Kandidat Hati Gledies

Kandidat Hati Gledies
Dia siapa?!


__ADS_3

Setelah cukup lama Gled dan Fandri mengelilingi taman, kemudian mereka berdua pergi ke restoran terdekat untuk makan.


Seusai Makan Fandri mengantarkan Gled pulang ke rumahnya.


20 Menit kemudian


Gled dan Fandri telah sampai di depan rumah kediaman keluarga wenard.


"Gled, makasih ya udah mau luangin waktu dikit buat gue" ucap Fandri tersenyum.


"Iya gue juga bahagia kok Kak, makasih ya udah nganterin gue pulang" sambung Gled membalas senyuman Fandri.


"Mau mampir nggak Kak?" ajak Gled seraya melirik rumahnya.


"Lain kali aja deh Gled, lagian udah sore" elak Fandri tersenyum.


"Oke deh Kak" ucap Gled melambaikan tangan.


Fandri membalas lambaian tangan Gled, kemudian menghidupkan mesin motornya. Ia tersenyum sebelum pergi kepada Gled dan kemudian menggas motornya, meninggalkan Gled yang menatap punggung Fandri yang kini mulai menjauh.


"Cowok tukang senyum" ledek Gled melihat motor Fandri yang kini tidak tampak lagi sambil tersenyum.


Gled memasuki rumahnya, seperti biasa rumahnya tampak sepi, rumahnya hanya ramai untuk beberapa hari karena kepulangan Papa.


Jam di dinding ruang tamu itu menunjukkan pukul 17.00.


Kedua orang tuanya mungkin sedang ada di kantor, sedangkan Nola mungkin saja sedang belajar di kamarnya.


Gled melangkahkan kaki menaiki anak tangga, menuju kamarnya.


Kamar yang tampak rapi dengan nuansa ungu dan putih itu, serta perlengkapan kamarnya yang tampak mahal.


Gled mengganti seragam sekolahnya, setelah itu ia duduk di tepi ranjangnya, sembari memikirkan kejadian apa yang terjadi hari ini.


"Kok gue malah nawarin Kak Fandri buat pulang bareng tadi ya?" tanya Gled tampak berfikir.


Sudahlah, nggak usah dipikirin Gled, mungkin saja lo lihat ketulusan dari hati Fandri terlihat jelas batin Gled.


"Kak Fandri baik juga ya, mau dengerin curahatan gue" ucap Gled menutup kepalanya dengan bantalnya.

__ADS_1


Gled bangkit dari tempat tidurnya, beralih melangkah menuju meja belajar. Gled duduk sambil memikirkan ide bagaimana cara agar menyelesaikan kasus yang di berikan wakil kesiswaan itu kepadanya dan kedua sahabatnya.


Saat Gled hendak berfikir mengenai rencana yang akan ia lakukan, tiba tiba ia kembali teringat tentang ketiga cowok itu.


"Kalian bertiga tunggu aja, gue bakal jawab ungkapan perasaan kalian bertiga, tetapi gue butuh waktu untuk mengenali kalian dulu" ucap Gled sambil menulis sesuatu di bukunya.


Ia menulis sesuatu di bukunya, sambil keningnya berkrinyut tampak berfikir. Gled menyusun sebuah rencana untuk kasusnya kali ini, entah kenapa ia terlalu bersemangat menyusun kasus itu.


Setelah lebih kurang 15 menit, akhirnya Gled telah selesai mencatat sesuatu di buku itu.


***


"Kenapa aku jadi kek gini ya, kenapa aku merasa aku nggak pantas untuk Gled" ujar cowok itu duduk di tepi ranjangnya.


Apa karna aku takut dia bakal melupakan aku dan nggak milih aku batin cowok itu.


"Apa lebih baik ngehindar aja?, aku merasa ia nggak mau aku deketin, tapi hati ini tidak bisa untuk dibohongi, aku mencintainya dan menyayanginya, cinta itu tumbuh hari demi hari. Gled aku rindu, semoga kau memilih ku" ucap cowok itu menatap langit langit kamarnya dan tersenyum.


***


Gled, Villa dan Kiki duduk di kursi mereka, jam pelajaran pertama telah berlalu, kini mereka akan belajar Bahasa Inggris, sorot mata Gled, Villa dan Kiki tampak saling melirik.


Tampak seorang lelaki muda dengan baju PNS memasuki kelas itu. Senyuman selalu ia torehkan kepada semua siswa.


Guru bahasa inggris itu yang tidak lain bernama Axell Widian berumur 23 tahun itu duduk di kursinya, sambil meletakkan tas dan beberapa buku di atas meja.


Pak Axell terkesan muda dan bisa dibilang tampan, namun Pak Axell adalah salah satu orang yang termasuk dalam kasus yang di ikuti oleh Gled, Villa dan Kiki.


Kasus Pak Axell lumayan parah karena menyangkut nama baik sekolah.


Awalnya saat Gled membaca pesan dari wakil kesiswaan, ia berfikir akan menolaknya tetapi karena kedua sahabatnya menginginkan untuk menjalankan tugas itu akhirnya Gled juga setuju.


"Hi student, how are you?" ucap Pak Axell menyapa semua murid.


" Hi teacher, I'm fine, thank you. And you?" tanya balik semua siswa termasuk Gled, Villa dan kiki.


"I'm fine, oke kita akan mulai pelajarannya, keluarkan buku kalian dan perhatikan pelajaran dengan baik" tegas Pak Axell.


"Iya Pak" jawab semua siswa.

__ADS_1


Villa tampak memperhatikan gerak gerik Pak Axell, sambil mencatat apa yang di tulis Pak Axell di papan tulis.


Bel istirahat telah berbunyi


Semua siswa di kelas tampak telah pergi dari kelas tersebut. Seperti biasa Gled dan kedua sahabatnya itu yang terakhir keluar kelas.


"Guys kalian lihat nggak, senyuman naif yang terpancar dari bibirnya" ucap Villa tampak geram dengan apa yang dilihatnya tadi.


"Udah lo nggak usah kek gitu, gue udah ada rencana yang gue susun kemarin, lihat aja ya kalau kalian setuju" ucap Gled mengeluarkan sebuah buku dari tasnya dan memperlihatkan buku itu kepada Kiki dan Villa.


Kiki dan Villa membaca buku itu dengan wajah yang tampak serius, bahkan Gled yang berbicara tidak di sahut oleh mereka bertiga.


"Gled ide lo bagus, tapi ada sesuatu yang nggak gue setuju" sambung Kiki menatap Gled.


"Yaudah coret aja yang lo nggak setuju, trus tambahin apa yang lo mau" ucap Gled melirik Kiki.


Kiki kemudian mencoret beberapa yang tidak ia sukai dan menambahkan sesuatu yang menurutnya bisa dilakukan dengan baik.


"Gimana guys, ini bagus apa nggak?" tanya Kiki menyodorkan buku itu ke Gled dan Villa.


Gled dan Villa mengangguk, tanda setuju dengan apa yang di tulis oleh Kiki di buku itu.


"Oke deal ya" ucap Gled, mereka bertiga saling menatap


"Oke, kita mulai dari rencana A dulu ya" ucap Kiki melihat buku itu dan kemudian beralih melihat kedua sahabatnya.


"Oke, kalau rencana A berarti kita bakal nemuin dia dong, deg degan gimana sih gue" sahut Villa menatap Gled dan Kiki.


"Nggak usah tegang Vil, ini mah kita bisa lewatinya, tapi kapan kita bakal nemuin dia?!" tanya Gled melihat seseorang yang tampak dari ambang pintu kelas X1 Akuntansi 1.


"Guys nanti kita bicarakan lagi" tegas Gled berbisik karena ada seseorang yang berada di ambang pintu.


Kiki dan Villa tampak heran dengan sikap Gled, mereka berdua juga melihat ke belakang, ternyata mereka juga melihat ada seseorang berdiri di ambang pintu.


"Dia dengar nggak?!" tanya Villa berbisik dan tampak geram.


"Tenang guys ..., jangan tegang gitu napa, semoga dia nggak dengar apa apa" sahut Kiki berbisik.


Orang itu memasuki Kelas dan menatap mereka bertiga.

__ADS_1


Gled, Villa dan Kiki mematung tanpa ada ekpresi apapun yang terpancar dari wajah mereka.


__ADS_2