Kandidat Hati Gledies

Kandidat Hati Gledies
Bubar!


__ADS_3

Cinta itu memang rumit


Bahkan sajak dan syair tentang cinta saja tidak bisa mengungkapkan tentang cinta ...


Namun jika menikmati proses dan usaha dalam meraih cinta itu


Maka itu terasa menyenangkan ...


Festival berlangsung sampai jam makan siang, semua siswa di perbolehkan untuk mampir ke stan makanan yang diadakan di lapangan sekolah.


"Ki bareng gue aja ya, palingan Gled di ajak sama mereka" ajak Haqqi melirik Kiki.


Gled hendak berdiri, kemudian ketiga cowok itu ikut berdiri dan ingin mengajak Gled.


Kiki melirik Gled, Gled mengangguk memperbolehkan Kiki pergi bersama Haqqi.


"Lo nggak apa apa ni?" tanya Kiki memastikan.


"Iya nggak apa apa kok" balas Gled tersenyum.


Haqqi tersenyum kepada Gled, seraya melambaikan tangan kepada meraka semua.


"Gled bareng aku aja ya" ajak Okim dengan tersenyum dan mendekat ke arah Gled


"Ngaca!" sahut Guvi nggak mau kalah


"Maksud lo apaan?!" balas Okim tampak heran dan meninggikan sedikit nada bicara.


Guvi dan Okim kembali berdebat, hingga Gled mulai melangkah sambil menahan tawa melihat tingkah Okim dan Guvi.


Fandri mendapat kesempatan ia melirik ke arah Gled yang sudah beberapa langkah, dengan langkah cepat Fandri menyusul Gled.


"Ya Glednya pergi" ucap Guvi mengejar Gled.


"Gara gara lo!" ketus Okim ikut menyusul mereka.


"Gled lo kok langsung pergi aja?" tanya Fandri melihat ke arah Gled yang sejajar dengan dadanya. Gled dan Fandri berjalan seperti pasangan serasi saja.


Sikap Fandri terlalu lembut, serta senyuman tak lepas dari wajahnya. Fandri terlihat tidak suka banyak bicara, awalnya Gled berfikr Fandri ini pendiam.


Tetapi setelah Gled mengenal Fandri sebenarnya Fandri tipikal cowok yang mudah beradaptasi namun sayang ia terlalu pendiam nggak banyak bicara, tetapi kalau bersama Gled keknya Fandri lebih bisa mengungkapkan apa yang ingin ia bicarakan.


"Mereka berdua bawel" jawab Gled tertawa.

__ADS_1


"Yaudah bareng gue aja ya" ajak Fandri memegang tangan Gled dengan tersenyum.


Gled tersentak melihat sikap Fandri yang membuat ia sempat kaget, karena Fandri refleks menggenggam tangan Gled.


"Maaf Gled, tadi refleks" ujar Fandri melepaskan genggaman tangan Gled dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Wajah Fandri tampak memerah, Gled tidak tau mau memulai pembicaraan karena canggung.


Gled kenapa lo canggung kek gini sih, dia kan Kak Fandri batin Gled menghela nafasnya.


"Nggak apa apa kok Kak" ucap Gled melihat ke arah Fandri dengan tersenyum.


"Yaudah Kak ayo kita pergi sebelum mereka para bawel datang" ajak Gled tertawa menutup mulutnya.


"Iya Ayo" balas Fandri melangkah, Fandri terlihat senang bisa berada di samping Gled meskipun karena hal kecil.


Mungkin bagi sebagian orang itu hal biasa, namun bagi Fandri itu terkesan hal yang menyenangkan dan sangat berharga.


Baru beberapa langkah Gled dan Fandri berjalan, Guvi dan Okim datang.


"Jalannya cepat amat Gled, lo lagi Kak main bawa Gled aja" ucap Guvi melihat ke arah Gled kemudian beralih melihat Fandri dengan wajah kesal.


"Kalian pakai acara debat segala di aula, kalau mau debat di pelajaran Bahasa Indonesia aja bisa tuh tuangkan bakat debatnya" ucap Gled melipat tangan di dada.


"Oh iya maaf ya Gled, kamu jadi kesal kek gini. Yaudah kita ke lapangan aja yuk kalau ngomong terus kapan kita makan" ajak Okim tersenyum.


***


Lapangan sekolah


Lapangan sekolah tampak ramai biasanya lapangan itu ramai karena setiap senin mengikuti upacara bendera, tetapi lapangan upacara itu kini di penuhi dengan banyak stan makan yang berada di lapangan luas itu.


Benar ini semua di penuhi oleh para siswa SMK ELIT, mereka memang anak orang kaya, namun mereka mau ikut berpatisipasi dalam festival tersebut.


Gled melihat seseorang yang tak asing baginya, ia melambaikan tangan dengan tersenyum kepada Gled.


"Guys kita kesana aja yuk" ajak Gled kepada Guvi, Okim dan Fandri.


Mereka ikut melangkah mengiringi Gled untuk pergi ke salah satu stan makanan.


Gled tersenyum kepada seseorang yang ada di stan tersebut.


Ia adalah Brizea Anayra atau yang biasa di panggil Zea.

__ADS_1


Wajah Zea tampak lebih bahagia sekarang, karena tidak ada lagi tekanan yang membuat dirinya terpuruk.


Masa masa kelam hidup Zea kini telah tidak ada lagi, karena Pak Axell tidak akan pernah datang lagi ke sekolah mereka.


"Hai Zea" sapa Gled tersenyum kepada Zea.


"Hai Gled, apa kabar?" tanya Zea balik dengan tersenyum sambil melihat ketiga cowok yang berada di dekat Gled. Pandangan Zea tersentak saat melihat salah satu cowok itu.


"Aku baik, btw kamu jualan apa?" tanya Gled melihat makanan yang berada di etalase stannya Zea.


Gled tampak bingung kenapa ekpresi Zea terlihat berubah saat kedua mata Zea melihat Okim, Guvi dan Fandri.


"Anayra" gumam Fandri menatap datar Zea dengan wajah kaku dan penuh tanda tanya yang tergambar dari wajah Fandri.


Sontak semua mata melihat ke arah Fandri, Zea pun menengadahkan kepalanya menatap Fandri dengan wajah datar.


Gled menatap Fandri yang menundukkan kepala, Fandri tidak bicara setelah iya mengatakan nama Zea.


"Ada apa Zea?" tanya Gled bingung.


"Enggak apa apa kok Gled" jawab Zea memaksa senyuman di bibirnya.


Okim menyenggol lengan Fandri, mencoba menatap wajahnya.


"Gled gue minta maaf gue nggak bisa anterin lo beli makanan, gue pergi dulu" ucap Fandri tanpa memandang wajah Gled dan yang lainnya.


Saat Fandri hendak mulai melangkah, Guvi menghentikan langkah Fandri dengan menarik lengan tangannya.


Fandri menatap siapa yang menghentikannya, dengan tatapan penuh pertanyaan.


"Lo nggak boleh pergi!" ketus Guvi menatap Fandri.


"Siapa lo yang berani ngelarang gue?!" balas Fandri menepis tangan Guvi dengan wajah datar.


"Lo cowok bukan?, ngapain lo main ninggalin Gled aja, trus kalau lo ada masalah sama cewek ini namanya Zea bukan, selesain nggak kek gini!" tegas Guvi menatap Fandri dengan mata yang tajam, seketika mereka menjadi pusat perhatian.


Bagaimana tidak Guvi adalah cowok populer di sekolah itu, siapa yang tidak mengenal seorang Guvi William Dozen. Cowok yang pintar dan ramah pada semua orang, dia juga tegas dalam menghadapi masalah.


Fandri terdiam, matanya kini melihat semua orang yang melihat dirinya dengan tatapan yang tidak ia sukai.


"Kami bukan pusat tontonan udah bubar!" ketus Guvi meninggikan suaranya menatap beberapa siswa yang melihat mereka.


Karena teriakan Guvi membuat beberapa siswa yang berada disana menjadi bubar dan kembali pada aktivitas mereka.

__ADS_1


"Lo kenapa Kak, apa lo ada masalah sama Zea?" tanya Gled menatap Fandri.


Fandri menatap Gled dengan wajah datar, ia hanya diam dan tidak membalas pertanyaan Gled.


__ADS_2