Kandidat Hati Gledies

Kandidat Hati Gledies
Kamu nggak boleh takut


__ADS_3

"Aku takut" gumam Zea menatap Gled, Villa dan Kiki.


Kiki memegang bahu Zea dan mencoba menenangkannya.


"Lo nggak usah takut, lo bareng kami. Apa lo mau kek gini selamanya. Lo tenang aja kalau soal biaya pengobatan Ibu lo, lo nggak perlu khawatir, gue yakin pihak sekolah bakal ngebantu biaya pengobatan Ibu Lo. Lo pintar anak berprestasi lagi" ujar Kiki menenangkan.


"Makasih ya, kalian udah peduli sama aku" sambung Zea tersenyum kepada Gled, Villa dan Kiki.


Mereka bertiga mengangguk dan ikut tersenyum kepada Zea.


Hati Kiki tergerak saat melihat bekas kekerasan di tangan Zea. Rasanya ia ingin menonjok wajah Pak Axell.


"Zea kamu harus bangkit, nggak usah takut sama lelaki busuk kek dia" timpal Villa tersenyum.


"Iya, terima kasih ya karena semangat dari kalian aku udah sedikit lega" gumam Zea tersenyum dan menunduk.


Gled memegang tangan Zea, Villa juga berjalan di samping Zea, di ikuti oleh Kiki yang juga ikut melangkah.


Gled, berhenti sejenak mencoba untuk menelfon wakil kesiswaan memberitahu bahwa penyelidikan mereka telah selesai.


Wakil kesiswaan mengatakan untuk menunggu sekitar 15 menit lagi, karena para guru sedang mengadakan rapat.


Mereka kemudian pergi ke taman, untuk menunggu semua Guru selesai rapat.


Di perjalanan menuju taman, mereka berpapasan dengan Okim.


Okim berhenti sejenak dan Gled juga berhenti melangkah menatap Okim.


Okim bersikap dingin, matanya yang dulu ceria, kini tampak sendu.


Okim hanya menatap Gled dan tersenyum, ia kemudian melangkah untuk pergi dari koridor tersebut.


Belum selangkah Okim berjalan, Gled memegang lengannya.


Villa dan Kiki paham, mereka kemudian pergi lebih dulu ke taman.


Yang tersisa hanya Gled dan Okim di koridor tersebut, mungkin ada beberapa murid yang duduk di sekitar koriodor dan ada juga yang sekedar berlalu lalang.


"Ada apa?" tanya Gled melepaskan tangan Okim, Gled tampak kesal karena melihat ekpresi ceria yang dulu tampak di wajah Okim, kini terlihat murung.


Okim hanya diam membeku, ia tidak berbicara sepatah katapun.


Gled semakin bertanya tanya dengan sikap Okim, ia menatap Okim dengan wajah kesal.

__ADS_1


"Yaudah kalau nggak mau bicara aku pergi" ujar Gled melangkah.


Baru beberapa langkah Gled berjalan, ia di cegah oleh Okim.


"Gled" sapa Okim menghentikan langkah Gled.


Okim berjalan mendekati Gled dan ia tampak merasa bersalah.


"Sorry" ucap Okim menatap Gled dan menudukkan kepalanya agar bisa melihat wajah Gled yang sejajar dengan dadanya.


"Why?" tanya Gled mengkrinyutkan keningnya.


"Karena sikapku akhir akhir ini, aku merasa kamu nggak suka aku mendekatimu. Terlebih lagi aku cemburu melihat kamu dekat dengan cowok lain, aku tau bukan aku saja yang menyayangi dan mencintaimu" jelas Okim menatap Gled.


"Trus, ngapain jauhin aku apa kamu udah nyerah gitu aja?" tanya Gled duduk di kursi koridor tersebut.


"Nggak!, aku nggak pernah menyerah untuk memperjuangkan kamu, tapi aku memang bodoh!, kemarin aku merasa aku telah kalah dari mereka, aku merasa nggak pantas untuk kamu" jawab Okim ikut duduk di samping Gled.


"Apa kamu udah lupa dengan kataku waktu itu?, aku sayang sama kamu, bahkan aku senang jika aku diperhatikan olehmu, tetapi apa ini?" ucap Gled berwajah datar.


"Kamu bilang kamu menyayangiku, tapi kenapa kamu nggak menerima cintaku?" tanya Okim menunduk.


"Nggak tau Kim, dulu waktu SMP, aku cinta sama kamu, kamunya malah nyuekin aku, pas hampir ujian nasional kamu nembak aku, tapi aku sibuk ujian. Aku nggak mau sikap kamu kek gini lagi, aku nggak suka ada dendam tersendiri di hatimu kepada Guvi dan Kak Fandri, aku mau lihat kamu yang dulu" balas Gled menatap Okim.


"Gini dong, nggak murung lagi" sambung Gled tersenyum.


"Udah kamu berhenti dong elus rambut aku. Kenapa sih cowok suka elus rambut cewek?" tanya Gled yang tampak bingung, karena Guvi juga pernah mengelus rambutnya.


Okim menghentikan mengelus rambut Gled dan tersenyum.


"Kalau aku sih, karena aku menyayangimu" balas Okim mencubit pipi Gled.


"Eh apaan si, sakit tau" ucap Gled mencubit lengan Okim.


Akhirnya mereka berdua bisa akrab seperti dulu lagi.


"Yaudah aku ke taman dulu, ada kasus penting" ucap Gled bangkit dari duduknya.


"Kasus apa?" tanya Okim juga ikut bangkit.


"Bukan urusan kamu!" tegas Gled karena tidak ingin Okim mengetahui kasus yang dihadapi Gled.


"Oke deh, mau dianterin ni?" tanya Okim tersenyum.

__ADS_1


"Nggak usah, lagian dekat kok" sambung Gled melambaikan tangan.


***


Sesampainya Gled di taman, semua mata tertuju padanya.


Kiki dan Villa tampak tersenyum tipis, Zea terlihat dengan ekpresi bertanya tanya dari wajahnya.


Gled ikut duduk di kursi taman iti, seraya memandangi bungan ysng tampak mekar, dengan berwarna warna warni.


"Gimana apa lancar?" tanya Kiki menyenggol lengan Gled.


"Lancar kok, lagian tuh anak terlalu baperan" balas Gled tersenyum.


"Oke deh Gled, apa lo udah pilih?" tanya Villa tersenyum.


"Belum!" tegas Gled menatap kedua sahabatnya itu.


Zea tampak bingung dengan apa yang terjadi disekitarnya.


"Apa dia pa ... car ka ... mu?" tanya Zea ragu ragu.


"Enggak usah takut gitu kali Zea kalau ngomong" timpal Kiki menepuk bahu Zea.


"Iya Ki" sambung Zea menunduk.


"Dia bukan pacar aku" tegas Gled tersenyum.


"Dia calon pacar Gled" sahut Villa tertawa.


Gled, memandang Villa dengan wajah datar. Ia hanya bisa diam dan tersenyum tipis mendengar perkataan Villa.


"Lo tenang aja ya, jangan takut nggak boleh ragu kalau ngomong depan guru, kalau lo diancam oleh Pak Axell, lo langsung lapor guru aja atau nggak ke kita" ucap Gled memandang Zea.


"Thank's, kalian udah bantu aku. Aku ga berani soalnya kalau depan guru" sambung Zea menunduk.


"Kamu jangan gugup ya kalau guru ntar nanya tentang masalag kamu, jangan takut!, kami tau masalah kamu cukup besar karena ini menyangkut guru yang cukup di kenal disekolah ini. Tapi kami nggak mau kalau keadialan tidak bisa ditegakkan disekolah ini. Kejam banget dia pukul tangan kamu sampai biru kek gini" ucap Villa dan menyeka air matanya.


Kiki memegang bahu Villa.


"Brizea Anayra, itu nama lo bukan. Gue saranin kalau lo lagi ada masalah jangan di pendam, gue tau kok nggak semua orang bisa ceritain masalahnya ke orang lain. Lo harus kuat! karena apa?, hanya lo satu satunya harapan Ibu lo. Nggak ada lagi yang menjadi penompang hidup Ibu lo. Kalaupun ada mungkin dia nggak bakal setulus lo menyayangi Ibu lo" sambung Kiki melirik Zea.


Zea menyeka air matanya, karena mendengar perkataan Kiki yang membuat hatinya sedih.

__ADS_1


__ADS_2