
Waktu berlalu, sudah dua hari setelah aku memaksa Sen meminum obat namun belum ada tanda-tanda kesadaran Sen.
‘Apa obatnya kurang?’
Aku masuk kedalam kamar Sen tanpa mengetuk pintu, dan tabib sedang menganti perban Sen.
“Biar aku saja..” ucapku mengambil alih perban ditangan tabib.
“Tapi nona..”
“Tidak apa-apa aku bisa melakukannya sendiri”
“Sebenarnya siapa nona?” tanya tabib membuka percakapan disela aku mengantikan perban Sen.
“Maksudnya?”
“Bagaimana nona bisa tahu tentang tanaman obat itu?”
“Oh itu, bibi yang memberi tahuku”
“Siapa bibi yang nona maksud?”
“Bibi ku yaa bibi”
‘sial! Aku bahkan belum pernah menanyakan nama bibi yang sudah sering membantuku.’
“Bibi tinggal di desa, dan kadang ke kota untuk menjual obat racikannya” jelasku.
“Apa bibi nona bernama Poliska?”
‘Poliska? Bahkan aku saja tidak tahu nama bibi’
“Kenapa tabib jadi bertanya terus mengenai bibiku?” tanyaku berbalik setelah menganti perban Sen.
“Maafkan atas kelancangan saya nona, saya hanya penasaran”
“Tidak apa-apa, bagaimana keadaan Sen sekarang?”
“Yang Mulia masih belum sadar nona”
“Apa obatnya kurang?”
“Itu..”
“Tidak-tidak kali ini aku tidak akan meminumkannya lagi” ucapku memotong perkataan tabib, membayangkan rasa pahit di lidahku yang lama hilangnya, tidak akan pernah lagi.
“Seharusnya kau katakan jika kau akan membuatnya dan meminumkannya kepadaku lagi” suara Sen mengejutkanku. ‘bukankah tadi tabib bilang Sen masih belum sadar.’
“Saya permisi Yang Mulia” tabib pamit dan mendapat lambaian tangan dari Sen yang berarti pergilah.
“Kamu sudah sadar? Sejak kapan?”
__ADS_1
“Sejak ada yang mencuri ciuman pertamaku.”
“Apa? Sejak saat itu?”
“Yah aku bukannya tidak sadarkan diri, namun terlalu sakit untuk ku sadar”
“Bagaimana dengan sekarang?” tanganku reflek memegang wajahnya yang masih terlihat pucat.
“Kau lihat, sekarang aku tidak apa-apa” jawabnya memejamkan mata merasakan kehangatan tanganku. “Namun untuk sekarang, lebih baik tidak ada yang tahu tentang keadaanku yang sudah sembuh, sepertinya ada mata-mata di dalam istana”
“Apa? Siapa? Bagaimana bisa?”
“Apa akhir-akhir ini kau melihat Maura?”
‘benar juga akhir-akhir ini aku tidak pernah melihat anak iblis yang kehilangan induknya itu’
“Apa Maura mata-mata yang kamu maksud?”
“Orang suruhan ku melihat Maura berbincang dengan orang dari kerajaan Equestria”
“Lalu sekarang bagaimana?”
“Karena informasi keadaanku yang pulang dalam keadaan terluka, sepertinya mereka akan kembali menyerang langsung ke dalam istana” ucapnya santai
“APA? Bukankah sekarang saatnya kita menyusun rencana?”
“Apa yang kau takutkan? Sekarang berkatmu aku sudah pulih”
Sen tersenyum dengan wajah pucatnya, “Kau benar aku tidak pernah bisa berbohong kepadamu” Sen meletakkan kepalanya di bahuku.
“Sen istirahatlah, aku tidak suka melihat wajah pucatmu.”
“Apa ini artinya kau menyukaiku?”
“Ha? Apa? Bagaimana bisa kamu mendapat kesimpulan seperti itu?”
“Kau mengatakan tidak suka melihat wajah pucatku, aku anggap itu berarti kau mengkhawatirkan ku. Dan jika wajahku tidak pucat bukankah berarti kau menyukai wajahku?”
Aku terdiam mendengar penjelasan Sen yang mengusik hatiku.
“Aku anggap diammu berarti iya..” Sen mengelus kepalaku. ‘sial jantungku serasa akan keluar, hatiku ingin mengambil alih logika’
“Yah aku menyukaimu, aku menyukai Sen yang gagah, Sen yang berwajah tampan, Sen yang serius dan menyebalkan, Sen yang selalu ada disampingku, Yah aku suka, aku suka segalanya tentangmu, dan aku sakit saat melihatmu terluka, aku, aku mencintaimu Sen.” Semua perasaan yang selama ini ku tekan keluar semua, perasaan yang ku tekan karena aku masih ingin kembali ke duniaku, perasaan yang ku tekan karena takut akan berpisah dengannya, perasaan yang ku tekan karena tidak ingin merasakan sakitnya dikhianati.
Sen terdiam mendengar penuturanku, raut wajah tidak percaya terpancar, Sen langsung memelukku. “Kau tahu Hana, sepertinya aku sudah benar-benar pulih, semua rasanya akan berjalan lebih mudah, aku juga sangat mencintaimu Hana” Sen memegang pipi ku.
Wajahku panas, jantung berdegup kencang, apa aku bisa memulai kisah cintaku Kembali? Takut akan perpisahan masih menghantuiku. Sen mendekatkan wajahnya dan ciuman kedua kami terjadi setelah pengakuan cinta dua belah pihak.
Sen melepaskan ciumannya dan menatapku dalam, “Aku mencintaimu Hana, aku ingin cepat menikahimu, aku ingin kau selalu berada disampingku saatku bangun dan saatku tertidur”
‘Sen aku juga mencintaimu, tapi masih banyak rahasia yang belum ku katakan, apa aku masih bisa Bersama denganmu?’ batinku sakit mengingat identitasku.
__ADS_1
“Sen jika seandainya aku tiba-tiba menghilang, apa kamu akan mencariku?”
“Apa maksudmu menghilang? Kau tidak akan hilang kemana-mana, jika kau hilangpun akan ku cari sampai ketemu”
“Hmm, aku kan bilang seandainya”
“Hana.. berhenti memikirkan pengandaian untuk kita berpisah, karena mulai sekarang aku tidak akan pernah melepaskanmu, sampai kapanpun, kau wanitaku, satu-satunya Wanita yang akan menjadi pendampingku seumur hidup”
Kata-kata Sen memberikanku kekuatan akan ketakutan yang selama ini ku bayangkan tidak akan terjadi jika aku Bersama dengannya.
“Sen sebenarnya aku..”
“Maaf Yang Mulia, ada tamu dari kerajaan Equestria ingin bertemu” suara ksatria diluar ruangan memotong ucapanku.
“Aku kan menemuinya.” Ucap Sen.
Aku menghentikan Langkah Sen, “Sen aku akan ikut denganmu”
Sen mengelus kepalaku, “Kau disini saja jangan khawatir, sudah banyak ksatria yang berjaga, sebenarnya ini juga sudah masuk dalam rencana kami, untuk mengepung para pemberontak”
“Tapi bagaimana jika mereka sudah tahu? Bagaimana jika lebih dari satu mata-mata? Bagaimana jika mereka sudah menyiapkan sesuatu”
“Aku akan mengatasinya, kali ini Zee dan Rey ikut bersamaku, kau tunggu saja disini, aku akan menemuimu secepatnya.”
Sen mengenakan baju dan jubahnya, memelukku agar aku tidak khawatir, dan pergi meninggalkan ku sendiri diruangan.
Bagaimanapun aku tetap saja khawatir perasaanku tidak enak. Ketakutakan akan perpisahan perlahan kembali menghantuiku lagi.
*****
Sudah berapa lama aku menunggu di dalam ruangan ini sendirian, kenapa tidak terdengar apa-apa, kenapa tidak ada yang masuk?
Perasaanku semakin tidak enak dan akupun memutuskan untuk keluar dari kamar Sen.
“Meow? (Kau kemana saja?)” Poko menghampiriku
“Sen menyuruhku menunggu di dalam kamar”
“Nona kenapa anda berada disini sekarang?” seorang ksatria menghampiriku dengan wajah khawatir
“Memangnya kenapa? Kenapa aku tidak boleh disini?”
“Brak!!” terdengar bunyi benda jatuh dan samar terdengar suara aduan pedang.
“Apa yang terjadi?” tanyaku kepada ksatria tadi. Ksatria itu hanya diam dengan pertanyaanku, “Aku harus melihatnya sendiri” ucapku menerrobos ksatria yang hanya membisu.
“Maafkan aku nona, demi keamanan nona, nona tidak boleh berada disana, ini perintah dari Yang Mulia” ksatria menghadang jalanku.
“Katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi!”
“terjadi pemberontakan saat pertemuan tadi, dan selir Maura dan pelayannya adalah mata-mata dari kerajaan Equestria, mereka menyerang istana, dan menggunakan asap racun yang bisa membuat yang menghirup mengalami halusinasi maupun mual-mual” jelas ksatria.
__ADS_1
“APA? Hal seperti ini kalian sembunyikan dariku?!”