Kabisat Dream (Love From Another World)

Kabisat Dream (Love From Another World)
SURGA DUNIA


__ADS_3

Setelah mengambil beberapa tanaman obat, aku berniat memanjakan diriku. Sudah lama aku tidak pergi ke danau untuk melepas kepenatan ini, tempat pertama kali aku menginjakkan kaki di dunia ini. Jika kalian bertanya apa aku merindukan duniaku, tentu saja aku merindukannya. Aku merindukan orang-orang disana, orang tuaku, kakakku, teman-temanku, tapi tidak untuk laki-laki brengsek itu.


“Haaa… benar-benar menyegarkan!” aku menceburkan diriku ke dalam air danau


‘benar-benar menyegarkan! setelah berhadapan dengan wanita iblis memang lebih baik mendinginkan kepala..’


Aku mengingatnya, kejadian saat pertama kali aku masuk ke dunia ini dan sampai sekarang masih menjadi misteri bagaimana cara kembali ke duniaku. Aku memejamkan mata, merasakan angin yang berhembus menyatuh dengan alam, dan melupakan semua hal buruk yang telah terjadi. ‘surga dunia’


Setelah selesai bersatu dengan alam aku mengenakan pakaianku kembali. Semua tanaman obat sudah ku kumpulkan, ‘Saatnya kembali ke istana..’


“Hana..”


Aku menoleh ke arah suara, dua orang pria berjalan menghampiriku, bukan berjalan lebih ke melompat dari atas pohon dan turun ke hadapanku.


“Bagaimana keadaanmu?” tanyanya melirik ke arah tanaman obat yang ku bawa


“Max.. aku baik-baik saja.. ini untuk temanku”


“Temanmu sepertinya sering terluka”


“Yah, karena kami tinggal bersama iblis”


“Iblis?”


“Hmm,, manusia berkelakuan iblis” jelasku. “Oh ya pria disampingmu..” aku mengingat-ingat wajah yang tidak asing


“Lary” ucap Max, pria disebelahnyapun menundukkan kepala sebagai tanda hormat


“Lary? Oh ya aku ingat, bagaimana dengan lukamu?”


“Terima kasih berkat nona aku sekarang sudah baik-baik saja”


“Hana kau kembali lagi ke istana? Bukankah kau bilang kehidupan di istana tempat itu rumit?”


Aku mengangguk, “Yah walaupun rumit tapi aku masih memiliki urusan disana jadi aku kembali” jelasku kepada Max


‘tepatnya aku dipaksa kembali ke istana, menjadi umpan lagi demi menyingkirkan para iblis dan mencari jalan pulang’


“Baiklah aku akan menempatkan Lary disisimu”


“Apa? Tidak perlu Max”


“Kenapa? Setidaknya dia bisa menjagamu”


‘lihatlah Max sudah mengambil peran seorang kakak untuk melindungi adiknya’


“Benar nona, saya bisa menjaga nona. Dan sebagai balasan karena nona sudah menolong saya” Lary ikut bersuara


“Terima kasih Lary, tapi sungguh tidak perlu, karena aku bisa menjaga diriku sendiri..” tolakku


“Apa menurut berjalan bersama seekor makhluk kecil itu lebih aman?” Max menoleh ke arah Poko yang berjalan bersamaku


“Meow? (apa masalahmu?)” Poko yang dari tadi hanya diam ikut menjadi bahan obrolan


“Dia temanku Max, dan dia juga sudah sering membantuku”


“Baiklah, jika kau butuh bantuan kau bisa menemuiku” ucap Max menyerah

__ADS_1


“Tentu!” ucapku. “Oh ya Max apa kamu tahu tentang kekuatan spiritual?”


“Yah, kenapa?”


“Hmm, seseorang pernah berkata kepadaku, jika rambutku yang cokelat keemasan ini berarti aku mempunyai kekuatan spiritual tapi dia mengatakan kekuatanku kosong”


Max menyelidiki, memperhatikan rambutku, “Hmm bukankah kau sudah menggunakan kekuatan spiritualmu?”


“Ha? Kapan? Aku tidak pernah merasa menggunakannya”


Max menunjuk ke arah Poko “Temanmu..”


“Maksudmu? Aku menggunakan kekuatan spiritual sehingga mengerti dengan apa yang dia katakan?”


“Yah, kurang lebih seperti itu”


‘Keren! Fakta ini yang ku butuhkan agar tidak mengangap diriku sudah gila karena mengerti bahasa hewan!’


“Baiklah Max terima kasih sudah menjelaskan.. kalau begitu aku pamit.. bye bye” aku pamit pergi kembali karena sudah terlalu lama aku berada di luar istana


*****


Aku mengendap masuk ke dalam istana melalui hutan dibelakang penjara ditemani Poko sebagai map hidup, dan meracik obat untuk Kin. Kin sudah kembali ke kamarnya sendiri, dan lebih memudahkanku membawa obat ini tanpa ada pertanyaan dari penjaga.


“Nona..”


“Kin, berbalik biar aku oleskan obatnya”


“Jangan nona, saya bisa melakukannya..”


“Kin jangan menolak, kamu tidak akan bisa melakukannya sendiri, kamu butuh bantuan orang lain untuk mengolekan obat ini ke punggungmu”


Kin berfikir kemudian membiarkanku mengolesi obat ke punggungnya.


“Terima kasih nona”


“Tidak masalah, ini minumlah” aku menyuruh Kin meminum obat pahit yang selesai ku racik, terlihat dari wajahnya obat yang ku buat sangat pahit, akupun tidak akan meminum obat itu kalau tidak benar-benar perlu.


“Istirahatlah, aku akan kembali ke kamar, kamu tidak perlu mengantarku”


“Maafkan saya nona..”


“Berhentilah meminta maaf Kin, aku tidak apa-apa”


Aku keluar dari kamar Kin dan berjalan ke arah kamarku.


“Hana..” suara merdu seorang wanita. ‘ntah kenapa hari ini banyak sekali yang memanggil namaku’


“Calista..”


“Aku sudah mendengarnya, kau membuat keributan di kediaman selir Maura”


“hehehe kamu sudah dengar..”


“Kau tidak apa-apa?”


“Tentu, lihatlah..” aku berputar memperlihatkan kalau aku baik-baik saja

__ADS_1


“Syukurlah..” Calista memelukku, ‘sepertinya sekarang aku mempunyai kakak perempuan’


“Tenang saja aku tidak akan kalah dari iblis itu.. dan statusku sekarang lebih tinggi darinya” ucapku bangga


“Statusmu?”


“Yah, sekarang aku calon permaisuri bukan lagi calon selir”


“Benarkah? Aku senang mendengarnya, bukankah sekarang aku harus memanggilmu nona atau Yang Mulia?”


“Oh ayolah Calista jangan seperti itu, kan kamu sendiri yang bilang kalau kita ini teman. Jadi cukup panggil namaku saja”


“Hahaha aku tahu, aku hanya bercanda..”


“Apa yang menceritakan ini kepadamu itu Zee?”


“Tidak, aku mendengarnya dari pelayan istana, katanya kau menampar beberapa pelayan dari selir Maura”


“hmm, tanganku hanya bergerak lebih cepat dari otakku, itu pantas dilakukan karena mereka berani menyentuh orangku”


“Kau harus lebih berhati-hati lagi Hana, bukan hanya selir Maura saja pasti ibu suri juga akan ikut mempersulitmu”


“Calista, selir Vera bukan ibu suri. Yang Mulia mengatakan dengan jelas bahwa di istana ini tidak ada ibu suri”


“Baiklah ku harap kau baik-baik saja”


“Apa tidak ada pelayan yang mengantikanku?”


Calista menggelengkan kepalanya, ‘bagaimana bisa seorang selir tanpa pelayan di istana ini?’


“Aku lebih baik sendiri seperti ini, dengan begitu tidak ada yang tersakiti” ucap Calista


“Apa kamu bahagia sendirian?”


“Kau tahu Hana, aku selalu sendirian semenjak masuk ke istana ini, dan semenjak kau menjadi pelayanku aku merasa mempunyai teman yang bisa ku percaya”


Aku memeluk Calista “Jika kamu memerlukan seorang teman, kamu bisa menemuiku, dan akupun akan menemuimu..” aku melepas pelukanku


“Terima kasih Hana..” ucapnya mengenggam kedua telapak tanganku


Putri dari kerajaan yang sudah hancur kehilangan orang tua dan keluarga, dibawa ke kerajaan ini dengan alasan untuk melindunginya, padahal dia kesepian tanpa ada yang tahu kesedihan yang dia rasakan. Kenapa urusan istana serumit ini?


“Meow.. (Kau disini.. ada yang mencarimu)” Poko mendekati kami


Calista memandangi Poko, “Bukankah itu kucing pangeran ketiga?”


“yah ini sebenarnya ini kucingku, tapi karena tidak boleh membawa hewan peliharaan jadi aku menitipkannya kepada Rey” aku menggendong Poko dan memperlihatkan kepada Calista


‘Buatlah wajah yang imut agar Calista tersenyum’


“Mau coba mengendongnya?” Calista mengangguk dengan seutas senyuman di wajahnya


“Sepertinya Poko menyukaimu..”


“Poko?” beo Calista


“Namanya Poko..” Calista memperhatika wajah lucu Poko, yah siapa yang tidak tertarik dengan lucunya Poko kalau sudah memakai poker face

__ADS_1


“Hmm Calista, sepertinya ada yang mencariku, kamu bisa menjadikannya mainan dikala kamu bosan atau kesepian” ucapku dibalas tatapan tajam Poko


__ADS_2