
Keesokan paginya Gled, pergi ke sekolah seperti biasanya, hari ini begitu cerah, namun berbeda dengan hati Gled saat ini.
Gled duduk di kursinya, sembari melihat kedua sahabatnya di kelas itu, tetapi yang ada dikelas itu hanya 2 orang siswi perempuan yang tidak begitu dekat dengannya. Namun disisi lain hati dan pikiran Gled masih memikirkan tentang ungkapan perasaan ketiga cowok itu.
Ia menopang kepalanya di meja, memikirkan tentang hatinya yang belum bisa memilih diantara mereka.
Kenapa gue seribet ini sih?, kenapa gue nggak bisa milih ya?, apa mungkin gue nggak mencintai mereka bertiga, apa benar ya gue nggak bisa menerima mereka jadi pacar gue!, eh tapi kenapa gini amat sih kisah cinta gue ..., pusing banget deh gue mikirin ini pikir Gled memegang kepalanya yang masih ada di atas meja.
Tiba tiba ada sebuah coklat yang disodorkan ke hadapan Gled.
Seketika lamunan Gled menjadi buyar, Gled menengadahkan kepalanya ke arah orang yang memberikan coklat itu.
"Nih makan buat lo, lagian pas di pintu gerbang tadi lo kek nggak bersemangat, jadi untuk membalikkan semangat lo, makan ini aja" ucap Fandri, yang datang dengan menyodorkan sebuah coklat ke hadapan Gled.
Fandri tampak berbeda hari ini, rambut yang biasanya menutupi poni, kini terlihat lebih rapi, senyuman lesum pipit terlihat dengan jelas di pipi kanan dan kirinya, ia memakai sweater maron dengan tas yang di sandangkan di bahu kirinya.
"Lagi nggak nafsu kak" ujar Gled memandang Fandri, entahlah ia sedikit terpukau saat melihat Fandri yang berpenampilan berbeda.
"Nggak usah dimakan sekarang, udah jangan lesu kek gitu masih pagi tau" timpal Fandri tersenyum.
"Yaudah deh makasih Kak, lo kelihatan beda ya kak hari ini" ujar Gled sembari menegakkan kepalanya dan menerima coklat pemberian Fandri.
"Eh beda ya" sambung Fandri menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Gled tersenyum tipis, saat Fandri salah tingakah dihadapannya.
"Tapi keren kok Kak, gini dong baru rapi" puji Gled mengancungkan ibu jari tangan kananannya kepada Fandri.
Wajah Fandri seketika salah tingkah lagi "Ehehe makasih, kalau lo suka gue bakal pertahanin penampilan kek gini" sambung Fandri tersenyum.
"Iya, yaudah lo masuk kelas dulu aja sana Kak, ntar lo kena hukum lagi karena telat, lagian kelas lo kan jauh dari sini, dan btw ntar gue mau kok pulang bareng lo, seperti yang lo minta waktu itu" ujar Gled tersenyum.
Senyum mengambang di pipi Fandri, ekpresi kaget mendengar seorang yang ia cintai mau pulang bareng dengannya, membuat hati Fandri lebih bersemangat hari ini.
"Benarkah?, lo mau pulang bareng gue" tanya Fandri memastikan.
__ADS_1
"Tentu saja Kak, gue nggak ingkar janji kok, tapi ini bukan berarti gue udah ambil keputusan ya Kak" jawab Gled merapikan rambutnya.
"Iya gue tau kok, makasih banget udah ngasih gue kesempatan buat anterin lo pulang" timpal Fandri tersenyum.
Gled mengangguk, sembari merapikan rambutnya dengan jepitan rambut.
"Gled itu kan ... "
"Iya, yaudah pergi sana, entar lo benar benar telat kalau ngomong terus sama gue" sela Gled tertawa melihat tingkah Fandri yang menurutnya lucu.
"Yaudah yang rajin belajarnya gue pergi dulu" sahut Fandri melangkah dan melambaikan tangan keluar dari kelas itu dengan tersenyum senyum.
Saat Fandri sudah tiba di luar kelas X1 Akuntansi, Kiki tampak melihat Fandri tersenyum senyum sendiri.
Kiki mempercepat langkahnya memasuki kelasnya.
"Gled itu Kak Fandri gue lihat baru keluar dari kelas ini, penampilannya kelihatan berbeda dan senyum senyum sendiri kek habis dapat nilai 100" heran Kiki, sembari meletakkan tasnya ke kursi.
"Oh tadi dia ngasih gue coklat ini, dan gue pikir dia sangat berharap pulang bareng gue, jadi gue tawarin aja buat pulang bareng" sambung Gled tersenyum.
"Belum, gue belum memutuskan buat pilih siapa, bukan berarti gue pulang bareng Kak Fandri gue bakal terima dia, gue cuman mau ngasih kesempatan buat dia ngantarin gue pulang, lumayan mau pulang angin anginan diatas motor" jelas Gled mengipas wajahnya dengan tangan kanannya.
"Yaelah gue kira lo udah nentuin siapa yang bakal lo pilih" duga Kiki menyentil kening Gled.
"Aduh sakit tau" balas Gled tertawa, karena ia telah biasa menerima sentilan dari Kiki.
"Villa mana ya Ki?" tanya Gled melihat seisi kelas yang kini sudah tampak mulai ramai.
"Mungkin bentar lagi nyampe" jawab Kiki mengeluarkan handphone dari saku roknya.
"Kok lo cepat juga datengnya" sahut Gled melihat Kiki.
"Iya dong, seorang Kiki sudah mengubah schedulenya" ujar Kiki tertawa.
"Idih gue curiga ni, tumben tumbenan lo kek gini, tapi gue senang kok lo kek gini" ucap Gled tersenyum.
__ADS_1
Kiki hanya tersenyum senyum sendiri melihat handphonenya, tanpa memperdulikan ucapan Gled, Gled menjadi kesal ia mendekat dan mengintip apa yang dilihat Kiki di handphone tersebut sehingga Kiki mengacuhkannya.
Tapi sayang, Kiki menyadarinya dan langsung mematikan handphonenya.
"Lo kepo banget ya Gled" ujar Kiki menyunggingkan bibirnya.
"Pelit amat lo, udah mulai sembunyiin rahasia ya dari gue" ucap Gled dengan tatapan mematikan.
"Tenang, disaat waktu yang tepat, gue bakal ceritain ke lo" tegas Kiki tersenyum melihat ekpresi Gled yang tampak kesal.
Tak lama sesudah itu Villa datang, dengan menyeka keringat di keningnya.
"Vil, lo kenapa keringatan kek gitu?" tanya Gled melihat Villa yang baru datang.
Kiki juga memperhatikan Villa yang datang dengan wajah lesu.
"Tadi bensin motor gue habis, pas di jalan ujung sekolah kita, gue lihat penjual bensin belum ada disekitar sana, trus dengan lapang hati gue dorong aja deh, naggung pula kalo gue berhenti, sia sia dong perjuangan gue" keluh Villa duduk di kursinya dengan lelah.
"Villa kenapa nggak ngabarin gue, kan gue bisa telfon bodyguard gue buat jemput lo, lagian mungkin bodyguard gue belum jauh pergi dari sekolah" ucap Gled.
"Gue lupa, lagian nggak apa apa olah raga pagi" sambung Villa tertawa kecil.
"Vil, trus bensin lo udah ke isi? dan btw nanti kita beli bensin dulu baru pulang, nggak tega gue lo jalan jauh untuk cari bensin yang jauh di ujung sana" ucap Kiki tersenyum.
"Iya Ki, thank's " ujar Villa merapikan keringat di keningnya dan menyemprotkan sedikit parfum di pakaiannya.
"Udah siap siaga ya Vil" sahut Gled melihat Villa yang sudah berhenti dengan aktifitasnya.
"Iya Gled, lagian kita cewek, untuk para cewek yang kek gue ini ya kek gini, lagian gue nggak enak juga dengan orang yang berada di sekitar gue, nggak nyaman sama bau badan gue" ucap Villa tersenyum.
"Benar banget" ucap Gled memandang Kiki, kemudian melirik Villa dan mereka sepakat ingin melihat apa yang dilihat Kiki di handphonenya, sehingga Kiki tidak mengacuhkan mereka berbicara.
Villa dengan cekatan mengambil handphone yang ada di tangan Kiki, sontak Kiki menatap Villa.
"Vil, bawa sini handphone gue nggak!" ketus Kiki mencoba mengambil handphonenya yang berada di tangan Villa.
__ADS_1
Ada apa dengan handphone Kiki sehingga ia senyum senyum sendiri melihat handphonenya?