Kandidat Hati Gledies

Kandidat Hati Gledies
Perasaan yang membingungkan


__ADS_3

Disepanjang perjalanan Gled hanya diam, tidak ada pembicaraan antara Gled dan Guvi, pada akhirnya Guvi tidak ingin suasana seperti ini dan ia memulai pembicaraan.


"Gled gue boleh nanya sesuatu nggak?" tanya Guvi melihat Gled dari kaca spion.


"Iya boleh, apaan?, lo kalau lagi bawa motor liat kedepan, gue nggak mau mati muda" ketus Gled.


"Iya jangan marah terus Gled, gue niatnya ngajak makan buat nyenengin hati lo" ucap Guvi.


"Iya, iya gue minta maaf, gue kek gini ngerasa canggung, jujur lo cowok pertama yang goncengin gue" ucap Gled menepuk kasar bahu Guvi.


"Hehehe, beruntung deh gue, bisa goncengin cewek tercantik di sekolah" sambung Guvi tertawa.


Percakapan mereka terus berlanjut dan tidak ada lagi keheningan di atas motor.


Akhirnya setelah beberapa menit mereka sampai di sebuah Kafe, tampak dari dalam Kafe hanya anak anak muda dan remaja yang masih berpakaian seragam sekolah duduk dan nongkrong sambil tertawa.


Gled dan Guvi duduk di kursi Kafe, sambil menunggu pelayan datang.


"Mbak!" ucap Guvi memanggil mbak pelayan.


Mbak pelayan itu datang ke meja mereka sambil membawa buku kecil dan pena di tangannya.


Gled dan Guvi memesan makanan dan Mbak pelayan pergi untuk mengambil makanan.


"Ini kafe favorit gue, udah lama gue nggak kesini, setelah gue pulang dari Singapore" ucap Guvi memulai pembicaraan.


"Ngapain lo ke luar negri?, trus ngapain cerita kegue" sambung Gled memperhatikan sekitar.


"Iya siapa tau lo mau dengerin curhatan hati gue, nggak baik jadi cewek jutek, ntar cantiknya hilang lo" puji Guvi sambil tertawa.


"Yaudah deh, gue mau dengerin curhatan hati lo, sambil nunggu Mbak pelayan" ucap Gled memaksakan senyumannya.


Lebih baik nungguin Mbak pelayan, dapat makanan, dari pada nungguin dia yang nggak pasti 😂😆


"Sebenarnya gue udah lelah sih, ikutin lomba merchanding band, gue mau nikmati masa SMK gue, gue mau kek anak normal biasanya" tutur Guvi, menghela nafasnya.


"Kalau lo udah capek mendingan berhenti aja, tapi gue saranin jangan berhenti sekarang, sia sia dong usaha dan waktu yang lo jalanin waktu itu, apa lo mau gelar Romeo marhanding band sekolah kita jatuh ketangan orang lain, lo itu pintar, bahkan udah nyampe luar negri" puji Gled tersenyum.


"Hmm baiklah, gue akan pikirkan lagi, gue harus bisa nyeimbangin waktu belajar sama latihan merching band" sambung Guvi ikut tersenyum karena melihat senyuman Gled.


Gled mengeluarkan jaket Guvi, dari dalam tas, karena telah dipinjamkannnya kemarin.


"Nih jaket lo, udah gue laundry" ucap Gled memberikan sebuah kantong plastik bening ke tangan kanan Guvi, yang isi dalamnya ada jaket Guvi.

__ADS_1


"Makasih ya, udah dicuci segala" sahut Guvi tersenyum.


"Udah nggak apa apa, gue seneng kok" ujarnya lembut.


"Gue seneng lo, kalau nggak karena gue nabrak lo waktu itu, kalau bukan karena gue numpahin kuah mie ke seragam lo, mungkin kita nggak akan bicara di Kafe ini" ucap Guvi tersenyum menatap Gled.


"Iya nggak apa apa, gue juga seneng kok, bisa kenalan sama cowok tertampan di sekolah, tapi..boong" ujar Gled tertawa.


Wajah Guvi yang awalnya tersenyum, menjadi cemberut saat Gled mengatakan "Tapi boong."


Kemudian Mbak pelayan datang membawakan makanan, Gled dan Guvi langsung menyantap makanan itu.


Gled harus bersikap seperti bisanya, ia tidak mau terlalu cepat nyendok makanan, padahal Gled sangat lapar, karena pas jam istirahat ia belum makan sama sekali, ia hanya tidak mau Guvi melihatnya makan terlalu cepat.


Beberapa menit kemudian Gled dan Guvi telah selesai makan.


"Guvi makasih, udah traktir gue makan" ucap Gled.


"Ia masama, akhirnya janji gue terpenuhi" ujar Guvi tersenyum.


"Yaudah kita pulang lagi yuk, sini gue antar" ajak Guvi.


"Nggak perlu gue udah ditunggu sama bodyguard setia Deddy, tuh disana" jawab Gled menunjuk sebuah mobil silver yang mengkilat, tampak seorang Bodyguard sekaligus supir setia keluarga Wenard, memakai baju serba hitam dan kaca mata hitam.


"Oke deh, hati hati ya, makasih untuk waktunya" ujar Guvi melambaikan tangan.


Bodyguard Gled membukakan pintu mobil dan Gled masuk kedalam mobil.


Guvi melihat mobil Gled yang kini telah menjauh, tersenyum menatap mobil silver.


"Gue ngerasa bahagia, padahal cuman memakan makanan biasa yang gue makan, mungkin karena ada Gled semua terasa berbeda" ucap Guvi pelan, menaiki motornya dan melajukan motornya.


***


Malam Hari jam 20.00


Saat ini Gled sudah menyelesaikan tugas sekolahnya.


Ia duduk di ayunan, di balkon kamarnya yang ada dilantai dua.


Gled menikmati angin malam sambil duduk diayunan, melihat pemandangan indah kota Jakarta, terlihat gedung gedung tinggi, rumah rumah warga yang ada di jalan XX, lampu lampu berwarna putih menghiasi pemandangan indah kota jakarta.


Tring...tring...

__ADS_1


Ponsel Gled berbunyi dan ia langsung melihat ke layar ponsel tertulis "Okim", Gled ragu untuk mengangkatnya, tapi rasa solidaritas dan pertemanan yang terjalin sudah lebih kurang 4 tahun mereka dekat, akhirnya Gled menggeser tombol hijau.


"Hai Gled, sedang apa?" tanya Okim dari balik telfon.


"Aku sedang duduk dibalkon kamarku, kenapa menelfonku?" tanya balik Gled.


"Oh begitu, tidak ada aku hanya merindukanmu Gled" ucap Okim dari balik telfon.


"Kenapa merindukanku?, bukannya tadi kita telah bertemu" sambung Gled.


"Iya memang benar tadi kita telah bertemu, tapi aku merindukan masa SMP kita, dimana hanya ada kisah tentang kau dan aku dan tidak ada dia" tegas Okim, terdengar sedikit kesal.


Gled tampak bingung dengan perkataan Okim yang mengatakan, "Tidak ada dia."


"Maksudnya apa kau mengatakan tidak ada dia" balas Gled yang masih tidak peka.


"Tadi aku melihatmu berbonceng pulang pulang dengan seorang cowok, apakah itu pacarmu?" tanya Okim sedikit merendahkan nada bicaranya, karena Okim tidak ingin menanyakan dengan nada tinggi, Okim tidak mau terjadi pertengkaran antara dia dengan Gled.


"Hmm, begitulah apa menurutmu itu pacarku?" tanya Gled tertawa.


"Tidak!, seorang Gled tidak akan mudah menerima cinta seseorang dengan mudah" jawab Okim dengan percaya diri.


"Jadi apakah itu pacarmu?" tanya Okim lagi dari balik telfon.


"Tidak!, kau tau pasti bagaimana aku, tidak mungkin aku menerima pria yang baru kukenal" tegas Gled, tertawa.


"Hampir saja aku sedikit kecewa, hatiku merasa lega, kau belum mempunyai pacar" ucap Okim tertawa.


"Terserah kau saja, aku tidak ingin membuatmu sakit hati jika suatu hari nanti aku sudah mempunyai pacar, tolong jangan membenciku, jujur aku telah menyayangimu, bahkan aku telah menganggapmu seperti Kakakku, entah kenapa sulit bagiku untuk mencintaimu" jelas Gled tampak tersenyum.


Mendengar perkataan Gled, bahwa ia menyayangi Okim, membuat hati Okim sangat bahagia, tapi perkataan akhir Gled membuat Okim sedikit sedih.


"Aku merasa senang, perkataan sayang yang terlontar dari mulutmu akhirnya terdengar juga, aku hanya sedikit sedih dengan kata terakhirmu, tetapi aku tidak akan menyerah Gled untuk mendapatkan cintamu, aku sangat mencintaimu" ucap Okim dari balik telfon.


Mendengar itu Gled, langsung mematikan telfon, karena tidak ingin berdebat dengan Okim.


Dari seberang sana, tampak Okim menatap bulan "Bulan tolong sampaikan rasa sayang dan cintaku ini kepada Gled, bahwa aku sangat mencintainya" teriak Okim dari teras lantai tiga rumahnya.


Gled langsung masuk kedalam kamarnya, karena hari sudah mulai larut.


Gled menghempaskan badannya karanjangnya, sambil mengingat begitu banyak hal yang terjadi hari ini.


Gled memenjamkan matanya, karena lelah dengan hari ini, ia ingin mimpi indah malam ini.

__ADS_1


*Apakah ini semua hanya takdir atau kebetulan?, akankah kehidupan Gled akan berubah setelah ia bertemu tiga orang cowok dalam kehidupannya?


Siapakah yang akan menjadi cinta sejati Gled?, apakah kisah cintanya Gled semulus yang dibanyangkan*?


__ADS_2