajariku berbagai jenis bahan obat-obatan yang masih asing di telingaku, dan mengulang kembali apa yang sudah pernah diajarkan.


*****


Sudah satu minggu lebih bibi mengajariku tentang obat-obatan, dan ini hari dimana pemilihan asisten tabib diadakan.


“Bibi, aku pergi dulu terimakasih sudah mengajariku berbagai macam obat-obatan, aku tidak akan mengecewakan bibi” ucapku sebelum pergi dan memeluk bibi.


“Jika kau gagal tidak apa-apa, karena kau sudah berusaha semampunya.” Jawab bibi sambil memegang pipiku. Aku tersenyum dan pamit pergi.


Berbeda dengan anak-anak yang lainnya, aku pergi ditemani dengan seekor teman karena bibi masih ada pekerjaan yang harus dia selesaikan.


“Wah, lihatlah Poko kota ini lebih ramai dari sebelumnya” ucapku meperhatikan sekeliling kota yang lebih padat dari sebelumnya. Akupun baru sadar jika aku belum pernah ke istana dan tidak tau arah ke istana. ‘Sial! Kenapa tidak terpikirkan dari kemarin!’ batinku.


“Permisi, maaf kalau boleh tau arah ke istana kemana ya?” tanyaku kepada seorang pria.


Dia melihatku dari atas sampai bawah ‘apa yang salah dengan pakaianku!’ “Apa kau mau ke istana?” aku megangguk. Sambil tersenyum di berkata “Biar aku antar..”

__ADS_1


Sial! Yang ku tau jika seorang  pria sudah mengatakannya pasti ada udang dibalik batu.


“Tidak perlu repot-repot cukup tunjukkan saja kemana arahnya” tolakku. Wajahnya terlihat tidak senang dengan penolakanku. ‘aah kenapa aku harus berurusan dengan pria brengsek disaat seperti ini’.


“MEEOOWW!!” Poko melompat dari pelukanku dan mengenai wajah pria tersebut, ‘bagus Poko’ ini kesempatan ku melarikan diri.


Jika sudah seperti ini aku hanya bisa mengandalkan istingku saja, pertama-tama aku harus mencari tempat yang ramai, kedua jadilah penguping yang baik.


“Apa kau tau hari ini istana akan memilih seorang asisten untuk jadi tabib istana” ucap seorang gadis muda kepada temannya.


“Apa kau akan mengikuti kompetisi itu?” tanya temannya.


“Yah, tidak mungkin orang seperti kita bisa menang dalam kompetisi itu, kau tau sendiri yang mengikuti kompetisi itu orang-orang yang sudah tinggi kastanya, mungkin yang berhasil adalah orang yang dapat membayar lebih tinggi dari yang lain.” Haa, hatiku tidak enak setelah mendengar percakapan mereka.


“Yah, kau benar, namun tidak ada salahnya kan kita ikut menonton, kompetisi ini terbuka untuk umum, bagaimana jika melihat kesana, mungkin kita juga bisa bertemu dengan kaisar dan pangeran” mereka bersemangat lalu pergi.


Ketiga, jadilah penguntit yang baik. Aku mengikuti mereka hingga sampailah di depan gerbang istana. Aku melakukan pendaftaran peserta, dan berjalan masuk ke dalam istana.


Masih memikirkan perkataan dua orang tadi, jika memang iya kompetisi ini tidak adil kenapa dibuat selembaran seperti itu dan membuat orang-orang seperti ku berharap. Aku memperhatikan sekelilingku kenapa suasananya berubah menjadi sepi seperti ini. Mataku tertuju ke sebuah kolam dengan pohon rindang di pinggirnya.


‘disini sejuk sekali, walau mataharinya terik’ aku memejamkan mata dan menghirup udara dalam-dalam merasakan hembusan angin yang menerbangkan setiap helaian rambutku.


“Siapa kau!?” aku spontan menoleh ke arah datang suara. Dia pria yang pernah ku lihat di danau waktu itu, pria dengan rambut hitam panjang dan mata cokelat yang indah.


“Ma..maaf aku peserta yang akan mengikuti kompetisi pemilihan asisten tabib, tapi aku tersesat hingga sampailah ke tempat yang indah ini.”


Pria itu melangkah mendekat dan mengambil helaian rambutku yang terlepas dari selendang, dia menatapku lekat-lekat dengan mata indahnya, gawat jantungku!


Aku tersadar dengan cepat mundur dan menaikkan lagi seledang yang ku kenakan hingga menutupi rambutku. “Maaf aku harus pergi sepertinya kompetisi akan segera dimulai.”


*****


Aku menunggu giliran dikursi yang sudah disediakan, sepertinya percakapan yang ku dengar tadi benar. Peserta yang ikut dalam kompetisi ini rata-rata memiliki kasta yang tinggi, berbeda denganku yang hanya gadis aneh dari desa. Sial! Aku jadi pesimis.


“Apa kau menyukai tanaman?” tanya seorang pemuda yang duduk disebelahku.


“yah, aku menyukainya, tapi aku lebih menyukai kegunaan mereka.”


“Benarkah? Jadi apa kau tau kalau seperti kita tidak akan bisa memenangkan kompetisi ini..”


“Kenapa tidak bisa?” tanyaku seolah belum mengetahuinya.


“Kau lihat yang duduk disebelah sana?” dia menunjuk ke arah seorang gadis dengan pakaian yang elegan, dan hiasan mahal yang dikenakan. “Dia adalah anak dari menteri di istana.. dan yang disana..” dia menunjuk ke arah seorang pemuda yang kastanya tidak jauh berbeda dengan gadis tadi. “Dia adalah keponakan dari teman tabib yang sedang mencari asisten” aku hanya mengangguk-anggukan kepala.


“Kau lihat kebanyakan dari mereka memiliki hubungan dengan istana, berbeda dengan kita yang hanya rakyat biasa..” aku mulai memperhatikan sekelilingku, dan dia benar aku seperti di dunia yang berbeda sekarang. ‘hei bukankah aku memang sedang di dunia yang berbeda!’


“Lalu apa kamu juga mengikuti kompetisi ini padahal sudah pasti tidak akan lolos?”


Dia tersenyum “Yah, aku hanya menggunakan kesempatan ini untuk masuk ke dalam istana, lumayan kan bisa masuk ke dalam istana yang tidak sembarangan orang bisa masuk. Penonton saja hanya bisa berada di halaman depan istana saja, hanya peserta yang boleh masuk.” Hmm, benar juga.


“Aku Hana..” ucapku tersenyum, “Siapa namamu?”


“Namaku Loki” kami saling berjabat tangan dan mengikuti kompetisi sampai akhir.


Sampai akhir pertandingan semua yang dikatakan mereka benar adanya, yang menang dalam kompetisi adalah mereka yang memiliki lebih banyak harta dibandingkan yang lainnya. Di zaman sekarang penjabat yang korupsi juga banyak. Kalau sudah begini bagaimana lagi caraku agar bisa masuk ke dalam perpustakaan istana dan mencari tau cara agar bisa kembali.


 

__ADS_1


 


__ADS_2