
"Jadi adakah yang ingin Anda bicarakan?" tanya Bu Qwen menatap Pak Axell dengan wajah ketus.
Pak Axell tampak mulai cemas, keningnya berkrinyut, sorot matanya kini tampak sendu.
"Iya saya memang memukul Zea, tetapi itu saya lakukan demi kesuksesan Zea dalam menghadapi lomba, saya memang keras kepada murid yang betul betul ingin saya ajari agar ia bisa menang" alasan Pak Axell melihat ke arah Bu Qwen yang kini berada di sampingnya.
"Udah nggak usah bela diri!" timpal Kiki menyunggingkan bibirnya.
Pak Axell menatap Kiki dan tampak marah "Kamu bisa sopan nggak, saya ini guru kamu jadi hargai saya" tukas Pak Axell.
Basi tuh kata kata, gue nggak peduli! gerutu Kiki dalam hati karena ia tidak mau menambah masalah.
"Buk Qwen, semua yang dikatakan Pak Axell itu semuanya bohong ia memukul Zea agar tujuannya tercapai yaitu naik jabatan" sahut Gled menatap Pak Axell dengan wajah datar.
Perdebatan berlangsung cukup satu jam dan akhirnya Pak Axell mengakui kesalahannya.
"Saya minta maaf Zea karena saya telah memukulmu, saya memang manusia rendahan" ucap Pak Axell memohon.
Saat Zea ingin bicara, Buk Qwen memotong pembicaraan mereka.
"Tidak semudah itu Anda meminta maaf, kami sudah berencana ingin mengeluarkan anda dari sekolah ini. Awalnya kami belum menemukan bukti yang kuat, karena rumor yang beredar dikalangan para siswa tentang Zea yang sering tampak murung dan akhirnya kami telah menemukan bukti yang tepat. Maaf Anda tidak bisa lagi mengajar di sekolah ini lagi, saya tidak mau jika ada lagi siswa yang bernasip sama dengan Zea. Saya harap Anda tidak seperti itu lagi sebagai guru, jika Anda ingin naik jabatan buat prestasi dengan cara yang sportif, bukan cara yang seperti in! Saya harap Anda mengerti" jelas Bu Qwen dengan tegasnya.
"Baiklah Bu Qwen saya menerima apa yang Anda katakan, saya meminta maaf sebesar besarnya karena telah mencoreng citra sekolah ini" sambung Pak Axell dengan menunduk.
Kemudian mereka saling meminta maaf dan Pak Axell tampak sangat merasa bersalah.
Akhirnya Pak Axell di keluarkan dari sekolah, Buk Qwen awalnya ingin menyebarkan berita ini ke seluruh murid agar mereka tau bahwa guru yang menjadi idola mereka, telah bersikap kejam. Tetapi Zea melarang Buk Qwen, karena Zea merasa Pak Axell juga telah baik membantu pengobatan Ibunya selama ini.
Buk Qwen dan pihak sekolah memberikan dana untuk pengobatan Ibu Zea, agar kondisi Ibunya lebih baik lagi.
Pihak sekolah juga akan meringankan beban biaya sekolah Zea, agar Zea bisa terus bersekolah.
***
Gled,Villa dan Kiki melangkah menuju kelas mereka untuk mengambil tas.
Kelas X1 Akuntansi. 1, terlihat kosong dan hanya mereka yang berada disana.
Ketiga gadis itu keluar dari kelas dan duduk di kursi koridor.
"Guys akhirnya udah selesai nih kasus" ucap Villa merebahkan punggungnya di kursi.
"Gue senang baget lihat ekpresi dia pas lagi tersudut, semoga dia nggak balik lagi ke sekolah ini!" timpal Kiki merapikan sedikit rambutnya yang menutupi keningnya.
"Udah Ki, nggak usah kek gitu, dia nggak bakal berani datang ke sekolah ini lagi" ucap Gled tersenyum.
"Eh guys udah jam segini aja ni" ucap Gled melihat jam tangannya menunjukkan pukul satu siang.
__ADS_1
"Iya juga ya, kok lapar ya guys" sahut Villa tampak lesu.
"Udah jadi kebiasaan kita nih, saking sibuknya kita sama urusan lupa makan deh" sambung Kiki.
"Hai girls, cowok tampan datang" sapa Haqqi mendekati mereka dan tampaknya Haqqi tidak sendirian ia di temani oleh Okim yang berada di sampingnya.
Nih anak kenapa kemari segala sih, kok gue jadi kek gini ya di depan Haqqi batin Kiki melihat ke arah Haqqi.
"Ngapain lo kemari Ber?" tanya Gled melihat Haqqi dan melirik Okim.
"Gue kan sekolah disini wajar kan gue ada disini" sambung Haqqi melirik Kiki.
"Gue denger kalian lapar, gimana kalau kita pergi makan bareng" ajak Okim tersenyum kepada mereka semua.
"Eh keknya gue nggak bisa deh" alasan Kiki karena tidak mau salah tingkah lagi didekat Haqqi.
"Kalau Kiki nggak mau kita juga nggak mau" timpal Villa melirik Haqqi dan Okim.
"Eh kok gitu Vil, udah kalian pergi aja" sambung Kiki.
"Iya, gue juga nggak ikut kalau Kiki dan Villa nggak ikut" ucap Gled datar.
Haqqi mendekat ke arah Kiki dan mengenggam tangannya.
"Lo ikut ya pliss ikut ya Ki" ucap Haqqi tersenyum.
"Kenapa main pegang tangan segala sih?!" gumam Kiki menatap Haqqi.
"Ehehe" tawa Haqqi.
"Gimana lo mau nggak?" tanya Haqqi lagi dengan menatap Kiki.
Karena Haqqi yang memohon padanya akhirnya Kiki menyetujui untuk pergi bersama mereka.
"Oke gue ikut" ucap Kiki menyandang tasnya.
"Eh bentar kita naik motor aja ya, gue juga bawa motor kok" sambung Okim melirik mereka semua.
Mereka semua mengangguk dan mulai melangkah menuju parkiran.
Setibanya di parkiran mereka mulai menaiki motor.
"Vil, gue bareng lo" ucap Gled menatap Villa.
"Eh beneran?, apa lo nggak apa apa ni" sambung Villa melirik Okim dan Haqqi.
"Gled, kenapa nggak bareng aku aja sih" ajak Okim tersenyum.
__ADS_1
"Nggak!, aku mau bonceng sama Villa, ntar aja pas mau pulang kamu nganterin aku" ucap Gled menatap Okim.
"Oke Gled" sambung Okim tersenyum, karena akan mengantarkan Gled pulang nanti.
Mereka menuju restoran bakso ternama di kota itu.
***
Keadaan disana terlihat ramai, disana juga terlihat anak sekolah yang masih memakai seragam sekolah, tempat itu terkenal dengan baksonya yang enak.
Mereka memesan bakso tersebut, tak lama sesudah itu makanan mereka datang.
Tak ada suara yang terdengar di antara mereka, hanya suara sendok yang beradu terdengar yang menghiasi makan siang tersebut.
Gled, tersentak terlintas di kepalanya ia masih belum menjawab ucapan cinta ketiga cowok itu.
Kenapa gue nggak bisa mikir sih!, gue juga udah coba luangin waktu bareng mereka, tapi kenapa gue nggak bisa milih sih batin Gled mereguk air mineralnya.
Gled tampak menundukkan kepala seraya tampak berfikir apa yang perlu ia lakukan.
"Kenapa wajah lo kek gitu sih?" tanya Haqqi menyentil kepala Gled kemudian tertawa.
"Nggak ada!" balas Gled menundukkan kepala.
"Lo kenapa?" tanya Kiki melirik Gled dan memberhentikan menyumpit mienya.
"Ntar malam kita meet online ya guys" bisik Gled kepaad Villa dan Kiki.
Kiki dan Villa mengangguk dan kembali memakan makanan mereka.
Akhirnya mereka telah selesai makan dan mereka pulang ke rumah.
***
Gled diantarkan oleh Okim pulang ke rumahnya, di atas motor mereka tampak canggung.
"Gled, kenapa diam aja, nggak suka ya diantar pulang sama aku?" tanya Okim melihat Gled dari kaca spion motornya.
"Nggak kok, cuman lagi mikir aja" balas Gled melihat Haqqi dari kaca spion tersebut.
"Mikirin siapa?" tanya Okim.
"Mikirin kamu, kak Fandri sama Guvi, aku mikir kapan aku bisa jawab ungkapan cinta dari kalian, aku bingung milih siapa" gumam Gled pelan.
"Jangan terlalu mikirinnya ya, ntar kamu sakit mikirin itu, aku nggak mau kamu sakit karena aku. Kamu boleh jawab kapan aja kamu mau, aku akan tunggu kok, aku akan terima apapun keputusan kamu nanti untuk pilih siapa. Tapi tolong janji sama aku ..." ucap Okim terpotong.
"Janji apa?" tanya Gled.
__ADS_1
Tiba tiba ada jalan yang berlubang, Okim tidak melihatnya karena sibuk berbicara dengan Gled, sehingga motor Okim berjalan melewati jalan yang berlubang tersebut dan membuat Gled tersandar di punggung Okim.