
Hari yang panjang berlalu, tirai penghalang sinar matahari dibuka dan menusuk mata.
“Nona.. nona..”
“Egh” aku membuka mataku dengan enggan “Kin?” dengan malas aku duduk menyandarkan tubuhku mengumpulkan nyawa.
“Nona, guru yang akan mengajar anda hari ini sudah datang”
“Kin? Bukannya kamu masih belum pulih?”
“Berkat obat yang diberikan nona kondisi saya sekarang sudah membaik”
“Baguslah..” ucapku masih dengan nyawa yang belum penuh.
“Nona.. nona harus segera bersiap Madam Veronica sudah menunggu anda”
“Madam Veronica? Siapa?”
“Dia guru yang akan mengajar nona”
“Apa?!” aku bergegas beranjak dari kasur dan dibantu Kin bersiap menemui Madam
“Kin, Madam Veronica orang yang seperti apa?”
“Hmm, saya kurang tahu nona, namun yang saya dengar dia orang yang cukup sulit untuk dilayani..”
‘cukup sulit? Hmm sepertinya aku akan membuat keributan baru lagi’
Kami sampai di ruangan yang menjadi ruang tunggu Madam dan ruang untukku belajar. Kin pamit undur diri.
Seorang wanita yang terlihat elegan dengan memegang kipas menutupi separuh wajahnya menatapku tajam
“Hmm, Madam Veronica?” ku coba membuka suara
Dia hanya menatap tajam ke arahku, tatapan tidak suka. “Selama aku mengajar baru kali ini aku mendapatkan murid yang kurang ajar.” Ucapnya penuh penekanan
“Jadi apa kau calon permaisuri yang dibicarakan itu? yang harus aku ajari?”
Aku mengangguk, “i..iyaa” tatapan mengintimidasinya lebih dashyat dibandingkan para iblis dalam istana.
“Hmm” dia menutup kipas yang menghalangi wajahnya “Aku tidak percaya aku akan dimintai tolong untuk mengajar calon permaisuri yang di hari pertama saja sudah telat, bahkan tidak ada rasa hormatnya”
‘haa, kesalahan ku selalu diungkit’
Madam Veronica masih menatapku tajam, seolah menginginkan sesuatu dariku.
“Kau tahu seorang permaisuri harus bisa mengatur, terutama mengatur waktunya sendiri! Bagaimana bisa kau dipilih menjadi calon permaisuri dari kerajaan ini.”
__ADS_1
‘Sial! Aku telat karena malam penuh kerinduan!’
“Aku sudah melakukan kesalahan karena membuat Madam Veronica menunggu, maafkan aku” ucapku. Yang pertama kali harus dilakukan adalah meminta maaf atas keterlambatan. Tidak peduli apapun alasanmu mau macet atau hujan badai, tidak bisa menutupi kenyataan bahwa kalian telat, jadi minta maaflah terlebih dahulu.
Madam Veronica menurunkan tatapan tajamnya seolah sudah mendapatkan apa yang dia inginkan. “Baguslah ternyata kau tahu cara meminta maaf” Lihatlah salah satu dari tiga kata ajaib berfungsi.
Madam Veronica beranjak dari tempat duduknya melihatku dari ujung kepala sampai ujung kaki “Hmm, aku dengar kau dulunya seorang pelayan, bagaimana bisa sekarang menjadi calon permaisuri? Pelayan rendahan sepertimu yang tidak jelas asal usul nya”
“Sebelumnya aku tidak kenal Madam Veronica dan sekarang Madam berbicara seolah sudah mengenalku?”
Mata mengintimidasinya mulai lagi “Kau tidak menunduk saat bebicara denganku?”
“Untuk apa aku menunduk berbicara dengan Madam yang memakai sepatu lebih tinggi dari ku? Bukankah lebih sopan jika berbicara sambil menatap mata lawan bicara?”
Madam Veronica tersenyum tipis “Aku tidak tahu apa yang membuat Yang Mulia lebih memilihmu yang tidak jelas asal usulnya dibandingkan dengan Maura yang sudah lama disisinya dan selalu bersikap sopan”
‘Maura? Sopan? Yang benar saja!’
“Apa Madam Veronica tahu Forestland?” kata yang sudah lama tidak ku ucap karena memang hanya karanganku saja
“Forestland?” beonya. ‘tentu saja dia tidak tahu pulau yang ku karang’
“Yah, aku berasal dari sana”
“Aku sering berpergian keluar dari kekaisaran ini, tapi belum pernah mendengar nama itu”
“Hmm, itu mungkin karena Madam mainnya kurang jauh..”
“Apa kau bilang!” ucapnya kesal. ‘tidak buruk juga mempermainkan seorang guru’
“Madam Veronica kapan kita akan mulai belajar?” tanyaku mengabaikannya dengan menganti topik
“Baiklah kita akan mulai dari memperbaiki sikapmu.. dan panggil aku Madam Vero”
‘cih! kenapa harus sikap? Bukankah yang ku perlukan guru untuk mengajariku menulis dan membaca?’
“Madam, tidak bisakah kita langsung ke materi saja?”
“Tidak! Seorang permaisuri harus memperhatikan sikapnya, dan kau ketika datang tidak memberikan salam.” Tolaknya
‘Astaga aku benar-benar lupa memberinya salam’
“Hmm, bukannya kaisar menyuruhmu mengajariku membaca dan menulis?”
“Apa? Apa kau menghinaku? Aku diminta Yang Mulia untuk mengajarimu menjadi permaisuri yang baik! Bukan mengajari membaca dan menulis untuk anak kecil!”
‘Sial! Sen kamu salah membawa guru!’
__ADS_1
“Sepertinya ada kesalahan Madam.. aku meminta kaisar mencarikan guru untuk mengajariku membaca dan menulis..”
“APA?!! Bagaimana bisa seorang calon permaisuri tidak bisa menulis bahkan membaca?” sepertinya Madam Veronica benar-benar tidak tahu tentang ini.
“Sudah ku duga, gadis yang tidak jelas asal-usulnya tidak mungkin punya kelebihan bahkan dia tidak bisa membaca dan menulis. Aku akan menemui kaisar untuk meminta mempertimbangkan lagi pilihannya..” Madam bergumam seolah tidak ada aku di dekatnya. ‘haa aku tidak terlihat di matanya’
“Bagaimana bisa kau hidup tanpa tahu caranya membaca dan menulis?” tatapnya sinis
“Siapa bilang aku tidak tahu cara membaca dan menulis? Aku tahu, hanya saja tulisan di tempatku dan di kerajaan ini sangat berbeda!”
“Apa maksudmu? Selama aku berpergian semua tulisan dari kerajaan satu dan lainnya sama”
‘eh, apa sekarang saatnya aku memiliki satu poin lagi?’
“Apa Madam bisa membaca dan menulis tulisan kuno?” tanya ku tepat sasaran. Madam terdiam mendengar pertanyaanku. Tentu saja di dunia ini sedikit orang yang mengerti tulisan kuno.
“Di tempat tinggalku dulu, kami berbicara dan menulis menggunakan bahasa kuno”
‘lihat.. aku satu tingkat di atas mu bukan”
“Apa? Apa kau mengerti bahasa kuno?”
Aku mengangguk tentu saja dengan perasaan bangga karena tatapan intimidasinya mulai berkurang.
Madam berjalan ke arah peta besar yang tergantung sebagai hiasan di dinding dengan bingkai yang menghiasi pinggirannya. “Dimana Forestland yang kau tinggali itu?” tanyanya sambil melihat ke arah peta yang tergantung
‘Tentu saja di khayalanku Madam..’
“Kenapa Madam bertanya?”
“Tentu saja untuk mengunjunginya.” Ucapnya mantap
“egh??” aku memutar otak untuk memberikan sebuah alasan. “Sebaiknya lupakan saja keinginan Madam itu..”
“Kenapa?”
“Karena tempat asalku tidak bisa di temukan dengan mudah bahkan tidak bisa di datangi seenaknya” ucapku memberi alasan
“Apa? Bagaimana bisa?”
“Hmm, untuk melestarikan warisan kuno” jawabku asal. ‘aku bahkan takjub dengan mulutku yang bisa merangkai alasan berbicara dengan lancar tanpa pikir panjang’
“Dan kau?”
“Aku?” beo ku. ‘Ah sial! Secara tidak langsung aku menetapkan diriku sebagai warisan kuno!’
“Tentu saja aku kabur! Karena ingin melihat dunia luar. Dan siapapun yang keluar dari tempat asalku dulu tidak bisa pulang lagi”
__ADS_1
Madam Vero menatapku tidak percaya dan menghela napas “Haa, aku mengerti perasaanmu..” ucapnya beranjak dari peta seolah sudah menyerah dengan keinginannya.
“Baiklah kita akan memulainya dari dasar..” ucapnya bersikap seperti seorang guru yang tulus mengajar anak didiknya tanpa memandang kasta.