Kandidat Hati Gledies

Kandidat Hati Gledies
Wajah ketus dan killer


__ADS_3

15 menit telah berlalu, kini mereka berempat telah sampai di depan pintu ruangan guru.


Semua guru telah keluar dari ruangan tersebut, Gled dan Kiki melangkah berjalan bersejejeran, disusul oleh Villa dan Zea berjalan di belakang mereka.


Saat mereka memasuki kantor tersebut tampak dari arah yang berlawanan seorang pemuda tampan, berkulit putih dan tinggi, awalnya ia tampak tersenyum kepada Gled dan Kiki.


Namun saat jaraknya telah mendekat ke arah mereka berempat, ia mengkrinyutkan keningnya.


Lelaki itu adalah Pak Axell, yang menghentikan langkahnya karena melihat Zea berada di ruangan guru.


Pak Axell menatap tajam Zea. Kenapa anak ini ada di ruang guru dan apa yang kulihat ini dia berjalan bersama ketiga siswi populer di sekolah ini batin Pak Axell mengkrinyutkan keningnya.


Keempat gadis itu tak menghiraukan keberadaan Pak Axell yang menatapnya.


Zea tidak berani memandang Pak Axell, ia hanya menunduk.


"Tunggu ... " ucap Pak Axell menatap punggung ketiga gadis itu.


Sontak mereka berempat langsung melihat ke belakang.


Kiki jalan beberapa langkah agar berdiri di dekat Zea.


"Ada apa Pak?" tanya Kiki dengan wajah datar.


"Oh tidak apa apa, kenapa kalian kemari?" tanya Pak Axell menatap mereka berempat, namun masih tersenyum dan menunjukkan jiwa seorang guru kepada mereka.


"Ah Bapak kepo sekali, yaudah Pak kami duluan ya" timpal Villa tersenyum palsu.


"Baiklah kalau begitu, Zea apa saya bisa bicara dengan kamu sebentar ini mengenai olimpiade Bahasa Inggris" ucap Pak Axell menatap Zea, namun Zea hanya menunduk.


Gled memegang bahu Zea "Tidak bisa sekarang Pak!, kami lagi ada urusan bisakah nanti saja dibicarakan?, lagian Bapak baru selesai rapat apa nggak capek Pak?" tegas Gled yang menyadari dua kemungkinan tentang ajakan Pak Axell.


Kemungkinan pertama, mungkin saja apa yang dikatakannya itu benar, ia akan membahas tentang olimpiade bersama Zea dan kemungkinan kedua, Pak Axell menyadari bahwa Zea akan melaporkannya kepada guru.


"Sa ... " ucap Pak Axell yang terpotong karena Wakil kesiswaan menghampiri mereka.


"Ada apa ini?" tanya wakil kesiswaan yang tidak lain bernama Buk Qwen, Ia berumur 40 tahun, beliau terkesan sangat tegas dan killer, namun ia disegani oleh semua penghuni sekolah.

__ADS_1


Gled, melirik Buk Qwen dan Buk Qwen mengangguk tampaknya mereka memberikan bahasa isyarat yang mereka pahami.


"Pak Axell, apakah Bapak bisa ke ruangan saya karena ada yang ingin saya bicarakan" tegas Buk Qwen menatap Pak Axell.


"Baiklah Buk Qwen saya akan ke ruangan Anda" balas Pak Axell mengangguk dan lebih dulu ke ruangan Buk Qwen, namun saat sebelum ia melangkah ia menatap tajam Zea.


Akhirnya Pak Axell telah tidak tampak lagi dari pandangan mereka.


"Buk Qwen kami yakin penyelidikan kami telah berhasil, saya yakin kami bisa menyudutkan dia" ucap Gled dengan percaya diri.


"Bagus!, saya selalu suka dengan kerja kalian" sambung Buk Qwen tersenyum puas.


"Apa kau tidak apa apa Nak?" tanya Buk Qwen menatap Zea dengan wajah cemas.


"I ... ya Buk saya nggak apa apa" balas Zea terbata bata, karena ia takut dengan Buk Qwen.


"Yasudah ayo kita ke ruangan Ibu, kita kupas rahasia ini!" ajak Buk Qwen mendahului langkah mereka menuju ruangannya.


Gled, Villa, Kik dan Zea mengangguk dan mengikuti langkah Buk Qwen.


***


Ia berdiri saat Buk Qwen telah memasuki ruangan tersebut, Buk Qwen mempersilahkan kami semua untuk duduk.


Di sisi kanan sofa keempat gadis itu duduk dengan tatapan tajam kepada Pak Axell, tetapi Zea masih menundukkan kepala.


Sedangkan di sisi kiri sofa, tampak Pak Axell duduk dengan pikiran yang bertanya tanya.


Buk Qwen duduk di tengah tengah antara mereka.


"Baiklah saya akan memulainya, Zea sekarang jelaskan apa yang terjadi kepadamu" tukas Buk Qwen melihat ke arah Zea.


Pak Axell tersentak mendengar perkataan Buk Qwen.


"Maaf ini ada apa ya?" ucap Pak Axell sudah mulai curiga.


"Anda bisa duduk" ketus Buk Qwen menatap Pak Axell.

__ADS_1


Pak Qwen mengangguk dan melihat ke arah Zea dengan tatapan yang tampak cemas.


"Kuatkan dirimu" bisik Villa tersenyum.


Zea tersenyum mendengar perkataan Villa, ia menegakkan kepalanya menatap mereka yang kini menatap dirinya.


"Kau tidak perlu takut!, katakan apapun yang menjadi masalah dalam hidup kamu" tegas Buk Qwen tampak serius.


Zea menghela nafasya dan mulai berbicara


"Saya telah di tekan oleh Pak Axell selama ini, ia melakukan kekerasan kepada saya ... " ucap Zea terpotong


"Hei, maksud kamu apa?!" timpal Pak Axell melotot ke arah Zea dan raut wajahnya kini mulai terlihat marah.


"Saya ingatkan Pak Axell anda bisa tenang, saya hanya ingin mendnegar ucapan Zea, setelah itu baru saya akan mengerti?!" tukas Buk Qwen melihat ke arah Pak Axell dengan meninggikan sedikit nada bicaranya


Pak Axell diam dan mematung mendegar ucapan Buk Qwen yang membuat ia tersentak.


"Lanjutkan Zea" titah Buk Qwen melirik Zea.


Gled, Villa dan Kiki ingin tersenyum puas saat melihat Pak Axell di bentak oleh Buk Qwen, saat ini wajah Pak Axell tampak kesal dan matanya kini menatap Zea.


Zea sedikit merinding saat melihat tatapan Pak Axell yang penuh dengan kebencian.


Zea ingin pergi dan kabur saat melihat Pak Axell di bakar api kemarahan, tetapi ia mencoba mengingat Ibunya yang tidur di rumah sakit. Ia adalah harapan satu satunya dari Ibunya.


"Pak Axell telah melakukan kekerasan kepada saya, saat saya berlatih olimpiade bahasa inggris, saya sering di pukuli olehnya, bahkan hati dan jiwa saya sering di tekan oleh Pak Axell agar saya bisa memenangkan olimpiade. Ini adalah bukti bahwa saya telah di lukai oleh Pak Axell" jelas Zea melihat ke arah Buk Qwen dan menunjukkan bekas kekerasan yang membiru di lengannya.


Buk Qwen tersentak, ia memegang tangan Zea yang membiru, seketika raut wajahnya kini berubah tampak marah.


"Lanjutkan Zea" ucap Buk Qwen menatap Zea ia sama sekali tidak melirik ke arah Pak Axell yang tampak diam mematung mendengar penjelasan Zea yang berani melawannya.


Zea menceritakan apa yang dirasakannya selama ini, tentang kekerasan yang dilakukan Pak Axell, tujuan Pak Axell yang ingin naik jabatan dan tentang Ibunya yang dirawat di rumah sakit.


Buk Qwen menyeka air matanya dan ia mengelus pucuk rambut Zea.


"Sudah kau tidak perlu khawatir lagi Nak" ucap Buk Qwen dengan mata penuh kecemasan.

__ADS_1


"Iya Buk, terima kasih" sambung Zea melihat Pak Axell yang kini sangat tersudutkan.


"Jadi adakah yang ingin Anda bicarakan?" tanya Bu Qwen menatap Pak Axell dengan wajah ketus.


__ADS_2