
Setelah hari persidangan dadakan itu, aku selalu menghindari bertemu dengan Sen dan para pangeran dengan alasan aku lelah dan perlu istirahat untuk pemulihanku dari racun.
“Nona.. Yang Mulia ada di depan...”
“Kin, katakan kepadanya aku sedang tidur efek dari racun kemarin..”
“Tapi.. Nona,, Yang Mulia..”
“Jadi kau masih mengalami efek dari racun kemarin?” suara yang ingin ku hidari terdengar tepat di telingaku.
“Sen!! Ke.. kenapa.. kapan kamu masuk?!”
“Saat pelayanmu mengatakan aku di depan”
“Kin!!”
“Maaf nona, saya ingin mengatakan bahwa Yang Mulia ada di depan saya, tapi nona memotongnya..”
“Ya..yaa.. baiklah Kin.. kamu boleh pergi” Kin langsung pamit kelar dari kamarku.
“Jadi bisakah kau jelaskan kepadaku sekarang apa yang terjadi saat itu?”
“Hmm, seperti yang aku katakan sebelumnya aku di kejar, di kepung, dan di serang pembunuh bayaran, tapi berhasil lolos..”
“Kau keluar istana tanpa pengawal dan pelayan lalu masuk ke hutan?”
“Yaa.. seperti itu..”
“Kau keluar istana bahkan satupun pengawal tidak melihatnya”
“Aku lewat belakang penjara..” ucapku polos.
“Ohh aku lupa dengan jalan kau kabur saat itu”
‘kenapa perasaanku tidak enak’
“Hmm Sen aku mau mandi, jadi bisakah kamu keluar sekarang?”
“Baiklah, jangan lupa kau sudah beberapa hari bolos kelas madam Vero” Sen menuruti perkataanku tanpa adanya penolakan membuatku merinding saja.
“Sampai kapan aku harus mengikuti kelas madam Vero?”
“Sampai pesta pertunangan kita” ucapnya di depan pintu.
Setelah Sen keluar Kin membantuku mandi dan berpakaian untuk mengikuti kelas madam Vero.
“Hana..” Calista menghampiri dan memelukku. Sejak kejadian pembunuh bayaran itu, Calista dan lainnya tidak menanyakan apa-apa kepadaku.
“Calista kenapa kamu disini?” tanyaku melihat Calista berada di kelas madam Vero.
“Apa kami tidak terlihat?”
“Rey.. Zee juga?” dua pangeran berada di dalam ruangan yang sama.
“Anda sudah datang nona..” madam Vero menghampiriku, “Hari ini mereka yang akan membantumu belajar” sambungnya.
“Apa? Kenapa?”
“Pesta pertunangan akan diadakan seminggu lagi..”
__ADS_1
“Apa? Aku tidak tahu hal itu.” ucapku kebingungan.
“Kaisar akan mengadakan pesta pertunangannya denganmu satu minggu lagi, dia baru saja mengumumkannya” jelas madam Vero.
“Lalu? Kenapa mereka juga ada di kelas ini?”
“Seperti yang sudah dikatakan, mereka yang akan mengajari anda hari ini”
“Belajar apa?”
“Tentu saja berdansa..” Rey menarik tanganku. Aku baru menyadari ruangan ini sudah bersih tidak ada meja dan kursi di tengahnya.
“Tapi kenapa?”
“Karena saat pesta pertunangan nanti kau dan kaisar akan berdansa Hana” ucap Calista.
“Sudahlah ayo kita mulai saja” Zee langsung memulai pelajaran berdansa. Dia berpasangan dengan Calista dan aku dengan Rey.
Saat Zee dan Calista berdansa terlihat serasi seperti sepasang kekasih yang sedang berdansa. ‘Aku rasa Zee benar-benar mempunyai perasaan terhadap Calista, sayangnya tidak bisa mengatakan langsung karena status Calista sekarang adalah iparnya.’
“Jangan memikirkan hal lain, kau harus fokus terhadap dansamu, fokus ke pasanganmu. Mau sampai kapan kau menginjak kakiku” gerutu Rey yang sudah berapa kali tidak sengaja kakinya ku injak.
Pelajaran dansa selesai dan meninggalkan pegal di kaki dan pinggangku.
“Nona mau kemana?”
“Aku hanya ingin jalan-jalan sebentar Kin, aku akan segera kembali ke kamar. Siapkan teh dan cemilan”
“Baik nona” Kin berlalu pergi.
Aku berjalan menelusuri istana berharap menemukan tempat sejuk untuk istirahat sejenak. ‘Sen?’ terlihat Sen yang berjalan di depanku.
“hmm yah lumayan..” jawabku singkat, ‘kenapa seperti ada yang mengganjal? Seperti ada yang ingin ku sampaikan tapi apa? Ah iya aku ingat!’
“Sen! Kamu tidak pernah membicarakan tentang pesta pertunangan kita!”
“Hmm, benarkah? Bukankah aku sudah pernah mengatakannya?” Sen merawang.
“Kapan?”
“Pagi tadi” jawabnya singkat.
“Sen!! Aku bahkan baru tahu pesta itu akan diadakan seminggu lagi! Kamu tidak menanyakan pendapatku sama sekali!” kesalku.
“Untuk apa? Kau tidak perlu mempersiapkan apapun, semuanya sudah diatur”
“Tentu saja aku harus mempersiapkan mentalku!”
“Kenapa?”
“Bagaimana bisa aku bertunangan secara resmi dengan raja i…” hampir saja terucap kata ‘iblis’.
“Raja i?”
“ah haha raja istana ini..”
“Ada yang kau sembunyikan?” Sen masih curiga dengan ucapanku.
“Ti..tidak ada.. hanya saja…” aku sengaja menggantung perkataanku untuk mengalihkan topik, “Bagaimana dengan selir Vera?” sambungku.
__ADS_1
“Hukumannya sudah di tetapkan.” Jawab Sen, ‘untunglah topik teralihkan’
“Hukuman apa?”
“Dia akan diusir dari kerajaan dan akan diasingkan dan ditahan di pengasingan sampai batas waktu tertentu”
“Batas waktu? Kapan?”
“Aku belum menentukan batas waktunya, mungkin dia akan berada disana sampai akhir hayatnya” ucap Sen santai. ‘dia benar-benar raja iblis!’
“Sen apa kamu tidak ada hal lain yang dikerjakan?” tanyaku, ‘aku ingin dia cepat-cepat menyingkir dari jalanku.’
“Hmm ntahlah.. kenapa? Kau ingin mengusirku?” tanyanya tepat sasaran.
‘kalau sudah tahu cepat enyahlah!’ seandainya aku bisa mengatakan itu.
“Tidak.. Apa kamu mau minum teh denganku?” elakku.
Sen tersenyum miring “Apa kau sekarang mengodaku?”
“Apa? tidak! Aku hanya mengajakmu minum teh dan berbicara santai saja”
“Ya..ya baiklah aku mengerti, tapi aku sekarang harus menghadiri rapat dengan para bangsawan. Aku akan menemuimu nanti malam.” Ucapnya lalu pergi sambil mengelus puncak kepalaku. ‘apa ini kenapa sentuhannya membuat perasaanku aneh’
“Kenapa dia tidak langsung menolak saja! Kenapa harus mengatakan nanti malam!” gerutuku sambil terus berjalan. Aku mengurungkan niatku jalan-jalan dan kembali ke kamar.
‘Hmm, ini penjara?’ kakiku malah melangkah ke arah penjara. ‘benar juga, ada kenangan burukku di penjara saat punggungku di cambuk! Tidak ada salahnya melihat iblis itu sebentar’ tidak ada penjaga di depan penjara, apa mereka istirahat?
“Kakak kenapa kau melakukan ini? kenapa kau malah menggantikanku?” terdengar suara Maura dari dalam penjara. Sepertinya dia sedang bicara dengan selir Vera.
“Kau masih di perlukan di istana ini. Kau selirnya, kau masih bisa mendekatinya”
“Tapi bagaimana hidup kakak di pengasingan nanti?”
“Tidak perlu cemas, itu hanya akan berlangsung sementara….”
Tidak sampai selesai aku mendengarkan mereka, para penjaga sudah datang, ‘sebenarnya dari mana mereka?’
Maura keluar dari penjara tidak berapa lama setelah penjaga datang, ‘dan kenapa aku harus bersembunyi?’
*****
Sepertinya yang dikatakan Sen tadi, malam ini dia datang menemuiku. Kin membuatkan teh dan menyuguhkan beberapa cemilan kemudian keluar dari ruangan.
“Sen, apa mengirimkan selir Vera ke pengasingan itu yang terbaik?”
“Ku rasa untuk saat ini itu yang terbaik.”
“Benarkah?” aku masih ragu karena obrolan mereka di penjara tadi.
“Aku ingin sekali memengal kepalanya!”
Teh yang ku sruput sulit ku telan mendengar ucapannya, ‘memengal? Dia benar-benar iblis’
“Jika dia melakukan percobaan pembunuhan terhadap keluarga kerajaan itu adalah hukuman mutlak untuknya, karena itu aku ingin kau menjadi permaisuriku secepatnya”
‘Jadi karena ini dia melakukan pertunangan resmi mendadak’
“Sepertinya mereka tidak akan tinggal diam, dan akan melakukan hal yang lebih berbahaya lagi” ucapku.
__ADS_1
“Yah aku tahu, cepat atau lambat itu akan terjadi. Tapi aku tidak akan membiarkan mereka berhasil! Kali ini aku akan memengal kepalanya!” ucapnya penuh penekanan, aura iblis berkumpul di sekitarku.