Kandidat Hati Gledies

Kandidat Hati Gledies
Kasus baru


__ADS_3

"Vil, bawa sini handphone gue nggak!" ketus Kiki mencoba mengambil handphonenya yang berada di tangan Villa.


"Kenapa lo sibuk amat sih sama handphone lo, gue mau lihat apa yang lo lihat di handphone ini" ucap Villa menyunggingkan bibirnya.


Gled hanya memperhatikan Villa dan Kiki yang sibuk dengan aktivitasnya.


Belum sempat Villa melihat handphone Kiki, suara hentakan sepatu guru killer di sekolah itu memasuki kelas.


Pandangan Villa terfokuskan kepada guru killer tersebut dan Kiki langsung mengambil handphonenya saat Villa lengah.


"Yaudah deh nanti aja kita bahas, belajar lagi" ajak Gled melihat kedua sahabatnya itu.


Villa dan Kiki mengangguk dan duduk di kursinya.


Kiki menujulurkan lidahnya, seraya tersenyum puas melihat Villa. Villa hanya memberikan tatapan mematikan kepada Kiki, namun Kiki melihatkan ekpresi tersenyum di wajahnya, karena rahasianya belum terbongkar.


Untung Villa nggak jadi lihat hp gue, kalau dia lihat bisa malu gue, entah apa yang akan ada di pikiran Gled dan Villa batin Kiki tertawa kecil, kemudian ia duduk dengan rapi karena di tatap oleh Guru killer itu.


Pelajaran matematika segera di mulai, Bu Rina yang terkenal dengan killernya memulai pembelajaran.


***


Bel istirahat berbunyi


Gled mengeluarkan handphonenya, keningnya mengkrinyut seraya terlihat wajah serius dari wajahnya.


Kiki dan Villa yang dari tadi terlihat kesal satu sama lain, melihat Gled yang tampak seperti itu mereka berdua mendekat.


"Guys kita dapat tugas, tugas ini susah lo apa kita mampu melakukannya?, tadi guru wakil kesiswaan memberi tugas ini ke gue" bisik Gled melihatkan handphonenya kepada kedua sahabatnya.


"Sesusah apa sih?, sini gue lihat dulu" sahut Kiki mengambil handphone Gled dan melihatnya dengan Villa.


Ekpresi Villa dan Kiki memperlihatkan raut wajah yang cukup serius.


"Guys, kek nya seru ni gue paling menantikan misi kek gini" ucap Kiki melihat Villa dan Gled.

__ADS_1


"Seriusan lo mau?, ini terkesan sedikit menegangkan lo, lagian ini urusan pribadi si A dengan si B" timpal Gled menatap Villa dan Kiki, seraya memperhatikan seisi kelas, takutnya pembicaraan mereka berdua terdengar oleh orang lain.


"Gue ngikut kalian berdua aja" sahut Villa.


"Yaudah deal misi diterima, tapi ini seriusan lo kalau kita ketahuan ini bisa sedikit kacau" duga Gled.


"Tapi kita dijamin oleh wakil kesiswaan dan kepala sekolah, tidak masalah jika kita ketahuan, lagian ini menyangkut kehormatan dan harga diri" ucap Villa dengan tegasnya, Kiki dan Gled membulatkan mulut mereka mendengar perkataan bijak sahabat mereka itu.


"Lo benar Vil, ayo tunggu apa lagi, Gled send ke wakil kesiswaan kalau kita setuju" tukas Kiki melihat Gled.


"Yaudah deh, gue send" ucap Gled mengetik sesuatu di handphonenya dan mengirimkan pesan tersebut ke wakil kesiswaan.


"Deal ya nggak ada yang ngeluh saat jalani misi ini, jika ada yang ngeluh hukumannya yang pasti udah kita sepakati bertiga" ucap Gled menatap kedua sahabatanya itu.


"Oke!" sambung Kiki dan Villa, sembari mereka bertiga bersalaman satu sama lain, bahwa mereka akan melakukan penyelidikan.


Tentu saja karena mereka dilantik langsung oleh Kepala sekolah dan beberapa guru yang di percayai oleh kepala sekolah untuk menjaga rahasia sebagai "Duta Bullying SMK ELIT" tersebut, tugasnya mengawasi anak yang kena bully dan mengawasi gerak gerik orang yang mencurigakan yang mengancam siswa dan siswi di sekolah tersebut.


"Tapi misinya nggak di beri batasan kan?" tanya Villa.


"Apa lo nggak ada rasa cinta?, atau jantung lo nggak ada gitu bergetar saat mereka bertiga dekatin lo?" tanya Kiki penasaran.


"Nggak tau, sekarang kita keliling dulu yuk, lagian mereka nggak desak gue untuk jawab sekarang" ajak Gled tersenyum kepada kedua sahabatnya itu.


"Lebih cepat lebih baik, karena kalau ngasih harapan ke mereka maka itu sama saja lo permainkan hati mereka!" ucap Villa menatap Kiki dan Gled.


"Iya Vil, gue akan pikirkan ini, makasih sarannya. gumam Gled tersenyum.


Kemudian ketiga gadis itu pergi berkeliling untuk mengisi perutnya dengan makanan.


Saat Villa hendak berjalan berdampingan dengan Gled dan Kiki, tanpa sadar ia berpapasan dengan target daftar pencarian mereka.


Villa tidak menyadarinya, karena ia asik memperhatikan para siswa yang menyapanya.


Saat hampir beberapa langkah lagi mereka hampir tiba di kantin, tiba tiba ada yang menarik tangan Gled.

__ADS_1


Gled tersentak melihat siapa yang menarik tangannya.


Langkah Villa dan Kiki juga ikut terhenti, karena ia lihat sahabatnya tidak ada di samping mereka.


"Kalian duluan aja ya, gue perlu ngomong penting sama Gled" ucap Guvi tersenyum kepada Kiki dan Villa.


"Oh oke, Gled hati hati ya dan jangan lupa makan" ujar Kiki melihat Gled yang menepis tangan Guvi.


"Yaudah Gled, Guvi kami pergi ke kantin dulu" sambung Villa melangkah dan disusul Kiki yang melangkah meninggalkan Gled disana.


"Ada apa lo tiba tiba tarik tangan gue?!" tanya Gled menatap Guvi.


"Hmmmm" dehem Guvi menatap Gled dengan wajah datar.


"Ada apa sih?!" tanya Gled lagi.


"Gled apa lo udah nentuin siapa yang bakal lo pilih?" tanya Guvi yang cukup menekan Gled saat itu.


"Kenapa bahas itu sekarang sih" jawab Gled tanpa memandang Guvi, karena Gled tidak berani memandang wajah Guvi.


"Gue cuman nanya Gled, yaudah nggak usah pikirkan itu dulu, mungkin lo butuh waktu untuk menjawabnya" ucap Guvi mengelus lembut pucuk rambut Gled.


Nih anak kenapa pegang kepala gue segalah sih batin Gled.


"Kok lo suka pegang kepala gue sih?" tanya Gled menghentikan tangan Guvi yang memegang kepalanya, ia hanya tidak mau kalau ada siswa yang lewat di koridor itu, melihatnya cukup dekat dengan Guvi, akan menimbulkan banyak gosip.


"Nggak apa apa, gue cuman senang aja kalau membelai lembut kepala cewek, karena waktu kecil Mama gue sering belai rambut gue ketika mau tidur, nggak tau kenapa itu ke lo aja ya, mungkin karena gue udah sayang sama lo" jawab Guvi tersenyum.


Gled hanya terseyum, membalas ucapan Guvi yang membuat hatinya bahagia.


"Oh ya kita belum makan ya Gled, ayo kita ke kantin lagi yuk" ajak Guvi yang mengenggam tangan Gled dengan berjalan bersejajar, namun Gled hanya setara dengan pundak Guvi.


"Ayo, eh bentar lepasin tangan gue aja ya, gue nggak mau ada gosip tentang gue" ucap Gled tanpa menyinggung Guvi.


"Iya Gled" ucap Guvi melepaskan genggaman tangannya.

__ADS_1


Mereka berdua melangkah menuju kantin untuk makan.


__ADS_2