
"Kenapa lo bisa kerja sebagai kurir barang online Ber?" tanya Gled penasaran dengan kehidupan sepupunya itu.
"Ceritanya gue nggak tinggal lagi sama orang tua gue" ucap Haqqi menunduk.
"Kenapa lo nggak tinggal sama orang tua lo lagi?" tanya Villa yang penasaran karena dari tadi hanya menyimak obrolan mereka.
Gled dan Kiki juga tampak penasaran dan khawatir ada apa sebenarnya dengan Haqqi.
Haqqi memulai pembicaraan kembali, seraya menatap ketiga gadis itu.
"Sebenarnya kedua orang tua gue, masih tinggal di kota kelahiran gue, yaitu rumah lama gue, orang tua gue ngerintis karier disana, trus Papa gue bilang, gue bakal jadi penerusnya, karena gue anak pertama dan adik perempuan gue masih kelas 2 SMP. Saat itulah Papa dan Mama gue bersikap tegas, mereka mengambil keputusan yang berat bagi mereka, awalnya Mama nggak mau melepas gue pergi dari kota itu, tetapi Papa bersikeras mau melihat putranya bisa mandiri. Kedua orang tua gue memutuskan untuk menyekolahin gue di Jakarta, mereka ingin melihat bagaimana gue bisa tahan hidup mandiri atau tidak, itu sebabnya gue hidup mandiri, gue akan berusaha membuktikan kalau gue bisa mandiri.
"Bakalan mandiri dong kehidupan lo sekarang, eh tapi apa Om Aryo tau lo kerja jadi kurir barang online?" tanya Gled sedikit khawatir dengan sepupunya itu.
"Papa nggak tau kalau gue jadi kurir, gue cuman mau jadi anak mandiri yang ia inginkan, tetapi tanpa seizin dia gue udah jadi kurir barang online, gue nggak tau bagaimana pendapat Papa kalau ia tahu gue jadi kurir" jawab Haqqi masih tersenyum tipis.
"Semangat ya Haqqi jalanin hidup mandiri lo, gue harap lo bisa sukses dimasa depan" ucap Kiki menyemangati.
"Iya makasih Ki udah doain gue" ucap Haqqi tersenyum manis dan seketika Kiki ikut tersenyum.
"Sabar ya Haqqi, lo harus bisa" timpal Villa ikut menyemangati.
"Ber, menurut gue Papa dan Mama lo nggak bakal marah kok, tapi gue juga nggak tau gimana pendapat Papa dan Mama lo, kalau lo butuh apa apa jangan sungkan ke rumah gue ya" ucap Gled tersenyum kepada Haqqi.
"Makasih ya, kalian udah nyemangatin gue, eh bentar tapi gue nggak tau rumah lo Gled" ucap Haqqi tertawa.
"Ntar lo juga tau kok" ujar Gled ikut tertawa.
"Oh ya, gue pulang dulu ya, soalnya gue mau kerja" ucap Haqqi sambil menyandang tasnya.
"Oke, semangat ya" sambung ketiga gadis itu.
Setelah Haqqi pergi dari taman itu, mereka bertiga kembali berbicara.
"Gled, gue nggak nyangka, Haqqi itu sepupu lo" ucap Kiki melirik penjepit rambut yang ada di kepala Gled, yang berwarna ungu dan kuning.
__ADS_1
"Awalnya gue sempat ragu dan ternyata ia benar sepupu gue" sahut Gled.
"Eh Gled kok gue melihat ada yang berbeda ya dari lo, tadi pagi lo nggak pakai penjepit rambut dan sekarang gue lihat lo pakai penjepit rambut" ucap Villa yang mengamati penampilan Gled.
"Betul juga Vil" sahut Kiki.
"Ini pemberian dari Kak Fandri, lucu kan" ucap Gled memegang jepit rambut yang ada dikepalanya.
"Iya lucu kok, tapi kapan dikasihnya?" tanya Villa heran.
"Tadi pas gue baru keluar dari ruang ekskul" jawab Gled.
"Diperhatiin lagi ya lo sama mereka, tapi lo udah pilih nggak diantara mereka" ucap Kiki sambil memegang bunga di taman itu.
"Belum!" jawab Gled tersenyum.
"Yaudah deh, kita pulang lagi yuk" ajak Kiki.
"Bentar, Gled lo belum ngasih tau apa isi kado dari Guvi" ucap Villa sembari menahan tangan Kiki untuk melangkah.
"Iya gue ceritain" ucap Gled tersenyum.
Gled mengeluarkan liontin yang berada di seragam sekolahnya, karena sebelumnya ia telah pakaikan di lehernya. Karena Gled tidak mau terlalu memamerkan liontin itu jadinya ia hanya menyembunyikan liontinnya dibalik seragam sekolahnya.
"Bagus banget Gled" puji Kiki menyentuh liontin silver itu.
"Gled lumba lumbanya warnanya ungu ya Gled, bagus banget" puji Villa menyentuh mainan lumba lumba itu.
"Iya bagus banget, tapi pas gue buka kadonya mau emosi gue, kalau kalian jadi gue mungkin kalian nggak akan mau membuka kadonya sampai habis" ucap Gled.
"Emang ada apa pas lo buka kotak itu?" tanya Villa tertawa.
"Ayo Gled ceritain gue penasaran ni, kemarin malam karena baterai lo habis, jadinya gue sama Villa nggak tau pas lo buka kadonya" sambung Kiki.
"Iya gue akan ceritain kok" ucap Gled tersenyum.
__ADS_1
Kemudian Gled menceritakan semuanya, saat ia menceritakan kepada Villa dan Kiki mereka tertawa sampai sampai mengeluarkan air mata karena tertawa.
"Lucu banget si Guvi dan kreatif, biasanya cowok kalau ngasih cewek kado bakal ngemas rapi rapi" ucap Kiki tertawa.
"Kalian nggak tau gimana perasaan gue pas buka itu" ujar Gled ikut tertawa.
"Gled, apa Guvi udah ngungkapin perasaanya ke lo?" tanya Villa menatap Gled.
"Belum sih, entahlah gue nggak terlalu berharap kok, bisa jadi dia hanya nganggap gue teman atau sahabat, kita nggak tau kan gimana hati manusia" ucap Gled sembari menatap bunga bunga yang indah ditaman itu.
"Lo benar juga sih Gled, tapi kalau menurut gue Guvi itu orangnya kalau dia suka, dia bakal deketin" ujar Kiki tersenyum manis, entahlah, kenapa seorang Kiki tersenyum hari ini.
"Iya Gled, lo jangan berharap dulu, tenang Gled, kalau misalnya Guvi nggak suka sama lo, Okim dan Kak Fandri masih ada kok" ujar Villa tersenyum.
"Yaudah deh kalau mereka bertiga nggak cocok buat gue, kalian kan masih ada" sambung Gled memeluk Kiki dan Villa.
"Iya Gled, kami sayang sama lo" ucap Kiki membalas pelukan Gled.
"Lo punya sahabat, walaupun nggak ada lagi yang mau terima lo kita ada kok" timpal Villa membalas pelukan Gled.
Kemudian ketiga gadis itu melepaskan pelukannya.
"Guys kok kita jadi baper kek gini ya, ingat kita ini cewek tangguh, nggak akan meleleh sama cowok yang hanya ingin mempermainkan perasaan kita" tegas Kiki menyemangati kedua sahabatnya itu.
"Iya dong Ki, gue nggak bakal mudah terima orang, lo kan tau gimana sikap gue" sahut Gled tersenyum tipis.
"Yaudah deh guys, kita sama sama lihat, siapa yang tulus diantara mereka dan siapa yang akan dipilih oleh Gled" ucap Villa tersenyum.
"Oke kita pulang lagi yuk, gue capek" ajak Kiki tampak lesu.
"Iya, ayo kita pulang" ujar Gled bangkit dari kursi taman itu.
Kiki dan Villa ikut berdiri, mereka melangkah pulang kerumahnya masing masing.
Disisi lain, ada seseorang yang mendengar percakapan mereka bertiga.
__ADS_1
Kemudian ia pergi dari taman itu.